Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan Ditengah Malam
Udara di ruang tamu itu terasa seperti ruang hampa. Arman duduk kaku di sofa, merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia yakin Rani bisa mendengarnya. Istrinya masih diam, menatapnya dengan mata yang tajam, mengupas lapis demi lapis kebohongan yang selama ini ia bangun.
"Arman," panggil Rani lagi, suaranya masih datar tapi ada getaran di sana. "Gue udah nggak tahan. Udah berbulan-bulan gue diemin, gue pendam, gue pura-pura nggak liat. Tapi malam ini, gue mau lo jujur."
Arman membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Lo pikir gue buta? Lo pikir gue nggak liat perubahan lo?" Rani melanjutkan, suaranya mulai bergetar. "Baju baru, wangi parfum yang bukan parfum gue, pulang malam terus, sering nginep di luar dengan alasan orderan panjang. Lo pikir gue bodoh, Arman?"
"Ran, gue..."
"DIAM DULU!"
"Gue belum selesai!" bentak Rani, suaranya meledak. Matanya yang tadinya sayu kini merah menyala. Air mata sudah menggenang, tapi tidak jatuh. Ia menahan sekuat tenaga.
"Gue selama ini diem karena gue capek. Capek berantem, capek curiga, capek mikirin yang belum tentu. Tapi malam ini, gue nggak bisa diem lagi. GUE MAU TAU! SIAPA DIA?"
Pertanyaan terakhir itu seperti tamparan. Arman tersentak. Rani tahu. Setidaknya, ia curiga ke arah yang benar.
"Gue nggak..."
"JANGAN BOHONG!" teriak Rani, berdiri dari sofa. Tangannya gemetar.
"Gue tau ada yang lain. Perempuan, kan? Iya, kan? JANDA ATAU PERAWAN?"
Arman tertunduk. Dadanya sesak. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam, yang ia kubur dalam-dalam di bawah kebahagiaan palsu bersama Nadia, kini muncul ke permukaan seperti mayat yang mengapung di sungai.
"Rani, dengerin gue dulu..."
"Gue nggak mau denger! JAWAB! IYA ATAU TIDAK?!"
Keheningan menganga di antara mereka. Arman menatap lantai, melihat butiran debu yang tak sempat disapu. Lalu, dengan suara yang hampir bisu, ia berkata, "Iya."
Kata itu jatuh seperti bom. Rani terdiam sesaat, matanya membelalak. Lalu, seperti gelombang yang pecah, ia meledak.
"ASTAGHFIRULLAH!" teriaknya histeris. Tubuhnya bergetar hebat.
"LO BENARAN SELINGKUH, ARMAN? DENGAN SIAPA? SEJAK KAPAN?"
Arman berusaha menjelaskan, "Ran, ini bukan selingkuh. Ini..."
Rani tidak memberinya kesempatan. Ia mengambil bantal di sofa dan melemparkannya ke arah Arman dengan sekuat tenaga.
"DASAR LO LELAKI PENGECUT! PENGHIANAT!"
Bantal itu tidak melukai, tapi simbol kemarahan yang tak terbendung.
Ia kemudian meraih gelas di meja dan membantingnya ke lantai. Pecahan kaca berhamburan, berkilau di bawah lampu neon.
Arman bangkit, mencoba menenangkan, tapi Rani sudah seperti kesetanan. Ia meraih pigura foto pernikahan mereka di lemari dan melemparkannya ke dinding. Kaca pecah, foto mereka yang tersenyum bahagia tujuh tahun lalu kini terkoyak.
"LO HANCURIN SEMUANYA, ARMAN!" Rani menjerit, suaranya parau.
"TUJUH TAHUN! TUJUH TAHUN GUE BERTAHAN HIDUP SUSAH SAMA LO! GUE JUALAN, GUE BIKIN KONTEN, GUE JAGA ANAK, GUE URUS RUMAH, SEMUA GUE LAKUKAN BUAT KITA! DAN LO BALAS GINI?"
Air matanya akhirnya tumpah, membasahi pipi yang merah padam. Tangannya memukul-mukul dada Arman, lemah tapi penuh rasa sakit.
"Kenapa, Man? Kenapa lo lakuin ini? Apa kurang gue? Apa gue nggak cukup baik?"
Arman membiarkan pukulan itu, membiarkan semua kemarahan Rani meluap. Ia tahu ia pantas menerima ini. Tapi ketika Rani menyebut Aldi, ia membela diri.
"Ran, dengerin gue," katanya, mencoba meraih tangan Rani. "Gue tau lo marah, lo berhak marah. Tapi tolong, jangan bawa-bawa Aldi."
Rani tertawa getir, tawa yang hampir seperti isak. "Aldi? LO PIKIRIN ALDI SEKARANG? DARI DULU LO NIKAHIN GUE, LO JANJIN MAU JADI BAPAK YANG BAIK, SUAMI YANG SETIA. INI HASILNYA?"
