Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Setelah pesta yang hangat itu usai, sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sudah dihias dengan untaian bunga melati telah menunggu dihalaman rumah saat siang hari. Namun, keberangkatan ini sedikit berbeda dari pasangan biasanya. Di kursi belakang, Byan sudah duduk manis dengan ransel kecilnya dan sebuah kamera instan melingkar di leher.
"Petualangan dimulai!" seru Byan sambil melongok kepalanya dari jendela, membuat sang ayah dan ibu barunya tertawa.
Mereka tidak menuju resort mewah yang sunyi, melainkan sebuah pondok kayu di tepi danau yang dikelilingi hutan pinus—tempat di mana Sebria bisa mencari inspirasi tanaman liar, dan Byan bisa belajar memancing bersama ayahnya. Jehan membantu istrinya masuk ke kursi depan, lalu ia menoleh ke arah mertua dan adik iparnya yang melambaikan tangan di teras.
"Jaga toko bunganya, ya!" teriak Sebria sambil melempar ciuman jauh. Semalam ia mengajak Keona tapi adiknya itu ada perjalanan ke luar negeri.
Mesin mobil menderu halus, perlahan meninggalkan halaman yang masih berpendar cahaya lampu hias. Saat mobil melaju membelah sore, Byan sibuk memotret punggung kedua orang tuanya dari belakang, mengabadikan momen pertama mereka sebagai sebuah tim utuh yang menuju cakrawala baru.
...----------------...
Pagi pertama di pondok tepi danau dimulai dengan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pohon pinus. Udara begitu dingin dan bersih, sangat kontras dengan aroma sibuk toko bunga di kota.
Jehan terbangun lebih dulu, menyeduh kopi di dapur kayu yang sederhana, sementara Sebria sedang berada di beranda, menghirup dalam-dalam aroma embun dan tanah hutan yang basah.
"Papa! Mama B ! Lihat, ada kabut di atas air!" teriak Byan antusias.
Sebria dan Jehan terkekeh mendengar panggilan Byan pada Sebria.
"Itu napas hutan, Byan. Di sini, bunganya tidak tumbuh di pot, mereka bebas."
Mereka bertiga duduk di tangga kayu beranda, berbagi selimut besar sambil menyesap cokelat hangat dan kopi. Tidak ada jadwal yang harus dikejar, tidak ada pesanan bunga yang harus dikirim. Hanya ada suara riak air danau dan rencana sederhana untuk mencari ranting pohon bersama—sebuah pagi yang tenang, menandai hari pertama kehidupan baru mereka sebagai keluarga yang utuh.
Kegiatan pertama mereka bukanlah memancing atau mendaki, melainkan misi rahasia yang diusulkan oleh Sebria berburu harta karun di hutan. Dengan sepatu bot karet yang baru, Byan memimpin jalan menyusuri tepian danau, sementara sang ayah membawa keranjang anyaman kecil untuk menampung "penemuan" mereka.
Setiap kali Byan menemukan batu yang unik atau daun pakis yang bentuknya menarik, ia akan berhenti dan bertanya dengan antusias. Sebria dengan sabar menjelaskan nama-nama tanaman liar itu, sementara Jehan bertugas mengangkat Byan untuk memetik buah beri hutan yang tumbuh tinggi di semak-semak.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah dermaga kayu tua. Alih-alih hanya melihat, mereka duduk bersama di pinggir dermaga, mencelupkan kaki ke air danau yang dingin sambil menyusun buket hutan pertama mereka. Sebuah rangkaian berantakan namun indah yang terdiri dari ranting pinus, bunga liar kuning, dan bulu burung yang ditemukan Byan. Momen sederhana ini menjadi ikatan pertama yang nyata, membuktikan bahwa petualangan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh mereka pergi, tapi tentang siapa yang ada di samping mereka saat menemukannya.
...----------------...
Setelah satu minggu bulan madu berkedok berpetualang itu. Kini keluarga kecil Jehan kembali ke kota. Tapi tidak untuk pulang ke rumah Jehan atau Sebria. Melainkan ke rumah baru yang entah kapan Jehan persiapkan. Baginya sudah waktunya mewujudkan semua mimpi-mimpi tertundanya bersama Sebria.
