Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungimu
Dengan gerakan cepat dan terlatih, Brian menarik laci rahasia di nakasnya, mengeluarkan sebuah pistol Glock yang terawat sempurna. Kilatan cahaya logam itu terpantul di matanya yang dingin. Mantan aktor laga itu kini harus kembali menunjukkan keahlian yang pernah ia pelajari di depan kamera, namun kali ini, nyawa yang dipertaruhkan adalah nyata.
Brian melangkah ke arah dinding di samping tempat tidur yang dilapisi panel kayu ek berukir. Ia menekan sebuah ornamen tersembunyi, dan seketika terdengar suara alarm kecil. Sebuah bagian dari tembok itu bergeser tanpa suara, menyingkap sebuah ruangan rahasia kecil yang dilengkapi dengan monitor CCTV.
"Masuk ke dalam, Arumi. Ini adalah tempat paling aman di seluruh mansion ini. Tembok ini terbuat dari baja berlapis yang tidak akan hancur bahkan oleh ledakan sekalipun," bisik Brian sambil membantu Arumi masuk.
Arumi mengangguk patuh, namun air mata mulai menetes di pipinya. "Hati-hati, Brian. Kumohon... jangan lakukan hal yang nekat. Ingat anak kita."
Brian tersenyum tipis, sebuah senyuman mengerikan yang dingin. "Justru karena anak kita, mereka harus tahu apa artinya membangunkan iblis dalam diri seorang Aditama."
Setelah memastikan Arumi terkunci aman, Brian bergerak keluar kamar. Ia melangkah menuju tangga utama, pistolnya sudah di genggaman, siap membidik siapa pun yang berani melangkah masuk.
Di lantai dasar, kekacauan sudah tak terhindarkan. Suara tembakan berdesing, memecah keheningan malam yang sunyi. Para pengawal pribadi Aditama yang berjaga di luar gerbang sudah dilumpuhkan. Beberapa pria bersenjata dengan topeng hitam dan lambang kalajengking Blackwood Scorpio di lengan mereka, menerobos masuk ke dalam mansion. Mereka bergerak seperti bayangan, jelas sangat terlatih seperti militer.
Hendra, dengan pistol di tangannya, bersembunyi di balik pilar marmer besar, membalas tembakan musuh. Di dekatnya, Frans baru saja berhasil mengamankan Dona di ruang rahasia di lantai dua, sebelum bergegas kembali untuk membantu Brian.
Brian tiba di tangga utama, matanya menyapu seluruh ruangan. Tiga orang penyusup sudah berhasil masuk ke ruang tamu utama, mengancam beberapa pelayan yang ketakutan.
"Singkirkan mereka semua," gumam Brian dingin.
Dengan kecepatan yang tak terduga, Brian meluncur turun tangga, melompat dari ketinggian empat anak tangga terakhir dan mendarat dengan mulus. Ia menembak dua penyusup pertama tepat di kaki mereka, membuat mereka tersungkur sambil memekik kesakitan.
Penyusup ketiga, yang memegang bibi astrid sebagai sandera, menoleh kaget. Brian tidak memberi ampun. Dengan satu tendangan memutar, pistol di tangan penyusup itu terlepas. Brian meraih pistol yang jatuh, lalu menghantamkan gagangnya ke tengkuk penyusup hingga pria itu pingsan.
"Semuanya, sembunyi di ruang bawah tanah sekarang! Jangan keluar sampai aku izinkan!" perintah Brian kepada bibi astrid dan pelayan lain yang gemetar ketakutan.
Hendra, melihat Brian ia segera maju. "Tuan Muda! Ada sekitar lima belas orang. Mereka datang dengan dua mobil lapis baja!"
"Lima belas orang?" Brian mendengus sinis. "Sepertinya seseorang membayar lebih mahal dari dugaanku."
Tiba-tiba, suara tembakan lain terdengar dari arah belakang mansion. Frans berlari tergopoh-gopoh, sambil menembak ke arah dua penyusup yang mencoba menerobos dari koridor dapur.
"Tuan! Mereka mencoba mengalihkan perhatian! Ada satu tim yang naik ke lantai dua!" teriak Frans.
Brian segera menyadari. Target utama mereka bukan sekadar menghancurkan mansion nya, melainkan mencari Arumi. Dengan amarah yang meluap, Brian berlari menyusuri koridor, meninggalkan Hendra dan Frans untuk mengamankan lantai dasar.
Suara langkah Brian terdengar memburu di lantai atas. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena yang wanitanya ada di dalam kamar."
