“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ki 30
“Pak Riko,” ucap Raka saat melihat layar ponselnya menyala.
Ingin sekali ia menjambak rambutnya dengan keras. Sudah satu hari mundur, Maryono belum juga mengirim filter ke pabrik. Keterlambatan itu membuatnya terpojok.
Dua kali deringan, baru Raka mengangkat telepon.
“Pak Raka, produksi tidak bisa dibiarkan seperti ini terus. Kapan filternya akan datang? Kenapa Anda jadi lambat seperti ini?” ucap Pak Riko, terdengar kesal.
Hujan dari pagi terus turun, memberi hawa dingin, tetapi kepala Raka terasa panas. Jantungnya terus berdebar.
“Besok saya akan selesaikan, Pak. Lusa mudah-mudahan sudah terpasang, Pak,” ucap Raka akhirnya. Demi menjaga reputasi kerja, dia akan melakukan apa pun. Menjadi GM itu ambisinya setelah diraih dengan kurang makan dan kurang tidur.
“Kalau begitu saya tunggu progresnya,” ucap Pak Riko.
Sambungan terputus. Raka memijat pelipisnya.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Raka pelan.
Hujan turun tanpa jeda. Wiper mobil bergerak ritmis, menyapu air yang terus kembali. Jalanan tampak buram, seperti masa depannya yang mendadak kehilangan arah.
“Harga mobil paling 200 juta, tabungan ada 100 juta. Uang 250 juta sudah cukup untuk mengganti semua filter, tapi itu bukan tanggung jawab aku,” ucap Raka kesal.
Angka-angka itu berputar di kepalanya. Dua ratus lima puluh juta. Bukan jumlah kecil bagi seseorang yang membangun karier dari nol, menukar waktu tidur dengan ambisi, menukar kenyamanan dengan target dan laporan.
Maryono sulit dihubungi. Telepon tak pernah diangkat. Pesan hanya centang satu. Sementara di rumah, ibunya selalu membela Lina. Setiap kali Raka menekan Lina, perempuan itu akan menangis, lalu mengadu. Dan seperti biasa, ibunya berdiri di pihak yang sama.
“Masa iya aku harus keluar uang 250 juta demi menutupi kelakuan kakaknya Lina?” ucap Raka kesal.
Ia memukul pelan setir mobilnya. Hatinya tidak rela. Logikanya menolak. Namun kenyataan di depan mata tak memberinya banyak pilihan.
Dua ratus lima puluh juta memang bukan angka besar bagi pabrik. Perusahaan bisa saja mengeluarkan dana lebih dari itu demi kelancaran produksi. Tetapi dalam dunia seperti itu, selalu ada yang disalahkan dan tentunya dialah orangnya, sebagai GM dia yang bertanggung jawab apalagi masuknya maryono melalui jalurnyanya langsung.
Jika filter jelek terus dipakai, mesin akan cepat panas. Produksi terhambat. Target meleset. Maka dirinyalah yang pertamakali diminta pertanggung jawaban.
Raka mengembuskan napas panjang. “Baiklah, besok aku akan jual mobil ini,” geramnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Hujan masih turun. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal basah. Kota terasa asing, padahal ia telah bertahun-tahun menaklukkannya.
“Kenapa hidupku kacau semenjak menceraikan Miranda?” gumamnya lirih.
Nama itu seperti gema yang tak bisa ia usir.
“Miranda memang baik, tapi ibuku tidak suka. Sudah sepuluh tahun Ibu bersabar menerima Miranda menjadi menantunya, menjadi cemoohan warga. Sekarang aku sudah jadi GM, masa aku punya istri yang hanya lulusan SD?”
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Status. Gengsi. Jabatan. Bukankah itu penting? Bukankah ia sudah bekerja keras untuk semua itu?
Namun bayangan lain muncul tanpa diminta.
Miranda berdiri di gerbang rumah, menunggunya pulang. Tangannya cekatan membukakan sepatu. Suaranya lembut bertanya, “Mas sudah makan apa belum?” Kamar mandi telah disiapkan. Pakaian kerja sudah tergantung rapi. Meja makan hangat oleh masakan sederhana yang selalu terasa cukup.
Sebagai istri, Miranda adalah sosok sempurna. Bisa masak, mengurus rumah, mengurus orang-orang di rumah, selalu menjaga nama baik keluarga, tidak punya banyak permintaan, tidak terlibat dengan bank keliling, tidak pernah mengeluh.
Raka memejamkan mata sejenak.
