Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 22 : Pertemuan Terencana
Keesokan harinya, tiba giliran Chef Ik Jun untuk mengikuti panduan eksklusif bersama editor Majalah Tahunan Seoul Star Dining.
"Salam kenal, Chef. Saya Kwak Tae Hee, editor dan manager umum yang akan mengatur acara hari ini," sapa pria yang bersangkutan secara formal.
"Selamat pagi, Tae Hee-ssi. Salam kenal juga," balas Chef Ik Jun sopan.
"Terima kasih sudah berkunjung ke kantor kami dan bersedia meluangkan waktu. Mari kita mulai dengan sesi tanya-jawab," ujar editor Kwak, diikuti dengan anggukan kepala Chef Ik Jun.
Setelah mengonfirmasi biodata, status pribadi, kegemaran khusus, dan lain sebagainya, editor Kwak mengajak Chef Ik Jun beralih ke sebuah studio.
"Perkenalkan, nama saya Bong Su Bin. Mohon kerjasamanya hari ini," salam sang fotografer, seraya menawarkan jabatan tangan.
"Salam kenal juga, Bong-ssi. Saya juga menantikan hasil photoshoot dengan studio ini," kata Chef Ik Jun, lalu menerima uluran tangan itu.
"Sebelumnya, saya infokan bahwa kami telah mengundang beberapa model profesional untuk mendukung promosi Anda. Jika ada yang kurang berkenan selama photoshoot, silahkan diajukan," imbuh fotografer itu, lalu disetujui oleh Chef Ik Jun.
Sesi foto ini bahkan lebih lama dibandingkan wawancara sebelumnya, karena dibagi dalam beragam tema. Mulai dari foto santai dengan busana bebas, lalu foto profesi dengan busana chef, foto dengan busana dan aksesoris bermerk, perekaman video pendek untuk iklan di televisi dan media sosial, hingga pembuatan film dokumenter bersama para model dan seorang aktor terkenal.
Tak terasa, 3 jam pun berlalu. Kini, Chef Ik Jun mulai nampak sedikit lelah.
"Apa Chef merasa jenuh?" tanya editor Kwak.
"Ah, tidak apa-apa. Sebenarnya, saya telah berjanji untuk mengabari anak dan istri saya seusai jadwal hari ini," jawab Chef Ik Jun apa adanya.
"Begitu ya? Mohon maaf. Sebentar lagi, Chef akan mengikuti sesi jumpa wartawan dan tanda tangan. Semua pertanyaan akan dijawab secara langsung oleh pihak kami, jadi Chef hanya perlu berpose dengan senyuman menawan di hadapan massa. Saya yakin pada kemampuan Chef Ik Jun," bujuk editor Kwak.
"Tentu saja, saya sangat percaya diri," kata Chef Ik Jun, lalu keduanya tertawa ramah.
Dalam 4 jam, akhirnya seluruh sesi berakhir dan Chef Ik Jun ambruk di atas sofa ruang tunggu.
"Hah, capeknya. Lebih baik kutelepon sekarang," ucapnya, sambil memencet nomor ponsel istrinya.
"Yeoboseyo?" respon Sae Mi, sang istri.
"Ini aku, maneul-ah," panggil Chef Ik Jun mesra.
"Aigoo. Aku sangat merindukanmu. In Kyung juga sudah menunggu, tapi dia masih bersekolah," ujar Sae Mi.
"Aku tahu. Tolong sampaikan pada Kyung, aku sangat mencintainya. Oh iya, apa kau sudah berjumpa dengan klien barumu?" kata Chef Ik Jun.
"Ok, akan kusampaikan pada In Kyung. Dan mengenai klien baru itu, dia sedikit merepotkan," ulas Sae Mi.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Chef Ik Jun.
"Perempuan, tepatnya seorang ibu paruh baya," balas Sae Mi.
"Oh, ibu-ibu tertentu memang paling jago membuat keributan," gurau Chef Ik Jun.
"Lalu, bagaimana nasib chef yang kau tolong itu?" alih Sae Mi.
"Baik-baik saja. Nampaknya, dia semakin terkenal di media sosial. Apalagi, dia menduduki peringkat pertama saat ini," jelas Chef Ik Jun.
"Oh ya? Tapi, aku berharap kamu akan menjadi pemenang di babak final," imbuh Sae Mi.
"Tentu saja. Aku akan berusaha semaksimal mungkin," kata pria itu, kemudian keduanya selesai bertelepon.
