Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Nomor 404
Ketegangan dari pesta malam itu masih membekas di benak Aira saat mobil mereka memasuki gerbang kediaman Malik. Aristhide tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan pulang. Pria itu tampak tenggelam dalam pikirannya, rahangnya mengeras, dan tangannya terus-menerus memutar-mutar cincin perak di jari manisnya.
Sesampainya di dalam rumah, Aristhide hanya memberikan instruksi singkat kepada Yudha sebelum berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Aira ditinggalkan berdiri di lobi yang luas, masih mengenakan gaun merah marun yang kini terasa seperti beban berat.
"Nona Aira, sebaiknya Anda beristirahat," saran Yudha dengan suara rendah yang menenangkan. "Tuan Aristhide sedang menangani masalah mendesak."
Aira mengangguk, namun bukannya menuju kamarnya sendiri di sayap timur, rasa penasaran yang dipicu oleh ucapan Aristhide tentang "masa lalu ibunya" justru membawanya melangkah ke arah lain. Ia teringat larangan Aristhide tempo hari: Jangan pernah memasuki lantai paling atas.
Di rumah modern ini, lantai paling atas hanya bisa diakses melalui lift pribadi atau tangga melingkar yang tersembunyi di balik perpustakaan. Aira memilih tangga. Ia melepas sepatu hak tingginya, berjalan tanpa alas kaki agar langkahnya tidak menimbulkan suara di atas marmer yang dingin.
Lantai paling atas tidak seperti bagian rumah lainnya yang didominasi kaca dan cahaya. Tempat ini terasa lebih tua, lebih lembap, dan aromanya mengingatkan Aira pada kertas usang dan kayu tua. Hanya ada satu lorong panjang dengan satu pintu di ujungnya yang memiliki papan kecil berbahan kuningan: Nomor 404.
Pintu itu tidak terkunci. Dengan jantung yang berdegup kencang, Aira mendorongnya pelan.
Ternyata, itu bukan sebuah kamar tidur. Kamar 404 adalah sebuah ruang arsip raksasa yang bercampur dengan barang-barang pribadi. Ada deretan lemari besi, tumpukan lukisan yang dibungkus kain, dan sebuah meja kayu besar yang dipenuhi dengan kliping koran lama. Aira menyalakan lampu meja yang redup, memberikan pencahayaan kuning yang melankolis pada ruangan itu.
Jemarinya menyentuh salah satu kliping koran. Judul utamanya tertulis: "Skandal Yayasan Sofia: Ke mana Larinya Dana Panti?" Di bawahnya terdapat foto Sofia Malik yang tampak pucat, dikelilingi oleh kerumunan wartawan. Namun, yang membuat Aira mematung adalah sosok pria yang berdiri di latar belakang foto itu, tersenyum tipis ke arah kamera.
Itu adalah Bramantyo. Ayahnya saat masih muda.
Di samping kliping itu, Aira menemukan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya bukan perhiasan, melainkan tumpukan surat-surat yang sudah menguning. Ia mengambil satu dan membacanya.
“Untuk Sofia,” surat itu dimulai. “Dunia mungkin melihatmu sebagai penjahat, tapi aku tahu siapa yang memegang kendali. Bramantyo tidak hanya mencuri uangmu, dia mencuri cahaya dari matamu. Maafkan aku karena aku tidak cukup kuat untuk melindungimu saat itu.”
Surat itu tidak selesai. Aira merasa sesak napas. Ayahnya bukan hanya seorang penjudi yang gagal; dia adalah penghancur hidup orang lain. Dan Aristhide... Aristhide adalah anak yang tumbuh besar dengan menyaksikan kehancuran ibunya di tangan Bramantyo.
Tiba-tiba, Aira mendengar suara gesekan kertas di sudut ruangan. Ia menoleh dengan cepat, mengira itu tikus atau angin. Namun, dari balik salah satu lemari arsip, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang tergeletak di lantai, seolah-olah baru saja jatuh.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah buku harian dengan sampul kulit berwarna cokelat tua. Aira membukanya secara acak. Isinya bukan tulisan Sofia, melainkan tulisan tangan lain yang lebih rapi, namun penuh dengan keputusasaan.
“Dia membawaku ke sini hari ini. Dia bilang aku mirip dengan 'dia'. Aku tidak tahu siapa 'dia' yang dimaksud, tapi matanya... Aristhide menatapku seolah aku adalah hantu. Aku takut. Aku bukan jaminan utang, aku adalah pengganti untuk sesuatu yang hilang.”
Aira tersentak. Jadi, dia bukan wanita pertama yang dibawa Aristhide ke sini dengan alasan "jaminan utang"? Siapa wanita yang menulis ini? Dan di mana dia sekarang?
