Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 PENGLIHATAN TENTANG PERULANGAN
Dunia fisik telah meluruh. Pelataran batu, pilar-pilar granit, dan dinginnya malam di puncak gunung kini terasa jauh, seolah-olah itu hanyalah dekorasi panggung yang baru saja dibongkar. Abimanyu berada dalam kondisi antara tidur dan terjaga, sebuah ruang antara yang melampaui koordinat geografis.
Di hadapannya, kegelapan tidak lagi diam. Kegelapan itu mulai berputar, membentuk sebuah lingkaran raksasa yang berpijar dengan cahaya perak yang dingin. Itu adalah Roda Waktu—bukan waktu yang mengalir lurus menuju liang lahat seperti yang dipercayai para sejarawan, melainkan waktu yang melingkar, yang selalu kembali ke titik mula.
Tiba-tiba, ia tidak lagi berada di puncak. Ia berada di sebuah ruang sempit yang dipenuhi bau debu dan kertas lama: kantor lamanya di Universitas. Ia melihat dirinya sendiri duduk di balik meja mahoni besar, jemarinya yang pucat mengetik draf jurnal dengan wajah penuh kecemasan akan relevansi hidup yang diukur oleh angka sitasi. Ia melihat istrinya masuk membawa secangkir kopi dan tatapan memohon perhatian, namun "Abimanyu lama" itu hanya mengangguk tanpa menoleh, terjebak dalam berhala kertasnya.
"Lihatlah," sebuah suara tanpa wujud berbisik seberat gunung yang runtuh. "Ini adalah momen yang paling kau benci. Momen ketika kau menjadi budak dari sistem yang kau maki. Sanggupkah kau menjalani momen ini lagi? Dan lagi? Selamanya?"
Abimanyu merasa dadanya sesak. Melihat dirinya yang dulu—begitu kecil dan haus pengakuan—terasa lebih menyakitkan daripada radang dingin. Namun, pusaran roda perak itu belum berhenti. Ia tersedot semakin dalam ke dalam "Tiga Gerbang Kehinaan".
Gerbang Pertama: Simposium Abu dan Debu. Abimanyu berdiri di Simposium Internasional 2018. Ia melihat dirinya gemetar di podium, dihancurkan oleh pertanyaan meremehkan dari seorang profesor senior. Seluruh ruangan tertawa. Dulu, ini adalah luka yang membuatnya terjaga berbulan-bulan. Namun sekarang, Sang Pendaki berjalan mendekati podium itu. "Ya," ujarnya lantang. "Aku mengafirmasi kegagalan ini. Tanpa penghinaan ini, aku tidak akan pernah memiliki keberanian untuk membakar buku-buku itu. Sekali lagi, dan selamanya!"
Gerbang Kedua: Kesunyian di Balik Dinding Kaca. Ia berada di apartemen mewahnya pada malam setelah istrinya pergi. Ia melihat dirinya menangis di lantai, dikelilingi naskah tak selesai, menyadari ia tidak memiliki siapa pun. "Ya," bisik Abimanyu sambil menyentuh dinding kaca itu. "Aku mencintai kesunyian ini. Inilah titik nol di mana pendakian sesungguhnya dimulai. Sekali lagi!"
Gerbang Ketiga: Pengkhianatan di Ruang Sidang. Ia melihat rekan sejawatnya menandatangani mosi tidak percaya untuk mencopot jabatannya. Orang-orang yang ia anggap teman kini menjadi algojo kariernya. Namun, Abimanyu tidak merasakan dendam. "Mereka telah menjalankan peran mereka sebagai 'Manusia Terakhir' dengan sempurna. Atas rasa sakit ini, aku katakan: Ya! Terjadilah lagi selamanya!"
Begitu afirmasi terakhir diucapkan, aula simposium dan ruang sidang meledak menjadi jutaan kepingan cahaya. Abimanyu kembali berdiri di puncak gunung, tertawa di tengah badai yang pecah. "Mainkan lagi! Putar lagi rodanya!" teriaknya ke langit.
Namun, beban itu belum sepenuhnya sirna. Pundaknya tiba-tiba terasa sangat berat, seolah memikul monumen batu. Sesosok makhluk kerdil bertengger di bahunya—kulitnya kelabu, matanya keruh, mengenakan jubah dari serpihan naskah basah. Inilah Roh Gravitasi.
"Kau pikir kau menang?" ejek Sang Kerdil. "Perulangan bukan tarian, tapi lingkaran neraka. Sanggupkah kau menjalani kebosanan birokrasi dan rasa sakit gigi yang sama berulang tanpa harapan akan kematian yang membebaskan? Kau hanya seekor keledai yang jatuh cinta pada bebannya sendiri."
Abimanyu memegang tangan makhluk itu dan menariknya turun dengan kekuatan mengejutkan. "Kau melihat perulangan sebagai penjara karena kau budak dari 'tujuan'. Bagiku, jika hidup adalah lingkaran, maka setiap titik adalah pusatnya! Setiap detik adalah puncak! Pergi, kau Roh Gravitasi! Kau adalah batu, sementara aku adalah udara!"
Seketika, Sang Kerdil meledak menjadi kertas kering yang hilang ditelan kegelapan. Beban di pundak Abimanyu lenyap. Cahaya perak di hadapannya kini berpijar menjadi emas—warna matahari tengah hari. Roda itu masuk ke dalam dadanya, menyatu dengan detak jantungnya. Inilah Transformasi Fajar Perak.
Kesadarannya meluas melampaui batas kulit. Ia tidak lagi "berpikir" tentang waktu, ia merasakan waktu. Saraf-sarafnya rileks, suhu membeku tak lagi ia persepsikan sebagai "dingin", melainkan sebagai kejujuran elemen. Ia melihat Lembah Nama di bawah sana tanpa kebencian, hanya dengan jarak yang jernih. Ia telah menjadi tuan atas nasibnya bukan dengan mengubah masa lalu, melainkan dengan menginginkan apa pun yang telah terjadi.
Tiba-tiba, penglihatan fisiknya menajam. Ia merasakan tawa syukur muncul dari diafragmanya. Hidup tidak butuh tujuan di luar dirinya sendiri, hidup adalah tujuannya sendiri. Garis perak di cakrawala berubah menjadi emas pucat, namun langit di atasnya justru menghitam oleh awan badai. Petir menyambar, membelah angkasa.
Abimanyu berdiri tegak, tak lagi mencari perlindungan. Transformasi internalnya telah menyiapkannya untuk ujian fisik terakhir.
"Malam telah usai," gumamnya sambil menatap kilatan petir yang memantul di matanya yang jernih. "Waktunya bagi sang Anak untuk bermain dengan badai."