“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 10
Miranda tidak berani keluar dari truk yang tertutup terpal. Hujan turun lumayan deras. Untung saja ada celah di bak truk yang memberi sirkulasi udara. Sejak diceraikan, Miranda belum tidur sama sekali. Ia sudah bekerja keras seharian, tubuhnya terasa remuk, matanya berat, lalu tanpa disadari Miranda tertidur lelap di atas tumpukan daun pisang.
Suara mesin menyala dan mobil mulai melaju, tetapi Miranda tetap terlelap. Truk itu membawa daun pisang sekaligus membawa dirinya yang tersembunyi di dalam bak.
Dua jam kemudian, mobil akhirnya sampai di sebuah pasar besar. Orang-orang sudah menunggu untuk memborong daun pisang. Bisnis itu sederhana. Sopir membeli daun dari kampung dengan borongan satu kebun, lalu di kota ia menjualnya per kilogram dengan harga lebih tinggi.
Sopir membuka terpal dari samping. Kain terpal tersibak perlahan. Miranda masih tidur tanpa menyadari apa pun. Beberapa orang membantu membuka pintu bak.
“Mayat!” teriak seorang pembeli dengan wajah pucat.
Miranda terlonjak kaget. Ia mengucek mata, bangkit dari tidurnya, lalu duduk dengan wajah linglung. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
“Mayatnya hidup!” teriak seorang wanita histeris.
“Bego, dia bukan mayat. Dia maling kali,” sahut pembeli lain dengan nada curiga.
“Cepat panggil security!” teriak seseorang lagi. Mereka tidak ingin terjadi keributan di pasar.
“Tidak usah panggil security. Langsung gebukin saja!” seru yang lain dengan emosi.
Beberapa orang mulai mendekat dengan wajah penuh amarah, seolah sudah tidak sabar ingin memukuli Miranda.
“Gila, masa iya aku akan mati digebukin begini,” pikir Miranda dengan panik.
Kata gila tiba-tiba melintas di benaknya. Seketika sebuah ide nekat muncul. Hanya itu satu-satunya cara agar ia selamat.
“Jangan main hakim sendiri!” terdengar suara tegas seorang pria berseragam security.
Miranda membuka matanya lebar-lebar. Ia lalu tertawa keras, melompat, dan memeluk lutut security itu.
“Ayah, ayah, aku mau permen,” ucap Miranda sambil memeluk erat lutut pria tersebut.
“Dia bukan maling. Sepertinya dia orang gila. Barangku tidak ada yang hilang,” kata sopir truk mencoba menenangkan suasana.
“Ih aneh ya, kenapa setiap hari makin banyak orang gila. Ini gara-gara ekonomi makin sulit,” gumam seorang ibu.
Security terdiam sambil menatap Miranda dengan wajah kesal.
“Sial, kalau dia maling aku bisa dapat nilai bagus dari atasan. Kalau orang hilang, aku bisa dapat imbalan dari keluarganya. Tapi ini orang gila, merepotkan sekali,” pikir security dalam hati.
Dengan sedikit mendorong lututnya hingga Miranda terjatuh, security itu berkata keras, “Dasar orang gila, cepat pergi!”
Kalimat itu justru yang diharapkan Miranda. Namun ia tidak mau langsung pergi. Ia harus meyakinkan semua orang bahwa dirinya benar-benar gila.
“Ayah, beri aku permen, Ayah,” tangis Miranda pura-pura.
Security itu mengangkat tongkatnya seolah hendak memukul. Miranda langsung menjerit ketakutan, “Ampun, Ayah, ampun!” lalu ia berlari menjauh.
“Aih, dasar gila,” gerutu security.
“Sepertinya aku harus memandikan mobilku dengan kembang tujuh warna. Bisa sial mobilku ditumpangi orang gila,” keluh sopir truk.
Untungnya para pembeli tidak terlalu mempermasalahkan kejadian itu. Transaksi jual beli daun pisang tetap berlangsung seperti biasa.
Miranda berhenti berlari setelah aga jauh, nafasnya tak beraturan, dia memegang lutunya yang pegal, lalu melihat sebuah plang nama besar “Pasar induk Kramat Jati”
“apa” gumam miranda “aku ada di Jakarta, bagaimana ini,,bagaimana caranya aku pulang”
Sementara itu, di tempat lain, Raka sedang berusaha keras menyalakan ponselnya.
