NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.

Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.

Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Aku Ingin Minta Tolong

Dalam kehidupan sebelumnya, ia dikekang oleh keluarga Clinton dan tidak sempat mendaftar universitas. Beban utang membuatnya semakin mengubur keinginan itu. Kesempatan yang terlewat itu sempat menjadi luka besar, namun seiring waktu, ia bahkan lupa bahwa ia pernah menginginkannya.

Kini, perkataan Kanara membuat Ashilla merasa bimbang.

Melihat ekspresinya, Kanara bertanya, “Ashilla, ada apa? Apakah menurutmu waktunya kurang tepat?”

Ashilla tersadar dan segera menggeleng. Ia tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan universitas mana yang mungkin akan aku masuki.”

Kanara tersenyum dan menepuk pundaknya. “Kau bisa meminta Ken menemanimu melihat-lihat kampus. Kau tidak berencana kuliah di luar Beijing, kan? Di sini banyak universitas bagus.”

“Tidak. Aku akan tetap di Beijing,” jawab Ashilla. Ia tak pernah terpikir kuliah di kota lain, apalagi setelah menikah.

Meski menganggap pernikahan ini sebagai kerja sama, ia tidak ingin melakukan sesuatu yang dapat memunculkan masalah.

Namun ia tetap berkata, “Aku bisa pergi sendiri. Ken pasti sibuk.”

Kanara tersenyum samar. “Tidak apa-apa. Dia hanya bermain dengan kucing di rumah setiap hari. Waktunya masih banyak.”

Mendengar itu, Ashilla tak kuasa menahan tawa dan tidak lagi menolak.

Kanara tampak puas dan melanjutkan pembahasan pernikahan.

“Kami akan mengurus pesta. Kau hanya perlu memikirkan tamu yang ingin diundang. Kau dan Ken akan mencoba gaun dan setelan bersama, mengambil foto pernikahan, dan memilih cincin. Jika ada pertanyaan, hubungi aku atau Bibi Zhang.”

Ashilla mengangguk patuh.

Kanara tidak berlama-lama. Setelah semua dibahas, ia menolak ajakan Harlan dan Laura untuk tinggal, lalu pergi bersama Bibi Zhang.

Dalam waktu singkat, Kanara dan Bibi Zhang sudah menangkap dinamika keluarga Clinton. Harlan pandai menjilat, Laura tampak pintar namun kurang cerdas, dan kedua anak mereka pun biasa saja.

Sebaliknya, Ashilla jauh lebih menyenangkan. Ia tidak banyak bicara, tetapi tahu batasan, sopan, dan tidak berlebihan.

Keluarga Adam tidak mencari menantu yang terlalu cerdas—cukup berkarakter baik. Dan Ashilla jelas memenuhi kriteria itu.

Sebelum pergi, Kanara berkata, “Berat badan Aprikot naik cukup banyak. Ken selalu memberinya makan. Aku khawatir itu tidak baik. Tolong perhatikan.”

Ashilla tertegun sejenak, lalu menyadari bahwa Kanara terlihat menyukai kucing itu juga.

Setelah Kanara pergi, Harlan menyuruh Laura dan kedua anak kembarnya kembali ke kamar masing-masing. Ia kemudian memanggil Ashilla sendirian ke ruang kerja.

Awalnya, ia memintanya untuk bekerja sama sepenuhnya dengan pengaturan pernikahan yang telah ditetapkan oleh keluarga Adam. Setelah itu, ia mulai menanyakan hubungan Ashilla dan Ken—dengan nada setengah menyelidik, setengah menyanjung.

Pikiran Ashilla sedang tertuju pada kemungkinan melanjutkan kuliah, sehingga ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan sikap acuh. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya dan Ken sebenarnya belum terlalu akrab.

Namun, tujuan Harlan jelas bukan sekadar ingin tahu perkembangan hubungan mereka.

Setelah berputar-putar dengan beberapa pertanyaan tidak langsung, ia akhirnya berkata,

“Kau sering mengobrol dengan Tuan Ken, bukan? Ayah sedang memiliki proyek dengan prospek yang cukup bagus, tapi masih kekurangan mitra. Kalau ada kesempatan, bisakah kau menyebutkannya padanya?”

Ashilla terdiam sejenak. Ia menatap Harlan yang berbicara dengan nada seolah ramah, dan sekali lagi menyadari betapa oportunisnya pria itu.

Pernikahannya dengan Ken bahkan belum benar-benar terlaksana, tetapi Harlan sudah tak sabar memanfaatkan hubungan tersebut.

Ia tahu, jika Ashilla benar-benar mengajukan permintaan sebesar ini kepada pihak keluarga Adam—tanpa dasar emosional apa pun—kesan mereka terhadapnya bisa langsung jatuh. Hari-harinya di keluarga Adam pun tidak akan mudah.

Meski menganggap permintaan itu menjijikkan dan menggelikan, Ashilla tidak menolaknya secara langsung.

“Aku akan menyampaikannya,” katanya tenang, “tapi Tuan Ken mungkin tidak akan setuju.”

Harlan tampak puas. Ia menepuk bahu Ashilla sambil tersenyum.

“Cukup katakan saja. Proyek ini keuntungannya besar. Tuan Ken pasti akan tertarik.”

Ia lalu menjelaskan proyek tersebut secara singkat.

