NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Malam yang panjang itu terasa semakin mencekam saat ban mobil Rolls-Royce milik Rangga melintasi aspal basah menuju gerbang besar kediaman Dirgantara. Sepanjang perjalanan, keheningan di dalam kabin mobil terasa sangat berat. Rangga menggenggam tangan Alya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengendalikan kemudi dengan sangat santai, seolah-olah ia tidak baru saja menghabisi nyawa seseorang.

​Setibanya di rumah, pelayan rumah menyambut dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap mata sang tuan besar yang memancarkan aura dingin yang menusuk.

Rangga melepaskan jas kulitnya yang bernoda, menyerahkannya pada pelayan tanpa kata, lalu menoleh pada Alya. Senyumnya kembali menjadi senyum "suami sempurna" yang selama ini ia gunakan untuk menenangkan Alya.

​"Sayang, kau tampak sangat pucat. Pergilah ke kamar, mandi dengan air hangat, dan istirahatlah duluan. Aku harus ke ruang kerja sebentar untuk menyelesaikan beberapa dokumen kantor yang tertunda karena kejadian tadi. Aku akan menyusulmu segera," ucap Rangga sambil mengecup punggung tangan Alya dengan lembut.

​Alya hanya mengangguk lemas. Tubuhnya terasa seperti mati rasa. Kejadian di apartemen Bima terus berputar di kepalanya seperti film horor yang tak ada habisnya. Ia berjalan gontai menuju lantai atas, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ia tetap berada di sisi Rangga.

​Rangga melangkah masuk ke ruang kerjanya yang luas dan gelap. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu meja kecil yang memberikan siluet tajam pada wajahnya yang tegas. Ia duduk di kursi kebesarannya, lalu mengambil ponsel khusus dari laci yang terkunci. Ia menekan sebuah nomor.

​"Pak Danu," suara Rangga terdengar rendah dan berbahaya.

​"Iya, Tuan Rangga? Saya mendengar ada kejadian di apartemen Bima," suara Pak Danu, tangan kanan Rangga yang paling setia, terdengar di seberang sana.

​"Lupakan soal Bima. Dia sudah menjadi sejarah. Sekarang, tugasmu adalah menyelidiki siapa sebenarnya orang di balik Bima. Dia berbicara dengan seseorang di telepon sebelum aku mengirimnya ke neraka. Orang itu berniat menguasai Dirgantara Group dan... dia memiliki obsesi pada istriku, Alya."

​Rangga mencengkeram pulpen di mejanya hingga ujungnya retak. "Cari tahu siapa dia. Periksa riwayat panggilan Bima, periksa aliran dananya. Aku ingin namanya, alamatnya, dan kelemahannya berada di mejaku sebelum matahari terbit. Siapa pun yang berani membidik istriku, mereka tidak hanya berurusan dengan hukum, mereka berurusan dengan kematian."

​"Baik, Tuan. Saya akan segera bergerak," jawab Pak Danu dengan sigap.

​Rangga mematikan telepon. Ia menyandarkan punggungnya, menatap kegelapan ruangan. Matanya berkilat penuh dendam. Baginya, Alya adalah satu-satunya cahaya, satu-satunya alasan ia mencoba menjadi "manusia". Dan jika ada yang mencoba mengambil cahaya itu, Rangga tidak akan ragu untuk membakar seluruh dunia.

​Sementara itu, di kamar utama, Alya baru saja selesai membersihkan diri. Uap air hangat masih menyelimuti kamar mandi, namun rasa dingin di hatinya tak kunjung hilang. Ia mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra putih yang longgar. Saat ia hendak meletakkan ponselnya di atas nakas, tiba-tiba benda itu bergetar hebat.

​Sebuah nomor baru yang tidak dikenal tertera di layar. Alya menaikkan alisnya, merasa ragu. Di jam dua pagi seperti ini, siapa yang meneleponnya? Apakah ini polisi? Atau rekan bisnis Rangga?

​Dengan tangan gemetar, Alya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo?"

​Hening sejenak di seberang sana, sebelum sebuah suara yang sangat akrab—suara yang seharusnya sudah terkubur dalam ingatannya—terdengar.

​"Halo, Alya... Apakah kamu masih ingat saya?"

​Jantung Alya seolah berhenti berdetak. Suara itu lembut, namun membawa trauma besar. "Rendi? Kau... Rendi?"

​"Iya, ini aku, Alya," suara di seberang sana terdengar tenang, hampir terlalu tenang.

Rendi, asisten yang dulu disekap Rangga di ruang bawah tanah, pria yang seharusnya sudah menghilang atau lumpuh akibat perbuatan Rangga.

​"Rendi, ada apa kamu menelponku?" bisik Alya panik, matanya melirik ke arah pintu kamar yang tertutup. "Sebaiknya kamu jangan telpon aku lagi. Kamu tahu bagaimana Mas Rangga. Jika dia tahu, dia akan salah paham dan segalanya akan menjadi buruk. Kumohon, demi keselamatanmu, tutup teleponnya."