Rumah baru itu adalah sebuah mahakarya yang memadukan kehangatan tempat tinggal dan keajaiban alam. Bangunan bergaya victorian modern itu memiliki jendela-jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, membiarkan cahaya matahari menyiram seluruh ruangan layaknya sebuah rumah kaca raksasa.
Di bagian tengah rumah, terdapat taman dalam ruangan dengan pohon zaitun kecil di tengahnya, tempat Seberia bisa menyesap kopi sambil merencanakan rangkaian bunga.
Dapurnya didominasi kayu hangat dengan meja marmer luas, tempat Byan bisa mengerjakan tugas sekolah ditemani aroma kue yang baru dipanggang dan wangi melati dari vas di sudut meja. Namun, bagian paling impian bagi Sebria adalah teras belakang yang menyatu dengan kebun bunga pribadinya nanti. Di sana, Jehan telah membuatkan jalan setapak dari batu alam dan sebuah ayunan kayu besar untuk mereka bertiga. Rumah itu bukan sekadar bangunan, itu adalah apresiasi cinta di mana setiap sudutnya bernapas, tumbuh, dan mekar bersama penghuninya.
"Kamu suka?" Jehan berdiri di belakang istrinya sambil sesekali mencuri kecupan kecil di bahu Sebria.
"Suka sekali." Sahut Sebria sedikit memiringkan kepala. "Kenapa tidak di rumah lama saja?"
"Di kehidupan yang sekarang aku akan mewujudkan mimpi-mimpi tertunda kita."
Dada Sebria menghangat sambil tersenyum manis. "Terimakasih, Je..."
"Aku yang harus berterimakasih sama kamu, karena sudi kembali dan menerima aku." Jehan mengecup singkat bibir istrinya. "Bi Merry sama Pak Adi dan asisten rumah yang lainnya sudah dalam perjalanan kesini. Ini rumah kamu, semua pengaturan ada sama kamu. Kamu ratu nya didalam istana yang sudah aku buat."
"Terus rumah yang lama bagaimana?"
"Biarkan saja dulu siapa tahu ada yang ingin membelinya. Tidak ada kenangan yang spesial disana. Byan tidak tumbuh disana tapi di rumah mama. Kami baru pindah kesana karena dekat sama sekolah Byan. Rumah yang ini sebenarnya milik Arkan yang aku beli lalu di renovasi sesuai impian kamu."
Sebria sudah tidak bisa berkata-kata. Jehan tidak pernah berubah selain bertambah dewasa. Pria yang jadi suaminya lebih matang dari beberapa tahun lalu.
"Besok kita pulang ke rumah kamu ambil barang-barang yang penting saja."
Malam pertama di rumah itu terasa begitu manis. Setelah memastikan Byan tertidur lelap di kamar petualangannya, Jehan dan Sebria melangkah keluar menuju balkon pribadi mereka. Udara malam yang sejuk membawa aroma tanah basah. Menyambut kehadiran mereka dengan tenang.
Jehan menyampirkan selimut rajut ke bahu istrinya, lalu mereka berdiri berdampingan sambil bersandar di pagar besi tempa. Di bawah sana, lampu-lampu taman berpendar redup di antara siluet bunga-bunga yang tertidur. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi suara riuh pesta atau kesibukan toko hanya ada suara napas mereka yang selaras dengan desis angin di antara dahan pohon.
"Kita akhirnya sampai ke tahap ini, Ini rumah kita." bisik Jehan lembut sambil menggenggam tangan istrinya.
Sebria menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, menatap langit yang penuh bintang. "Bukan hanya rumah," jawabnya dengan senyum tulus. "tapi taman yang akan kita rawat selamanya."
Di bawah naungan cahaya bulan, mereka berbagi ciuman sebagai pemilik rumah baru, mengukuhkan janji bahwa di tempat inilah cinta mereka akan terus mekar, seiring dengan tumbuhnya setiap tunas di kebun mereka.
Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