"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 (Lepaskan Putriku!)
Halimah sudah sampai di kota setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam. Wanita itu berjalan mencari ruangan tempat putrinya berada. Setelah ketemu, dia berdiri di depan pintu ruang ICU, sambil melihat Fania yang masih belum sadar. "Nak, Ibu datang. Mengapa kamu bisa menjadi seperti ini, Nak. Sadar, Sayang. Ibu datang untuk menjemputmu pulang. Kita pulang, Nak."
Air mata Halimah tidak bisa dibendung lagi. Dia sangat sedih melihat kondisi putrinya yang sangat tragis. Saat wanita paruh baya itu terduduk lesu di lantai, datanglah Devan yang membawa air mineral dalam botol. Dia mendekat dan bertanya pada orang tua yang dilihatnya. "Ibu, siapanya Fania?" tanyanya lembut.
Halimah mendongak ke arah Devan yang ada di hadapannya. "Aku Ibunya Fania, Nak. Kamu siapa? Apa yang terjadi pada putriku? Kenapa dia bisa seperti ini?"
Devan membantu Halimah untuk berdiri. "Ibu kita duduk di kursi, saya akan menceritakan semua kejadiannya."
Halimah duduk di kursi bersama dengan Devan. Dia masih belum bisa tenang dan terus menangis. "'Apa kamu tau kondisi Fania, Nak? Kapan putriku bisa sadar?"
"Ibu, sebaiknya kita terus berdoa. Semoga Allah terus menjaga Fania. Dokter berkata masa kritis sudah lewat. Jadi, tinggal masa pemulihan. Saya yakin jika Fania itu kuat. Dia pasti bisa melewati semua inii."
"Amin, semoga Allah selalu melindungi putriku. Oh, iya. Kamu ini siapa, Nak? Apa kamu temannya Fania?"tanya Halimah penasaran.
"Bisa dikatakan begitu, tapi saya tidak bisa mencegah hal itu terjadi karena saya hanya orang luar. Maaf, Bu. Saya gagal menjaga Fania. Andai saja saya tidak meninggalkannya, pasti kejadian itu bisa dicegah. Pria itu tega menyakiti Fania, bahkan membuatnya terluka secara fisik dan mental. Dia juga sudah mengkhianati Fania dengan menikah lagi sama wanita lain. Saya bahkan menyaksikan sendiri pernikahannya yang dilaksanakan di Turki," jelas Devan membuat Halimah shock berat.
"Jadi bulan madu di Turki itu bohong?" tanya Halimah tidak percaya.
Devan mengangguk pelan, dia membenarkan ucapan itu. Dia benar-benar menjadi saksi atas apa yang terjadi. Sementara itu, Halimah sudah bisa membayangkan kejadian selanjutnya. Air matanya luruh lagi, dia menangis tersedu.
"Fania, maafkan Ibu. Maaf Ibu tidak bisa mejagamu. Maaf sudah membiarkanmu masuk dalam masalah besar." Halimah sangat menyesali keputusannya telah membiarkan putrinya menikah dengan pria yang kejam.Devan kembali menenangkan wanita paruh baya itu. Dia sangat peduli dengan kelanjutan kisah tragis tersebut.
Sementara itu di tempat lain, Raditya masih sibuk dengan urusan keluarga. Di rumahnya masih dalam suasana berkabung. Kematian orang tuanya sangat menggemparkan semua orang. Berita pernikahan keduanya juga tengah disorot oleh orang lain.Namun, pria itu tidak terpengaruh dengan gosip yang terdengar. Dia masih sangat percaya diri.
"Jadi, orang tua itu sudah datang? Baiklah, sebagai menantu yang baik aku akan menemuinya. Sekalian menjenguk istri tersayangku yangmasih belum sadar," gumam Raditya dari kursi kerjanya. Pandanganya lurus ke arah depan.
Raditya bersiap menuju ke rumah sakit. Dia berpakaian rapi dan terlihat sangat berwibawa. Perjalanan hanya ditempuh dalam waktu singkat. Sesampainya di sana, Raditya berjalan dengan tenang seperti tidak terjadi apapun. Dia menemui ibu mertuanya dengan rasa percaya yang tinggi.
"Selamat malam, Bu. Bagaimana kabar Anda?" tanya Raditya dengan sopan.
