Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru
Follow IG @mareeta_her
Nina tidak menyangka, suami kontraknya memberikan sebuah rumah yang menurutnya cukup besar untuknya sendiri. Bahkan rumahnya di kampung dulu, tidak sebesar ini.
Seorang lelaki yang tempo hari dia lihat bersama Ammar di restoran mall, sedang menjelaskan berapa luas tanah dan bangunan, bak sales properti saja.
"Jadi begitu Nyonya Nina melahirkan, otomatis rumah ini akan berubah atas nama anda." Jelas lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Rama, salah satu kolega Ammar.
Penthouse yang Nina sempat tinggali saja, menurutnya adalah paling mewah. Tapi ini jelas lebih mewah, dan pastinya lebih luas juga memiliki kolam renang lebih lebar dan panjang. Pasti si kembar suka sekali jika dibawa kesini. Terutama Anin yang pernah mengatakan ingin sekali punya kolam renang pribadi agar bisa berenang tanpa menggunakan hijab.
Rama kembali menjelaskan tentang keberadaan asisten rumah tangga yang akan dipekerjakan pada bagian nya masing-masing. Termasuk tukang kebun dan sekuriti yang berjaga bergantian.
Mendengar penjelasan lelaki berkemeja biru muda itu, membuat kepala Nina berdenyut. Pusing sekali rasanya.
Nina tak menyangka akan menjadi orang kaya. Bisa dibilang, Nina adalah orang kaya mendadak. Dalam hitungan bulan, Nina sudah tinggal di rumah mewah dan saldo tabungan dengan banyak digit angka.
"Sebegitu banyaknya pekerja, siapa yang bayar upah mereka?" Tanya Nina memastikan. Bagaimanapun, tabungannya dia rencanakan untuk masa depan anak-anaknya hingga mereka mandiri secara finansial.
Lelaki yang memiliki lesung pipi itu, tersenyum. "Tentu saja Tuan Ammar, nyonya! Anda hanya perlu hidup dengan baik, tercukupi kebutuhan gizi harian untuk anda dan bayi dalam kandungan."
Mendengarnya, Nina mengembuskan napas lega. Setidaknya, tabungan masa depannya aman.
"Dimana mister Damian, Pak Rama?" Tanya Nina. Sejak kemarin, Lelaki blasteran itu sama sekali tak membalas pesan dan mengangkat panggilannya.
"Tuan Ammar meminta beliau mengunjungi salah satu negara Afrika, Nyonya!"
"Ohhh ..." Nina menyahut, "pantesan nggak bales wa dan angkat telepon." Gumamnya pelan.
"Apa ada anda bermasalah dengan Beliau, nyonya?"
Nina menggeleng kencang. Ini benar adanya, Damian sama sekali tidak memiliki masalah dengannya. Pemilik netra biru itu justru menuruti kemauannya untuk menyembunyikannya dari Ammar.
Andai hari itu, Nina dan si kembar mengunjungi mall lain. Mungkin saat ini, Nina sedang menjalani kehidupan tenangnya di rumah kontrakan kecil yang disewanya. Setidaknya di sana, Nina tak perlu melihat wajah suaminya. Menurutnya itu sangat menyebalkan.
Apa mungkin rasa sebalnya pada Ammar adalah pengaruh hormon kehamilan? Atau mungkin, rasa kecewanya karena nyatanya suami kontraknya itu sudah memiliki istri.
Sekali lagi ini bukan karena Nina cemburu, tapi merasa bersalah pada istri Ammar yang lain.
"Lalu Nyonya, jika anda menginginkan untuk merubah warna dinding atau mengganti perabotan rumah. Anda bisa menghubungi saya." Rama memberikan kartu nama, berisi tempatnya bekerja dan juga nomor ponselnya.
Nina membacanya sejenak. Dari kartu nama itu, Nina jadi tau jika Rama adalah pengelola cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah ini.
"Baik lah, pak Rama! Terima kasih banyak." Nina ingin segera merebahkan diri, setelah seharian ini menata pakaian yang diambilnya di rumah kontrakan.
"Kalau begitu saya izin pamit." Rama berdiri, hendak mengulurkan tangan. Tapi Nina justru menangkupkan tangannya sendiri di depan dadanya. "Oh ... Maaf ..." Rama menarik kembali tangannya, rasanya canggung. "Mulai besok, para pekerja akan berdatangan dan mereka akan menghuni paviliun belakang." Pesan Rama sebelum benar-benar pamit undur diri.
Sepeninggal Rama, Nina segera beranjak menuju lantai dua. Dia menggunakan elevator yang tersedia di samping tangga. Bukan apa-apa, hari ini rasanya lelah sekali.
Walau ada yang membantunya pindahan, tetap saja Nina lelah, ingat dia ini sedang mengandung dua janin sekaligus. Wajar dia lebih cepat lelah dan lapar.
Kamar yang dimilikinya juga besar dan memiliki ruangan khusus untuk menyimpan pakaian miliknya, serta kamar mandi dengan bathtub di dalamnya. Semua yang pernah dia lihat di televisi, akan menjadi miliknya setelah anak dalam kandungannya lahir.
