AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27: it starting to be answered [1]
“MAAF, Yang Mulia, tetapi saya masih belum dapat memastikan penyebab rasa sakit yang dialami Putri. Lebih baik, jika Yang Mulia menunggu utusan dewa dari negara suci untuk memeriksa karena saya tidak memiliki kapasitas untuk memberikan pernyataan dalam kasus ini.”
“Baiklah, kau boleh keluar.”
Utusan dewa tersebut yang datang dari kuil di ibukota membungkuk hormat dan beranjak pergi bersama kepala pelayan yang mengantar kepergiannya–sedangkan Ibu asuh yang masih berada di dalam ruangan kemudian mendekat dan mengganti gaun tidur Elora dengan pakaian yang lebih longgar dan tipis, mengingat bekas luka di bagian dada yang terkadang sakit.
Suara pintu yang ditutup rapat kemudian menjadi penanda bahwa hanya terdapat kami berdua di dalam kamar. Menduduki kursi kayu yang disediakan tepat di samping tempat tidur–perlahan aku mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Sembari menarik selimut untuk menutupi dada anak itu, aku memperhatikan bayangan bekas luka di balik gaun tidurnya sebelum berpindah ke bagian leher.
Penampakan itu membuat hatiku sakit dan sontak mmebawaku pada ingatan tentang percakapan kami beberapa waktu lalu. Orang bersinar yang dikatakan Elora dan kemunculan cahaya terang yang berasal dari luka yang aku beri di masa lalu–kemungkinan besar saling berkaitan. Aku memejamkan mata, menyandarkan punggung di sandaran kursi dan menarik satu kesimpulan.
“Orang itu adalah penyebabnya.”
Jika semuanya ditarik dari awal sampai akhir, maka semua kejadian, fakta yang ditemukan, pengakuan, serta potongan memori di masa lalu hanya mengarah pada satu orang, yaitu manusia bersinar yang dikatakan Elora. Meski ini hanya berupa dugaan sementara, aku sangat yakin bahwa rasa sakit yang dialami Elora saat ini adalah sebuah peringatan–entah untukku atau untuk anak itu.
Hanya satu yang membuatku bertanya-tanya–di kehidupan kedua Elora saat itu, apa yang terjadi hingga pada akhirnya aku tetap membunuhnya? Padahal, jika berdasarkan memori masa lalu, kami mungkin sudah sangat sering berinteraksi dan hubungan kami mungkin jauh lebih baik dari saat ini. Apakah itu karena kegelapan? Ya, pasti begitu. Sebab, hanya itu faktor yang paling kuat untuk sekarang. Maka dari itu, aku melakukan sumpah padanya, bahwa aku tidak akan membunuhnya lagi.
***
“Papa?”
Aku membuka mata dan segera menoleh; berdiri dan sertamerta meletakkan tanganku di dahinya.
“Ada yang sakit?”
Dia menggeleng. “Papa tidak tidul?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin saja.”
Dia terkekeh kemudian menepuk-nepuk sisi bagian kasur yang kosong, berkata, “Sini, El lindu Papa.”
Aku yang sebenarnya tidak mau bergerak akhirnya beringsut memasukkan diri ke dalam selimut dan berbaring. Di detik itu juga, dia memelukku dan menempelkan tubuhnya seperti lem. Aku yang terkejut oleh gebrakannya hari ini berusaha menormalkan diri. Perlahan namun pasti, tubuhku mulai merasa nyaman dan tidak setegang tadi. Anak itu sontak terkekeh pelan dan semakin membenamkan diri ke dalam pelukanku, sementara aku membelai rambut kuningnya yang bersinar diterpa cahaya matahari yang masuk dari jendela.
“Aku sudah ingat semuanya.” Gerakannya yang mendusel-dusel kepalanya ke dadaku terhenti. Dia otomatis mendongak dan menatapku dengan raut wajah bingung sedangkan aku melanjutkan perkataanku kembali. “Bahwa kau telah hidup dua kali setelah kubunuh.”