Halimah menoleh dengan ekspresi terkejut. Dia berdiri lalu menampar wajah menantunya dengan keras. "Untuk apa kamu ke sini? Apa masih belum puas menghancurkan putriku? Apa salah Fania sampai kamu memperlakukannya dengan sangat kejam? Apa kamu juga menampar wajahnya seperti tadi? Kenapa, Nak? Apa salah putriku? Dia gadis yang baik, penurut, dan lemah lembut. Lalu kenapa kamu bersikap seperti itu? Kenapa?"
Raditya hanya diam saja, dia sangat tidak suka melihat Halimah yang menangi di depannya. "Putri Anda itu tidak menurut. Dia suka membangkang bahkan menolak untuk disentuh. Menurut Anda, apa sikap seorang istri yang baik adalah seperti itu?"
Halimah tersenyum pahit, dia tidak menyangka jika sifat dasar Raditya yang ternyata sangat egois. "Fania seperti itu pasti punya alasan sendiri, dia menolakmu pasti ada sebabnya. Dia pantas menolak karena kamu sudah menduakannya, kamu menikah dengan wanita lain dan kamu meminta hakmu sebagai suami pada putriku? Nak, apa memang sifatmu itu seperti ini? Jika iya, kejam sekali."
Raditya tertawa remeh, dia berjalan mondar-mandir dan masih menyepelekan Ibu mertuanya. "Jadi Anda ingin saya memperlakukan Fania seperti ratu? Apa putri kesayangan Anda pantas mendapatkannya? Kira-kira jaminan apa yang saya dapat? Apa ada jaminan kebahagiaan untuk saya?"
Halimah semakin tersulut emosinya, dia ingin sekali mengumpat pria yang ada di depannya. "Sebagai orangtua, aku sudah membekali putriku dengan ilmu yang cukup. Fania mempunyai nilai lebih, dia gadis yang baik dan pintar. Dia gadis yang sopan dan sangat berbakti. Dunia akhirat aku tidak rela putriku diperlakukan kejam oleh pria yang tidak mempunyai rasa manusiawi sepertimu. Kamu itu kejam melebihi iblis. Ceraikan Fania dan tinggalkan dia. Aku tidak sudi putriku bersanding dengan orang kejam sepertimu."
Raditya mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa direndahkan dan itu membuatnya kesal. "Bagaimana jika saya tidak ingin melepaskannya? Entah kenapa setelah saya merasakannya, hati saya tidak rela kehilangannya. Saya akan bersikap baik jika Fania lebih menurut. Sayangnya dia tidak bersikap seperti itu dan memilih membangkang. Jadi, saya hanya memberikan hukuman saja agar dia lebih patuh lagi."
Halimah sudah tidak bisa menahan lagi. Dia mendorong Raditya agar pergi dari sana. "Dasar iblis, kamu memang tidak mempunyai hati. Aku tidak sudi, putriku kembali dengan pria sepertimu.Pergi dari sini, pergi jauhi putriku. Kamu tidak pantas mendapatkan Fania. Kamu tidak pantas memilikinya."
Raditya masih tidak mau kalah, dia bahkan membalas dengan mendorong Halimah hingga terjatuh di lantai. "Jangan coba meremehkan saya. Di dunia ini apa yang tidak bisa kudapat? Bahkan saya bisa membeli harga diri Anda, termasuk putri Anda. Orang miskin seperti Anda ini mempunyai kuasa apa untuk melawan saya?"
Halimah bangkit, dia ingin mendorong Raditya lagi. Namun, pria itu segera menghindar. Halimah jatuh tersungkur di hadapan menantunya. Hatinya sangat sakit dan hancur mendengar penghinaan kejam itu. Di saat yang bersamaan, datanglah Devan yang menjadi penengah di antara keduanya.
"Ibu Halimah, astagfirullah." Devan berlari dan menolong Halimah yang terduduk di lantai. "Ada apa, Bu?"
"Nak, usir dia dari sini. Jangan biarkan dia menyakiti Fania lagi. Pria itu jahat, dia sangat kejam. Usir dia, Nak. Jauhkan dia dari Fania. Kasian putriku, dia menjadi korban oleh iblis seperti dia" Halimah menangis sambil mengumpat menantunya. Hatinya sangat sakit melihat pederitaan putrinya.
Devan berdiri setelah menolong Halimah. Dia berhadapan dengan Raditya, untuk menolong Fania. "Sebaiknya Anda pergi dari sini. Jika tidak saya akan laporkan Anda ke polisi dengan kasus KDRT. Dengan status saya, sangat, bisa menjebloskan Anda ke penjara."
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