Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *13
Mereka makan dengan tenang siang itu. Setelah pembicaraan yang mereka lakukan di kamar, tidak lagi ada pembicaraan yang dilakukan di meja makan.
Rin merasa cukup beruntung sebenarnya. Dia beruntung karena telah dipertemukan dengan Bayu. Pria yang tidak suka banyak bicara tentang kehidupan pribadi masa lalu Rin. Tidak terlalu banyak bicara, tapi suka mendengarkan. Jika dibutuhkan, baru memberikan nasehat. Rin merasa nyaman akan hal tersebut.
Setelah makan siang usai. Mereka istirahat di kamar masing-masing. Sorenya, Bayu meninggalkan rumah untuk berbelanja. Seperti biasa, dia akan menanyakan Rin yang ingin apa. Tapi kali ini, ada pertanyaan lain yang Bayu lontarkan.
"Ingin ikut? Anggap saja jalan-jalan sore ke desa kecamatan," ucap Bayu tanpa memaksa.
"Itu ... boleh juga."
"Baiklah. Aku tunggu. Bersiap-siaplah."
"Oke. Tunggu sebentar."
"Hm."
Rin berjalan cepat menuju kamar. Mengganti pakaian rumahan yang sebelumnya melekat di tubuh dengan pakaian yang lain. Namun, tetap pakaian yang tidak terlalu mencolok. Maklum, bagaimanapun, dia juga harus menyesuaikan diri dengan Bayu yang kini adalah pasangannya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Rin keluar dengan pakaian sederhana. Tak lupa, tas selempang di bahu.
"Aku sudah siap," ucapnya pada Bayu yang sedang duduk di teras panggung depan rumah.
Bayu menoleh. "Baik. Bisa berangkat sekarang?"
"Mm ... tunggu dulu. Lihat aku! Apa ini, sudah pas?"
Pria itu tersenyum kecil. Hanya senyum singkat. Seperti biasa, Bayu terlalu pelit dengan senyuman. Padahal, senyum yang ia miliki sangat manis.
"Kenapa tidak? Apapun yang kamu pakai, tetap saja cocok."
Rin sedikit bersemu. "Ah, bu-- bukan itu maksud aku."
"Lalu?"
"Kita ... pergi jalan-jalan. Apakah pakaian ini tidak terlalu berlebihan?"
Bayu menggelengkan kepalanya. Tatapannya fokus ke wajah Rin. "Tidak. Ini cocok. Tidak berlebihan."
Sesaat kemudian, Bayu langsung mengalihkan pandangan dari wajah Rin. "Ah, bisakah kita berangkat sekarang, Rin?"
"Oh, iy-- iya. Ayo."
Merekapun beranjak meninggalkan rumah. Rin duduk di belakang motor tua tanpa pikir panjang. Motor itu Bayu hidupkan. Lalu, mereka berangkat.
Sesaat setelah motor bergerak, Rin pun berucap. "Bayu. Jika aku berlebihan, kamu harus mengingatkan aku ya. Karena saat ini, aku masih berusaha untuk menyesuaikan diri."
Bayu pun menjawab. "Begitu pula aku. Tolong jujur saja padaku. Jika ada hal yang tidak kamu sukai dari aku, katakan saja secara langsung. Aku akan berusaha mengubahnya."
Obrolan ringan itu mengalir secara perlahan. Namun, dari obrolan itu, mereka sama-sama memahami satu hal. Itu adalah kesepakatan bagi kedua. Kesepakatan untuk saling terbuka untuk yang pertama kalinya.
*
Setelah perjalanan yang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat untuk mereka tempuh. Akhirnya, mereka tiba di desa kecamatan. Desa yang lebih ramai dari pada tempat tinggal Bayu sebelumnya.
"Kita sudah sampai," ucap Bayu sambil memarkirkan motor di depan toko.
"Kamu bisa beli apapun yang kamu inginkan di sini. Ini toko yang cukup lengkap. Yah, meskipun tidak selengkap yang di jual oleh toko atau pusat perbelanjaan yang ada di kota. Tapi setidaknya, toko ini menjual banyak perlengkapan kebutuhan hidup untuk orang desa seperti aku."
"Ayok!"
Rin mengangguk. Langkahnya terasa cukup ringan untuk bergerak. Entahlah. Sejak pertemuannya dengan Bayu, lalu melihat perlakuan Bayu yang sangat bersahabat dengannya. Beban batinnya terasa jauh lebih ringan. Bahkan, cukup ringan dibandingkan saat ia tinggal di kota bersama kedua orang tuannya.
