NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Utuh

Pagi menyapa tanpa suara.

Cahaya pucat menyelinap melalui jendela kecil kamar Elenna, jatuh di atas lantai yang dingin dan berdebu.

Udara pagi membawa aroma lembap yang khas, campuran kayu tua, debu, dan sesuatu yang tak pernah benar-benar bersih. Elenna terbangun dengan rasa nyeri yang masih setia menempel di setiap tarikan napasnya.

Balutan luka di lengannya telah mengering, pergelangan kakinya berdenyut pelan, cukup untuk mengingatkan bahwa malam kemarin bukan mimpi semata yang akan menguap bersama tidur.

Ia menatap langit-langit yang dipenuhi retakan halus. Setiap garisnya tampak seperti peta penderitaan yang tak pernah ia pilih. Tubuhnya terasa berat, seolah gravitasi di kamar ini lebih kejam daripada tempat lain. Elenna duduk perlahan, menahan erang yang hampir lolos dari bibirnya, lalu memandang tangannya sendiri. Ada garis-garis luka yang disembunyikan kain, ada bekas memar yang belum sempat memudar.

Ia mengusapnya tanpa sadar.

Lalu berhenti.

Menyentuh terlalu lama berarti mengingat terlalu banyak. Kamar itu sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah pelayan, tidak ada denting peralatan makan, tidak ada tawa pagi seperti yang pernah ia dengar dari kejauhan.

Seolah dunia di luar dinding retak itu sengaja menahan napasnya, membiarkannya terkurung dalam ruang yang tak benar-benar gelap, tapi juga tak pernah terang.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki, dan pintu diketuk dua kali dengan pelan.

Belum sempat Elenna berbicara, seorang pelayan perempuan masuk membawa nampan sarapan sederhana, semangkuk bubur, sepotong roti keras, dan secangkir air hangat. Wajah pelayan itu netral, nyaris kosong. Ia menunduk singkat, meletakkan piring di meja kecil dekat ranjang, lalu mundur selangkah.

“Terima—” suara Elenna terhenti.

Pelayan itu sudah berbalik. Tanpa sepatah kata, tanpa menatap, tanpa ekspresi. Pintu tertutup kembali dengan bunyi klik pelan yang terdengar lebih keras dari seharusnya.

Elenna memandangi pintu itu lama. Ia ingin bertanya, tentang apa pun. Tentang hari ini, tentang kedepannya, tentang apakah ia diizinkan keluar kamar. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu mati sebelum sempat lahir. Ia tahu jawabannya akan selalu sama: diam.

Ia makan perlahan. Setiap suap terasa berat. Bukan karena buburnya hambar, melainkan karena kesadaran yang mengendap di dadanya, ia hidup, tetapi tidak benar-benar merasa hidup. Mansion ini berdiri megah di luar kamar kecilnya, penuh cahaya dan suara. Namun, ia seolah berada di pinggiran yang tak tersentuh, tak diikut sertakan, tak dianggap dan seolah tak pernah ada.

Hari terus berjalan dengan lambat. Terlalu lambat sehingga menyiksanya.

Cahaya di jendela bergeser sedikit demi sedikit, mengubah warna lantai dari pucat menjadi keemasan, lalu memudar lagi. Elenna menghabiskan waktu duduk di ranjang, kadang berdiri terpincang untuk sekadar memastikan kakinya masih mampu menopang tubuhnya. Ia tidak diberi pekerjaan, tidak diberi perintah. Seolah diamnya adalah tugasnya.

Menjelang siang, pintu kembali terbuka.

Alberto datang.

Seperti kemarin-kemarin. Seperti janji yang tak pernah diucapkan, tapi selalu ditepati. Ia mengetuk sekali sebelum masuk, membawa aroma sabun dan kain bersih, aroma yang kontras dengan kamar Elenna. Tatapannya langsung tertuju pada wajah gadis itu, menilai, memeriksa, memastikan ia masih bernapas dengan baik.

“Bagaimana rasanya?” tanya Alberto.

“Masih sakit,” jawab Elenna jujur, suaranya pelan.

Alberto mengangguk paham, lalu duduk di kursi kayu dekat ranjang. Ia membuka balutan, memeriksa luka dengan teliti, seolah dunia di luar kamar ini tak ada. Sentuhannya lembut, hampir terlalu berhati-hati.

“Kau harus beristirahat,” katanya. “Jangan memaksakan diri.”

Elenna mengangguk. Ia selalu mengangguk. Ia tidak punya tenaga untuk menolak, dan tidak ingin kehilangan satu-satunya wajah yang terasa aman di mansion ini.

Namun, setelah Alberto pergi, pintu kembali terkunci. Elenna menatap gagang pintu itu lama sekali. Jari-jarinya mengepal tanpa sadar. Saat itulah kesadaran pahit menyusup perlahan, seperti racun yang bekerja tanpa suara, keselamatannya datang dengan harga sunyi.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama.

Pagi yang sunyi.

Siang terik.

Sore dengan cahaya keemasan yang tak pernah menyentuhnya sepenuhnya.

