Sudah TAMAT
Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh delapan
Mendengar itu, Naomi langsung bangun membenahi diri. Jackson bisa melihat raut terkejut dari adiknya.
"Dengan si gundul?! Ah, yang benar saja kakak! Seharusnya kau mengadakan sayembara untukku!" Naomi sok jual mahal.
Jackson meremas kepala adiknya. Dia pun kembali mengomel, bahkan sekelas Lunar saja tidak mau mengadakan sayembara.
Tom memasang wajah pucat. Pria itu membatin, dirinya pun enggan menikahi Naomi meski diberi warisan oleh Jackson. Sedikit tersinggung Tom melihat Naomi bergidig melihat ke arahnya. Lunar segera menenangkan Naomi. Gadis itu lebih peka ketika melihat reaksi Tom.
Jackson tak mau ambil pusing. Pria itu memilih pergi setelah mengajak Tom. Naomi mendumel pada Lunar bahwa kakaknya sama menyebalkan. Ejekan di reality show kemarin membuat Naomi hilang kepercayaan dirinya.
"Naomi, menjadi diri sendiri itu lebih baik. Aku tak mengerti kenapa semua orang iri padaku, mereka ingin menjadi sepertiku. Apa karena aku bersuamikan Jackson Adiwangsa?" Lunar mengajak adik iparnya untuk curhat.
Naomi merenung sejenak. Benar kata mendiang orangtuanya, hidup itu sawang sinawang. Padahal Naomi saksi hidup bagaimana kehidupan Lunar. Naomi menghela napas, jika dirinya menjadi Lunar takkan sanggup. Setelah berbincang dengan Lunar, pikiran Naomi sedikit jernih. Selama ini Naomi hanya melihat Lunar disanjungi banyak orang dan diberi hadiah mahal. Naomi hanya ingin itu.
Sejurus kemudian, gadis itu bangun seraya mengusap wajahnya kasar. Lunar hanya melihat Naomi yang berjalan mendekati cermin. Agak geli Lunar melihat adik iparnya lenggak-lenggok.
................
Aling prihatin ketika melihat Silvanwood berada di layar kaca bahkan menjadi trending topic. Hatinya sedikit tak rela karena Silvanwood dijelajahi orang-orang tanpa seizinnya.
Sekian dekade, Silvanwood menjadi tempat terisolasi. Aling hanya pasrah, dia tidak bisa melihat Lunar sedih jika dia menolaknya. Sekarang, semua orang sudah tahu keberadaan Silvanwood. Aling merasa jika Kaelix mengetahui ini pasti akan murka. Ck, seharusnya Aling lah yang murka pada Kaelix.
Di channel AHP, Silvanwood ditayangkan secara tidak langsung dan hanya potongan video untuk memperkenalkannya. Menurut Aling percuma dia mengajukan keberatan, nampaknya Jackson tak mau mengerti. Aling prihatin, apa Lunar tidak sadar bahwa suaminya otak bisnis?
Apalagi banyak investor yang ingin menaruh saham dengan menjadikan rumah pohon dan air terjun Silvanwood sebagai destinasi wisata. Aling tak bisa membayangkan kerusakan Silvanwood di masa depan. Entah kenapa, wanita tua itu minim percaya pada Jackson.
Lunar ikut senang karena Silvanwood berhasil menarik peminat. Karena itulah publik tak lagi terpaku pada pernikahan Lunar dan Jackson.
Memang Silvanwood seperti di dunia fantasi saja. Mereka dibuat kagum. Namun Jackson sendiri tak luput dari tuduhan negatif. Sutradara Zhou yang terang-terangan kasihan pada Lunar karena sudah dimanfaatkan.
Erina sendiri tak menyangka bahwa Silvanwood bisa seindah itu. Sama seperti yang lain, Erina dibuat iri. Bungkamlah Alice di depan media karena pernah mengatakan Silvanwood tempat tinggal manusia jadi-jadian.
"Nyonya Aling, katanya Silvanwood dibuat sebagai bukti cintanya Kaelix pada Anda? Sungguh menakjubkan! Publik mengira tak ada gadis yang diberi mahar semahal nona Lunar. Tapi, Nyonya Aling begitu istimewa!"
Aling memucat ketika diwawancara. Sebenarnya dia tak nyaman dengan kamera menyala. Terpaksa wanita tua itu menghadapi wartawan ditemani Lunar. Aling duduk di kursi roda dengan nyaman. Tadinya dia hanya berbincang kehidupan zaman dulu namun siapa sangka akan menyinggung Silvanwood. Aling yakin, kehidupan pribadinya pun akan jadi bahan pertanyaaan.
