Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PERTEMUAN DI KEDAI TEH TUA
Hujan turun tipis-tipis, menyelimuti Desa Awan Kelabu dengan kabut yang lembap. Desa ini hanyalah titik kecil di pinggiran Benua Tengah, tempat di mana waktu seolah berhenti dan orang-orang hidup dengan kepala tertunduk. Lu Chen, yang kini mengenakan jubah hitam barunya dengan tudung yang ditarik rendah, melangkah melewati jalanan berlumpur. Di sampingnya, Yue Bing membungkus diri dengan mantel kain kasar untuk menyembunyikan kecantikannya yang terlalu mencolok bagi tempat sekumuh ini.
Langkah mereka berhenti di depan sebuah kedai teh tua yang kayu-kayunya sudah mulai melapuk. Papan namanya tergantung miring, berderit setiap kali tertiup angin.
"Kita perlu informasi, bukan sekadar istirahat," bisik Lu Chen. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara rintik hujan.
Yue Bing hanya mengangguk kecil. Dia bisa merasakan suasana di desa ini sangat tidak enak; ada rasa putus asa yang menggantung di udara, jenis keputusasaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah kehilangan segalanya.
Begitu pintu kedai didorong, aroma teh murah dan asap kayu bakar yang apek menyambut mereka. Di pojok ruangan yang remang-remang, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian yang compang-camping. Rambutnya putih sebelum waktunya, dan tangan kanannya terlihat layu, menggantung tidak berdaya di sisi meja. Di depan pria itu, ada sebuah cawan teh yang sudah retak.
Lu Chen memesan dua cawan teh pahit dan duduk di meja yang berseberangan dengan pria itu. Dia bisa merasakan sesuatu—getaran energi yang sangat tipis, sisa-sisa dari apa yang dulunya pasti merupakan kekuatan besar.
"Tidak banyak orang asing yang mau mampir ke lubang tikus ini," ucap pria itu tanpa mengangkat kepalanya. Suaranya parau, seperti gesekan batu.
Lu Chen menyesap tehnya yang terasa sepat. "Kami hanya lewat. Mencari jalan menuju Gurun Terlarang tanpa harus berpapasan dengan patroli Sekte Pedang Suci."
Mendengar nama sekte itu, tangan pria tersebut gemetar hebat hingga teh di cawannya tumpah sedikit. Dia akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya keruh, namun ada kilat kebencian yang murni di sana.
"Sekte Pedang Suci," pria itu terkekeh sinis, sebuah suara yang terdengar lebih seperti rintihan. "Kalian mencari maut atau mencari perlindungan? Karena di tanah ini, mereka tidak memberikan keduanya."
"Kami mencari kebenaran," sahut Yue Bing lembut, matanya menatap tangan layu pria itu dengan empati.
Pria itu terdiam lama, menatap mereka berdua dengan selidik. Dia seolah mencari sesuatu di wajah Lu Chen. "Namaku Lin Feng. Setidaknya, itulah nama yang pernah diteriakkan ribuan orang di Arena Benua Tengah sepuluh tahun lalu."
Lu Chen meletakkan cawannya. "Lin Feng? Jenius Pedang Petir yang mencapai tingkat Bumi di usia delapan belas tahun? Kabarnya kau mati karena penyimpangan kultivasi."
Lin Feng tertawa pahit, tawa yang penuh dengan racun. "Penyimpangan? Itu cerita yang mereka karang. Kenyataannya lebih sederhana dan jauh lebih menjijikkan. Mereka membutuhkan 'benih' untuk diberikan kepada putra mahkota sekte mereka yang berbakat rendah. Mereka tidak membunuhku, mereka... memanenku."
Dia mengangkat tangan kanannya yang layu. "Mereka menggunakan Teknik Pemindah Akar Spiritual. Mereka mencuri petir dari darahku, dan meninggalkanku sebagai sampah di desa ini agar aku bisa menonton mereka memerintah dunia dengan kekuatanku sendiri."
Suasana di kedai itu mendadak menjadi sangat sunyi. Lu Chen merasakan amarah yang dingin mulai merayap di dadanya. Pola ini... sistem yang memeras yang lemah demi yang kuat... itu adalah alasan mengapa dia membakar Gerbang Naga.
