NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Di Antara Adegan dan Detak Jantung

“Kita nonton apa sekarang?” tanya Haruka, suaranya rendah, masih dengan lengannya yang setia melingkari bahuku.

Aku membuka mata sedikit, lalu tersenyum kecil. Tanpa menjawab, aku meraih remote dari tangannya—gerakanku cepat, seolah takut ia berubah pikiran. “Romance,” kataku singkat.

Ia menghela napas pelan. “Alya—” Terlambat. Layar sudah berganti. Musik lembut mengalun, warna-warna hangat menggantikan gelap yang menegangkan tadi.

Aku mengatur posisiku, tetap di pangkuannya. Kepalaku nyaman di dadanya. Tangannya refleks menegang sesaat, lalu kembali diam—seolah ia sedang belajar bernapas dengan keadaan baru. “Kamu yakin?” tanyanya lagi, kali ini lebih hati-hati. Aku mengangguk. “Yakin.”

Film berjalan. Dialog pelan. Tatapan panjang. Adegan-adegan kecil yang tidak meledak-ledak, tapi menetap. Aku menikmatinya—sepenuhnya. Bukan hanya ceritanya, tapi juga perasaan berada di tempat ini, dengan posisi ini, tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Berbeda dengannya.

Aku bisa merasakannya dari detak jantungnya. Sedikit lebih cepat. Sedikit tidak sabar. Dadanya naik turun lebih dalam dari biasanya.

Haruka tidak menonton layar sepenuhnya. Tatapannya kerap turun—ke rambutku, ke tanganku yang bertumpu di dadanya, ke jarak yang terlalu dekat untuk seseorang yang terbiasa menjaga batas. “Alya,” panggilnya pelan. “Hm?” “Kamu nyaman?” Aku tersenyum tanpa membuka mata. “Sangat.”

Jawaban itu membuatnya diam. Tangannya yang semula bertahan di bahuku kini bergerak sedikit—ragu—lalu menetap lagi, lebih pelindung daripada sebelumnya. Di layar, tokoh utama saling menatap, jarak mereka menipis, dunia seakan mengecil hanya untuk dua orang itu.

Haruka menelan ludah. Aku bisa merasakannya.

“Kamu tidak suka filmnya?” tanyaku, pura-pura polos. “Bukan itu,” jawabnya cepat. Lalu berhenti. “Aku hanya… tidak terbiasa.”

“Dengan romance?” “Dengan merasa,” katanya jujur.

Aku membuka mata dan menatapnya. Wajahnya masih tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang jarang ia biarkan terlihat. “Tidak apa-apa,” kataku pelan. “Kamu tidak harus melakukan apa-apa.”

Aku menggeser sedikit kepalaku, mendengarkan detak jantungnya lebih jelas. “Aku cuma ingin nonton,” lanjutku. “Di sini.”

Film terus berjalan. Adegan sederhana: dua orang berbagi tawa kecil, sentuhan tak sengaja, keheningan yang nyaman. Hal-hal yang tampak remeh—tapi justru itulah yang membuat dadanya semakin gelisah.

Ia bukan takut pada layar. Ia takut pada perasaan yang pelan-pelan mengendap.

“Alya,” katanya lagi, suaranya lebih rendah. “Iya?” “Kalau kamu tertidur…” “Aku tidak akan jatuh,” potongku cepat. “Kamu pegang aku.”

Hening. Lalu, sangat pelan, ia mengangguk. “Baik.”

Film kembali berjalan. Cahaya layar menari di dinding, memantul di wajah kami. Aku tetap di pangkuannya, nyaman—terlalu nyaman—hingga tanpa sadar kakiku bergerak kecil mengikuti alur cerita. Sesekali aku berkomentar pelan, sesekali tertawa kecil di adegan manis yang—jujur saja—terlalu klise untukku biasanya.

Haruka tetap diam. Terlalu diam.

