NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:664
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

“Aaa…akhirnya bener-bener liburan,” ujar Trinia seraya merebahkan diri ke sofa.

“Eh, tapi, katanya ada permainan, lho, besok,” kata Orvina sambil meniup teh panasnya.

“Iya, nah, seru ini,” sahut Rifa.

“Tapiii, katanya perkemahan. Kenapa malah kaya villa?” tanya Maeve.

“Karena kita banyak kali, ya,” sahut Jeni.

“Mungkin,” ujar Orvina.

“Saputri sama Bapak bener-bener honeymoon,” sambar Firdha.

“Iya, sih, eh, dikasi tempat sendiri. Hahaha…” ujar Orvina.

“Syukur lagi aku sama Jeni janda. Kau aja yang gelisah, Fir. Sabar-sabarlah kau, ya. Dua minggu lagi ketemu Luna sama Bapaknya,” ejek Echa.

Sontak mereka tertawa dan Firdha hanya bisa memanyunkan bibir. Dan sedetik kemudian, mereka diam sesaat menikmati minuman hangat masing-masing.

“Oy, Nggun, kenapa kau?” tegur Jeni tatkala melihat Anggun yang hanya duduk di meja makan sambil memandangi hp-nya.

“Oh! Gak, Kak. Aku keluar bentar, ya, Kak,” sahut Anggun yang kemudian beranjak.

“Pake jaket, dingin di luar!” teriak Echa.

“Iya, Kak,” sahutnya yang kemudian menutup rapat pintu utama.

Sejenak, Anggun hanya berdiri di depan pintu seraya menghela napas keras. Sekelilingnya yang terang membuatnya terdiam lagi, sebelum kemudian melangkah ke salah satu kursi panjang di halaman. Dia duduk sambil memandangi layar ponsel yang ia hidup dan matikan berulang kali.

“Wae anja yeogiseo? Chuwo ana?(Kenapa duduk di sini? Gak dingin?)”

Teguran serta mantel tebal yang ditaruh seseorang ke pundaknya membuat Anggun menoleh. Di dapatinya Jae Ho yang tengah melangkah dan duduk di sisinya dengan kedua tangan di saku jaket tebal yang ia kenakan.

“Neo mwohae?(Kamu ngapain?)” tanya Anggun bingung.

“Neo eottae? Mwohae?(Kamu gimana? Ngapain?)”

Mendengar pertanyaannya, Anggun pun menghela napas dan menatap lagi layar ponselnya. Jae Ho yang sesaat memperhatikan sikapnya pun hanya mengangguk pelan dan menatap langit.

“Aaah, neomu chuwo(Dingin banget),” teriaknya sambil tersenyum menatap Anggun yang terbelalak.

“Kenapa teriak?” bisik Anggun kesal.

“Kalo kesal, teriak aja. Ganggu semua orang di sini,” ujar Jae Ho.

“Mati digantung aku abis itu.”

“Hahaha…gak. Paling dilempar batu. Min Gyu, tuh, banyak batunya. Sudah kelakuan kaya batu, hobinya ngelempar batu.”

Sesaat Anggun terlihat menahan senyum geli.

“Eh, tapi, Min Gyu, tuh, gak cape, kah, tiap hari ngikuti Pak Garra terus?”

“Memang gitu konsepnya. Gak cuma di drakor, dikehidupan nyata juga ada yang kaya gitu.”

“Kaya tangan kanan gitu maksudnya?”

“Sejenis. Sepercaya apapun kita sama keluarga tapi, Kak Min Woo yang masih ada hubungan keluarga sama mendiang adeknya, Kak Chang Ho, selaku Presdir yang dulu pun tetep milih orang lain buat jadi orang kepercayaan. Begitupun mendiang Kak Chang Ho.”

“Jadi, kaya gitu memang mereka bisa apa aja? Kaya hebat banget.”

