NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

" Jangan katakan itu ,nak... semuanya telah berubah kamu sudah menikah tidak pantas memikirkan apalagi mencintai pria lain selain suami mu ." Nasehat mana Retno mengingatkan Aisyah.

Aisyah terdiam dan tersadar akan status nya kini." Ingatannya kini kembali tertuju pada Rain,sosok pria yang penuh dengan kehangatan.Menerima dirinya meski ia masih terjebak dengan masa lalunya.

Aisyah menyeka air matanya, menatap jauh ke luar jendela. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang ada. " Aisyah harus bagaimana,ma?," ucapnya dengan suara yang sudah mulai tenang. " Setelah mengetahui semua nya.. Aisyah bukannya lega tapi seperti ada beban yang begitu berat di pundak Aisyah. Kak Fir sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal...aku tidak akan memaafkannya." Aisyah beranjak pergi meninggalkan mamanya yang masih termangu dengan ucapan Aisyah barusan .

Setelah keluar dari ruang keluarga,dimana Aisyah dan Firdaus bertengkar hebat tadi. Aisyah berjalan pelan menuju halaman belakang rumah. Udara pagi yang segar menyapa wajahnya, namun rasa berat di dalam hatinya tak kunjung hilang. Dia masih bisa merasakan getaran kemarahan dan kekecewaan ketika menyadari seberapa dalam kesalahan yang dilakukan Kak Firdaus yang selama ini dia yakini sebagai pelindungnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat dari arah kebun buah yang terletak di sudut halaman. "Aisyah..."

Aisyah menoleh dengan cepat, matanya membelalak melihat sosok pria yang sudah tiga hari ini tak bertemu dengannya dan pria itu tak lain adalah Rain . Rambutnya sedikit berantakan karena angin, wajahnya yang biasanya penuh senyum kini tampak serius dan khawatir.

"Kamu di sini?" ucap Aisyah dengan suara gemetar, hati yang sudah tenang kembali berdebar kencang.

" Mama memberitahu kalau kamu ada di rumah mama,jadi aku langsung ke sini aja." Ujar Rain sembari duduk di bangku yang ada di depan Aisyah.

" Kenapa tidak memberitahu kalau kamu pulang hari ini?"

" Aku ingin memberikan kejutan,tapi kamu malah tidak ada di apartemen."

Aisyah menghela napas panjang, menunduk melihat tanah basah akibat embun pagi yang mulai muncul. " Maaf, aku kesepian di apartemen jadi aku kerumah mama."

Rain mengangkat dagunya dengan lembut, membuat Aisyah melihat wajahnya. Matanya yang hangat penuh dengan perhatian." Tidak apa-apa,aku yang minta maaf karena meninggalkan mu sendirian."

Aisyah menggeleng pelan ,ia lalu berdiri dari duduknya." "Ayo kita pulang," ucap Aisyah sambil menarik napas dalam-dalam, mencoba menutupi getaran di suaranya. Rain berdiri perlahan, matanya tetap terpaku pada wajahnya seolah ingin membaca apa yang ada di dalam hati Aisyah.

" Nanti saja kita pulangnya,Aku ingin beristirahat sebentar," kata Rain dengan lembut. Aisyah hanya mengangguk tanpa menoleh, langkah kakinya terasa berat saat berjalan meninggalkan halaman belakang di ikuti Rain dari belakang. Mereka berjalan menuju lantai dua dimana kamar Aisyah berada.

Setelah memasuki kamar yang masih sama seperti dulu dengan poster bunga matahari di dinding dan rak buku yang penuh .Aisyah langsung duduk di sofa kecil yang terletak di dekat jendela. Cahaya matahari yang cerah menerobos tirai tipis, menerangi wajahnya yang masih tampak lelah.

Rain menutup pintu kamar dengan pelan, lalu mengambil selimut dari ranjang dan meletakkan nya dengan lembut di tubuh Aisyah. "Kau bisa bercerita jika mau, atau hanya diam saja , sama saja bagiku," ucapnya sambil duduk di ujung sofa.

Aisyah menggeser tubuhnya sedikit, menghadap Rain dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi. " David sudah kembali Aku...." Suaranya terhenti sejenak.

Rain tidak terkejut mendengar nya ,karena ia sudah mengetahui nya .Namun dadanya bergemuruh entah karena amarah atau karena takut jika Aisyah meninggalkan nya dan memilih bersama David.

" Kalian sudah bertemu?" Tanya Rain..meski ia sudah tahu jawabannya tapi rasanya ia ingin mengetahui nya dari bibir istri nya itu.

Aisyah mengangguk pelan sebagai jawaban." perusahaan nya dan Dasyah cafe sudah terikat kontrak kerja sama,aku tidak tahu kalau perusahaan itu adalah miliknya."

