NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Pertemuan dengan Kalina

Keesokan harinya, Renan membawa Ayuna ke rumah sakit swasta untuk pemeriksaan rutin. Ia ingin memastikan Ayuna dan bayi itu baik-baik saja. Apakah ada kekurangan vitamin, atau hal lain yang perlu diperhatikan.

Kata-kata dokter itu masih terngiang di kepala Renan.

"Kandungannya masih sangat muda. Secara medis tidak ada masalah, tapi kondisi emosional ibu sangat berpengaruh. Sebaiknya dihindari stres berlebihan."

Saat itu, Renan hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Namun sejak keluar dari ruang pemeriksaan, pikirannya tidak lagi tenang.

Ia tiba-tiba menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa berat. Setiap kata dingin yang ia ucapkan, setiap sikap kasarnya, bukan hanya melukai Ayuna.

Tapi juga anak yang belum lahir itu.

Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara.

Namun Ayuna bisa merasakannya. Renan peduli pada anak itu.

Mungkin lebih dari yang ia tunjukkan.

“Kita mau ke mana setelah ini?” tanya Ayuna pelan.

“Kembali ke Rose Residence,” jawab Renan singkat.

Ayuna menggigit bibirnya sejenak.

“Aku, ingin bertemu temanku.”

Renan meliriknya.

Ia tidak berkata apa-apa, tapi Ayuna langsung tahu, ia tidak senang.

“Mereka belum tahu soal pernikahan kita,” lanjut Ayuna cepat. “Lagipula, pesta pernikahan kita masih dua bulan lagi, jadi—”

“Di mana?” potong Renan.

Ayuna tertegun, matanya membulat sedikit.

“Hah?”

“Maksudku, kalian janjian di mana?” ulangnya datar. “Aku antar.”

“Oh…” Ayuna tampak sedikit bingung, lalu menjawab, “Di lingkungan lama, pusat kota. Mereka libur hari ini.”

Renan mengangguk.

“Rumah yang diberikan kakakku juga di pusat kota. Namanya Awan Kencana.”

Ayuna bergumam pelan, hampir tak terdengar,

“Keluargamu memang sangat kaya.”

“Kalau kamu tahu keluargaku kaya,” suara Renan terdengar datar namun tajam, “kenapa kamu masih memilih bekerja? Apa memang dunia luar lebih baik bagimu?”

Ia melirik sekilas, lalu menambahkan dengan nada rendah,

“Atau ada seseorang yang menunggumu di tempat kerjamu?”

“Tidak.” Ayuna menjawab pelan, namun jelas.

“Aku belajar bertahun-tahun bukan untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.”

Melihat wajah Renan yang tetap dingin dan keras, ia menguatkan diri untuk melanjutkan.

“Dan tidak ada orang lain,” katanya. “Sepertinya kamu salah paham tentangku. Seperti yang kamu katakan kemarin saat kita mengurus pernikahan.”

“Aku tidak ingin mendengar nama orang yang tidak penting,” potong Renan cepat.

Ayuna menunduk, jemarinya saling menggenggam.

“Haruskah kamu selalu bicara seperti itu padaku?”

Renan terdiam sejenak. Lalu ia menghela napas pelan, nada suaranya melemah meski tetap kaku.

“Kondisimu tidak cocok untuk bekerja sekarang,” katanya akhirnya.

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan,

“Soal itu, kita bicarakan lagi tahun depan.”

Setelah itu, tak ada lagi percakapan.

Namun di dalam hati, Ayuna justru merasa aneh. Sudah lama sekali mereka tidak duduk bersama seperti ini. Dalam satu mobil, dalam jarak sedekat ini.

Ia berpikir, ia harus mencari kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Terutama tentang kesalahpahaman itu.

Jika semuanya jelas, apakah mereka masih bisa menjalani hidup dengan baik?

Di sisi lain, Renan menatap jalanan di depan. Melihat Ayuna yang terdiam seperti itu, ia tahu keadaan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Mereka perlu berdamai.

Dan itulah alasan sebenarnya ia membawa Ayuna ke rumah temannya hari ini.

Kesempatan itu akhirnya datang. Dan Renan tidak berniat melewatkannya.

❀❀❀

“Apa?”

Gadis berkacamata besar yang memeluk boneka itu langsung bangkit dari sofa. “Kamu menikah dengannya?!”

“Iya… baru kemarin,” jawab Ayuna lirih. Bahkan dirinya sendiri masih belum sepenuhnya percaya.

“Kamu memanfaatkan anak itu untuk memaksanya?” Kalina mendecak kesal. “Ayuna, jujur saja. Kalau kamu bilang kamu mengincar uangnya atau wajahnya, aku masih bisa mengerti.”

“Tapi kenapa kau bersikeras bersama anak crazy rich itu atas nama cinta?”