Aku mendongak sedikit, menatap rahangnya yang tegang. “Kamu serius nonton nggak, sih?” Ia menghela napas pendek. “Aku mendengar.” “Bohong,” godaku. “Kamu bahkan nggak berkedip.”

Ia hendak membalas, tapi memilih bangkit sedikit untuk meraih gelas di meja. Di saat yang sama—entah dorongan iseng dari mana—aku menegakkan badanku. Cepat. Refleks. Terlalu dekat.

Dan itu terjadi.

Bukan ciuman yang direncanakan. Bukan juga yang dramatis. Hanya sentuhan singkat—bibirnya menyentuh bibirku sepersekian detik, kaget pada kaget, napas pada napas.

Waktu seperti tersendat.

Aku membeku. Ia membeku. Layar tetap bergerak seolah tidak peduli pada kekacauan kecil kami.

Wajahku langsung panas. Aku menunduk, jantungku berlari lebih cepat dari adegan di layar. Tapi senyum kecil—pengkhianat—tetap muncul di bibirku. Haruka menarik napas tajam, matanya melebar sesaat sebelum ia memalingkan wajah.

“Ma—,” katanya, berhenti. Menelan ludah. “Aku tidak—”

Aku mengangkat kepala, senyumku semakin nakal. “Sekali saja?” tanyaku pelan, pura-pura tak bersalah.

Ia menoleh cepat. Terlalu cepat. Wajahnya… memerah. Bukan merah marah. Bukan merah dingin. Merah—malu.

Aku tertawa kecil, tidak bisa menahannya. “Dosen tampan malu?” “Alya,” ucapnya memperingatkan, tapi suaranya tidak punya tenaga. “Kalangan atas juga bisa salah fokus, ya?” Ia menutup mata sebentar, lalu—alih-alih membalas—ia menyembunyikan wajahnya di belakang punggungku. Benar-benar bersembunyi.

Aku terdiam sesaat. Lalu tertawa lebih keras. “Haruka!” protesku sambil menepuk lengannya. “Kamu ngapain sih?” “Diam,” gumamnya dari belakang punggungku. “Jangan lihat aku.”

Aku tersenyum lebar, dada terasa hangat dengan cara yang aneh dan menyenangkan. “Kamu lucu.” “Aku tidak lucu.” “Kamu sangat lucu.”

Tangannya yang tadi gelisah kini melingkar lebih pasti di pinggangku, menahanku agar tidak bergerak terlalu jauh. Wajahnya masih tersembunyi di balik punggungku, tapi aku bisa merasakan napasnya—yang semula tidak teratur—kini mulai melambat, mengikuti ritmeku.

Film tetap berjalan. Dialog romantis mengalir. Musik latar terdengar lembut.

Dan aku… masih menonton.

Aku sengaja tidak bergerak. Tidak menoleh. Seolah-olah posisi ini adalah hal paling biasa di dunia. Padahal, jantungku sendiri masih berdetak cepat karena kejadian barusan.

Beberapa menit berlalu. Ia tetap bersembunyi.

Aku tersenyum kecil, lalu berbisik pelan, penuh godaan, “Masih malu ya, Pak?”

Tidak ada jawaban. Tapi lingkar tangannya sedikit mengencang.

Aku menahan tawa. “Tenang aja,” lanjutku sambil tetap menatap layar, “kalau Bapak masih ingin menciumku, aku juga nggak keberatan kok. Nggak usah malu-malu kali pak.”

Aku tertawa kecil. Sengaja. Menggoda. “Lagipula… tadi kan nggak sengaja.”

Detik berikutnya, aku menambahkan dengan nada makin jahil, “Atau… mau aku yang cium nih, Pak?”

Itu kesalahan kecil yang menyenangkan.

Aku tidak sempat bereaksi ketika tiba-tiba—

ck!

Ia menggigit punggungku. Tidak keras. Tidak menyakitkan. Hanya cukup untuk memberi tanda.

Aku terkejut, lalu tertawa spontan. “Haruka!” seruku sambil meringis geli. “Kamu kenapa sih!”