Menerima dukungan dari keluarganya, Chef Ik Jun yang barusan lesu kembali bersemangat. Beberapa saat setelah mengecek hasil photoshoot dan wawancara sebelumnya, pria itu diizinkan meninggalkan lokasi.
"Apa yang sebaiknya kulakukan sekarang?" renungnya singkat, lalu bepergian seorang diri.
Sementara itu, Chef Do dan Eun Chae telah menyelesaikan menu spesial untuk semi-final.
"Menurutku, daging sapi ini sudah sangat enak dan lembut. Apalagi, bila dipadukan dengan saus mustard doenjang," ucap Eun Chae, sembari mengevaluasi masakan bersama gurunya.
"Aku setuju denganmu. Sekarang, kita coba membungkus ssam dengan isian lengkap dan salah satu saus," arah Chef Do, sambil menggerakan tangan sesuai ucapannya.
"Pakai nasi?" tanya Eun Chae tanggap.
"Boleh. Aku sudah menyiapkannya dalam penanak nasi. Lalu, kita tambahkan lobak dan kentang kukus ini untuk dimakan bersama saus," ujar Chef Do, lalu mencicipi setiap kombinasi itu dan menyuapkan sebagian kepada Eun Chae.
"Chef, aku bisa makan sendiri. Jangan repot-repot mengambilkan bagianku," tawa Eun Chae, karena pria itu terus memperlakukannya dengan romantis.
"Ya sudah. Kamu boleh menghabiskan sisanya, lalu buatlah laporan untukku," kata Chef Do akhirnya, sebelum beranjak dari dapur.
"Ok, Chef," respon Eun Chae, lalu sejenak mengamati langkah lincah sang guru yang menaiki tangga ke lantai dua rumahnya itu.
Tak lama kemudian, pria itu telah bersiap rapi dan pergi dengan mobilnya untuk membeli bahan. Sedangkan, Eun Chae yang telah selesai makan dan membersihkan peralatan dapur mulai menggunakan sarung tangan untuk mengumpulkan sampah.
Dengan teliti, Eun Chae memisahkan sampah daur ulang dan mengikat setiap kantung plastik yang akan dibuang.
Saat berada di halaman luar, tiba-tiba sesuatu mengusik perhatiannya.
"Eh, bukankah ini pigura foto milik oppa? Kenapa bisa ada di tempat sampah?" gumamnya heran, lalu mengeluarkan benda berbahan kayu kecoklatan itu dari tumpukan sampah.
Dilihatnya foto seorang remaja lelaki yang menyerupai Chef Do, beserta seorang pria dewasa dan wanita yang berdiri di kedua sisi anak itu. Eun Chae yang sebelumnya pernah mengamati pigura yang diletakan dalam kamarnya itu sedikit berandai-andai.
"Pastinya, kedua orang ini adalah orang tua Yu Hyeon oppa. Aku jadi penasaran kapan oppa akan mempertemukanku dengan mereka," renung Eun Chae, sambil menepuk-nepuk debu pada benda itu.
"Kim Eun Chae?"
Seketika hendak berpaling dan memasuki rumah, wanita itu dikejutkan oleh suara seseorang.
Dengan sedikit takut dan waspada, Eun Chae pun menoleh.
"Benar, kan? Ini aku, Kang Yun Seok."
Seperti pertemuannya dengan Lee Seong Jun sebelumnya, Eun Chae merasa asing terhadap manusia yang tengah tersenyum ramah kepadanya saat ini.
"Kamu siapa?" tanya Eun Chae curiga.
"Ah, rupanya kau tidak ingat. Tidak apa-apa, aku tidak keberatan."
Ucapan pria itu terdengar sedikit kecewa, namun tidak digubris oleh Eun Chae. Wanita itu malah mengernyitkan alis tidak suka.
"Kenapa wajahmu masam begitu? Aku teman sekelasmu saat SMA dulu. Senang sekali rasanya, bisa bertemu denganmu secara kebetulan seperti ini," ujar lawan bicaranya.
Entah mengapa, Eun Chae tidak merasakan aura mengancam dari pria bermarga Kang ini.
"Be-- Begitukah? Maaf, aku sama sekali tidak ingat," ucapnya jujur.
"Tidak masalah. Yang penting, apa kau bersedia memberiku kesempatan mengobrol berdua di cafe terdekat dari rumahmu ini? Banyak sekali yang ingin kukatakan, sambil bernostalgia denganmu," usul Kang Yun Seok cerdik.
- Bersambung -