"Beli aja apapun yang kamu inginkan. Jangan ragu, insya allah, aku sanggup membayar apapun itu."
Ucapan yang penuh dengan tanggung jawab. Cukup sederhana, tapi entah kenapa, itu membuat Rin terasa sangat diutamakan. Padahal, dulu Marvel juga memperlakukannya seperti itu. Membiarkan dirinya memiliki apapun yang ia inginkan. Namun, rasa yang ia miliki sekarang, agak sedikit berbeda dengan yang ia rasakan saat bersama Marvel.
"Rin."
"Ah, iy-- iya?"
"Kamu melamun?"
"Ng-- nggak kok. Nggak."
"Hm. Ya sudah. Ayo! Jika kita tidak buru-buru belanja sekarang, maka kita akan sampai ke rumah malam hari."
"Ah, iya."
Rin pun masuk ke dalam. Seperti biasa, wanita itu kalo belanja butuh banyak pertimbangan. Berbeda dengan pria, yang hanya akan membeli dengan cepat apa yang mereka butuhkan.
Belasan menit berlalu, Rin tidak membeli satu barang pun. Tapi Bayu menunggunya dengan sabar. Tidak bertanya, apalagi memaksa. Dia hanya memperhatikan.
Satu hal lagi yang istimewa dari Bayu. Pria itu terlahir dengan perasaan peka. Saat Rin tidak membeli satu barang pun, dia malah mengambil barang yang Rin pegang sebelumnya. Alhasil, sekantong besar makanan ringan siap untuk di bawa pulang.
"Bay ... apa ini?"
"Makanan." Bayu menjawab singkat tanpa beban.
"Iya, aku tahu. Tapi ... kenapa harus sebanyak ini?"
"Buat stok. Di warung gak ada jajanan yang seperti ini."
Rin kehabisan kata-kata. Menjelang senja, mereka pulang ke desa Bayu. Alhasil, dengan cukup banyak barang, mereka sampai ke rumah hampir gelap.
Walau begitu, mulut bebek yang suka bicara tetap saja ada. Ketika Bayu dan Rin pulang, para ibu-ibu yang suka mengomentari hidup orang lain langsung angkat bicara.
"Ya Tuhan. Sejak menikah, Bayu jadi sangat repot ya?"
"Iya itulah salahnya nikah sama orang yang beda cara hidupnya dengan kita. Jadinya, bukannya bahagia, tapi malah sengsara."
Mereka yang suka mengurusi hidup orang lain ini terlalu santai barang kali hidupnya. Bukannya sibuk ngurusin diri dan keluarga mereka sendiri. Eh ... malah sibuk mengurusi hidup orang lain. Padahal, orang yang diurusin hidupnya tenang-tenang saja.
Cerita itu tidak hanya sampai di situ saja. Malahan, ceritanya berlanjut sampai berhari-hari. Hingga akhirnya, Bayu merasa tidak bisa tinggal diam lagi. Dia pun memutuskan untuk bicara di depan orang-orang untuk membuat istrinya merasa lebih nyaman.
"Aku mengumpulkan kalian di sini untuk membahas satu hal. Aku harap, kalian ingin mendengarkan apa yang aku katakan."
"Mau bicara apa, Bay?" Bu Sri berucap cepat.
"Ini masalah hidupku. Masalah rumah tangga aku dan Rin."
"Iya. Rin gadis kota. Dia memang sedikit berbeda cara hidupnya dibandingkan kita yang memang menetap di desa. Tapi, itu bukan alasan untuk kalian terus membicarakan prihal istriku di belakang kami."
"Istriku butuh banyak waktu untuk belajar bergaul dengan kita. Karena sejak awal, lingkungan kota dan desa itu memang berbeda. Jadi tolong, hargai istriku. Bagaimanapun, sekarang dia juga sudah termasuk bagian dari desa ini. Karena sekarang, dia sudah tinggal dan belajar dengan keras untuk berbaur dengan desa ini."
Tidak ada yang berani menyangkal apa yang Bayu ucapkan. Karena mungkin, mereka sadar sekarang, omongan bisik-bisik mereka itu memang salah.
Pertemuan itupun akhirnya berakhir. Rin sama sekali tidak tahu apa yang suaminya lakukan sore itu. Paginya, dia baru tahu dari bu Sri apa yang suaminya lakukan kemarin sore saat akan pulang dari sawah.