​"Aku hanya menanyakan kabarmu, Alya. Aku tahu apa yang terjadi malam ini. Aku tahu Rangga baru saja membunuh Bima. Dia tetaplah monster, Alya. Dia tidak akan pernah sembuh," suara Rendi berubah menjadi mendesak. "Aku bisa membantumu keluar dari kediaman Dirgantara. Aku punya tempat yang aman. Aku sudah bekerja sama dengan pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Rangga. Kamu tidak harus hidup dalam ketakutan bersamanya selamanya, Alya.

Datanglah kepadaku..."

​Alya mematung. Tawaran itu terdengar seperti pintu keluar dari neraka, namun ia tahu pintu itu mungkin menuju ke neraka yang lain. "Rendi, aku tidak bisa... Aku tidak akan meninggalkan mas Rangga."

​"Alya, dengarkan aku—"

​Belum sempat Rendi menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar terbuka tanpa suara sedikit pun. Alya tersentak dan berbalik. Di ambang pintu, Rangga berdiri dengan kemeja hitam yang belum dikancingkan sepenuhnya.

​Wajah Rangga yang tadinya tenang kini berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Matanya yang hitam pekat menatap ponsel di tangan Alya dengan tatapan yang bisa membunuh. Aura psikopat yang selama ini ia coba sembunyikan kini meledak keluar, memenuhi ruangan dengan tekanan yang menyesakkan napas.

​Alya kaget luar biasa. Refleksnya langsung mematikan telepon itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya, namun gerakan itu justru menjadi bumerang.

​"Siapa, Alya?" suara Rangga sangat rendah, hampir seperti geraman harimau yang siap menerkam.

​"Mas... ini... ini bukan apa-apa. Hanya salah sambung," Alya mencoba menjelaskan, suaranya bergetar hebat.

Ia melangkah mundur saat Rangga mulai berjalan mendekat ke arahnya. Langkah kaki Rangga terdengar sangat berat di atas lantai kayu.

​"Salah sambung? Di jam dua pagi? Dan kau memanggilnya dengan nada selembut itu?" Rangga tertawa, tapi itu adalah tawa yang paling dingin yang pernah didengar Alya. "Aku baru saja membunuh orang demi melindungimu, Alya. Aku baru saja menodai tanganku agar kau tetap aman. Dan kau... kau menelepon pria lain di belakangku?"

​"Mas, dengarkan aku dulu! Itu Rendi! Dia yang meneleponku, aku tidak tahu—"

​Rangga berhenti tepat di depan Alya. Ia mencengkeram rahang Alya dengan satu tangan, memaksa istrinya untuk menatap matanya yang kini dipenuhi oleh kilatan kegilaan. "Rendi? Pria cacat itu? Jadi dia yang ada di balik semua ini? Dan kau... kau berbicara dengannya seolah dia adalah pahlawanmu?"

​"Tidak, Mas! Aku menyuruhnya berhenti! Aku memintanya jangan menelepon lagi!" tangis Alya pecah.

​Tapi Rangga sudah keburu terhasut oleh rasa posesifnya yang gila. "Kau membohongiku juga, Alya. Kau bilang kau akan selalu di sisiku. Kau bilang kau akan menyembuhkanku. Tapi ternyata di belakangku, kau merencanakan pelarian dengan pria itu?"

​Rangga merampas ponsel Alya dari tangannya dan membantingnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "Kau tahu apa yang aku lakukan pada orang yang mencoba mengambil milikku, kan? Dan kau tahu apa yang aku lakukan pada milikku jika dia mencoba pergi?"

​Alya jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya sambil menangis histeris. Rangga berjongkok di depannya, mengusap rambut Alya dengan gerakan yang sangat kasar namun penuh kasih sayang yang menyimpang.

​"Sssshhh... Jangan menangis, Sayang. Kau membuatku merasa seperti orang jahat di sini," bisik Rangga sambil mencium kening Alya yang basah oleh keringat dingin.

"Karena kau tidak bisa menjaga dirimu dari pengaruh orang luar, kurasa aku harus memberimu 'perlindungan' tambahan. Kau tidak akan keluar dari rumah ini, tidak akan menyentuh alat komunikasi, dan tidak akan melihat cahaya matahari sampai aku memastikan Rendi dan semua teman-temannya sudah tidak lagi bernapas di dunia ini."

​Rangga berdiri, wajahnya kembali menjadi datar tanpa emosi. "Terima kasih telah mengingatkanku, Alya. Bahwa di dunia ini, satu-satunya orang yang bisa aku percaya adalah diriku sendiri saat aku sedang memegang kendali penuh atas hidupmu."

​Rangga berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya dari luar, meninggalkan Alya dalam kegelapan dan isolasi yang sangat ia takuti. Di luar pintu, Rangga berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Aku akan nurut kepadamu, Alya... tapi setelah semua gangguan ini lenyap.

Untuk saat ini, aku harus menjadi monster yang kau takuti agar aku bisa tetap menjadi suami yang kau cintai nanti."

​Malam itu, di kediaman Dirgantara, perang besar baru saja dimulai. Bukan hanya perang memperebutkan kekuasaan bisnis, tapi perang untuk memperebutkan jiwa seorang wanita yang terjebak di antara cinta tulus dan obsesi yang mematikan.

Sementara itu, di ujung telepon yang lain, Rendi menatap layar ponselnya yang mati dengan senyum misterius. "Segera, Rangga... segera kau akan kehilangan segalanya."

Bersambung......

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!