Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PARA PENYUSUP
Paviliun Cendana nampak sunyi di bawah dekapan malam. Aroma bunga sedap malam yang sengaja ditanam di sekeliling bangunan itu biasanya menenangkan, namun bagi indra seorang pendekar seperti Tirta, aroma itu kini bercampur dengan bau minyak senjata yang samar dan desis napas yang ditekan sangat rendah.
Di dalam paviliun, lampu minyak telah dipadamkan. Mayangsari duduk di tengah ruangan, memeluk bungkusan Mustika Samudra dengan erat. Dimas dan Sekar Wangi berjaga di balik pilar-pilar kayu jati yang besar, sementara Tirta berdiri di tengah ruangan, matanya terpejam, membiarkan energi Sinar Gadhing merayap halus ke lantai kayu, menciptakan jaring sensorik yang tak kasat mata.
"Ada enam orang," bisik Tirta, suaranya hampir menyerupai hembusan angin. "Dua di atap, dua di jendela barat, dan dua lagi merayap melalui kolam ikan di bawah lantai."
"Apa mereka pasukan resmi?" tanya Dimas sambil menggenggam galahnya yang kini dibungkus kain agar tidak memantulkan cahaya.
"Bukan. Gerakan mereka terlalu liar untuk prajurit istana. Mereka adalah Kala Jingga, pembunuh bayaran yang ahli dalam teknik jarum beracun," jawab Sekar Wangi dengan nada benci.
"Wiradipa benar-benar ingin kita mati tanpa suara."
Tiba-tiba, terdengar suara gesekan halus di genteng.
Sring! Sring!
Dua belas jarum perak yang berkilau ungu melesat dari langit-langit, mengarah tepat ke tempat Mayangsari duduk. Namun, sebelum jarum-jarum itu mencapai target, Tirta bergerak. Ia tidak menghunus pedangnya. Dengan gerakan tangan yang melingkar, ia menciptakan pusaran udara kecil yang menangkap semua jarum itu di udara dan menjatuhkannya dengan lembut ke lantai.
"Keluar," ucap Tirta dingin. "Atau aku akan menjemput kalian di persembunyian."
Keheningan pecah. Dua sosok berpakaian hitam pekat terjun dari langit-langit, sementara empat lainnya mendobrak masuk dari arah yang berbeda. Mereka tidak membawa pedang besar, melainkan pisau-pisau pendek bergerigi yang dirancang untuk merobek urat nadi dalam sekali sayatan.
Tirta melesat maju. Kali ini ia menggunakan teknik Sinar Gadhing: Sentuhan Rembulan. Ini adalah teknik pelumpuhan saraf yang ia pelajari dari kitab rahasia di Padepokan Lingga. Ia bergerak seperti bayangan di antara para pembunuh itu. Setiap kali tangannya menyentuh titik tertentu di tubuh musuh, terdengar suara pluk kecil, dan pembunuh itu akan ambruk seketika, tubuh mereka kaku namun tetap bernapas.
"Satu... dua..." Dimas menghitung sambil menjatuhkan pembunuh ketiga dengan hantaman pangkal galah tepat di ulu hati.
Sekar Wangi tidak tinggal diam. Ia menggunakan busurnya sebagai senjata jarak dekat, menghantam dagu penyusup keempat dan mengunci lehernya dengan tali busur hingga pria itu pingsan karena kekurangan oksigen.
Dalam waktu kurang dari dua menit, lima penyusup telah terkapar di lantai paviliun. Namun, penyusup keenam—yang nampaknya adalah pemimpin mereka—berhasil melompat mundur ke balkon. Ia adalah seorang pria kurus dengan tatapan mata yang licik.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup!" teriak pemimpin itu sambil mengangkat sebuah tabung bambu kecil ke langit, bersiap melepaskan suar tanda bahaya. Jika suar itu meledak, pasukan Bhayangkara akan datang dan Wiradipa bisa menuduh Tirta-lah yang menyerang para 'tamu' istana.
SHUT!
Sebuah anak panah melesat dari kegelapan taman dan menghancurkan tabung bambu itu sebelum sempat dinyalakan. Dyandari muncul dari balik pohon kamboja, busur besarnya masih bergetar.
Tirta muncul di balkon, tangannya mencengkeram leher pemimpin pembunuh itu dan mengangkatnya ke udara. "Siapa yang mengirimmu?"
"K-kami... hanya tentara bayaran..." rintih pria itu.
"Wiradipa, bukan?" Tirta mempererat cengkeramannya.
"Katakan, atau aku akan memastikan aliran darahmu berhenti di titik ini selamanya."
Pria itu gemetar, namun sebelum ia sempat bicara, sebuah bayangan melesat dari arah menara pengawas istana. Sebuah pisau terbang kecil menghujam tepat di jantung sang pembunuh di tangan Tirta.
Tirta segera melepaskan mayat itu dan menatap ke arah menara. Ia melihat siluet seseorang jubah abu-abu yang segera menghilang di balik kegelapan.
"Penembak jitu..." desis Dyandari sambil melompat naik ke balkon. "Wiradipa tidak meninggalkan saksi hidup. Tirta, kau harus segera membawa orang-orangmu ke ruang kerja Prabu sekarang juga."
"Sekarang? Ini tengah malam, Dyandari," ujar Dimas yang baru saja menyeret lima pembunuh lainnya ke tengah ruangan.