“Tidak, aku tidak merindukan Miranda. Dari awal aku tidak mencintainya. Sebagai anak lelaki aku harus nurut sama Ibu, karena surga anak itu ada di Ibu. Sedangkan Miranda siapa? Dia hanya orang asing yang kebetulan jadi istriku. Ibuku tidak suka sama Miranda. Kalau aku terus membuat Ibu jengkel, nanti aku jadi anak durhaka, terus rezekiku sempit. Kalau rezekiku sempit, apa yang bisa aku banggakan? Aku memiliki semua ini karena doa ibuku. Aku harus mengikuti keinginan Ibu, termasuk menceraikan Miranda. Jadi keputusanku sudah benar.”
Kata-kata itu terdengar gagah di dalam kepala, tetapi terasa rapuh di dada.
Hati kecilnya tetap bertanya pelan, hampir seperti bisikan hujan di kaca mobil. “Memang salah Miranda apa?”
Raka menelan ludah. Hujan mengetuk kaca mobil tanpa henti, seperti suara yang terus memanggil namanya.
“Kesalahan Miranda karena Ibu tidak menyukainya.”
Kalimat itu terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri. Ia merenggut rambutnya frustrasi. Untuk pertama kalinya, di tengah deras hujan dan jalanan yang sepi, ia merasa mungkin bukan Miranda yang salah.
“Di mana aku harus mencari Miranda? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia bisa hidup di jalanan? Selama ini dia bergantung padaku. Aku yakin dia akan kembali padaku dan memohon untuk kembali. Hanya lulusan SD, bisa apa dia di luar sana?”
Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak benar-benar menenangkan. Justru membuat dadanya sesak.
Mobilnya berhenti di depan gerbang rumah. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Raka menghela napas berat. “Orang yang selalu peduli padaku sudah tidak ada. Semua hanya bisa menuntut,” gumamnya kesal.
Ia turun dan membuka gerbang sendiri. Tidak ada yang menyambut. Tidak ada suara lembut menanyakan kabarnya.
,,
,,
Sementara itu, Miranda pukul empat pagi sudah berada di rumah Ibu Salamah. Udara masih dingin dan langit belum sepenuhnya berubah warna. Dapur kecil itu sudah menyala, uap nasi mengepul hangat dari kukusan.
“Mir, cepat bungkus nasi uduknya,” ucap Ibu Salamah.
Miranda segera meraih daun pisang, lalu kertas nasi. Ia mengambil nasi uduk, menuangkan lauknya di atasnya, kemudian membungkusnya dan mengikatnya dengan karet. Gerakannya cepat dan cukup rapi menurutnya.
“Bukan seperti itu caranya, Miranda,” ucap Ibu Salamah.
Miranda melihat bungkusan nasi uduknya. Terlihat rapi, padat, dan bersih. Ia tidak merasa ada yang salah.
“Bungkusanku sudah rapi, Bu,” ucap Miranda sedikit kesal. Bukankah tadi Ibu Salamah menyuruhnya cepat? Lalu kenapa sekarang menyalahkannya?
“Bungkusan kamu sudah rapi, tapi untuk membuat 60 bungkus bukan seperti itu caranya,” ucap Ibu Salamah kemudian menyeret kakinya mendekat ke Miranda.
Ibu Salamah mengambil alih meja kerja. Daun pisang sudah dipotong seragam dan disusun sejajar. Di atasnya sudah diletakkan kertas nasi sejak awal.
“Nasi jangan ditaruh satu-satu dulu,” ujarnya lembut.
Ia menyendok nasi dengan takaran yang sama ke lima daun sekaligus, berderet cepat. Setelah itu lauk ditata berurutan tanpa berhenti. Tangannya tidak pernah kembali ke posisi awal dengan sia-sia.
“Sisi bawah dilipat dulu, tekan sedikit, lalu kanan dan kiri masuk bersamaan,” jelasnya sambil mempraktikkan.
Dalam hitungan detik, satu bungkus selesai. Bentuknya padat, seragam, dan tidak perlu diikat karet.
“Kerjakan berderet, bukan satu per satu,” ucapnya pelan.
“Mir, semua ada ilmunya. Jangan berpuas diri dengan satu kemampuan. Selagi muda, cari keahlian yang banyak. Dunia ini keras, Mir, dan kamu harus lebih pintar.”
Miranda menganggukkan kepala. Selama ini ia belajar memasak secara otodidak, tidak ada yang mengajarinya. Pertama kali memasak untuk keluarga angkatnya, hasil masakannya dilempar ke wajahnya karena rasanya tidak enak. Padahal waktu itu usianya baru sembilan tahun.
Sedangkan Ibu Salamah memang tegas, tetapi mengajarkannya dengan penuh perhatian. Miranda mengikuti teknik Ibu Salamah. Sesekali Ibu Salamah menegurnya hingga akhirnya Miranda memahami apa yang diajarkan.