Rain terdiam, mendengar semua cerita Aisyah tanpa ia menyelanya sedikitpun dan hal ini yang di sukai oleh nya dari Aisyah meski hubungan mereka tidak seperti umumnya suami istri tapi Aisyah tak pernah merahasiakan apapun darinya termasuk masa lalunya bersama David. Meski terlambat menceritakan nya tapi Rain bersyukur karena Aisyah mempercayai nya terbukti Aisyah begitu terbuka padanya .

Aisyah menahan napas, melanjutkan cerita dengan suara yang semakin pelan." Besok kami akan bertemu untuk membicarakan perkembangan cafe dan juga pembukaan cabang baru di Bandung, dan juga dia ingin memperbaiki segalanya. Bahkan dia menawarkan untuk membatalkan kontrak jika itu membuatku tidak nyaman."

Rain mengerutkan alis, tangannya secara tidak sengaja menggenggam ujung selimut. "Dan apa yang kamu pikirkan tentang itu?" tanyanya dengan hati-hati, tak ingin menunjukkan betapa cemasnya dia sebenarnya.

"Aku tidak tahu, kak Rain..." Aisyah menyentuh wajahnya yang hangat karena selimut. "Saat melihatnya lagi, aku merasa kebingungan.Tapi kontrak kerja sama itu penting untuk Dasyah Cafe ,banyak pekerja yang bergantung padanya."

Rain mendekatkan diri sedikit, menjangkau tangan Aisyah dan memegangnya dengan lembut. "Kamu tidak perlu memikirkannya sendirian, ada aku bersama mu . Lanjutkan saja kerjasama itu,kamu harus bersikap professional meski beberapa mungkin tidak bisa di hindari tapi kamu dan Mayang sudah bekerja keras demi kemajuan Dasyah Cafe. Dan tentang Kak Fir..." Rain terdiam sejenak, mengingat ucapan Aisyah sebelumnya. "Apa sebenarnya yang dia lakukan?"

Aisyah menutup mata sejenak, menahan tangis. "Dia adalah orang di balik perginya David ." Aisyah lalu menceritakan semuanya tanpa terlewatkan sedikitpun.

Rain memeluk pundak Aisyah dengan lembut. "Itu bukan cara yang benar darinya, tapi mungkin dia berpikir itu yang terbaik untukmu. Tapi yang penting sekarang adalah kamu , apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu inginkan untuk masa depan kita."

Tiba-tiba terdengar suara ketukan lembut di pintu kamar. "Aisyah, nak... bolehkah mama masuk?" suara mama Retno terdengar dari luar.

Aisyah mengangkat kepalanya, mengusap air matanya dengan cepat. "Ya, ma... silakan masuk."

Mama Retno masuk membawa cangkir teh hangat, wajahnya tampak khawatir namun penuh cinta. Dia melihat Rain yang sedang menemaninya, lalu memberikan senyuman hangat. " Mama membawa teh jahe untuk kalian." Setelah menaruh cangkir di meja sisi sofa, mama Ratno duduk di kursi kecil di dekatnya. " Mama sudah berbicara dengan kak Fir. Dia merasa sangat menyesal dan ingin meminta maaf padamu secara langsung."

Aisyah menggeleng pelan. "Belum sekarang, ma. Aku masih perlu waktu untuk memahami semuanya."

"Baiklah, nak. Mama mengerti." Mama Retno mengambil tangan Aisyah. "Yang penting, kamu tidak sendirian dalam menghadapi ini. Baik Rain maupun mama akan selalu ada untukmu ,begitupun dengan kak Fir dan papa kita adalah keluarga apapun yang dilakukan pasti demi kebaikan ."

Setelah mama Retno keluar, Rain mengambil cangkir teh dan memberikannya kepada Aisyah. "Mari kita minum dulu, ya? Setelah itu kita bisa merencanakan langkah selanjutnya dengan tenang. Baik tentang David, kontrak, maupun Kak Fir."

Aisyah menerima cangkir dengan kedua tangan, merasakan kehangatannya yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia melihat Rain dengan mata penuh rasa syukur. "Terima kasih sudah selalu ada untukku, kak Rain. Tanpamu aku tidak tahu bagaimana aku bisa menghadapi semua ini."

Rain menyentuh pipinya dengan lembut. "Kita adalah pasangan, Syah. Kita akan melewati semua ini bersama-sama." Sambil menatap wajahnya yang mulai sedikit rileks, Rain menambahkan, "Dan satu hal lagi , apa pun yang kamu putuskan nanti, aku akan selalu mendukungmu. Karena yang penting bagiku adalah kamu bahagia."

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!