"Saya sudah sangat tua, karena itu saya menyerahkan Silvanwood pada Lunar." Jawab Aling mengusap kepala Lunar.
Para wartawan penasaran siapa ibu Lunar, karena menurut penglihatan mereka tak mungkin Lunar lahir dari rahim Aling. Memucat Aling tak bisa menjawab, jangankan Lunar dirinya pun tak tahu dengan siapa Kaelix menikah.
Aling bisa menjawab pertanyaan lain tapi tidak dengan identitas ibu Lunar. Aling prihatin, bagaimana Lunar bisa hidup di tengah orang-orang yang kepo akan hidupnya.
Wanita tua itu izin pamit untuk kembali ke Silvanwood, tapi Lunar melarang. Menurut Lunar, takkan aman Aling tinggal seorang diri apalagi media sudah mengetahui Silvanwood. Jackson Adiwangsa mengubah Silvanwood bukan tempat terisolasi lagi dalam sekejap mata.
"Apa aku harus di sini seumur hidupku? Kalau begitu, aku minta Tuhan untuk menjemputku saja," ujar Aling sengau.
Lunar menatap sendu. Bersimpuhlah Lunar di hadapan Aling dan tak henti memohon ampun. Sejak dibukanya Silvanwood, Jackson jarang meluangkan waktu dengan Lunar. Pria itu tiada hari tanpa bekerja. Padahal, tadinya Lunar menginginkan Silvanwood sebagai pelariannya bersama Jackson untuk ketenangan.
"Ya, Lunar begitulah kakakku. Dia gila kerja. Dia memang suka ketenangan, tapi tak suka menyia-nyiakan kesempatan!" celoteh Naomi ketika Lunar mengeluhkan Jackson padanya.
"Tuan Jackson! Apa rencana Anda kali ini?"
Banyak yang bertanya pada Jackson. Pria itu menjawab akan membuat film bersama Lunar di Silvanwood. Tentu rilisnya sangat dinantikan penggemar.
Lunar tahu itu di media tak sengaja melihat wawancara eksklusif Jackson. Memang betul Jackson punya rencana itu tapi tak pernah bertanya apakah Lunar siap dan menerimanya.
Gadis itu melihat ponsel berulang kali berharap Jackson menghubunginya atau membalas pesannya tapi nihil. Lunar cemburu, secinta itu Jackson pada pekerjaannya.
Daripada Lunar merenggut, gadis itu memilih untuk berjalan-jalan saja. Dua bodyguard dan dua maid segera mendampingi Lunar. Gadis itu berpikir daripada menunggu Jackson lebih baik menghibur diri untuk menghabiskan uang. Bukankah, Jackson bekerja untuknya? Lunar benar-benar akan menghabiskan uang begitu banyak.
"Nyonya Lunar, Anda seperti tidak sehat? Apa aku harus memanggil dokter?" salah satu bodyguard menahan tubuh Lunar yang oleng.
Gadis itu menolak meski kepalanya berdenyut hebat. Lunar dipapah maid lalu tak lama kemudian dia merasakan mual. Berlarilah gadis itu menuju toilet disusul maid. Lunar mengeluarkan apa yang sudah dimakannya tapi rasa mual dan pusing semakin terasa.
"Nyonya, mungkin Anda mengandung!" ucapan maid membuat Lunar termenung.
Gadis itu menunggu di toilet sementara maid membeli alat tes kehamilan. Setelah diuji coba, gadis itu memamerkan benda itu pada maid.
"Aku tak mengerti kenapa garisnya dua?" tanya Lunar polos.
Kedua maid itu saling pandang kemudian tersenyum. Keduanya mengatakan selamat pada Lunar karena itu tanda positif hamil.
Berkaca-kaca mata Lunar karena terharu dirinya akan menjadi ibu. Untuk memastikan lebih lanjut, Lunar meminta ke rumah sakit langsung. Dokter pun mengatakan hal sama. Lunar diberi suplemen dan diwanti-wanti untuk menjaga kandungannya.
Lunar sudah tidak sabar untuk memberitahu Jackson. Gadis itu menunggu kepulangan Jackson yang masih meeting walau sudah larut malam sehingga Lunar tertidur di sofa. Begitu ada kesempatan, Lunar langsung memberitahu kehamilannya dengan antusias.
"Kenapa, kau harus hamil sekarang?"