Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 mulut kurang ngajar
" Kamu nggak perlu bilang terimakasih, karena ini semua memang tanggungjawab Om bagaimanapun Om sudah berjanji pada Papa untuk menjaga kamu " ucap Hans mengelus kepala Ayra dan mengajaknya kembali berjalan .
" Selain itu , sedari kecil Om nggak punya siapa-siapa dan Papa datang memberikan segalanya untuk Om sampai sekarang , teruntuk kamu tidak ada yang perlu di takutkan Om ada untuk kamu " ucap Hans yang sangat paham perasaan Ayra selama ini.
" Jangan pernah merasa sedih dan sakit sendirian, kamu bisa bagi semua rasa sakit sama Om serta minta segalanya Om akan selalu ada untuk kamu " diluar dari tanggungjawab Hans murni menyayangi Ayra melebihi dirinya sendiri .
Mungkin karena sedari Ayra bayi sudah bersama membuat rasa sayang di hati Hans tumbuh untuk Ayra dan Hans juga tidak punya seorang pun keluarga selain Ayra.
" Om , kok tuhan kasih kita takdir kayak gini sih?" pertanyaan Ayra dengan lirih , mengapa mereka berdua bernasip sama yaitu ditinggal kedua orang tua mereka disaat kecil .
" Karena tuhan merasa kita kuat dan sanggup , tidak ada yang perlu disesali dalam takdir harus bersyukur karena setidaknya walaupun mungkin orang tua kita sudah tidak ada tapi kita masih bisa hidup dengan layak " Hans selalu mengajarkan Ayra bersyukur agar dia tidak membandingkan takdir nya dengan orang lain.
" Mmmm, iya juga tapi semua karena ada Om makanya aku bisa hidup dengan tenang" kata Ayra yang tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Hans , walaupun ditinggalkan dengan warisan banyak namun ketika itu Ayra masih sangat kecil .
..........
Ayra menatap deretan tas dalam etalase namun tidak menemukan tas yang dia cari .
" Mengapa cemberut? katanya pengen beli tas ?" tanya Hans yang duduk menunggu disofa ketika Ayra menghampiri nya setelah cukup lama.
" Hmmm, tas nya udah habis Om " sedih Ayra memandang foto tas yang dia sukai di ponsel dengan lirih .
" Habis? Kamu mengincar tas best seller Ay?" pertanyaan Hans .
" Ya enggak lah Om, itu tas ekslusif cuma ada 5 di pasaran " lesu Ayra .
Hans meminta bodyguard nya memanggil manager " Tunjukkan padanya tas yang cuma ada 1 dipasaran" kata Hans yang membuat Ayra melotot .
4 hari kemudian.
Hans yang sudah sampai diruang makan untuk makan malam menatap kesekitar karena tidak melihat Ayra .
" Non Ayra masih tidur sejak pulang kuliah tuan" ucap salah satu pelayan yang tau siapa yang dicari Hans.
" Bangunkan dia , sudah waktunya makan malam " ucap Hans yang diangguki pelayan .
Setelah beberapa saat.
" Maaf tuan Non Ayra sangat mengantuk , katanya makan besok pagi saja" ucap pelayan .
" Dia sudah makan tadi?" pertanyaan Hans lagi .
" Belum tuan , Non Ayra sangat sibuk di kampus bahkan tadi cuma makan es krim " jawab bodyguard yang bertugas menjaga Ayra .
" Astaga , gadis itu " ucap Hans mengisi piring nya dengan makanan lalu mulai makan .
Selesai makan Hans duduk diruang tengah membuka laptop nya untuk melanjutkan pekerjaan nya yang masih tertinggal.
" Ini teh nya tuan" ucap pelayan menaruh nya di atas meja .
" Teh?" Hans menatap pelayan itu dengan datar , mengapa dia tidak tau dengan apa yang biasa Hans minum padahal sudah lama bekerja disini .
" Maaf tuan , Non Ayra berkata kalau sudah malam tuan tidak boleh lagi minum kopi nanti susah tidur dan asam lambungnya naik " kata pelayan itu rada takut .