Ayuna tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju pada tanaman hijau di ambang jendela, daunnya bergoyang tertiup angin.

“Kalina,” katanya akhirnya, pelan. “Aku merasa… dia punya perasaan padaku. Tapi aku tidak yakin.”

Kalina langsung menyatukan kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu saja tidak yakin, itu berarti dia memang tidak mencintaimu. Kamu sudah menderita cukup lama, Ayuna. Dua tahun.”

“Perselingkuhannya dengan model skincare itu sampai masuk berita.”

“Semua yang dia lakukan, melarangmu bekerja, membatasi pergaulanmu, satu saja sudah cukup jadi alasan untuk meninggalkannya.”

Melihat mata temannya yang kosong, Kalina menahan napas. Ia tahu, kepahitan itu belum pernah benar-benar pergi.

“Ayuna,” katanya lebih lembut, “ceritakan semuanya. Aku akan membantumu menganalisisnya.”

“Kemarin aku bilang aku hamil.” Suara Ayuna nyaris berbisik.

“Awalnya dia terlihat sangat terkejut. Lalu dia ke kamar mandi… dan setelah keluar, dia langsung menyeretku pergi.”

“Aku kira dia akan membawaku ke rumah sakit,” lanjutnya, jari-jarinya gemetar. “Aku pikir dia akan memaksaku menggugurkan anak ini. Tapi, dia malah membawaku menikah ke KUA.”

Kalina terdiam. Ia tahu betul betapa Ayuna menginginkan sebuah keluarga.

“Menurutmu,” tanyanya pelan, “dia menikahimu karena anak itu?”

Ayuna mengangguk samar, lalu menceritakan semuanya. Pertengkaran sebelum mengurus buku nikah, buku harian di meja samping tempat tidur, hingga percakapannya dengan kakak Renan.

Setelah mendengarkan, Kalina teringat sebuah kalimat yang pernah ia baca: Pria itu seperti orang mabuk. Saat dia bertindak kacau, yang menderita adalah orang di sekitarnya.

Namun melihat wajah Ayuna, ia menelan kata-kata itu.

“Aku tidak tahu mana sisi dirinya yang sebenarnya,” lanjut Ayuna. “Tapi kemarin, aku bisa merasakan dia peduli padaku. Dan aku yakin ada kesalahpahaman besar di antara kami.”

“Kesalahpahaman itu,” katanya lirih, “yang membuat kami sejauh ini.”

Kalina terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, “Mungkin berita itu, sikap kasarnya, semua itu caranya mengujimu. Karena kamu tidak bereaksi, dia mengira kamu tidak peduli.”

“Dia bilang ke kakaknya kalau dia tidak akan menikah dengan siapa pun selain kamu,” lanjut Kalina. “Dia ingat kamu alergi udang. Dia ingat kau suka ikan dan brokoli.”

Ia mengernyit bingung.

“Tapi kalau begitu kenapa dia memilih menyakitimu?”

“Kalian saling menyukai,” katanya lirih. “Lalu bagaimana bisa semuanya jadi seperti ini?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tak satu pun dari mereka memiliki jawabannya.

Ayuna menatap sahabatnya dengan ragu.

“Sepertinya… dia salah paham tentang aku dan Kak Ferdi.”

Kalina mengernyit. “Kenapa? Dia pikir kalian berselingkuh?”

“Bukan begitu,” Ayuna menggeleng. “Dia pikir aku menyukai Kak Ferdi.”

“Kak Ferdi kan dari jurusan psikologi. Waktu itu dia mengenalkanku pada seorang psikolog, dan Renan melihatnya. Sejak saat itu, dia mengira aku diam-diam menemuinya.”

Ia menarik napas pelan.

“Padahal kami hampir tidak pernah berinteraksi. Kalau pun bicara, itu murni soal akademis.”

Kalina terdiam. Dadanya tiba-tiba terasa berat.

Sebuah ingatan lama muncul tanpa peringatan.

Saat itu, Ayuna pernah melihat Renan terlalu dekat dengan seorang gadis. Itu adalah perang dingin pertama mereka.

Malam itu, Ayuna menangis di asrama.

Dan dalam amarahnya, Kalina menelepon Renan.

“Biar kukatakan padamu! Ayuna punya banyak pengagum di kampus! Kau cuma punya sedikit uang, tahu? Kalau kau tidak ikut campur, dia pasti sudah bersama Kak Ferdi!”

“Kau bahkan tidak tahu cara menghargainya! Apa kau tahu seberapa hebat dia?!”

Ia memarahinya lebih dari sepuluh menit sebelum menutup telepon dan mematikan ponsel.

Wajah Kalina menegang.

Mungkinkah semua ini berawal dari ucapannya sendiri?

Jika kata-kata itu telah memicu kesalahpahaman yang bertahan selama ini, bagaimana ia harus menghadapi Ayuna?

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!