"Keluar! Kami tahu kalian ada di dalam!" teriak seorang penyusup yang terdengar jelas dari arah kamar utama Brian dan Arumi.
Brian bersembunyi di balik patung antik di sudut lorong, mengatur napas. Tiga penyusup berdiri di depan pintu kamar utama, salah satunya sedang mencoba mendobrak pintu dengan alat khusus.
"Sialan!" Brian mengumpat. Pintu itu adalah pintu baja berlapis yang seharusnya tidak mudah didobrak.
Dengan perhitungan cepat, Brian melemparkan granat kejut yang di ambilnya dari musuh ke tengah lorong. Kilatan cahaya dan suara ledakan kecil mengagetkan para penyusup, membuat mereka panik dan kehilangan fokus.
Dalam kekacauan itu, Brian melompat keluar dari persembunyiannya. Ia menembak dua penyusup tanpa ampun, pelurunya menembus tepat di bagian vital. Penyusup ketiga, yang paling besar dan berotot, sempat menembak balik, namun meleset.
Brian menghindar dengan refleks. Ia menendang pistol penyusup itu hingga terlepas, lalu terjadilah pertarungan tangan kosong yang brutal. Brian memang sudah pensiun dari dunia hiburan, namun keahlian bela dirinya tidak pernah terkalahkan.
Ia mengayunkan tinjunya dengan cepat, menghantam rahang penyusup berkali-kali. Pria itu mencoba membalas, namun Brian terlalu lincah. Dengan sekali putaran dan tendangan di ulu hati, penyusup itu tumbang, tak sadarkan diri.
Brian segera berlari menyentuh tembok rahasia. Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa adrenalin, ia menekan kode rahasia di dinding kamar.
Tembok baja itu bergeser terbuka. Brian!" Arumi langsung memeluk suaminya erat-erat. Brian mendekapnya erat, membiarkan Arumi mencium aroma mesiu yang masih menempel di tubuhnya.
"Sudah, Sayang. Sudah aman," Brian membalas pelukan itu, mencium puncak kepala Arumi. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Namun, di tengah kelegaan mereka, suara tembakan dari lantai bawah masih terdengar. Pertempuran belum berakhir. Brian tahu ini hanyalah permulaan. Ia harus memastikan dalang di balik semua ini tidak bisa lolos begitu saja.
"Diam disini jangan kemanapun ok. Aku harus membantu Frans dan Hendra," titah Brian yang di angguki Arumi.
"Tuan Muda! Jangan turun!" teriak Frans saat melihat bayangan Brian di balkon lantai dua.
Brian tidak menjawab. Ia justru memanjat railing balkon dan melakukan aksi gila, ia melompat ke arah lampu gantung raksasa, mengayun sesaat, dan mendarat tepat di belakang barisan musuh yang sedang fokus menembaki Frans.
DOR! DOR! DOR!
Tiga tembakan cepat dari Brian langsung melumpuhkan tiga penyusup di barisan belakang. Ia bergerak lincah, berguling di balik sofa beludru sambil terus memuntahkan peluru. Gerakannya begitu cepat, sebuah kombinasi antara bakat dan pelatihan militer yang pernah ia jalani demi totalitas peran di masa lalu.
"Bajingan! Itu Brian! Habisi dia!" teriak salah satu penyusup yang menyadari keberadaan sang aktor.
Hujan peluru kini mengarah ke posisi Brian. Kayu sofa beterbangan karena hantaman peluru. Brian menarik sebuah granat kejut dari sakunya lalu melemparkannya ke tengah ruangan.
BOOM!
Cahaya putih membutakan dan suara dentuman tinggi membuat para penyusup limbung. Brian bangkit, berlari secepat kilat dan menghajar mereka satu per satu dengan menghantam rahang salah satu musuh dengan lututnya, lalu merebut senapan mereka dan menggunakannya untuk melumpuhkan sisanya.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ruangan tamu yang megah itu berubah menjadi medan pertempuran yang berantakan. Mayat-mayat penyusup bergeletakan, dan sisanya yang masih hidup merintih kesakitan di lantai karena luka tembak di bagian vital.
Brian berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu, wajahnya terciprat sedikit darah musuh. Ia tampak seperti malaikat maut yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Hendra, Frans! Amankan mereka semua. Aku ingin satu orang tetap hidup untuk diinterogasi. Aku ingin tahu siapa yang membocorkan sistem keamanan gerbang depan mansionku," perintah Brian dingin.