"Justru karena ini tengah malam," Dyandari menatap mayat di lantai dengan geram. "Wiradipa pasti sedang dalam perjalanan menuju kamar Prabu untuk melaporkan bahwa 'kekacauan' telah terjadi di paviliun ini. Jika kita tidak mendahuluinya dengan bukti-bukti ini, besok pagi kalian akan digiring ke tiang gantungan."
Tirta menatap Mayangsari. Gadis itu mengangguk, mendekap Mustika Samudra dengan mantap. "Aku siap, Tirta. Kebenaran tidak boleh bersembunyi di balik kabut."
Mereka bergerak menembus koridor istana yang dijaga ketat. Berkat wibawa Dyandari sebagai panglima, mereka berhasil melewati beberapa pos penjagaan. Saat mereka tiba di depan pintu besar Balairung Kecil tempat Prabu Jayawikrama biasanya bermeditasi, mereka mendengar suara perdebatan dari dalam.
"...Dan itulah sebabnya, Gusti Prabu, membiarkan orang asing tinggal di istana adalah kesalahan besar. Laporan baru saja masuk bahwa terjadi perkelahian berdarah di Paviliun Cendana. Mereka adalah agen ganda dari Mata Meratap!" Itu adalah suara Mangkubumi Wiradipa yang penuh racun.
Tirta menendang pintu besar itu hingga terbuka dengan dentuman keras.
"Laporanmu sedikit terlambat, Mangkubumi," ucap Tirta lantang. Ia berjalan masuk sambil menyeret salah satu pembunuh yang masih hidup namun lumpuh di pundaknya.
Wiradipa terkesiap, wajahnya berubah pucat pasi dalam sekejap sebelum kembali menjadi topeng ketenangan. Prabu Jayawikrama, yang duduk di atas permadani, menatap mereka dengan tatapan tajam yang tak terbaca.
"Apa arti semua ini, Tirta? Panglima Dyandari?" tanya Prabu dengan nada dingin yang menggetarkan ruangan.
Tirta melemparkan pembunuh itu ke kaki Wiradipa. "Pria ini dan kawan-kawannya mencoba mencuri Mustika Samudra dan membantai kami saat kami sedang beristirahat di bawah perlindungan Gusti Prabu. Mereka menggunakan jarum racun khas pembunuh bayaran Kala Jingga. Dan mereka mengakui bahwa mereka dibayar oleh orang dalam istana."
Wiradipa tertawa paksa. "Fitnah! Gusti Prabu, ini adalah taktik mereka untuk memecah belah kita! Mereka membunuh orang-orang ini sendiri untuk menjebak saya!"
"Pisau terbang yang membunuh pemimpin mereka berasal dari arah menara barat, Gusti," Dyandari angkat bicara, ia berlutut dengan satu kaki. "Hanya pasukan khusus di bawah komando Mangkubumi yang memiliki akses ke menara itu di jam segini. Saya melihatnya sendiri."
Raja berdiri perlahan. Suasana di ruangan itu menjadi sangat berat, seolah oksigen di sana terserap oleh wibawa sang penguasa. Ia berjalan mendekati pembunuh yang lumpuh di lantai, lalu menatap Wiradipa.
"Wiradipa... kau telah mengabdi padaku selama dua puluh tahun," ujar Prabu lembut, namun suaranya mengandung ancaman kematian. "Tapi ambisimu terhadap Mustika Samudra nampaknya telah menutupi logikamu. Kau pikir aku tidak tahu tentang pertemuan rahasiamu dengan utusan Mata Meratap minggu lalu?"
Wiradipa jatuh berlutut, tubuhnya gemetar hebat. "Gusti... saya... saya melakukan ini demi kejayaan kerajaan..."
"Kejayaan tidak dibangun di atas pengkhianatan tamu!" gema suara Prabu Jayawikrama menghantam dinding ruangan.
"Prajurit! Bawa Wiradipa ke penjara bawah tanah terdalam. Dan sita seluruh aset keluarganya untuk negara!"
Beberapa pasukan Bhayangkara segera masuk dan menyeret Wiradipa yang meraung-raung minta ampun.
Setelah ruangan itu sunyi kembali, Prabu Jayawikrama menatap Tirta dan kawan-kawannya. Ia menghela napas panjang. "Tirta... maafkan kejadian malam ini. Aku tahu Wiradipa licik, tapi aku butuh bukti nyata untuk menyingkirkannya tanpa memicu perang saudara di antara para menteri. Kalian telah memberikannya padaku."
Tirta menyarungkan pedangnya sepenuhnya. "Kami tidak butuh permintaan maaf, Gusti Prabu. Kami hanya ingin kepastian bahwa mustika ini tidak akan disalahgunakan."
Raja tersenyum tipis. "Besok, kita akan melakukan ritual pemurnian di kuil kerajaan. Aku tidak akan mengambil mustika itu. Sebaliknya, Pajajaran akan memberikan bantuan penuh kepada kalian untuk menghancurkan Fraksi Mata Meratap sampai ke akarnya. Nusantara tidak bisa damai selama bayangan itu masih ada."
Malam itu berakhir dengan kemenangan bagi Tirta, namun di kejauhan, di atas menara barat yang gelap, sesosok bayangan jubah abu-abu masih menatap ke arah mereka. Mata bayangan itu bersinar merah, mengirimkan pesan melalui seekor gagak hitam yang melesat menuju lautan selatan.
Wiradipa jatuh, namun permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.