Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Papan kehidupan
Setelah meninggalkan pedang dan caping lamanya di makam Guru Xinjiang, Tian Shan melangkah turun dari gunung dengan beban yang jauh lebih ringan namun jiwa yang lebih padat.
Ia kini mengenakan caping bambu baru yang ia beli dari seorang pengrajin tua di kaki gunung—sebuah simbol bahwa lembaran baru telah dibuka.
Perjalanannya kali ini membawanya jauh ke arah Timur, menuju Kota Seribu Gerbang, sebuah pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang belum pernah ia jamah sebelumnya.
Ia berjalan dengan santai, menikmati sisa-sisa embun yang membasahi jalan setapak dan kicauan burung yang tak lagi ia anggap sebagai kebisingan. Baginya, setiap langkah adalah meditasi.
Sesampainya di pusat kota yang ramai, Tian Shan melewati sebuah paviliun terbuka di mana banyak orang berkerumun.
Di tengah kerumunan itu, duduk seorang pria tampan berjubah sutra rapi—seorang cendikiawan terkenal bernama Tuan Lu.
Di depannya terdapat sebuah papan permainan catur tradisional (Go) yang terbuat dari kayu gaharu kuno.
Tuan Lu sedang berada di puncak kejayaannya, setelah mengalahkan sepuluh penantang berturut-turut pagi itu.
Ia menatap Tian Shan yang lewat dengan caping menutupi sebagian wajahnya. Aura Tian Shan yang tenang namun dalam menarik perhatian sang cendikiawan.
"Anak muda yang sedang merantau," seru Tuan Lu dengan nada meremehkan namun sopan. "Kau terlihat memiliki ketenangan yang jarang dimiliki pengembara. Maukah kau mencoba satu putaran? Permainan ini bukan tentang kekuatan otot, melainkan tentang ketajaman visi."
Tian Shan berhenti. Ia menatap papan permainan itu, lalu menatap kerumunan warga yang mulai berbisik-bisik, penasaran dengan sosok asing yang terlihat bersahaja namun berwibawa ini.
"Aku hanya seorang pengelana yang mencari arah," jawab Tian Shan datar. "Tapi jika sebuah permainan bisa mempersingkat waktu tunggu hujan, aku akan menerimanya."
Tian Shan duduk di hadapan Tuan Lu. Warga berkumpul semakin rapat, terpana oleh kontras antara sang cendikiawan yang terlihat cerdas dan Tian Shan yang terlihat misterius lalu meletakkan capingnya.
Tuan Lu memulai dengan gerakan agresif, mencoba mengurung bidak-bidak putih Tian Shan. "Dalam catur, seperti halnya politik dan perang, kau harus mendominasi pusat sebelum lawanmu menyadarinya." ujar Tuan Lu dengan bangga.
Tian Shan meletakkan bidaknya di sudut yang terlihat tidak penting. "Kadang, pusat adalah tempat yang paling berbahaya untuk ditinggali. Kebebasan justru ditemukan di tepian yang terlupakan."
Warga terdiam. Mereka melihat gaya bermain Tian Shan yang sangat tidak biasa.
Ia tidak bermain untuk menangkap bidak lawan, melainkan untuk menciptakan ruang.
Setiap gerakannya mencerminkan filosofi hidup yang baru saja ia pelajari: melepaskan untuk mendapatkan.
"Kau membiarkan aku mengambil wilayahmu!" seru Tuan Lu, mulai merasa bingung. "Itu adalah langkah bunuh diri."
"Bukan wilayah yang penting, Tuan Lu," suara Tian Shan terdengar tenang di tengah riuh rendah kota. "Tapi tujuan akhir dari perjalanan bidak itu. Kau terlalu sibuk menumpuk harta di atas papan, hingga lupa bahwa papan ini terbatas. Saat kau memenuhi semuanya, kau justru akan terkunci oleh ambisimu sendiri."
Pada langkah ketiga puluh, Tuan Lu baru menyadari jebakannya.
Bidak-bidaknya yang terlihat mendominasi kini justru saling menghalangi satu sama lain karena terlalu padat, sementara bidak Tian Shan yang terlihat tersebar justru saling terhubung melalui jalur-jalur yang tak terlihat.
Tuan Lu berkeringat dingin. Ia menatap Tian Shan dengan tatapan baru—bukan lagi sebagai pengembara biasa, melainkan sebagai seorang guru.
"Siapa... siapa kau sebenarnya?" tanya Tuan Lu dengan tangan gemetar saat memegang bidak terakhirnya. "Logika ini... ini bukan logika buku. Ini adalah logika seseorang yang telah melewati hidup dan mati."
Tian Shan hanya tersenyum tipis di balik capingnya.
Ia berdiri tanpa menyelesaikan langkah terakhirnya, membiarkan papan itu dalam keadaan seimbang yang indah.
"Aku hanyalah orang yang pernah kehilangan segalanya, hingga aku menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar bisa kita miliki," ucap Tian Shan. "Terima kasih atas pelajarannya, Tuan Lu. Ingatlah, catur adalah cerminan hati. Jika hatimu penuh dengan keinginan untuk menang, kau sudah kalah sejak langkah pertama."
Tian Shan melangkah pergi, membelah kerumunan warga yang terpana dan membungkuk hormat tanpa tahu bahwa mereka baru saja melihat sang Legenda Naga.
Tuan Lu terduduk lama, menatap papan catur itu dengan mata yang kini lebih jernih, menyadari bahwa ia baru saja diajarkan tentang makna hidup oleh seorang pengembara tanpa nama.