Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Nyali Ciut di Depan Gerbang Emas
Rio sudah tertidur pulas—atau lebih tepatnya pingsan—di sofa ruang tamu yang bau apek. Di sampingnya tergeletak botol obat sakit kepala warung yang isinya tinggal setengah. Dia terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan, jadi dia memilih tidur.
Tapi tidak dengan Bu Ratna.
Wanita paruh baya itu justru sedang membara.
Tangannya yang keriput tapi lincah mengaduk-aduk isi tas kerja Rio yang tergeletak di lantai.
"Pasti ada petunjuk... Pasti ada..." gumamnya seperti orang gila.
Dia menemukan surat yang tadi membuat Rio dipecat dari proyek. Mata Bu Ratna menyipit membaca kop suratnya.
ANINDITA GROUP
Head Office: Jl. Teuku Umar No. 1, Menteng, Jakarta Pusat.
"Nah! Kena kau!" seru Bu Ratna girang. "Anindita Group... Pasti ini nama perusahaan si gadun itu! Berani-beraninya dia bikin anak saya susah. Liat aja, saya samperin ke kantornya. Saya teriak-teriak biar satu kantor tau bosnya pebinor (perebut bini orang)!"
Tanpa pikir panjang, Bu Ratna menyambar dompetnya. Dia memesan ojek online dengan tujuan Menteng. Dia tidak peduli ongkosnya mahal. Harga diri anaknya harus ditegakkan (menurut logika terbaliknya).
Satu jam kemudian.
Motor Honda Beat yang ditumpangi Bu Ratna melaju pelan menyusuri jalanan aspal mulus di kawasan Menteng.
Suasana di sini berbeda. Udaranya seolah lebih mahal. Pohon-pohon trembesi raksasa menaungi jalan, membuat suasana teduh dan agung. Tidak ada suara klakson angkot, tidak ada pedagang cilok, tidak ada jemuran di pinggir jalan.
Kanan kiri jalan berderet rumah-rumah—tidak, itu bukan rumah. Itu istana.
Pilar-pilar putih menjulang tinggi, halaman rumput hijau seluas lapangan bola, dan mobil-mobil mewah yang terparkir diam di carport.
Bu Ratna mulai merasa tidak nyaman. Dia melihat penampilannya sendiri di kaca spion motor: Daster batik pasar tanah abang yang warnanya mulai pudar, sandal jepit swallow, dan tas KW yang kulitnya mengelupas.
"Pak, bener ini jalannya?" tanya Bu Ratna ragu.
"Bener, Bu. Sesuai maps. Itu nomor satunya di depan. Rumah paling gede," jawab abang ojek.
Motor berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam setinggi empat meter yang diukir dengan inisial emas raksasa: "A".
Temboknya tinggi, dilapisi batu alam marmer. CCTV terlihat di setiap sudut, berkedip merah memantau pergerakan mereka. Di balik gerbang, terlihat samar-samar atap bangunan bergaya Eropa Klasik yang megah.
"Udah sampe, Bu," kata abang ojek.
Bu Ratna turun dengan kaki gemetar. Bukan karena takut, tapi karena... intimidated. Dia biasa melabrak tetangga di gang sempit. Tapi melabrak pagar setinggi ini?
"Ah, setan! Paling ini rumah hasil korupsi!" Bu Ratna menguatkan hatinya.
Dia berjalan mendekati pos satpam yang ada di samping gerbang. Pos satpamnya saja ada AC-nya dan lebih bagus dari kontrakan Rio.
DOK! DOK! DOK!
Bu Ratna memukul kaca pos satpam dengan gagang kipasnya.
"KELUAR! HEH PENJAGA! KELUAR!"
Seorang pria berseragam safari biru tua—bukan seragam satpam komplek biasa, tapi seragam private security berbadan tegap—keluar dengan wajah garang. Di pinggangnya ada pentungan dan HT.
"Ada keperluan apa, Bu? Dilarang membuat keributan di sini," tegur satpam itu (Pak Danu) dengan suara ngebass.
Bu Ratna berkacak pinggang, mendongakkan dagunya yang berlemak.
"Jangan sok galak kamu! Panggil majikan kamu! Panggil si Bos Anindita!" teriak Bu Ratna. "Bilang sama dia, mertua Kara dateng! Saya mau minta pertanggungjawaban! Dia udah bawa kabur menantu saya!"