Ia akhirnya mengangkat wajahnya sedikit, masih di belakang punggungku. “Berhenti,” katanya rendah. “Atau aku tidak menjamin akan tetap sabar.”

Wajahnya masih memerah. Matanya menghindar. Dan itu… sungguh pemandangan langka.

Aku tertawa lagi, bahuku sedikit terguncang. “Kamu cemburu sama kata-kataku sendiri?” “Alya,” ucapnya memperingatkan. “Ternyata kamu gampang malu,” potongku. “Padahal kamu kelihatan selalu tenang.”

Ia mendengus pelan, lalu kembali menyembunyikan wajahnya. Kali ini lebih dalam, dahinya menempel di punggungku. “Aku tidak terbiasa,” gumamnya. “Dengan apa?” tanyaku lembut. “Dengan seseorang yang tidak takut padaku.”

Tawaku mereda. Aku tidak menjawab. Hanya bersandar sedikit ke belakang, memastikan punggungku menempel lebih nyaman di dadanya.

Ia menghela napas pelan. Panjang. Seolah akhirnya menyerah pada situasi yang sejak awal tidak bisa ia kendalikan.

Tangannya yang melingkar di pinggangku kini benar-benar diam. Tidak lagi kaku. Tidak lagi ragu. Hanya ada di sana—menopang, bukan menahan. Seperti ia akhirnya menerima bahwa malam ini, ia tidak perlu menjaga jarak.

“Kamu sadar,” katanya pelan di dekat telingaku, “kamu sangat merepotkan.”

Aku tersenyum, mataku tetap pada layar. “Aku tahu.” “Dan kamu menikmatinya.” “Sedikit,” jawabku jujur.

Ia mendengus kecil. Hampir seperti tawa yang tertahan. “Kalau aku biarkan,” lanjutnya, “kamu akan terus menggodaku.” Aku memiringkan kepala sedikit. “Kamu bisa menghentikanku kapan saja.” Ia terdiam beberapa detik. Lalu berkata lirih, “Masalahnya… aku tidak ingin.”

Kalimat itu membuat dadaku hangat. Bukan karena romantis berlebihan. Tapi karena kejujurannya.

Aku menggeser posisi sedikit, kini duduk lebih nyaman di pangkuannya. Ia menyesuaikan tubuhnya tanpa protes. Tanpa komentar. Bahkan membetulkan posisi tanganku yang hampir pegal karena terlalu lama menahan diri.

Film di layar menampilkan adegan sederhana—dua tokoh utama hanya duduk berdampingan, berbagi keheningan. Aku tersenyum kecil melihatnya. “Mirip kita,” gumamku. Ia menoleh sekilas ke layar, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di belakang pundakku. “Jangan samakan aku dengan karakter film,” katanya. “Kenapa?” “Karena di film, semuanya selalu berakhir mudah.”

Aku menoleh sedikit, tidak sampai menatapnya. “Dan kita?” “Kita… bertahan,” jawabnya pelan.

Aku mengangguk. Itu cukup.

Tangannya bergerak pelan, mengusap lenganku dengan gerakan kecil—nyaris refleks. Seperti seseorang yang lupa bahwa ia sedang bersikap lembut, tapi tidak ingin berhenti.

“Alya,” katanya tiba-tiba. “Hm?” “Kalau kamu tertidur… aku tidak akan memindahkanmu.” Aku tersenyum, mataku mulai berat. “Bagus,” gumamku. “Aku juga nggak niat turun.”

Ia tidak menjawab lagi. Hanya menarikku sedikit lebih dekat, membiarkan kepalaku bersandar lebih nyaman. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku merasakan sesuatu yang jarang ia tunjukkan—

pasrah. Bukan karena kalah. Tapi karena memilih tinggal.

Film terus berjalan. Hujan masih turun di luar. Dan di sela-sela adegan dan detak jantung itu, kami tidak melakukan apa-apa yang besar.

Kami hanya ada. Bersama. Dan entah kenapa, itu terasa lebih dari cukup.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!