"Berapa banyak orang seperti kau di luar sana?" tanya Lu Chen, suaranya kini seberat gunung.
"Banyak," jawab Lin Feng, matanya kini menatap lurus ke mata emas Lu Chen. "Setiap desa punya cerita serupa. Kita adalah pupuk bagi kejayaan mereka. Tapi kau... kau berbeda. Aura yang kau bawa... itu bukan aura seorang kultivator yang 'diberkati' oleh sekte."
Ignis, yang bersembunyi di balik jubah Lu Chen, mengeluarkan suara dengkur rendah yang membuat meja kayu itu bergetar. Lin Feng terbelalak. Dia bisa merasakan energi yang sangat besar meski Lu Chen sudah menekannya sekuat tenaga.
"Kau... kau adalah orang yang mereka bicarakan itu," bisik Lin Feng, tubuhnya kini condong ke depan. "Sang Penjinak yang menghancurkan Gerbang Naga."
Lu Chen tidak menjawab, yang merupakan jawaban itu sendiri.
Lin Feng tiba-tiba berlutut di lantai yang kotor, membuat pelayan kedai yang tua terperanjat. "Jika kau benar-benar ingin menuju Gurun Terlarang, jangan lewat jalan utama. Ada jalur kuno di bawah bukit berdarah. Aku akan memberitahumu, tapi dengan satu syarat."
Lu Chen menatap pria yang hancur itu. "Apa?"
"Bawa pesan ini kepada siapa pun yang kau temui di perjalananmu," Lin Feng mendongak, air mata mengalir di pipinya yang cekung. "Katakan pada mereka bahwa semut-semut di Benua Tengah sedang menunggu seseorang untuk membakar sarangnya. Katakan pada mereka bahwa kami belum mati... kami hanya sedang bersembunyi di dalam abu."
Lu Chen berdiri, jubah hitamnya berkibar meski tak ada angin di dalam ruangan. Dia meletakkan sekeping perak di meja, tapi perak itu bukan perak biasa; ia telah dialiri sedikit energi dari Ignis hingga berpendar hangat.
"Simpan ini. Energi di dalamnya akan menstabilkan sisa akarmu agar kau tidak kesakitan setiap kali hujan turun," ucap Lu Chen dingin namun ada nada kepedulian di dalamnya. "Dan Lin Feng... aku tidak akan mengirim pesan. Aku akan menjadi api itu sendiri. Kau hanya perlu melihat ke arah langit saat malam tiba. Jika langit berubah menjadi biru... itu tandanya pembalasanmu telah dimulai."
Lu Chen dan Yue Bing melangkah keluar ke tengah hujan, meninggalkan Lin Feng yang terisak sambil menggenggam koin perak yang hangat itu. Pertemuan ini meninggalkan bekas yang dalam di batin Lu Chen; dia menyadari bahwa musuhnya bukan hanya satu sekte, tapi seluruh tatanan dunia yang busuk ini.
Namun, saat mereka baru mencapai ujung desa, langkah Lu Chen terhenti. Suasana desa yang tadinya sepi mendadak berubah menjadi mencekam. Burung-burung gagak terbang menjauh dari hutan di depan mereka.
Di tengah jalan setapak yang berlumpur, berdiri seorang pria dengan pakaian serba putih yang sangat bersih, memegang payung kertas dengan santai. Pria itu tersenyum, namun matanya sedingin es. Di pinggangnya, tergantung sebuah lencana perak dengan simbol pedang dan matahari.
"Tuan Lu Chen, saya kira," ucap pria itu, suaranya sangat sopan namun mematikan. "Saya dari Departemen Penegak Hukum Benua Tengah. Anda punya sesuatu yang bukan milik Anda, dan saya di sini untuk mengambilnya kembali—bersama dengan kepala Anda."
Lu Chen menyipitkan mata. Tekanan spiritual dari pria berbaju putih itu mulai meretakkan tanah di bawah kaki mereka. Ini bukan lagi murid sekte biasa; ini adalah pemburu yang sesungguhnya. Ignis merayap keluar dari kerah jubah Lu Chen, giginya yang kecil mulai memercikkan api biru yang haus akan darah.
aku mau mengajak kalian untuk berpetualang ke dunia yang baru aja aku buat. di tunggu kedatangannya ya.
terkhusus untuk Autor. semangat ya.💪