Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Sebelum semuanya berubah
Sebelum benar-benar tertidur, aku sempat mendengarnya berkata sangat pelan—lebih ke dirinya sendiri daripada padaku.
“Seharusnya aku tidak membiarkan ini.”
Kalimat itu melayang sebentar di udara, lalu jatuh entah ke mana.
Tapi tangannya tidak berhenti bergerak.
Masih menyangga. Masih menjaga. Seolah tubuhku adalah sesuatu yang harus dipastikan aman bahkan saat aku tidak sadar apa pun.
Aku tidak sempat berpikir. Tidak sempat menafsirkan. Kantuk menang lebih dulu.
—
Aku tidak tahu berapa lama aku tidur sebelum akhirnya Haruka mengangkatku. Gerakannya hati-hati, seperti biasa. Tidak tergesa. Tidak kasar. Ia membawaku ke kamar, menurunkanku ke kasur perlahan, merapikan posisiku, menarik selimut hingga dadaku.
Aku bergerak sedikit, menggumamkan sesuatu yang bahkan tidak kupahami sendiri.
Tangannya berhenti sejenak di udara.
Ia menatapku cukup lama. Lalu bangkit, melangkah pergi.
Aku tidak tahu bahwa setelah itu, ia tidak langsung tidur.
Pintu balkon terbuka pelan. Udara malam masuk, dingin dan bersih. Haruka berdiri di sana, bersandar pada pagar, rokok menyala di antara jarinya. Asap tipis melayang, bercampur dengan cahaya kota yang masih berkelip di kejauhan.
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Wajahnya tidak tenang. Bukan gelisah juga. Lebih seperti seseorang yang tahu ia sedang berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang bisa mengubah banyak hal.
—
Pagi datang terlalu cepat.
Aku terbangun oleh sentuhan ringan di bahuku.
“Alya,” suara itu lembut tapi tegas. “Bangun.”
Aku mendengus kecil, memutar wajah ke bantal. “Lima menit…”
“Sudah pagi.”
“Lima menit versi aku,” gumamku, nyaris tidak membuka mata.
Aku merasakan tangannya menepuk bahuku sekali lagi. “Kamu harus mandi. Kita harus makan. Kamu ada kuliah.”
Aku membuka satu mata, menatapnya setengah sadar. Rambutnya masih sedikit berantakan, kaus rumah, wajah yang terlalu rapi untuk jam sepagi ini.
“Capek,” kataku jujur.
Ia menghela napas kecil. “Bangun dulu.”
Aku menggeleng pelan. Lalu, tanpa berpikir panjang, aku membuka kedua tangan ke arahnya.
“Gendong.”
Ia terdiam.
“Alya…”
“Sebentar aja,” pintaku, suaraku masih berat oleh kantuk. “Aku belum siap jalan.”
Beberapa detik berlalu. Aku tahu ia sedang menimbang—antara logika dan kebiasaan buruknya menuruti aku.
Akhirnya, ia mendekat. Mengangkatku dengan satu gerakan yang membuat kakiku terangkat dari kasur.
Aku langsung menyandarkan kepala ke bahunya, tersenyum kecil. “Nah, gini enak.”
“Kamu itu,” gumamnya, tapi aku bisa mendengar senyum samar di suaranya.
Ia membawaku ke ruang tamu, mendudukkanku di sofa. Aku masih setengah terpejam, menarik lututku ke dada, selimut masih membungkus tubuhku.
“Duduk di sini dulu,” katanya. “Habis itu mandi.”
Aku mengangguk tanpa benar-benar mendengar.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depanku lagi. “Alya. Mandi.”
Aku membuka mata sedikit. Menatapnya malas. Lalu tersenyum nakal.
“Kalau kamu yang mandiin?”
Ia menatapku datar.
Aku masih memejamkan mata, tapi aku tahu persis ekspresi itu. Aku tersenyum lebih lebar. “Aku masih ngantuk. Kamu kan baik.”
Tangannya bergerak cepat—mencubit pelan perutku.
Aku tersentak. “Ih!”
“Bangun,” katanya singkat.
Aku tertawa kecil, lalu tanpa pikir panjang, aku condong dan menggigit pipinya cepat—bukan keras, lebih ke usil.
Ia terdiam.
Aku langsung membuka mata, sadar apa yang barusan kulakukan. Wajahku memanas.
“Eh—” Aku bangkit cepat. “Aku mandi! Sekarang!”
Aku berlari ke kamar mandi sebelum ia sempat berkata apa pun.
Di balik pintu, aku bersandar sebentar. Jantungku berdebar. Bibirku masih tersenyum sendiri.
—
Setelah mandi, dunia terasa sedikit lebih masuk akal.
Aku keluar dengan rambut masih basah, kaus longgar, dan rasa lapar yang akhirnya muncul. Haruka sudah menyiapkan sarapan sederhana di ruang tamu.
Aku duduk di seberangnya.
Kami makan pelan-pelan. Tidak terburu-buru. Suasana pagi terasa berbeda—lebih hangat, lebih akrab. Tidak ada kecanggungan, tapi juga tidak sepenuhnya biasa.
“Kuliah jam berapa?” tanyanya.
“Jam sembilan,” jawabku. “Masih ada waktu.”
Ia mengangguk. “Habis ini berangkat.”