Usai membersihkan diri, Nina merebahkan tubuhnya di ranjang king size dengan sprei berwarna putih. Empuk dan nyaman.
Nina menatap langit-langit kamarnya, sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit. Wajar saja memasuki trisemester kedua, perutnya mulai terlihat membesar. Di dalamnya ada di janin yang sedang tumbuh. Untungnya, sejauh ini tidak ada yang menyadari. Karena Nina selalu menutupinya dengan jilbab besar yang digunakannya semenjak tau dirinya mulai berisi.
"Apa aku rela menukar darah dagingku sendiri dengan rumah mewah ini dan segala isinya?" Gumamnya tiba-tiba. Namun detik selanjutnya, mata cokelatnya melebar. "Kenapa aku malah ngomong kayak gini?" Dia bangkit. Lebih tepatnya bingung dengan apa yang diucapkannya sendiri.
Apa mungkin ini reaksi alam bawah sadarnya?
"Mereka nggak tau aku mengandung dua bayi. Apa aku ambil satu, ya?" Terlintas pikiran buruk. Rasa tidak rela mulai menghantuinya.
Nina rela bekerja apapun asal halal, untuk menghidupi anak-anaknya. Jadi bagaimana bisa dia merelakan anaknya untuk diasuh orang lain?
Bahkan dulu saat salah satu anaknya akan diambil oleh keluarga mantan suaminya. Nina berjuang mati-matian untuk menutut hak asuh penuh atas mereka. Dia sampai merelakan harta terakhir miliknya.
Lalu apa kali ini dia rela?
Ehmm ...
Nina terkesiap mendengar suara berat dari arah pintu. Dia segera menutupi perutnya dengan selimut tebal. Ada suami kontraknya yang masih mengenakan setelan formal. "Kok bisa di sini?" Gumamnya pelan. Nina ingat kemarin Ammar mengatakan akan pergi ke negara tetangga untuk menemui klien penting. Ah ... Apa pria itu mendengar gumamnya barusan?
"Urusan ku beres lebih awal." Ammar melangkah dan duduk di sisi ranjang yang ditempati perempuan berambut panjang sepunggung itu.
Saat hendak membelai rambut yang sudah lama tak Ammar lihat, karena istrinya selalu memakai jilbab. Nina justru mundur, perempuan ini menghindar. Dan itu membuat hati Ammar seketika panas. Seumur hidupnya, baru kali ini ada yang menolaknya secara terang-terangan. "Kenapa? Kita suami-istri, aku mahrom kamu." Kesal sekali rasanya ditolak.
Nina meraih jilbab yang diletakan di bantal samping tempatnya duduk. Ketika hendak memakainya, Ammar menahan tangannya. "Apaan sih!" ucapnya ketus.
"Kenapa mesti dipakai? Kamu istri aku," sekali lagi Ammar mengingatkan.
"Cuma kontrak, Tuan!" Nina menepis, begitu tangan yang memegangnya terhempas. Dia memakai hijabnya. "Sejak kapan anda datang, Tuan?" Nina berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ammar mengembuskan napasnya kasar, dia tau istrinya sedang mengalihkan pembicaraan. Ammar mulai membuka kancing jas-nya dia melepasnya dan menaruhnya di samping tempatnya duduk. Lalu mengulurkan pergelangan tangannya pada Nina. "Tolong buka." Pintanya.
Nina menatap bingung dua pergelangan tangan yang terulur padanya. Ini pertama kali baginya.
Dulu sewaktu Aby sekolah dasar, seragamnya berlengan pendek. Begitu juga Anin yang masih belum memakai jilbab kala itu.
"Ngapain?"
Ammar menggoyangkan tangannya sebagai kode. "Buka kancingnya ..."
"Bukannya anda bisa membukanya sendiri?" Rasanya Nina enggan melakukannya.
"Ada kamu," Ammar ngotot ingin dilayani.
Meski sebal, tapi Nina tak ingin berdebat dengan pria itu. Dia berharap setelah ini, Ammar entah dari hadapannya. Nina mulai membuka kancing pada pergelangan tangan milik suaminya, satu-persatu.
"Good girl ... Cup ..." Ammar mengecup puncak kepala yang tertutup hijab biru tua itu.
Mulut Nina ternganga, dia tak menyangka suami kontraknya itu bisa melakukan hal seperti layaknya pasangan sungguhan.
Ammar melangkah menuju ruang Wardrobe, namun langkahnya terhenti begitu menjejak di ambang pintu. Dia berbalik dan menatap istrinya yang sedang melamun sambil membuka mulutnya. Ammar tersenyum. "Aku lupa beri tau kamu. Aku akan menetap di sini sampai kamu melahirkan."
Nina menoleh dan melebarkan matanya, kali ini dia lebih terkejut dibandingkan yang tadi.
"Lalu, mulai sekarang jangan panggil aku 'Tuan'. Aku ini suami mu. Jadi panggil aku seperti layaknya istri memanggil suaminya." Tutur Ammar. "Dan jangan gunakan lagi bahasa formal. Aku kurang nyaman harus berbicara dengan gaya seperti itu pada istriku sendiri."