Suatu hari, Elenna memberanikan diri membuka pintu sedikit lebih lebar saat pelayan mengantarkan makanan. Ia melangkah keluar, terpincang, menyusuri lorong panjang yang dingin. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang memperhatikan.

Dari kejauhan, ia mendengar suara tawa.

Tawa yang hangat, nyata, dan hidup.

Langkahnya terhenti di balik pilar besar. Dari sana, ia melihat ruang makan utama. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantul di meja panjang yang tertata rapi. Di sana duduk Marquess, Alberto, dan Lilith.

Marquess tampak berbeda dari yang Elenna kenal. Wajahnya lebih rileks, bahunya tidak setegang biasanya. Ia tertawa kecil menanggapi ucapan Lilith. Lilith duduk anggun, gaunnya sederhana namun jelas mahal. Rambutnya tersisir rapi, senyumnya cerah, bukan senyum dingin yang biasa Elenna terima.

Alberto duduk di samping mereka, ikut tertawa. Nada suaranya ringan, hampir ceria. Berbeda ketika berbincang dengan Elenna.

Mereka tampak… utuh.

Seperti sebuah keluarga yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Elenna berdiri di sana, tersembunyi di balik bayangan, menyaksikan pemandangan yang terasa asing. Tidak ada ketegangan. Tidak ada hukuman. Tidak ada tuduhan. Tidak ada hinaan.

Hanya percakapan ringan tentang keseharian mereka, tentang persiapan debutante, tentang tamu-tamu penting, tentang gaun-gaun yang akan dikenakan Lilith.

“Kau akan terlihat sempurna,” kata Marquess pada Lilith, nadanya penuh kebanggaan.

Lilith tersenyum manis. “Tentu saja, aku kan putri satu-satunya Ayahanda"

Elenna tertegun, seolah keberadaannya tak pernah dianggap, sebagai anak, sebagai putri, atau apapun.

Alberto mengangguk setuju. “Kau memang pantas berada di pusat perhatian.”

Kata-kata itu menusuk Elenna tanpa suara. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya pelan-pelan.

Ia menunduk, menatap lantai marmer yang berkilau. Bayangannya sendiri tampak samar, rapuh, kecil, nyaris tak ada. Pada saat itu, Elenna mengerti.

Ia tidak pernah menjadi bagian dari keharmonisan itu.

Ia hanyalah kesalahan yang ditoleransi. Beban yang disembunyikan di kamar kecil agar tak mengganggu pemandangan indah keluarga Marquess.

Ia berbalik sebelum ada yang melihatnya.

Malam itu, Elenna duduk di ranjangnya, menatap jendela kecil. Di luar sana, mansion dipenuhi cahaya, canda tawa, musik, suara langkah kaki, semua terasa jauh, seperti dimensi lain yang tak akan pernah bisa ia masuki.

Ia memeluk lututnya sendiri, merasakan denyut pelan di pergelangan kaki, rasa perih di lengan. Untuk pertama kalinya, bukan luka fisik yang paling menyakitkan.

Melainkan kesadaran sederhana namun kejam: Tak pernah ada tempat baginya di sana, dan mungkin… tak akan pernah ada.

Hari-hari terus berjalan dengan panjang dan terasa sunyi.

Dan Elenna belajar bertahan, bukan dengan harapan, melainkan dengan menerima bahwa dirinya harus berdiri sendiri, bahkan di tengah keluarga yang tak terasa seperti keluarga baginya.

1
kinaraa
mau gimana pun Marquess tetap salah sebagai ayah
Ran
huh, ada ya orang tua kek gitu
kinaraa: banyak si ortu yang begitu
total 1 replies
Ran
keren banget Thor alurnyaa🤭
kinaraa
semoga elena ga dapet penderitaan lgi setelah ini fhor
VanGenZ: Author pun berharap begitu
total 1 replies
kinaraa
malah orang asing yang lebih inget sama ultah elena
kinaraa
parah Alberto , padahal di awal keliatan baik dan peduli ma slena
kinaraa
rupanya tuan pengawal misterius adalah putra mahkota yang menyamar
kinaraa
sedih banget elena.
bahkan keluarga sendiri ga inget ultahnha
VanGenZ: Sering terjadi di dunia nyata ya...
total 1 replies
Ran
/Panic//Panic/
Ran
kutarik kata2 ku, ayah ga punya nurani jir
Ran
Marquess ternyata masih punya akal untuk berpikir
Ran
kapan elena bisa ngebales mereka semua Thor? masa dia gada perlawanan terus
VanGenZ: Belum saatnya, memang cerita author tipe perkembangannya slow burn, karna agak sedikit mengarah ke mental juga
total 1 replies
Ran
semangat thor
Ran
fitnah yang kejam..
Ran
kael ternyata masih peduli sama elenna dikala semua tidak memperdulikannya
Ran
kasian banget elena thor
Ran
Alberto sok dingin, nanti juga pasti nyesel
Ran
Thor bagian nama keknya ad typo
VanGenZ: Wah, terima kasih ya atas koreksinya, akan author perbaiki segera
total 1 replies
Ran
heh tiap hari keknya ada aja rencana busuknyaa
Ran
giliran sama putra mahkota malah ciut lu pada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!