“Sabar dong, Pak GM,” ucap Andi. “Baru juga dicas. Tunggu sebentar. Itu artinya baterai benar-benar habis.”
Raka meletakkan ponselnya lalu bertanya, “Memangnya apa yang diributkan Pak Riko?”
Andi berdecak sambil menggelengkan kepala. “Pak GM ini bagaimana sih? Tidak mantau grup WA?”
“Sudah, jangan banyak bicara. Cepat katakan ada apa Pak Riko mencariku,” potong Raka kesal.
“Itu loh, stok kecap turun drastis. Padahal sebentar lagi puasa dan Lebaran,” jelas Andi sambil menatap Raka heran. Baru kali ini ia melihat atasannya sekacau itu.
“Terus kamu tidak bantu jelaskan?” gerutu Raka.
“Aku sudah jelaskan, tapi tetap saja Pak Riko minta penjelasan langsung dari kamu.”
Raka memandang Andi dengan kesal. “Kamu pasti tahu masalahnya. Harusnya kamu jelaskan saja.”
Andi menggeleng pelan. “Ada apa dengan Pak GM ini? Bukannya aku tidak mau jelasin, tapi aku tahu kamu paling tidak suka kalau dilangkahi.”
Raka terdiam. Memang benar, ia selalu marah jika ada orang mengambil alih wewenangnya. Ia terus menekan tombol power ponsel, hingga akhirnya layar itu menyala.
Jantung Raka tiba-tiba berdebar. Selama bekerja, Pak Riko tidak pernah marah kepadanya. Ia selalu proaktif melaporkan perkembangan pabrik. Namun hari ini berbeda. Hanya karena ia sibuk mengurusi Lina dan ponselnya mati, semua menjadi kacau.
“Semua ini gara-gara Miranda. Kenapa dia lupa mengecas ponselku,” pikir Raka tanpa sadar.
Ia lalu mendesah dan teringat bahwa Miranda sudah tidak ada lagi di rumahnya.
“Apa karena Miranda hidupku sekacau ini?” batinnya.
Raka segera menggelengkan kepala. “Tidak, ini hanya masalah biasa. Nanti juga akan terbiasa.”
Ia berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja, meski di hatinya tumbuh keraguan.
Ponsel akhirnya benar-benar menyala. Seketika deretan pesan dan panggilan masuk bertubi-tubi. Pak Riko menelpon lima belas kali, Andi lima kali, dan banyak rekan kerja menunggu keputusannya sebagai GM.
Saat membuka grup WA, Raka melihat puluhan pesan menuntut penjelasan darinya.
Baru saja ia hendak membalas, ponselnya berdering. Nama Pak Riko, direktur perusahaan, muncul di layar.
Raka segera mengangkat telepon.
“Di mana Pak Raka?” tanya Riko dengan suara dingin.
“Di kantor, Pak,” jawab Raka.
“Cepat ke ruangan saya.”
“Siap, Pak.”
Raka berdiri, mengambil ponsel yang baru terisi lima persen. Langkahnya tergesa hingga hampir menabrak beberapa meja. Andi hanya menggeleng melihat tingkah atasannya.
“Ada apa dengan dia? Kenapa kacau sekali,” pikir Andi.
Raka menuju lift dan menekan tombol lantai tiga, tempat ruangan Pak Riko berada. Pintu lift terbuka. Ia melangkah masuk ke ruangan direktur. Pak Riko terlihat duduk di meja rapat sambil memegang pelipisnya.
“Pak Raka, jelaskan semua ini,” ucap Pak Riko dengan nada tinggi bahkan sebelum Raka sempat duduk. “Kenapa stok bisa turun sedrastis ini? Kenapa produksi kita lambat?”
Jantung Raka berdebar kencang. Selama bekerja, baru kali ini ia dimarahi dengan nada setinggi itu.
Raka terdiam. Seharusnya ia sudah berkoordinasi dengan tim produksi untuk mengetahui akar masalahnya. Namun karena kemarin ia sibuk dengan urusan pribadi dan ponselnya mati, semua menjadi berantakan. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menjawab pertanyaan atasannya.
Pak Riko menggeleng kecewa. “Pokoknya saya tidak mau tahu. Masalah ini harus segera selesai. Sekarang kamu cek sendiri ke pabrik kita di Subang.”
“Baik, Pak,” jawab Raka dengan suara sedikit bergetar.
Di dalam hatinya, untuk pertama kali Raka merasakan sesuatu yang asing. Rasa takut kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
gemes bgt baca ceeitanya