Ashilla sedikit terkejut ketika mendengarnya, tetapi ia tetap tenang dan mendengarkan sampai selesai. Setelah itu, ia hanya mengangguk kecil.

“Hmm.”

Melihat sikapnya yang patuh, kewaspadaan Harlan pun menghilang. Ia berpikir Ashilla mungkin tidak menyukai Camilla dan ibu tirinya, tetapi tetap bergantung padanya sebagai ayah.

Bagaimanapun, Ashilla masih muda dan tidak mengenal siapa pun di Beijing selain dirinya.

Harlan merasa yakin bahwa, meski Ashilla akan menikah dengan keluarga Adam dan tampak disukai oleh Nyonya Adam, dengan perbedaan status dan latar belakang, mustahil ia akan benar-benar diperlakukan setara. Pada akhirnya, satu-satunya keluarga yang bisa ia andalkan tetaplah keluarga Clinton.

Karena itu, Harlan menambahkan, “Kalau kau tidak akur dengan Camila, cobalah lebih sering bersama Kaison. Kalian seusia. Temperamennya tidak sekeras Camila, kalian seharusnya bisa cocok.”

Namun bagi Ashilla, Harlan hanyalah orang asing yang absen selama delapan belas tahun hidupnya, lalu muncul hanya untuk mengeksploitasi dan menindasnya.

Ia sama sekali tidak layak disebut ayah.

Alasan Ashilla menyetujui permintaan Harlan bukan karena kesamaan tujuan, dan soal bersikap ramah pada Kaison—itu bahkan lebih mustahil.

Namun ia terlalu malas untuk berdebat. Setelah diam sejenak, ia berkata,

“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku akan kembali ke kamar.”

Harlan mengira Ashilla telah memahami maksudnya. Ia melambaikan tangan dan membiarkannya pergi.

Karena sikap Harlan, Ashilla pun tak lagi terlalu memikirkan soal kuliah. Pikirannya kini tertuju pada bagaimana cara menggagalkan proyek tersebut—atau lebih baik lagi, membiarkan Ken mengambil alihnya.

Harlan jarang berkata jujur, tetapi kali ini proyek itu memang menguntungkan.

Bisnis utama keluarga Clinton adalah peralatan listrik, sementara proyek ini berada di bidang real estat. Ketika Ashilla mendengar lokasi tanah yang disebutkan Harlan, ia langsung yakin nilainya akan melonjak setidaknya dua kali lipat dalam beberapa tahun.

Meskipun pasar properti Beijing telah melewati masa pertumbuhan ekstrem, pembangunan infrastruktur baru selalu mendorong kenaikan harga.

Tanah di persimpangan Jalan Hanhui yang disebut Harlan akan melonjak nilainya karena rencana pembangunan jalur kereta bawah tanah dan kampus baru Sekolah Menengah Eksperimental di sekitarnya.

Ashilla tidak tahu apakah Harlan pernah mendapatkan keuntungan dari tanah itu di kehidupan sebelumnya. Namun kali ini, ia tidak berniat membiarkannya terjadi.

Pengaruhnya terhadap Harlan sangat kecil. Maka satu-satunya cara adalah membiarkan Ken mengambil alih tanah itu sebelum harganya melonjak.

Keluarga Adam juga bergerak di bidang real estat. Mendapatkan tanah dengan potensi keuntungan tinggi jelas bukan hal buruk bagi mereka.

Namun itu baru rencana di benaknya. Ia khawatir Harlan sudah mendapatkan informasi orang dalam, sehingga harga tanah tersebut tidak lagi murah.

Malam harinya, saat Ashilla dan Ken melakukan panggilan video, Ken langsung menyadari ekspresi Ashilla yang luar biasa serius.

Meski tidak mengurangi kecantikannya, Ken tetap mengernyitkan dahi. Ia teringat kunjungan ibunya ke rumah keluarga Clinton siang tadi.

“Kau tidak ingin mengadakan pernikahan bulan depan?” tanyanya.

Ashilla tertegun, lalu tertawa kecil sambil menggeleng.

“Tidak. Aku hanya memikirkan hal lain.”

Mendengar itu, ekspresi Ken langsung mengendur.

“Apakah kau mempertimbangkan untuk kuliah?”

“Tidak juga…” Ashilla ragu sejenak, lalu tersenyum. “Aku memang sedang bimbang, tapi bukan itu yang kupikirkan.”

Ia terdiam.

Hubungannya dengan Ken memang terlihat akrab, tetapi belum cukup dekat untuk saling bergantung. Di kehidupan sebelumnya, ia tak pernah meminta bantuan siapa pun. Sekarang pun, ia merasa canggung.

Ken tidak mendesaknya. Ia hanya menunggu.

Akhirnya, Ashilla memberanikan diri.

“Aku ingin meminta tolong padamu tentang sesuatu…”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,

“Ayahku punya proyek yang ingin dia kerjakan bersamamu, dan aku ingin..”

“Supaya aku menyetujuinya?” Ken mengangkat alis.

1
Rossy Annabelle
ooh bahagianha hatiku 🥳melihat penderitaan orang lain/Facepalm/
Rossy Annabelle
next,,klo bs Doble up deh 😁tiap hari /Chuckle/
Rossy Annabelle: oke lah,, ditunggu karya lainnya mungkin.semngt 💪😁
total 2 replies
Rossy Annabelle
ditunggu next-nya😁
Lynn_: Ok kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!