“Memang hebat,” sahut Jae Ho seraya tersenyum riang, “bahkan aku sendiri kagum.”

“Iya?” ujar Anggun tak percaya.

“Mau kujabarkan?”

Ada keraguan saat Anggun mengangguk.

“Min Gyu pemegang sabuk hitam judo, bisa jadi hacker, jadi supir, jadi akuntan, jadi mata-mata, jadi orang medis. Dia bisa semua yang kadang orang gak bisa. Bisa dibilang, Min Gyu, tuh, mendekati sempurna. Tapi, memang hebat lagi Kak Min Woo, dia selain bisa yang dilakuin Min Gyu, dia juga pemegang sabuk merah.”

“Oh! Berarti Pak Garra di bawah Min Gyu.”

“Hahaha…gak, kalo di judo sabuk merah itu tingkat tertinggi. Sebenernya mereka berdua itu imbang, cuma cara kerjanya yang beda. Mereka kalo disatukan, tuh, ibarat kucing sama anjing.”

“Ih, tapi, bisa akur aja, tuh.”

“Panjang ceritanya. Awalnya mereka juga saingan dari masing-masing divisi. Gegara ada konflik yang bikin mereka sendiri kejebak masalah kerjaan, akhirnya jadi akur. Tapi, kadang masih suka marahan.”

“Oooh…gak paham sebenernya. Tapi, masuk, sih. Kadang kalo terlalu benci, bisa jadi sayang. Intinya gitu,” sahut Anggun.

“Iya. Tapi, kadang saking cintanya juga bisa jadi mudah benci.”

Terlihat Anggun menghela napas usai mendengar pernyataan Jae Ho yang kemudian tersenyum penuh arti.

“Menurutmu…aku mesti gimana? Dia gak bisa dihubungin lagi. Aku chat pun gak ada balesan. Kayanya dia sudah blokir aku,” ujar Anggun sambil tersenyum sinis.

“Liatlah dulu. Kalo pas kamu balik ke Indonesia, terus tiba-tiba dia minta balikan berarti…”

“Berarti dia masih sayang aku. Gitu, kan?” sambar Anggun yang kemudian menatap Jae Ho dengan senyum semringah.

“Berarti gak tau diri,” ujar Jae Ho dengan senyum sinis.

Tampak Anggun melemah dan tertunduk lesu.

“Udah malem ini, gak masuk?”

“Males. Kalo mati di sini lebih bagus, biar gak perlu ketem…mamaaa…”

Sontak Jae Ho menggendong Anggun layaknya pengantin baru hingga membuatnya berteriak keras.

“Eh! Turunin!” bentak Anggun.

“Gak. Masuk kita. Mati, mati. Emang enak mati. Cuma demi cowo gak jelas. Kaya gak ada cowo baik,” omel Jae Ho.

“Eh, iya, masuk. Tapi, turunin. Malu tau diliat temen-temen di dalam.”

“Masih tau malu? Memang kalo mati gak malu sama Tuhan? Dikasi enak minta susah,” kembali Jae Ho mengomel.

Pasrah, Jae Ho menggiring Anggun yang hanya bisa membenamkan wajah ke dadanya saat melewati Jeni dan teman-temannya yang terlihat panik.

“Eh, kenapa?” tanya Trinia.

“Lemes. Kedinginan kayanya. Kamarnya mana?” tanya Jae Ho.

“Sini, sini,” ujar Laisha sambil membukakan salah satu kamar.

Segera, Jae Ho masuk dan merebahkan Anggun yang akhirnya hanya bisa berpura-pura tidur.

“Ini mantel siapa?” tanya Rifa saat Jae Ho akan keluar kamar.

“Oh! Punyaku. Biar aja dulu. Tinggal, ya.”

“Makasih, ya,” ujar Fara.

“Iya, sama-sama.”

Dan saat semua teman-temannya keluar, Anggun hanya bisa menahan malu dengan seluruh wajah merah padam.

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!