Aku menyuap lagi, lalu meliriknya. “Kamu kelihatan capek.”
Ia menoleh. “Kamu yang bikin.”
Aku tertawa kecil. “Maaf.”
Ia tidak menjawab, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Aku menyuap lagi, lalu meliriknya.
“Kamu kelihatan capek.”
Ia menoleh sebentar. “Kamu yang bikin.”
Aku tertawa kecil. “Maaf.”
Ia tidak menjawab, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat dadaku menghangat. Aku jadi lebih pelan mengunyah, menikmati momen sederhana itu—kami duduk di ruang tamu, pagi masih muda, dunia belum sepenuhnya bangun.
“Kamu hari ini kuliah sampai jam berapa?” tanyanya akhirnya.
“Cuma sampai siang,” jawabku. “Kamu?”
Ia menggeleng. “Aku nggak ngajar.”
Aku berhenti menyuap. “Libur?”
“Bukan,” katanya singkat. Lalu meneguk minumnya.
Ada sesuatu di caranya menjawab yang berbeda. Bukan dingin—lebih seperti… menjaga jarak. Aku tidak memaksa bertanya, tapi mataku pasti mengkhianati rasa penasaranku.
Ia menyadarinya.
“Abis ini aku berangkat,” katanya.
“Ke mana?” tanyaku refleks.
Ia terdiam sebentar. “Ada tempat yang harus aku datangi.”
Nada suaranya tenang, tapi matanya tidak sepenuhnya santai. Aku mengangguk pelan. Lagi-lagi aku memilih tidak mengejar jawaban. Kadang, diam adalah bentuk kepercayaan.
Kami menghabiskan sarapan tanpa banyak kata. Tapi bukan canggung. Justru terasa penuh—seperti ada percakapan yang terjadi tanpa suara.
Setelah semuanya selesai, aku berdiri, merapikan piring. Ia mengambil jaketnya, lalu berhenti di belakangku.
“Kamu jangan lupa makan siang,” katanya.
Aku menoleh. “Kamu juga.”
Ia mengangguk, lalu mengulurkan tangannya sebentar—menepuk kepalaku ringan. Gerakan kecil itu membuatku terdiam sesaat.
“Aku berangkat dulu,” katanya.
Aku mengangguk. “Hati-hati.”
Di dalam mobil, suasana lebih sunyi dari biasanya.
Aku duduk di kursi penumpang, memandangi jalan yang mulai ramai. Haruka menyetir dengan fokus, satu tangannya di kemudi, yang lain sesekali berpindah gigi. Tidak ada musik. Hanya suara mesin dan napas kami.
“Kamu kenapa?” tanyaku akhirnya.
Ia menoleh sekilas. “Kenapa?”
“Kamu kelihatan… mikir.”
Ia tersenyum tipis. “Mungkin.”
Jawaban itu tidak menjawab apa-apa, tapi aku tidak menekan. Aku hanya mengangguk dan bersandar ke kursi, membiarkan pikiranku berjalan sendiri.
Mobil berhenti di depan kampus.
Aku membuka sabuk pengaman, tapi sebelum turun, aku menoleh padanya. “Pulangnya jangan kemalaman.”
Ia menatapku beberapa detik. “Aku akan usahakan.”
Ada jeda. Tipis. Tapi berat.
Aku turun, menutup pintu, dan berjalan menuju gerbang. Langkahku melambat tanpa sadar. Sesuatu di dadaku terasa menggantung.
Aku menoleh.
Mobilnya masih di sana. Ia belum pergi. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras sedikit—seperti seseorang yang sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak ia sukai, tapi harus ia lakukan.
Lalu mobil itu bergerak.
Bukan ke arah rumah.
Ia berbelok ke arah berlawanan dari jalur biasa.
Haruka menghela napas panjang saat kampus menghilang dari kaca spion.
Ia memutar kemudi, membawa mobilnya ke jalan yang lebih sepi. Bangunan berganti dengan pepohonan. Lalu dengan rumah-rumah lama. Jalan ini jarang ia lewati—dan itu disengaja.
Tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.
“Aku bilang nggak akan begini,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Lampu merah menyala. Mobil berhenti.
Ia bersandar ke sandaran kursi, menutup mata sejenak. Wajahnya tidak lagi setenang pagi tadi. Ada sesuatu yang berat di sana—keputusan, mungkin. Atau masa lalu yang tidak sepenuhnya selesai.
Saat lampu hijau menyala, ia kembali melaju.
Tujuannya semakin dekat.
Sebuah bangunan lama berdiri di ujung jalan. Tidak mencolok. Tapi jelas bukan tempat yang ia datangi tanpa alasan.
Haruka memarkir mobil.
Mesin dimatikan.
Ia tidak langsung turun.
Ia menatap layar ponselnya sebentar—nama seseorang muncul di sana. Ia tidak mengangkatnya. Hanya menatap, lalu mengunci layar.
“Aku harus membereskannya,” katanya pelan pada dirinya sendiri.
Ia membuka pintu, melangkah keluar, dan menutupnya kembali.
Sementara itu, di tempat lain, aku duduk di bangku kelas—tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana.
Entah kenapa, aku merasa… hari ini belum selesai.
Dan aku tidak tahu, bahwa keputusan Haruka pagi itu akan mengubah ritme kami lebih dari yang kami bayangkan.