Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Kontrak Sang Ratu
Lift pribadi itu melesat naik menuju lantai 50 dengan kecepatan yang membuat telinga berdengung. Angeline berdiri sendirian di dalam kotak kaca itu, menatap pantulan dirinya. Rambutnya sedikit berantakan akibat manuver gila Jay tadi, tapi ia berusaha merapikannya sebaik mungkin.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Angeline menahan napas. Ia membayangkan akan disambut oleh kantor yang sibuk dan bising. Namun, yang ia temui adalah keheningan yang elegan.
Lantai 50 Sky Tower didesain minimalis dengan dominasi warna hitam dan emas. Di ujung ruangan, berdiri seorang pria muda dengan setelan jas abu-abu charcoal yang sangat rapi. Ia sedang menatap pemandangan kota dari jendela kaca raksasa.
Pria itu berbalik. Wajahnya tampan, namun dingin dan kaku seperti robot. Itu Leon, tangan kanan Jay di dunia bayangan, yang kini berperan sebagai Direktur Regional Orion Group.
"Selamat siang, Nyonya Angeline," sapa Leon. Ia membungkuk sedikit—sedikit lebih dalam dari standar etika bisnis biasa, seolah ia sedang menyambut seorang bangsawan.
"Selamat siang, Mr...?" Angeline ragu.
"Leon. Panggil saja Leon," jawabnya singkat. "Silakan duduk."
Angeline duduk di kursi kulit di hadapan meja kerja Leon yang bersih tanpa satu pun kertas berserakan.
"Saya sudah melihat draf kontraknya," Angeline memulai dengan nada profesional, mencoba menutupi kegugupannya. "Angka 10 Miliar itu... sangat besar. Jujur saja, perusahaan lama saya bahkan tidak memiliki valuasi sebesar itu sekarang. Apa yang Orion harapkan dari saya sebagai imbalannya?"
Leon menatap wanita di depannya. Dalam hati, ia kagum. Istri Jenderal Zero bukan hanya cantik, tapi juga cerdas dan waspada.
"Kami membeli visi, Nyonya," jawab Leon tenang. "Orion Group baru masuk ke pasar Arvanta. Kami butuh wajah lokal yang terpercaya, bersih dari skandal kotor, dan punya kemampuan manajerial yang solid. Anda punya semua itu."
"Tapi saya baru saja dipecat dan diboikot oleh keluarga saya sendiri," sela Angeline jujur. "Bekerja sama dengan saya bisa membawa masalah bagi Orion."
Leon tersenyum tipis. Sangat tipis. "Orion tidak takut pada masalah. Kami yang menciptakan solusi. Mengenai keluarga Severe... anggap saja mereka hanyalah kerikil kecil."
Leon menyodorkan sebuah map kulit hitam.
"Ini kontrak resminya. Durasi 5 tahun. Anda memiliki otoritas penuh untuk merekrut tim Anda sendiri, menentukan strategi pemasaran, dan anggaran promosi. Kami tidak akan ikut campur dalam keputusan kreatif Anda."
Angeline membaca poin-poin kontrak itu. Matanya membelalak. Fasilitasnya luar biasa: gaji bulanan fantastis, saham kosong, dan jaminan keamanan pribadi. Ini bukan kontrak kerja, ini seperti penyerahan kekuasaan.
"Ada satu syarat tambahan," kata Leon tiba-tiba.
Angeline tegang. Ini dia, pikirnya. Pasti ada syarat yang tidak masuk akal.
"Apa itu?" tanya Angeline waspada.
"Anda dilarang bekerja lembur melebihi jam 6 sore. Dan akhir pekan wajib libur," kata Leon datar.
Angeline bengong. "Maaf? Itu... syaratnya?"
"Ya. CEO kami sangat peduli pada keseimbangan hidup dan kerja pegawainya. Kesehatan Anda adalah aset kami."
Sebenarnya itu perintah langsung Jenderal Jay agar dia bisa makan malam bersamamu setiap hari, batin Leon, tapi tentu saja ia tidak mengatakannya.
Angeline tertawa kecil, merasa beban berat di pundaknya terangkat. "CEO Anda orang yang unik. Baiklah, Mr. Leon. Saya terima."
Angeline menandatangani dokumen itu dengan tangan mantap.
"Selamat bergabung, Direktur Angeline," Leon berdiri, mengulurkan tangan.
Saat mereka berjabat tangan, ponsel Leon bergetar. Satu pesan masuk.
[Zero: Dia sudah selesai? Suruh dia turun lewat lift VIP belakang. Jangan sampai dia melihat mobilku yang hancur di depan.]