Dia termangu. Netra biru cerahnya meredup dengan mulut yang mengerucut ke bawah. “Telnyata El sudah ketahuan.” Dia memberi jeda. “Apa El akan diusil?” Dia mengangkat wajah dengan linangan air mata yang berusaha dia tahan. “Apa Papa akan menjauhi El lagi?”
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa dan bersikap bagaimana. Melihat dia menangis seperti ini membuatku sakit, tetapi di sisi lain aku seolah hanya bisa membeku.
“El lebih baik mati dalipada halus dijauhi Papa lagi.”
Detik itu juga, aku membawa Elora masuk ke dalam pelukan. Tanpa berkata apa-apa, tanganku mengusap pelan punggungnya; membiarkan dia meluapkan isi hatinya yang selama ini tersimpan rapat. Aku tidak tahu cara menangani anak kecil yang menangis karena perbuatanku, tetapi aku tahu bahwa dengan belaian yang kulakukan, aku berusaha menyalurkan isi hatiku padanya. Hingga beberapa saat, kami hanya diam dengan Elora yang menangis dan aku yang terus menenangkannya.
“Sudah baikan?”
Dia mengangguk, ragu. Aku lantas mendekatkan diri kepadanya; membuat posisi yang nyaman untuk kami berdua. “Sebelum memakan puding cokelat kesukaanmu, ada satu hal yang harus kupastikan.”
Dia mengangguk, pelan. Setelah mendapat izin darinya, aku mulai mengajukan pertanyaan yang selama ini berputar di kepalaku.
“Apa orang bersinar itu yang juga menyuruhmu mendatangiku di kehidupan pertama dan kedua?”
“Ya.” Elora menjawab setelah beberapa menit terdiam. “Namun, Papa tidak usah khawatil. El akan melindungi Papa!” katanya dengan sorot mata tajam yang penuh dengan keyakinan.
Aku terkekeh dan mengusap bagian belakang kepalanya. “Papa bisa menjaga diri sendiri. Selain itu, yang hanya perlu kau lakukan adalah makan yang banyak dan tidur dengan teratur, bermain dan melakukan apa yang kau suka tanpa perlu merasa terbebani. Hanya itu yang harus kau lakukan.”
Otakku kembali memutar memori masa lalu yang membuatku bertekad dalam hati. Jika di kehidupan pertama dan kedua, dia berakhir terbunuh di tanganku, maka pada kehidupan ketiga ini, aku akan memastikan bahwa takdir yang membayangi kami berdua berubah dengan sebuah kebahagiaan.
“Sekarang, ayo makan puding.”
Sudut bibirnya tertarik ke atas dan membentuk lengkungan senyuman yang panjang. Begitu manis dan hangat yang membuatku merasakan kehangatan di dalam hati. Dengan mata yang sembab dan bengkak, dia memandangku dengan pandangan berbinar–yang tak pernah berubah baik di masa lalu maupun saat ini.
“Ya!”
Aku turun dari tempat tidur dan membiarkan dia memimpin jalan. Namun, tepat di depan pintu, aku menggendongnya. Dua orang ksatria yang berjaga di depan kama memberi hormat begitu kami muncul dari celah pintu. Berjalan lurus menuju ruang makan, aku menghentikan langkah ketika bertemu dengan kepala pelayan di koridor.
“Bawakan makanan yang mudah dicerna dan juga puding cokelat.”
“Baik, Yang Mulia.”
Aku melanjutkan langkah; mengabaikan tatapan pelayan di sepanjang koridor menuju ruang makan. Dari kejauhan, aku dapat mendengar obrolan mereka tentang bekas goresan di leher Elora–dan kenyataan bahwa aku sendiri yang menggendongnya ke ruang makan. Itulah yang pelayan itu bicarakan. Mereka pasti kaget melihatku yang seperti ini–demikian juga diriku sendiri. Jadi, aku memakluminya karena orang kaku yang dingin sepertiku ini telah bertindak seperti seorang Ayah sungguhan yang memanjakan putrinya.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak