"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Luka yang Tersembunyi
Bab 11: Luka yang Tersembunyi
Setelah penyerangan brutal di penthouse malam itu, apartemen mewah itu kini tak ubahnya seperti TKP pembunuhan. Bau amis darah bercampur dengan aroma hangus dari sisa-sisa Viper yang tersetrum memenuhi udara. Kenzi segera membawa Alana keluar melalui tangga darurat sebelum keamanan gedung atau polisi tiba.
Mereka tidak kembali ke kediaman utama Wijaya. Kenzi mengambil keputusan taktis untuk membawa Alana ke sebuah rumah aman (safe house) tipe-C yang terletak di sebuah kompleks perumahan tua di pinggiran Jakarta Selatan. Rumah itu sederhana, tampak tak berpenghuni dari luar, namun di dalamnya dilengkapi dengan sistem komunikasi terenkripsi dan pasokan medis darurat.
Alana duduk di tepi tempat tidur di kamar utama yang remang-remang. Tubuhnya masih sedikit gemetar, bukan lagi karena demam, melainkan karena syok. Gambar-gambar Viper yang kejang-kejang dan Kenzi yang bertarung dengan presisi yang mengerikan terus berputar di kepalanya.
"Nona, Anda aman di sini," ujar Kenzi. Ia baru saja selesai mengunci pintu besi lapis ganda di depan dan mengaktifkan perimeter sensor.
Alana mendongak. Ia melihat Kenzi mendekati meja kayu tua di sudut kamar. Pria itu meletakkan Tablet taktisnya dan mulai membuka kancing kemeja hitamnya yang sobek di bagian lengan.
"Kau... kau terluka?" tanya Alana, suaranya sedikit parau.
"Hanya goresan," jawab Kenzi tanpa menoleh. Ia melepaskan kemejanya, menyisakan singlet hitam yang ketat. Di bawah singlet itu, rompi taktis tipisnya terlihat goresan dalam akibat pisau komando penyusup kedua.
Kenzi melangkah ke kamar mandi kecil yang terhubung dengan kamar. Ia membiarkan pintu terbuka sedikit. Alana bisa mendengar suara kran air dinyalakan.
Rasa ingin tahu Alana mengalahkan rasa takutnya. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Kenzi sedang berdiri di depan cermin kecil yang buram, mencoba memeriksa punggungnya. Ada luka goresan panjang, meski tidak terlalu dalam, di bahu kanannya akibat kawat filamen Viper.
Kenzi tampak kesulitan menggapai luka itu dengan antiseptik.
"Biar... biar aku bantu," tawar Alana, berdiri di ambang pintu.
Kenzi membeku. Monolog internalnya berputar cepat. Subjek menawarkan bantuan fisik di luar parameter standar. Risiko paparan tanda identitas pada tubuh: Tinggi. Namun, efisiensi pengobatan luka akan meningkat 80% dengan bantuan orang lain.
Kenzi menurunkan singletnya hingga ke pinggang. Punggungnya yang tegap dan berotot kini terekspos sepenuhnya di bawah cahaya lampu neon kamar mandi yang berkedip.
Alana tersentak.
Punggung Kenzi tidak mulus. Di sana terdapat jaringan parut yang kompleks—bekas luka tembak, goresan pisau, dan luka bakar yang sudah lama sembuh. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Alana. Di bagian tengah punggungnya, tepat di antara tulang belikat, terdapat sebuah tato besar yang gelap.
Tato itu berbentuk seperti lingkaran konsentris dengan simbol berbentuk seperti mata di tengahnya, dikelilingi oleh pola geometric yang rumit. Namun, ada sesuatu yang aneh. Pola itu tampak berantakan dan terdistorsi, seolah-olah tato itu pernah coba dihapus dengan cara yang brutal atau disamarkan dengan tato lain yang lebih buruk.
"Apa... apa ini?" tanya Alana, jarinya yang gemetar menyentuh tepi tato tersebut. Teks di otaknya segera mengingat data dari bab sebelumnya: Tato organisasi yang disamarkan.
Kenzi segera menarik singletnya kembali ke atas, menutupi punggungnya. Gerakannya begitu cepat hingga Alana mundur selangkah.
"Hanya tanda dari masa lalu," jawab Kenzi dingin. Matanya kembali menatap Alana dengan kekosongan yang mengerikan. "Tadi Nona bilang ingin membantu mengobati luka. Tolong fokus pada antiseptik, bukan pada kulit saya."
Alana mengambil kapas yang sudah dibasahi antiseptik. Tangannya masih gemetar saat ia menyentuhkan kapas itu ke luka gores di bahu Kenzi. Pria itu sama sekali tidak meringis, seolah rasa sakit adalah konsep yang asing baginya.
"Kau... kau pernah ada di militer, kan?" tanya Alana pelan, mencoba membuka percakapan sambil terus mengobati.
"Pelatihan khusus," jawab Kenzi singkat.
"Tato itu... itu bukan tato militer. Simbol di dalamnya... aku pernah melihatnya di sebuah buku tentang organisasi rahasia kuno," Alana memberanikan diri.
Kenzi terdiam sesaat. Pikirannya melayang ke ruang interogasi di markas organisasinya, saat simbol itu dicap di punggungnya sebagai tanda "kepemilikan".
"Buku tidak selalu memuat kebenaran, Nona," ujar Kenzi. "Simbol itu hanyalah peringatan. Bahwa di dunia ini, kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari apa yang telah kau buat."
Jawaban Kenzi penuh teka-teki, samar, namun Alana bisa merasakan kegelapan yang mendalam di balik kata-kata itu. Pria di depannya bukan sekadar pengawal; dia adalah seorang penyintas dari sesuatu yang jauh lebih buruk daripada terror pesan singkat atau persaingan bisnis Tuan Wijaya.
Selesai mengobati, Kenzi kembali memakai singlet dan kemeja hitam yang baru dari tas taktisnya. Ia berjalan keluar dari kamar mandi menuju meja kendali.
"Tidur, Nona. Besok adalah hari yang panjang. Saya harus mulai berburu 'Viper' lain yang mungkin dikirim oleh Baron," ujar Kenzi, kembali ke mode datar dan efisien.
Malam semakin larut. Alana terbaring di tempat tidur, tapi matanya tidak bisa terpejam. Gambar tato di punggung Kenzi terus membayang di kegelapan. Simbol itu terasa familier, tapi di saat yang sama, sangat mengerikan. Ia merasa bahwa dengan melihat tato itu, ia baru saja melihat sekilas ke dalam jiwa Kenzi—jiwa yang sudah lama hancur dan dibangun kembali sebagai mesin pembunuh.
Di monitor keamanan di sudut kamar, Kenzi masih duduk tegak, matanya menatap barisan kode taktis. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Bagi Kenzi, tidur adalah kelemahan, dan malam ini, anomali perasaan yang sempat tumbuh harus segera dihapus.
Tato itu adalah pengingat.
Kenzi menyentuh bahunya yang baru diobati. Ia teringat sumpah yang ia ucapkan saat menerima tato itu: "Nyawa dibayar nyawa, pengkhianatan dibayar kematian."
Dendamku tidak akan goyah hanya karena belas kasihan seorang gadis Wijaya, batin Kenzi keras. Ia membuka Tablet taktisnya dan mengirimkan satu laporan terenkripsi ke pusat organisasinya:
"Update status: Viper telah dieliminasi. safe house tipe-C diaktifkan. Subjek aman. Membutuhkan waktu 24 jam untuk membersihkan paparan di penthouse. Infiltrasi ke brankas Wijaya akan dilakukan segera."
Pesan itu terkirim. Kenzi menatap ke arah tempat tidur di mana Alana sedang berpura-pura tidur. Dinding pertahanan Alana mungkin mulai mengikis, tapi Kenzi baru saja memperkuat dinding pertahanannya sendiri.
Malam itu, di dalam safe house yang remang-remang, Alana menyadari bahwa bekas luka Kenzi bukan sekadar tanda fisik, melainkan peta dari masa lalu yang berdarah. Dan di ujung peta itu, mungkin terdapat kebenaran yang akan menghancurkan hidupnya sendiri.