" Dia mengatakan itu pada kalian semua?" pertanyaan Hans menatap beberapa pelayan lain yang mengangguk .
" Pergilah" ucap Hans akhirnya memilih meminum teh saja dari pada Ayra merepet padanya nanti .
Ayra cerewet-cerewet gitu , dia sangat menyayangi Hans dan akan mengomel panjang setiap kali Hans melanggar aturan baik yang dia buat untuk kesehatan Hans yang menderita penyakit asam lambung .
2 Jam kemudian terdengar langkah kaki Ayra menuruni tangga " Om kok kerja disini mengapa tidak diruang kerja?" tanya Ayra menghampiri Hans .
" Ingin disini saja " jawab Hans menahan tawa melihat Ayra yang berdiri didepan nya dengan rambut berantakan begitupun bajunya yang sangat kusut .
" Mmmh, Om nggak usah ketawa , aku lapar " rengek Ayra merasa Hans sedang mengejek nya .
" Katanya mau makan besok pagi saja " ucap Hans menatap dengan geli Ayra yang bahkan belum mandi .
" Mana ada bilang gitu " suara kecil Ayra rada malu dan berlari keruang makan .
Ayra mengisi piring dengan makanan dan juga segelas air lalu duduk disebelah Hans yang sedang menyelesaikan pekerjaan nya .
" Mengapa makan disini?" tanya Hans menatap Ayra yang baru makan suapan pertama.
" Mau dekat Om, malas makan sendiri " jawab Ayra meletakkan piring di pangkuan nya dan menyuap nasi dengan cepat karena lapar .
" Makan yang banyak " ucap Hans setelah beberapa saat mengelus kepala Ayra dengan senyum tulus .
" Nggak ahhh nanti gendut " kata Ayra meminum beberapa teguk air putih.
" Lah sejak kapan kamu kurus " ucapan spontanitas Hans.
" Hwaaaa, jadi Om bilang aku gendut " suara melengking Ayra berhenti mengunyah.
" Enggak, enggak , kamu kurus ayo makan lagi " kata Hans dengan wajah cool nya walaupun sedang menahan tawa .
" Awas aja Om bilang aku gendut " kata Ayra lanjut makan .
" Tidak, kamu sexi " ucap Hans karena Ayra memang cantik dan punya tubuh ideal .
" Beneran Om, emang cewek sexi itu sebenarnya katagori nya apa Om ?" tanya Ayra dengan excited karena Ayra tidak sepenuhnya tau tentang kategori sexi itu apa.
" Ya, kayak, kayak kamu lah " jawab Hans dengan gelagapan.
" Aku nanya kategori nya apa Om?" tanya Ayra penasaran.
" Tinggi dan berat badannya ideal " jawaban sederhana Hans yang membuat Ayra langsung paham .
" Aku tinggi kan Om?" tanya Ayra yang membuat Hans langsung tergelak mendengar pertanyaan itu.
" Iya , tinggi dari sapu lidi" jawab Hans yang membuat Ayra langsung memukul lengannya .
" Mulut Om benar-benar kurang ngajar , jahat " umpat Ayra memukul Hans dengan bantal sofa .
" Ay , astaga, ampun-ampun, Om becanda " ucap Hans kewalahan menghindari pukulan Ayra .
Drettt
Drettt
Hans mengambil ponselnya yang berdering diatas meja lalu menjawab telfon nya .
" Iya , kamu tunggu saja besok jam 12" ucap Hans setelah mendengarkan cukup lama .
" Om Hans mau kemana ya besok?" kata Ayra yang duduk di sebelah Hans .
" Iya baiklah" ucap Hans tersenyum diakhir kalimat lalu menutup telfon .
" Cieeee, gebetan baru ya Om?" tanya Ayra mengedipkan sebelah matanya.
" Iya , besok first date " senyum lebar Hans yang sedang mencoba membuka hatinya untuk seorang wanita karena berpikir terlalu lama melajang juga tidak baik .
Selain itu Ayra juga sudah mulai dewasa bahkan perlahan bisa mengurus semuanya sendiri jadi tidak akan terlalu membutuhkan Hans di samping nya lagi .
" Aku mau ikut first date dong Om"
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