Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Beberapa hari ini sikap Elang pada Meisya terasa begitu aneh bagi Meisya. Seolah-olah Elang Sedang marah pada Meisya. Padahal Meisya merasa tidak melakukan salah apa-apa Pada nya.
Akhir-akhir ini Elang malah sering membantu Neneknya di kebun. Kadang mencangkul, mencabuti rumput atau membantu memupuk tanaman dengan pupuk kompos, pupuk kandang dan juga pupuk organik cair buatan sendiri.
Sang Nenek juga bersikap agak acuh, dan tidak terlalu melarang lagi hubungan nya dengan Dwika, namun juga belum bisa menerima. Hanya lebih diam saja, dan tak ingin ikut campur. Membuat Meisya merasa serba salah. Dwika juga setiap bertemu selalu saja yang dia tanyakan itu hanya uang saja.
Meisya terlalu banyak pikiran, dan pekerjaan nya juga menuntut nya seeing lembur, di tambah kini sedang cuaca hujan. Meisya sore itu pulang dengan badan lemas, setelah membersihkan diri, dia langsung tidur.
"Mei-mei..!" Sang nenek memanggil-manggil Cucu perempuan nya, untuk ia ajak makan malam bersama. Namun tidak ada sahutan. Sang nenek menghampiri kamar Meisya dan membuka pintunya, yang ternyata pintu tersebut tidak di kunci.
Di lihat nya sang cucu yang terbaring dengan wajah pucat. Mbah wati segera mendekati ranjang Meisya dan duduk di ranjang tersebut, lalu mengukur suhu tubuh Meisya dengan telapak tangan nya. Yang ternyata suhu tubuh Meisya sangat lah panas.
"Ya Allah ndok!! kamu demam!" Teriak mbah Wati panik. Dengan tergesa-gesa mbah wati keluar dari kamar Maisy mengunakan tongkat kayunya, ingin pergi mengambil baskom berisi air dan juga handuk kecil untuk mengompres Meisya. Karena terlalu terburu-buru, Mbah wati malah tersandung dan akhirnya jatuh. Air dalam baskom pun tumpah.
Karena suara gaduh di dapur. Elang segwra beranjak untuk melihat nya, begitu pun Meisya, meski dengan susah payah dia tetap memaksakan diri, melihat apa yang sebenarnya terjadi di belakang.
Elang terkejut luar biasa ketika melihat mbah wati tergeletak di lantai beruntung kepala nya tidak terbentur, karena pantat dan punggung nya yang terbentur lantai. Dengan cepat Elang langsung bergegas mengangkat tubuh mbah wati, membawanya ke kamar mbah Wati. lantai masih licin baskom, air dan handuk masih berserakan di lantai. Meisya yang baru saja melangkah ke dapur pun jadi ikut terpeleset dan jatuh.
Setelah meletakkan mbah wati, Elang pergi le dapur lagi, ingin membersihkan kekacauan yang ada. Siapa sangka dia malah mendapati Meisya juga terjatuh karena terpeleset. Elang menepuk jidatnya sendiri. Dengan enggan melangkah mendekati Meisya.dan akhirnya membantu nya bangkit. Dan memapah nya hingga ke kamar nya.
Elang segera keluar dari rumah, bertanya pada warga sekitar tentang rumah pak mantri. Setelah mengetahui nya ia segera kesana. Menggunakan motor Meisya, dan segera membawa pak mantri untuk melihat kondisi mbah wati dan juga Meisya.
Untuk mbah wati Alhamdulillah nya beliau tidak kenapa-kenapa, jadi pak mantri hanya memberikan nya obat nyeri. Agar mbah wati tidak terlalu merasakan sakit. Sedangkan Meisya pak mantri memberikan obat penurun panas dan juga obat radang. Karena ternyata Meisya sedang terkena gejala radang tenggorokan. Makanya badannya menjadi sangat panas.
Elang mengompres dahi Mesya, dan membantu mbah wati untuk minum obat dan mengambil kan makan untuk beliau. Begitu pun untuk Meisya juga. Sehari itu Elang beralih profesi menjadi perawat dadakan kedua orang itu. Tangan yang biasanya untuk memukul dan memegang senjata, kini ua gunakan untuk mengambil kan makan dan mengompres Meisya.