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara itu datang dari kegelapan pintu masuk. Aira menjatuhkan buku harian itu. Aristhide berdiri di sana, siluetnya tampak mengerikan di bawah cahaya lampu koran yang remang-remang. Matanya berkilat marah, namun ada luka yang lebih dalam yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Aku... aku hanya ingin tahu kebenarannya," suara Aira bergetar. "Siapa wanita yang menulis buku harian ini, Aristhide? Dan kenapa fotoku ada di antara berkas-berkas rahasiamu tentang ayahku?"
Aristhide berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman palu hakim. Ia memungut buku harian itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak dengan kasar.
"Kau melanggar aturan tunggalku," desis Aristhide. Ia menyudutkan Aira ke meja besar, tangannya mengunci sisi tubuh Aira. "Kau ingin tahu kebenarannya? Kebenarannya adalah setiap jengkal kemewahan yang kau lihat di rumah ini dibangun di atas air mata ibuku. Dan ayahmu adalah orang yang menuangkan racun itu."
"Aku tahu itu sekarang! Aku membaca surat-suratnya!" seru Aira. "Tapi itu tidak menjelaskan kenapa kau membawaku ke sini! Jika kau membencinya, kenapa kau ingin 'investasi' pada anaknya? Kenapa tidak Aina saja?"
Aristhide mendekatkan wajahnya, hanya beberapa sentimeter dari wajah Aira. "Karena Aina adalah produk dari keserakahan Bramantyo. Tapi kau... kau adalah pengingat akan kegagalannya. Kau adalah anak yang dia sia-siakan, dan aku ingin menggunakanmu untuk menunjukkan padanya bahwa hal yang paling dia remehkan adalah hal yang akan menghancurkannya."
"Dan wanita di buku harian itu?" kejar Aira, matanya menantang Aristhide.
Rahang Aristhide mengeras. "Dia adalah sepupuku. Dia meninggal karena depresi setelah mencoba membantu menyelamatkan perusahaan ini. Dia juga dikhianati oleh orang yang dia cintai. Aku gagal melindunginya, sama seperti aku gagal melindungi ibuku."
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka. Aira bisa melihat sisi rapuh dari "monster" ini. Aristhide bukan hanya ingin balas dendam; dia sedang mencoba memperbaiki sejarah yang sudah hancur, namun dengan cara yang salah.
"Kau tidak bisa menghidupkan kembali orang mati dengan menyiksa orang yang masih hidup, Aristhide," bisik Aira pelan. Tangannya tanpa sadar menyentuh dada Aristhide, merasakan jantung pria itu yang berdetak liar di balik kain kemejanya.
Aristhide tertegun. Sentuhan Aira terasa seperti sengatan listrik yang menyadarkannya. Ia segera menjauhkan diri, seolah-olah sentuhan itu bisa meluluhkan benteng yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
"Keluar dari sini, Aira," ujar Aristhide, suaranya kini kembali dingin dan datar. "Dan jangan pernah kembali ke lantai ini. Jika kau melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan mengembalikanmu ke jalanan, tanpa uang, tanpa perlindungan."
Aira berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak dan menoleh. "Kau bisa mengusirku dari ruangan ini, tapi kau tidak bisa mengusir kenyataan bahwa kau membutuhkanku bukan hanya untuk balas dendam. Kau membutuhkanku karena aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh darah sendiri."
Setelah Aira pergi, Aristhide terduduk di kursi kayu tua itu. Ia membuka kembali buku harian sepupunya, lalu menatap kliping koran tentang ibunya. Untuk pertama kalinya, ia meragukan rencananya sendiri. Aira Kirana bukan sekadar bidak catur. Dia adalah variabel yang tidak bisa ia kendalikan.
Sementara itu, di lantai bawah, ponsel Aristhide berdering. Itu adalah pesan dari Yudha.
“Tuan, Aina baru saja mengirimkan sebuah dokumen kepada salah satu kompetitor kita. Dokumen itu berisi skema pengalihan aset yang Anda buat untuk menjebak Bramantyo. Dia mencoba bermain dua kaki.”
Aristhide meremas ponselnya. Senyum dingin kembali muncul di wajahnya. Perang telah dimulai, dan Aina baru saja memberikan alasan bagi Aristhide untuk bertindak tanpa ampun. Namun, ada satu hal yang ia cemaskan: Bagaimana jika Aira tahu bahwa dalam rencana penghancuran Bramantyo, ada risiko bahwa Aira juga akan ikut terseret ke dalam lubang yang sama?