"Gue masih sayang Aldi, Ran. Dan gue..."
"DIAM!" potong Rani.
"Gue minta lo pergi dari rumah ini. BESOK! ATAU MALAM INI JUGA! GUE NGAK MAU LIAT LO DI DEPAN MATA GUE LAGI!"
Arman menggeleng, matanya mulai basah. "Nggak, Ran. Gue nggak mau. Bukan karena gue nggak terima, tapi karena Aldi. Lo bayangin, dia bangun pagi besok, nanya 'Bapak mana?' Terus lo mau jawab apa? 'Bapak lo udah gue usir karena selingkuh'?"
Rani tertegun. Kata-kata itu mengenai titik lemahnya. Aldi. Anak mereka.
Melihat Rani goyah, Arman melanjutkan, nadanya lebih lembut tapi tetap membela diri.
"Ran, dengerin gue. Gue tau lo marah. Tapi coba lo pikir, selama ini hidup kita susah. Tagihan numpuk, penghasilan nggak nentu. Dan sejak gue kenal Nadia... sejak gue nikah siri sama dia..."
Rani tersentak mendengar kata "nikah siri". Wajahnya pucat pasi.
"Istilah lo nikah SIRI?" bisiknya, ngeri.
"Iya. Tapi dengerin dulu," Arman cepat-cepat melanjutkan.
"Sejak itu, ekonomi kita berubah. Nadia ngasih gue kerja tetap, Ran. Gaji 6 juta sebulan. Uang yang gue kasih ke lo belakangan ini, itu dari dia. Bukan dari orderan ojol. Dan usaha katering lo mulai stabil, warung lo laku, itu juga karena gue nggak ganggu lo dengan stres ekonomi."
Rani terpaku, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Maksud lo, lo nikah siri, dan itu... membuka rezeki?" tanyanya, suaranya kosong.
"Gue nggak bilang itu sebabnya. Tapi ini nyata, Ran. Uangnya nyata. Kebutuhan kita tercukupi. Dan Nadia... dia nggak minta gue ninggalin lo. Dia cuma minta status. Dia janda, dia nggak mau digosipin."
Rani tertawa, kali ini tawa yang hampa. "Jadi lo kira, dengan uang, semua bisa dibeli? Kepercayaan? Kesetiaan? Perasaan gue?" Ia memegangi kepalanya, pusing. "Arman, lo gila. Lo benar-benar gila."
Mereka terdiam, berdiri di antara pecahan kaca dan foto pernikahan yang hancur. Rumah yang sunyi, hanya suara tangis tertahan Rani yang terdengar.
"Gue nggak akan minta lo terima ini," kata Arman lirih. "Tapi gue minta, jangan buat keputusan sekarang. Pikirkan Aldi. Pikirkan kita."
Rani mengangkat wajahnya. Matanya sembab, merah, tapi ada api di sana. Api yang tidak akan padam dengan mudah.
"Arman," katanya, suaranya berbisik tapi jelas.
"Lo sudah menghancurkan gue. Tapi gue nggak akan biarkan lo menghancurkan Aldi. Mulai besok, lo boleh tinggal di sini, tapi tidur di ruang tamu. Jangan sentuh gue. Jangan harap gue masakin. Jangan harap gue layanin. Kita lihat, seberapa kuat lo bertahan dengan istri kedua lo itu."
Ia berbalik, melangkah menuju kamar, lalu berhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia berkata, "Dan ingat, Arman. Apa yang lo sebut 'rezeki' dari Nadia itu, bagi gue adalah harga dari kehancuran rumah tangga kita. Gue nggak akan pernah mau menyentuh uang itu lagi."
Pintu kamar tertutup, tidak dibanting, tapi lebih menakutkan dari itu. Tertutup rapat, mengunci Arman di luaran dengan segala konsekuensi pilihannya.
Arman duduk di sofa yang sama, memandangi puing-puing kehidupan yang ia ciptakan.
Ponselnya bergetar. Nadia mengirim pesan: "Sayang, udah ngomong? Gimana reaksinya? Aku deg-degan. Semoga kamu kuat."
Ia tidak membalas. Ia hanya menatap pesan itu, lalu menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, istrinya menangis dalam diam. Di balik layar ponsel, istri barunya menunggu dengan cemas.
Dan di tengah semua itu, Arman menyadari satu hal: impian poligami yang ia kejar, yang ia kira akan membawa kebahagiaan dan keberkahan, ternyata hanya membawa luka. Untuk semua orang. Termasuk untuk dirinya sendiri.
Malam itu, di ruang tamu yang dingin, dengan pecahan kaca di lantai dan foto pernikahan yang robek, Arman menangis untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Bukan karena takut, bukan karena menyesal. Tapi karena ia tahu, apa pun yang terjadi selanjutnya, keluarganya tidak akan pernah kembali seperti dulu. Dan tidak ada uang sebanyak apa pun yang bisa membayar harga itu.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.