Elang kelelahan hingga tak sadar tertidur, di kursi dekat ranjang Meisya. Meisya Perlahan-lahan mata nya terbuka dan mendapati Elang yang tertidur karena kelelahan merawatnya fan juga merawat nenek nya. Berapa baiknya Elang ini. Padahal mereka bukan siapa-siapa Elang. Tapi mau merawat mereka. Meisya berfikir mungkin ini adalah bentuk balas Budi Elang. Karena telah menolong nya.
Meisya berfikir berapa kasihan nya Elang, dia tidak ingat jati dirinya dan hidup di sini membantu Neneknya berkebun. Tanpa handphone dan teknologi lainnya. Yang sering Meisya lihat saat Elang senggang selama di rumah nenek nya hanya lah membaca buku.
*
*
*
Seminggu berlalu dan selama dia sakit Dwika bahkan tidak menjenguk atau menanyakan kabar nya sama sekali, padahal Meisya sudah memancing nya, mengatakan bahwa dia sedang sakit, berharap Dwika akan menghawatirkan nya. Atau memberikan perhatian lebih. Namun ternyata tidak sama sekali.
Sepulang kerja Meisya mampir ke konter ponsel untuk membelikan handphone untuk Elang. Ia membelikan handphone dengan Marek dan tipe yang sama dengan handphone miliknya, bedanya hanya warna casing nya saja. Milik nya berwarna putih sedangkan milik Elang berwarna hitam.
Dalam perjalanan pulang, dari kejauhan Dwika melihat Meisya. Dan segera menghampiri Meisya. "Sayang, sudah lama aku tidak melihat mu, kamu sudah sehat?" Tanya Dwika yang tiba-tiba datang dan merangkul pundaknya.
Meisya sebenarnya masih kesal karena Dwika baru sekarang muncul. Namun setelah mendengar Dwika menanyakan kabar nya, Meisya dengan cepat luluh. "Kamu kemana saja? Kenapa jarang menghungi ku, bahkan tidak menjenguk ku ketika sakit?
"Aduh sayang seminggu ini aku sibuk sekali, bolak balik jogja - Godean untuk menjalankan bisnis, agar aku bisa cocok bersanding dengan mu di pelaminan nanti dek. Dan juga untuk membuktikan pada mbah mu, kesungguhan ku padamu dek."
Meisya jadi terharu dengan penjelasan Dwika. Ternyata Dwika begitu perduli pada nya, dan begitu serius dengan hubungan mereka. "Maafkan aku, Karena tidak bisa membantu bisnis mu ya sayang." sesal Meisya.
"Tidak apa-apa dek. Kamu cukup bantu, tambah kan dana saja dek, toh nanti setelah kita menikah usaha mas ini, kamu juga yang ikut menikmati. Kebetulan dana mas masih kurang 5 juta. Kamu ada uang nggak dek?" Tanya Dwika penuh harap. Pasalnya Dwika tau bahwa hari ini, seharusnya Meisya gajian.
"Maaf mas, gaji Meisya sudah habis, untuk membelikan tongkat yang baru untuk si mbah, dan sisanya aku gunakan untuk membelikan handphone untuk Elang." kata Meisya menyesal, tidak dapat membantu kekasih nya.
"Ngapain sih dek, kamu belikan dia handphone segala, dia itu sudah numpang di tempat kamu, masih juga kamu pikirkan sampai kamu belikan handphone segala, memang nya, dia gak punya handphone apa?" Kesal Dwika pada tindakan Meisya.
"Kok kamu bilang begitu sih mas? Elang itu saudara jauh aku, dia selama di sini juga gak menganggur cuma minta makan dan tempat tinggal doang. Dia bantu si mbah di kebun, mencangkul dan lainnya, dia juga yang ngerawat si mbah ketika jatuh. Handphone nya hilang ketika terjadi kecelakaan bahkan dia itu sedang kehilangan ingatannya. Sampai hati kamu berkata seperti itu. Kata Meisya marah. Entah kenapa Meisya tidak terima jika Elang dikatakan beban baginya dan juga neneknya. Karena kehadiran Elang sangat membantu nya dan juga sang nenek
Meisya bertekad, akan membantu Elang mengingat asal-usul dirinya. Dan menemukan kembali keluarga nya. Karena Elang begitu penasaran mantan tetangga nya yang bernama Nilam sari itu, maka Meisya akan membantu Elang untuk bisa bertemu dengan nya. Dia bahkan sudah membuat janji dengan orang yang bernama Nilam sari itu.
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.