Leon melirik pesan itu sekilas. "Nyonya, mobil jemputan pengganti sudah siap di basement VIP. Sopir Anda... ehm, suami Anda, sudah menunggu di sana dengan mobil baru."
"Mobil baru?"
Sementara itu, di Markas Besar Victor Han.
Suasana di ruangan itu mencekam. Victor Han duduk di kursi kebesarannya, menatap layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV jalan layang yang baru saja ia peroleh dari koneksi polisi korupnya.
Di layar itu, terlihat sedan tua Jay melakukan manuver drift gila di antara dua truk kontainer. Gerakan yang presisi, penuh perhitungan, dan tanpa ragu sedikit pun.
"Dia bukan sopir taksi biasa," gumam Victor, matanya menyipit. "Gerakan itu... itu teknik menghindar anti-teror yang diajarkan di pasukan khusus."
Pintu ruangan terbuka. Seorang anak buahnya masuk dengan wajah pucat, membawa sebuah kotak kardus kecil yang terbungkus rapi.
"Tuan Victor... ada paket. Dikirim tanpa nama. Ditaruh begitu saja di meja resepsionis," lapor anak buah itu gemetar.
Victor menatap kotak itu. "Buka."
Anak buahnya membuka kotak itu dengan hati-hati. Isinya bukan bom.
Isinya adalah empat buah gigi emas.
Victor mengenali gigi itu. Itu adalah gigi palsu milik kepala bodyguard-nya yang ia kirim untuk menyerang Jay semalam.
Di bawah gigi-gigi itu, terselip secarik kertas memo murah berwarna kuning dengan tulisan tangan yang rapi namun tajam:
"Lain kali kirim anjing yang lebih galak. Yang ini ompong. - J"
BRAK!
Victor menggebrak meja hingga laptopnya terpental jatuh. Wajah tampannya berubah merah padam karena amarah yang meluap. Ini adalah penghinaan langsung! Seorang sopir rendahan berani menantangnya, Victor Han, sang penguasa bayangan kota?!
"Cari tahu latar belakang Jay Ares!" teriak Victor pada anak buahnya. "Gali sedalam-dalamnya! Di mana dia lahir, sekolah di mana, pernah dinas di mana! Aku mau semua datanya dalam satu jam!"
"Ba-baik, Tuan!" Anak buahnya lari terbirit-birit keluar.
Victor berdiri, berjalan ke jendela, menatap gedung Sky Tower di kejauhan.
"Kau bermain api, Sopir," desis Victor. "Kau pikir otot bisa mengalahkan uang dan politik? Tunggu saja. Akan kuhancurkan istrimu perlahan-lahan sampai kau sendiri yang datang bersujud di kakiku."
Victor mengambil ponselnya, menekan nomor kontak yang tersimpan dengan nama "Hakim Agung".
"Halo, Paman? Ya, ini Victor. Aku butuh bantuan kecil. Ada perusahaan baru bernama Orion Group yang perlu diberi 'pelajaran' tentang izin usaha..."
Senyum licik kembali merekah di wajah Victor. Jika kekerasan fisik gagal, ia akan menggunakan senjata yang jauh lebih mematikan: Hukum.
Kembali ke Sky Tower.
Angeline turun di basement VIP. Matanya mencari-cari sedan butut suaminya. Namun, yang ia lihat hanyalah Jay yang sedang bersandar santai di sebuah mobil SUV Eropa berwarna hitam mengkilap yang masih bau pabrik.
"Jay?" panggil Angeline bingung. "Mobil siapa ini? Di mana 'si butut'?"
Jay nyengir lebar, memamerkan kunci mobil baru di tangannya.
"Si butut sudah masuk bengkel, Angel. Rusak parah gara-gara 'kucing' tadi," dusta Jay santai. "Ini mobil inventaris dari Orion Group. Leon bilang ini fasilitas untuk Direktur baru, lengkap dengan sopirnya."
Jay membuka pintu penumpang dengan gaya bodyguard profesional.
"Silakan masuk, Nyonya Direktur. Ke mana tujuan kita selanjutnya?"
Angeline menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, tapi senyum bahagia terukir di bibirnya.
"Pulang, Jay. Aku ingin merayakan ini dengan makan malam enak. Kau yang masak, ya?"
"Siap laksanakan," jawab Jay.
Mobil mewah itu meluncur keluar gedung. Di balik kemudi, senyum Jay perlahan berubah menjadi tatapan waspada saat melihat spion.