Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Harapan yang Terbungkam
Langkah kaki Alisha terasa berat saat memasuki lobi Mall Grand Indonesia yang berkilauan. Ia menatap pantulan dirinya di dinding kaca yang bersih, Ia mengenakan kemeja katun yang sudah dicuci berulang kali, kontras dengan wanita-wanita sosialita yang berlalu-lalang membawa tas bermerek.Di pundaknya, terlampir tas laptop yang selama empat tahun ini menjadi saksi bisu setiap desain yang ia buat.
"Alisha! Di sini!"
Sari, teman kuliahnya dulu, melambaikan tangan dari sebuah kedai kopi mewah. Alisha memaksakan senyum, meski hatinya mencelos melihat betapa berbedanya nasib mereka. Sari baru saja diterima di sebuah agensi iklan ternama, sementara ia di sini untuk menjual alat tempurnya.
"Ini laptopnya, Sar. Masih bagus, semua software desainnya masih bisa dipakai," ucap Alisha pelan saat transaksi dimulai.
Sari memeriksa laptop itu sejenak lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Ini ya, Sha. Sepuluh juta. Aku harap ini bisa membantu masalah keluargamu. Maaf aku nggak bisa kasih lebih."
Alisha menerima amplop itu. Sepuluh juta. Di matanya, amplop ini adalah pengorbanan masa depannya. Di dalamnya ada keringat ayahnya dan ijazah yang kini terasa sia-sia. Tapi untuk Mandor Darwis? Sepuluh juta ini hanya remah-remah. Hutang mereka masih tersisa sembilan puluh juta lagi.
Setelah berpamitan, Alisha melangkah keluar dari kedai kopi itu dengan kepala tertunduk. Air matanya hampir jatuh, namun ia tahan. Ia tidak boleh terlihat lemah di tempat semewah ini. Ia terus berjalan menuju eskalator, memikirkan bagaimana cara mendapatkan sembilan puluh juta lainnya tanpa harus menjual dirinya pada tua bangka itu.
Greb!
Tiba-tiba, sebuah tangan dengan kuku yang dipulas kuteks merah darah mencekal pergelangan tangannya. Alisha tersentak, jantungnya berdegup kencang.
"Lepas! Siapa Anda?" Alisha berusaha menarik tangannya, namun cengkeraman wanita itu sangat kuat.
Di hadapannya berdiri seorang wanita dengan trench coat mahal, kacamata hitam besar, dan masker kain sutra yang menutupi separuh wajahnya. Aroma parfumnya sangat mahal mawar dan sandalwood yang tajam.
"Kamu butuh uang, kan?" suara wanita itu terdengar dingin, namun ada nada mendesak yang aneh.
Alisha tertegun.
"Maksud Anda apa?"
Wanita bermasker itu tidak menjawab langsung. Ia mendekat, aroma parfumnya kini memenuhi indra penciuman Alisha.
"Aku tahu kamu sedang menghitung sisa hutangmu. Sepuluh juta dari laptop butut itu tidak akan menyelamatkan keluargamu dari Mandor Darwis."
Mata Alisha membelalak. Bagaimana orang asing ini tahu? Siapa dia? Beragam pertanyaan muncul di pikiran Alisha.
"Jika kamu tertarik dengan penawaran yang bisa melunasi seluruh hutangmu dalam semalam... temui aku di rooftop gedung ini. Sekarang," bisik wanita itu.
Sebelum Alisha sempat bertanya lagi, wanita itu melepaskan cengkeramannya dan menghilang di balik kerumunan pengunjung mall, meninggalkan Alisha yang berdiri mematung dengan napas memburu dan amplop cokelat yang basah oleh keringat dinginnya.
Pikiran Alisha dipenuhi gurat wajah Darwis yang mengintimidasi, seakan sedang mengincar mangsa. Dengan sisa utang yang masih menggunung dan uang yang baru terkumpul sepuluh juta, tawaran dari orang asing itu terasa seperti sebuah teka-teki berbahaya. Ia mematung dalam diam, mendekap tas laptop kosongnya dengan tangan gemetar, tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri.
"Haruskah ini menjadi jalan keluarnya?" batin Alisha bimbang. Jari-jarinya meremas tali tas yang kosong itu lebih erat, seolah mencari pegangan di tengah ketidakpastian yang menghimpitnya.
Logikanya menolak keras, namun rasa takut pada Darwis seolah mempersempit ruang geraknya. Baginya, tawaran misterius ini mendadak terasa seperti satu-satunya jalan pintas untuk lepas dari jeratan utang yang selama ini mencekik hidupnya.
Alisha menarik napas panjang, menguatkan hati, lalu memutar langkah menuju lift yang akan membawanya ke puncak gedung. Ke rooftop.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