Pak Danu mengerutkan kening. "Menantu? Siapa?"
"KARA! Kara si gembel itu! Pasti dia disembunyiin di sini kan sama bos kamu? Dasar orang kaya nggak punya akhlak! Doyan ngambil istri orang!"
Pak Danu terdiam sejenak, lalu wajahnya berubah aneh. Dia menekan tombol di HT-nya. "Monitor. Ada orang tak dikenal di Gerbang Utama. Mencari Nona Kara. Mengamuk. Ganti."
Nona Kara? Bu Ratna bingung. Kok dipanggil Nona?
"Heh! Jangan pura-pura sopan! Suruh si Kara keluar! Atau saya teriak maling biar warga sini keluar semua!" ancam Bu Ratna.
Pak Danu tertawa kecil. Tawa meremehkan. "Warga sini? Bu, tetangga sebelah kiri itu Menteri. Sebelah kanan Duta Besar. Ibu teriak maling di sini, lima menit lagi Ibu diangkut Paspampres."
Wajah Bu Ratna pucat.
Tiba-tiba, gerbang besi raksasa itu bergeser otomatis dengan suara mesin halus. Wuuung...
Sebuah mobil Bentley warna rose gold perlahan melaju keluar dari halaman luas itu. Kaca jendela belakang mobil itu terbuka separuh.
Bu Ratna melongok. Matanya menangkap sosok di dalam mobil.
Itu Kara.
Tapi Kara yang ini berbeda dari yang di pengadilan tadi. Dia sedang memangku laptop, memakai kacamata baca berantai emas, dan sedang berbicara di telepon dengan bahasa Inggris yang sangat fasih.
"Yes, cancel the contract with Wijaya Corp immediately. I don't care about the penalty."
Bu Ratna membeku. Mulutnya menganga lebar.
Mobil itu berhenti sebentar di depan pos. Kara menoleh ke arah jendela, menatap Bu Ratna yang berdiri mematung di pinggir jalan seperti patung pancoran.
Kara tidak turun. Dia hanya menurunkan kacamata bacanya sedikit.
"Pak Danu," panggil Kara lembut tapi berwibawa.
"Siap, Nona Muda!" Pak Danu langsung sikap sempurna, hormat militer.
"Siap, Nona Muda."
Kalimat itu berdenging di telinga Bu Ratna.
Nona Muda?
Bukan Nyonya? Bukan Ibu?
Nona Muda Anindita?
"Ada pengemis yang bikin ribut?" tanya Kara santai, matanya menatap Bu Ratna dari atas ke bawah.
"Benar, Nona. Mengaku-ngaku mertua Nona. Mau saya usir?"
Kara tersenyum miring. Dia menatap Bu Ratna yang kini gemetar lututnya.
"Nggak usah diusir kasar, Pak. Kasian. Mungkin dia lapar karena anaknya baru dipecat jadi nggak bisa kasih makan." Kara mengambil selembar uang seratus ribu (uang merah) dari tasnya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke luar jendela mobil. Uang itu melayang tertiup angin dan jatuh tepat di dekat kaki Bu Ratna yang memakai sandal jepit swallow.
"Buat ongkos pulang, Bu Ratna. Di sini nggak ada angkot."
Kaca mobil tertutup kembali.
Mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan debu tipis.
Bu Ratna berdiri kaku. Matanya menatap uang seratus ribu di aspal, lalu menatap gerbang raksasa yang tertutup kembali, dan tulisan "ANINDITA GROUP" di plang nama.
Otaknya yang lambat akhirnya menyambungkan kabel yang putus.
Kara Anindita.
Anindita Group.
Nona Muda.
Bukan simpanan.
Bukan peliharaan.
Tapi Pemilik.
"Ya Allah..." Bu Ratna jatuh terduduk di aspal panas. Kakinya lemas seperti jeli. "Jadi... jadi selama ini kita nginjek-nginjek Putri Raja?"
Dunia Bu Ratna runtuh seketika. Bayangan kontrakan Rio yang bau, utang-utang anaknya, dan kesombongan mereka selama ini berputar di kepalanya seperti film horor.
Mereka bukan membuang sampah. Mereka baru saja membakar lumbung padi mereka sendiri.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