Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sisa-Sisa Kehancuran
Di dalam penjara ilusi yang tak berujung itu, waktu terasa melambat. Bagi Chen Kai, ia seolah telah terjebak selama berabad-abad dalam siklus kematian yang sama. Namun, di dunia nyata, hanya lima menit yang berlalu sejak kakaknya pergi.
"Haaah... haaaah...!"
Chen Kai tersentak bangun, napasnya memburu seperti orang yang baru saja tenggelam. Matanya liar mencari sosok sang pengkhianat. "Di mana kau, Chen Xo?! Keluar! Akan kubunuh kau!"
Suaranya hanya memantul di dinding aula yang sunyi. Kakaknya telah hilang ditelan kegelapan malam.
Dengan kaki yang gemetar, Chen Kai merangkak dan berlari menuju paviliun pribadi orang tuanya. Pintu kamar itu terbuka lebar. Di sana, di atas lantai kayu yang kini berubah menjadi kolam merah, ia melihat Chen Xiao dan Qing Luan. Keduanya tergeletak kaku dengan luka tusukan tepat di jantung—sebuah serangan yang sangat presisi dan mematikan.
"Ayah... Ibu..." Suara Chen Kai tercekat. "TIDAAAAK! KENAPA INI HARUS TERJADI?!"
Tangisnya pecah, raungan kepedihan yang menyayat hati memenuhi ruangan itu. Dalam semalam, klan megah yang menjadi pilar kekaisaran itu punah. Hanya menyisakan dua keturunan terakhir: sang pembantai dan sang penyintas.
"Ibu, Ayah! Bangunlah... kumohon!" Chen Kai memeluk jasad ibunya yang mulai mendingin, darah mengotori pakaian latihannya. "Katakan padaku ini cuma mimpi buruk! Ibu janji akan selalu bersamaku, kan? Ayah, kau juga berjanji ingin melihat teknik baruku... Bangunlah! Aku mohon, bangun!"
Ketukan sepatu bot yang berat terdengar mendekat. Pasukan elit Kekaisaran tiba, dipimpin oleh seorang perwira tinggi. Mereka segera mengepung ruangan tersebut.
"Tuan Muda Chen Kai, Anda harus ikut kami sekarang," ucap salah satu prajurit sambil mencoba menarik tubuh kecil itu. "Kami diperintahkan oleh Kaisar untuk mengamankan Anda. Seluruh sisa anggota klan akan kami urus."
"LEPASKAN, BANGSAT! LEPASKAN AKU, KEPARAT!" Chen Kai meronta-ronta dengan sisa tenaganya yang lemah. "Biarkan aku bersama orang tuaku! Jangan sentuh mereka!"
Namun, tenaga seorang anak sepuluh tahun yang hancur secara mental bukanlah tandingan bagi pasukan terlatih. Ia diseret paksa keluar dari kediaman klan yang terbakar, dibawa menuju sebuah paviliun mewah milik Kekaisaran yang berfungsi sebagai "sangkar emas" pelindungnya.
Tragedi itu mengguncang dunia. Dalam sekejap, Chen Xo ditetapkan sebagai buronan tingkat tinggi, iblis berwajah rupawan yang kepalanya dihargai sangat mahal di seluruh negeri.
Minggu-minggu berlalu, namun depresi Chen Kai justru berubah menjadi obsesi gila. Di dalam paviliun mewah itu, ia tidak pernah beristirahat. Ucapan terakhir kakaknya terus bergema di kepalanya seperti kutukan: "Jika kau ingin balas dendam, jadilah kuat... lalu bunuh aku!"
"AAARRGGGHH! DASAR ANJING!"
DUARRR! DUARRR!
Tinju Chen Kai menghantam dinding giok yang sangat keras. Ia tidak menggunakan pedang, ia ingin merasakan sakit yang nyata di tangannya.
"Kenapa kau membiarkanku hidup, Chen Xo?!" teriaknya pada kekosongan. "Kenapa kau tidak membunuhku sekalian, Keparat? Apa kau ingin mempermainkanku? Apa kau ingin melihatku menderita?!"
DUARR! DUARR!
Dinding giok itu mulai retak, tapi tangan Chen Kai jauh lebih hancur. Kulitnya robek, sendi-sendinya bergeser, dan darah segar menciprat ke mana-mana. Namun, rasa sakit di fisiknya tidak sebanding dengan lubang hitam di hatinya.
"Chen Xo... suatu saat nanti, saat kita bertemu lagi... aku tidak akan memberimu kematian yang cepat. Akan kucabik-cabik tubuhmu sampai kau memohon ampun padaku!"
Mendengar suara dentuman dan teriakan histeris itu, para pelayan dan penjaga segera mendobrak pintu kamar. Mereka terkesiap melihat kondisi sang tuan muda yang sudah bersimbah darah di tangannya sendiri.
"Tuan Muda! Apa yang Anda lakukan?! Berhenti!" Para penjaga segera menyergap dan menarik tubuh Chen Kai menjauh dari dinding yang sudah retak tersebut.
"Lepaskan aku, brengsek! Apa kalian juga ingin kuhajar, hah?! Lepaskan!" Chen Kai memberontak seperti binatang buas yang terluka. Matanya merah, penuh dengan kegilaan.
Melihat kondisi mentalnya yang sudah di luar kendali, seorang tabib kekaisaran segera menekan titik saraf di leher Chen Kai dan memberinya aroma terapi penenang yang kuat.
"L-lepaskan... aku... akan... kubunuh..."
Suara Chen Kai melemah, pandangannya kabur, dan akhirnya tubuh kecil itu jatuh pingsan dalam dekapan para penjaga. Meski tubuhnya terlelap, di dalam hatinya, api dendam itu baru saja mulai berkobar.