NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Di Tengah Sorotan”

Hujan turun deras pagi itu.

Benny berdiri di depan cermin kamar, mengancingkan kemejanya satu per satu. Gerakannya rapi, tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang reputasi.

Di belakangnya, Cessa duduk di tepi ranjang, mengenakan jaket tipis. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada riasan. Tidak ada usaha untuk terlihat kuat.

Ia memang kuat.

“Hari ini kamu harus ke kantor?” tanya Cessa.

“Iya,” jawab Benny singkat. “Audit lanjutan. Dewan direksi juga hadir.”

Cessa mengangguk. “Aku ikut.”

Benny berhenti mengancing. Menoleh. “Kamu yakin?”

Cessa berdiri. Menatapnya lurus. “Kemarin aku berdiri sendiri. Hari ini aku berdiri di sampingmu.”

Benny menelan ludah. Ia ingin mengatakan jangan. Ingin melindungi. Tapi ia teringat satu hal:

Cessa tidak ingin dilindungi—ia ingin dipilih sebagai partner.

“Oke,” ucap Benny akhirnya. “Kita berangkat bareng.”

Di gedung kantor, suasana lebih tegang dari sebelumnya.

Wartawan sudah berjajar di lobby. Kamera menyala. Bisik-bisik mengisi udara.

Begitu pintu mobil terbuka, kilatan lampu langsung menghujani mereka.

“Pak Benny! Benarkah audit ini terkait konflik kepentingan karena pernikahan Anda?”

“Apakah istri Anda memengaruhi keputusan bisnis?”

Cessa menggenggam tangan Benny lebih erat.

Benny melangkah maju. “Tidak ada konflik kepentingan.”

“Bukti?” desak seorang wartawan.

Benny belum sempat menjawab ketika Cessa melangkah setengah langkah ke depan.

“Saya bukan konflik,” ucap Cessa tenang, jelas. “Saya manusia.”

Keheningan jatuh sesaat.

“Saya tidak pernah terlibat dalam keputusan perusahaan,” lanjut Cessa. “Dan jika kepemimpinan suami saya dipertanyakan karena ia memilih hidup seimbang—maka masalahnya bukan pada kami.”

Beberapa wartawan saling pandang.

Benny menatap Cessa—bukan terkejut, tapi bangga.

Mereka melangkah masuk.

Ruang rapat besar dipenuhi wajah-wajah serius.

Dewan direksi duduk berjajar. Auditor membuka berkas. Presentasi dimulai—angka, grafik, keputusan strategis.

“Tidak ditemukan penyalahgunaan dana,” ujar auditor utama. “Namun ada perubahan signifikan pada pola kepemimpinan.”

“Yang dianggap melemahkan,” timpal salah satu direktur.

Benny berdiri. “Yang dianggap manusiawi.”

Hening.

“Saya tidak meminta simpati,” lanjut Benny. “Saya meminta keadilan penilaian. Perusahaan ini tumbuh bukan karena saya bekerja tanpa henti—tapi karena sistem yang sehat.”

“Dan Anda yakin sistem itu masih berjalan?” tanya direktur lain.

“Lebih baik,” jawab Benny tegas. “Karena dipimpin oleh seseorang yang tidak lagi hidup dalam ketakutan.”

Tatapan Diana tertuju padanya—tajam, menilai.

“Anda berbicara tentang ketakutan?” ucap Diana akhirnya. “Atau pembenaran?”

Benny menatapnya. “Tentang keberanian.”

Cessa berdiri. Semua mata tertuju padanya.

“Saya tidak datang untuk membela suami saya,” ucap Cessa tenang. “Saya datang untuk menolak narasi bahwa memilih keluarga adalah kelemahan.”

Beberapa orang terlihat tidak nyaman.

“Audit ini sah,” lanjut Cessa. “Tapi motif di balik tekanan ini—itu yang patut dipertanyakan.”

Diana tersenyum tipis. “Anda menuduh?”

Cessa menatapnya lurus. “Saya bertanya.”

Hening kembali jatuh.

Auditor berdehem. “Kami akan menyelesaikan audit sesuai prosedur.”

Rapat ditutup dengan ketegangan yang belum reda.

Di lorong kantor, Benny menghentikan langkah.

“Kamu tidak seharusnya bicara sejauh itu,” katanya lirih—bukan marah, tapi cemas.

Cessa menatapnya. “Aku tidak ingin kamu berperang sendirian.”

Benny menarik napas panjang. “Aku takut ini akan berbalik ke kamu.”

“Kalau itu terjadi,” jawab Cessa tenang, “aku sudah siap.”

Mereka saling menatap. Tidak ada keraguan di mata Cessa. Dan itu… menenangkan.

Sore hari, berita kembali meledak.

Istri CEO Bicara: ‘Saya Manusia, Bukan Konflik’

Audit Dinilai Sarat Kepentingan Lama

Opini publik mulai terbelah.

Dan di balik layar, Diana menerima panggilan.

“Rencana A tidak menjatuhkan mereka,” suara di seberang terdengar tegang.

Diana menghela napas. “Karena dia berdiri bersamanya.”

“Lalu?”

Diana menatap jendela. “Kita pakai kebenaran—yang belum mereka tahu.”

Malam itu, Benny dan Cessa duduk di ruang tengah.

Sunyi. Lelah. Tapi bersama.

“Aku bangga sama kamu,” ucap Benny akhirnya.

Cessa tersenyum kecil. “Aku juga.”

Benny menatapnya. “Kalau audit ini berakhir buruk—”

“Aku tetap di sini,” potong Cessa. “Aku tidak memilih hidup yang aman. Aku memilih hidup yang jujur.”

Benny memejamkan mata sejenak. “Aku mencintaimu.”

Cessa mendekat. “Aku tahu.”

Ponsel Cessa bergetar.

Pesan masuk. Nomor tak dikenal.

Ia membuka—dan wajahnya mengeras.

Sebuah video singkat.

Rekaman lama.

Benny—bertahun-tahun lalu—mengatakan kalimat yang menusuk:

“Aku tidak akan pernah benar-benar mencintai siapa pun. Itu membuatku lemah.”

Cessa menatap layar lama.

Benny memperhatikan perubahan ekspresinya. “Ada apa?”

Cessa mengangkat ponsel. Menunjukkan video itu.

Keheningan jatuh—berat.

“Itu… lama,” kata Benny cepat. “Sebelum—”

“Aku tahu,” ucap Cessa pelan. “Tapi aku perlu tahu satu hal.”

Benny menelan ludah.

“Kalimat itu,” lanjut Cessa, “masih berlaku… atau sudah mati?”

Benny menatapnya. Matanya berkaca-kaca.

“Kalimat itu mati,” jawabnya tegas. “Aku menguburnya saat aku memilihmu.”

Cessa menutup mata. Menarik napas panjang.

Ia belum menjawab.

Masa lalu Benny dipakai sebagai senjata terakhir.

Cessa berdiri di titik paling rapuh—

memilih percaya pada perubahan, atau pada kata-kata yang pernah diucapkan.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!