NovelToon NovelToon
Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Penjelajah Rimba Tak Berhingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: Guraaa~

Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.

Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.

Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Konspirasi dan Persekutuan

Bulan berikutnya adalah bulan dengan tekanan terberat yang pernah dialami Kaelen. Selain latihan rutinnya, dia sekarang juga harus waspada terhadap serangan diam-diam dari faksi Elder Kwan. Dua kali lagi, upaya sabotase terjadi—sekali dengan racun di makanannya (yang dia deteksi dengan indera energinya), dan sekali dengan jebakan formasi di kamar mandi umum.

Tapi dia tidak sendirian. Jek, teman sekamarnya yang pendiam, ternyata memiliki keahlian tak terduga dalam mendeteksi racun dan jebakan—tampaknya berasal dari latar belakang keluarga pedagang yang berurusan dengan barang-barang berbahaya. Diam-diam, Jek mulai membantu Kaelen, memeriksa makanan dan kamarnya.

"Kau membantuku saat aku pertama kali datang ke sini," kata Jek suatu malam saat dia menemukan jarum halus beracun tersembunyi di bantal Kaelen. "Sekarang giliranku membalas."

Selain Jek, Kaelen menemukan sekutu tak terduga lainnya: Liana, salah satu saudari dari Marga Surya yang juga lulus ujian sekte. Liana, yang awalnya meremehkan Kaelen, kini menghormati ketekunannya. Dia adalah murid inti Lapis Keempat awal dan mulai melatih Kaelen dalam pertarungan satu lawan satu di waktu luang mereka.

"Kau memiliki insting yang bagus, tapi teknikmu berantakan," kata Liana setelah sparing di mana Kaelen kalah telak. "Kau seperti petarung jalanan—efektif tapi tidak elegan. Di turnamen, elegan penting untuk mengesankan para elder."

Dia mengajarinya teknik dasar seni pedang sekte—"Sembilan Gerakan Awan". Kaelen belajar dengan cepat, mengintegrasikannya dengan "Seni Baja Menari" dari Borin dan naluri bertarung alaminya.

Di sisi kultivasi, Kaelen menghadapi rintangan besar: dinding antara Lapis Ketiga dan Keempat. Untuk mencapai Lapis Keempat Qi Gathering, seseorang harus mengkonsolidasikan Qi mereka menjadi inti yang lebih padat di laut pusat—proses yang membutuhkan energi besar dan pemahaman mendalam tentang siklus energi tubuh sendiri.

Lin Xia memberinya "Pil Konsolidasi Inti", tetapi memperingatkan: "Ini akan mempercepat proses, tapi juga meningkatkan risiko. Jika kau tidak bisa mengontrol aliran energi, intimu bisa retak, dan itu akan merusak fondasimu selamanya."

Kaelen memutuskan mengambil risiko. Malam sebelum mengonsumsi pil, dia melakukan persiapan ekstensif—memurnikan meridiannya, menenangkan pikirannya, dan menyiapkan formasi penstabil sederhana di sekeliling tempat meditasinya.

Proses konsolidasi itu menyiksa. Saat pil bekerja, Qi-nya bergejolak, mencoba dikompresi menjadi inti yang lebih padat. Rasa sakitnya luar biasa—seolah setiap sel tubuhnya diremas. Tapi Kaelen bertahan, menggunakan ingatan fragmennya sebagai penahan. Dia melihat kilasan kehidupan sebelumnya—duduk di puncak gunung di dunia lain, mengamati bintang-bintang; berdiri di tengah lautan, merasakan arus yang dalam; berjalan melalui hutan yang tak berujung.

Dan kemudian, sebuah suara: "Kami di sini. Kami bersamamu."

Dua kehadiran dalam dirinya—fragmen pertama dan kedua—mengeluarkan energi penstabil. Rasa sakit mereda, dan Qi-nya mulai berputar dengan teratur, membentuk inti kecil yang padat dan berkilau di laut pusatnya. Lapis Keempat!

Dia membuka mata, tubuhnya basah oleh keringat, tetapi merasa lebih kuat dari sebelumnya. Inderanya lebih tajam, kontrolnya terhadap Qi lebih halus, dan hubungannya dengan fragmen-fragmennya lebih jelas.

Lin Xia, yang menunggu di luar, memasuki ruangan dan mengangguk setuju. "Bagus. Sekarang kau siap untuk Turnamen Bulan."

Turnamen Bulan adalah acara kecil tapi penting. Diadakan di Lapangan Batu, diikuti oleh ratusan murid dari semua tingkatan. Formatnya sederhana: pertarungan eliminasi satu lawan satu. Hadiahnya adalah poin kontribusi dan kesempatan untuk dipilih oleh elder sebagai murid pribadi.

Kaelen, sebagai murid luar Lapis Keempat baru, tidak diunggulkan. Tapi dia punya rencana.

Di babak pertama, dia melawan murid inti Lapis Ketiga yang terlalu percaya diri. Kaelen mengakhirinya dengan cepat dengan kombinasi "Seni Baja Menari" dan tusukan es kecil yang tidak terlihat—cukup untuk melumpuhkan tanpa melukai parah.

Di babak kedua, dia menghadapi murid luar Lapis Keempat lain, yang lebih berpengalaman. Pertarungan itu lebih seimbang, tetapi Kaelen menggunakan pemahaman formasi untuk memprediksi gerakan lawan, memenangkannya dengan poin teknis.

Babak ketiga adalah kejutan: dia melawan Arlan.

Kerumunan bergemuruh. Pertarungan antara "si beruntung" dan "bintang marga" menarik perhatian. Arlan, sekarang di puncak Lapis Keempat, percaya diri.

"Kau tidak akan beruntung kali ini, Kaelen," kata Arlan di atas panggung.

"Kita lihat," jawab Kaelen tenang.

Pertarungan itu sengit. Arlan menggunakan semua teknik andalannya, termasuk "Cakar Elang Berapi" yang lebih kuat. Kaelen bertahan, menggunakan kecepatan dan efisiensi. Dia sengaja menahan diri dari menggunakan elemen es secara terbuka—itu adalah kartu trufnya untuk turnamen yang lebih besar.

Setelah beberapa menit, Kaelen melihat pola: Arlan menjadi ceroboh saat marah. Dia memancing Arlan dengan membuka pertahanan, dan saat Arlan menyerang dengan serangan besar, Kaelen menggunakan "Langkah Angin Lembut" untuk berputar di belakangnya dan menempatkan pedang kayunya di tenggorokan Arlan.

"Match!" teriak wasit.

Arlan kalah. Wajahnya memerah karena malu dan kemarahan, tetapi dia menerima kekalahannya dengan anggukan singkat—peningkatan dari sikapnya sebelumnya.

Kaelen maju ke semifinal, di mana dia akhirnya kalah dari murid inti Lapis Kelima yang jauh lebih kuat. Tapi performanya telah membuat impression. Beberapa elder, termasuk Elder Wen, memuji kemajuannya.

Tapi kemenangan kecil ini juga membawa masalah baru. Malam setelah turnamen, Kaelen menerima pesan anonim: "Kami mengawasimu. Hentikan kemajuanmu, atau hadiah turnamen akan menjadi yang terakhir yang kau terima."

Dan bersama pesan itu, sebuah benda: sepotong kecil kristal hitam yang sama dengan yang menempel di Batu Langit. Parasit.

Ordo tidak hanya mengawasi; mereka ada di dalam sekte, dan mereka mengirimkan peringatan langsung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!