Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Kode
Minggu ujian semester adalah minggu di mana kantin sekolah sepi, tapi tempat fotokopi di depan gerbang antrenya mengalahkan antrean sembako. Kenan dan Kala, meski beda gedung jurusan, tetap menyempatkan diri ketemu di bawah pohon ketapang setiap ganti jam pelajaran.
"Nan, habis ini ujian Sejarah. Kamu sudah hafal nama-nama pahlawan Revolusi?" tanya Kala, wajahnya tampak panik sambil membolak-balik buku paket yang tebalnya setebal harapan orang tua.
Kenan yang lagi asyik makan kerupuk kaleng nyengir. "Tenang, Kal. Sejarah itu soal masa lalu. Aku ini pakar kalau soal masa lalu, apalagi masa lalu kita yang indah di kantor pajak."
"Serius, Kenan! Kalau nilaiku di bawah KKM, aku nggak boleh ikut study tour nanti!" Kala mencubit lengan Kenan.
Kenan akhirnya mengeluarkan sebuah kertas kecil dari sakunya. "Oke, oke. Ini aku punya ringkasan sakti. Isinya poin-poin penting saja. Tapi masalahnya, kita kan beda kelas. Aku di lantai dua, kau di gedung TKJ sana. Gimana aku mau kasih tahu kau kalau ada soal yang menjebak?"
Jovan yang tiba-tiba muncul dari balik pohon langsung menyambar. "Pakai kode suara, Nan! Kau kan vokalis. Nanti kalau jawaban nomor satu itu A, kau pura-pura batuk sekali. Kalau B, batuk dua kali. Kalau C, kau nyanyi reff lagu Vierra!"
"Bodoh kau, Van! Jarak gedung Akuntansi ke TKJ itu jauh. Yang ada aku batuk-batuk sampai mimisan pun, Kala takkan dengar!" balas Kenan ketus.
"Oh iya ya... Aku lupa sekolah kita bukan sepetak," Jovan nyengir tanpa dosa.
Ujian Sejarah dimulai. Kenan duduk di pojok kelas Akuntansi 2. Dia mengerjakan soal dengan lancar (ternyata dia beneran belajar!). Tapi pikirannya tetap melayang ke Kala. Dia tahu Kala paling lemah di pelajaran hafalan.
Tiba-tiba, Kenan punya ide nekat. Dia izin ke toilet. Di jalan, dia sengaja lewat di depan kelas TKJ 1, kelasnya Kala. Dia melihat dari balik jendela kaca, Kala sedang memegang pulpen di dahi, wajahnya tampak sangat tertekan menatap soal nomor 25.
Kenan berhenti di depan pintu kelas yang terbuka sedikit karena gerah. Dia melihat pengawas di kelas Kala adalah Pak Bambang—guru olahraga yang hobi main catur. Pak Bambang lagi asyik menatap papan catur kecil di mejanya.
Kenan berdehem keras. Ehemm!
Kala menoleh ke arah pintu. Matanya membelalak melihat Kenan berdiri di sana sambil memegang hidungnya. Kenan memberikan isyarat tangan: jari membentuk huruf 'C'.
Kala mengangguk paham. Dia langsung menyilang jawaban C.
Tapi apes, tepat saat Kenan mau kasih kode untuk nomor selanjutnya, Pak Bambang mendongak.
"Kenan! Ngapain kamu di depan kelas orang?
Mau nyari jaringan wifi atau nyari jodoh?"
Kenan langsung tegak. "Eh... itu Pak, saya... saya lagi cari alamat, Pak. Eh, maksud saya, saya mau ke toilet tapi jalannya muter biar sekalian olahraga, Pak!"
"Olahraga kepalamu! Balik ke kelas kamu sekarang! Sebelum saya kasih skor pelanggaran!" bentak Pak Bambang sambil mengacungkan pion catur.
Kenan langsung lari tunggang langgang sambil tertawa kecil.
*******
Jam istirahat tiba. Kala menghampiri Kenan dengan wajah yang... tidak bisa dibilang senang.
"Nan! Tadi nomor 25 itu kamu kasih kode C kan?" tanya Kala setengah berteriak.
"Iya, C. Kenapa? Bener kan? Itu soal tentang tahun Proklamasi," jawab Kenan bangga.
Kala menepuk jidatnya. "Nan... soal nomor 25 di paket soal aku itu bukan soal tahun Proklamasi, tapi soal 'Siapa pencipta lagu Indonesia Raya'. Dan jawabannya itu W.R. Supratman, alias pilihan D! Gara-gara kode C kamu, aku jawab 'Chairil Anwar'!"
Kenan melongo. "Lho? Kok beda? Oh iya... aku lupa! Kita kan pakai sistem paket A dan paket B! Paket soal Akuntansi sama TKJ beda urutannya, Kal!"
Jovan yang lagi minum es mambo di sebelah mereka langsung meledak tawanya. "HAHAHhA!!
Makanya Nan, jadi pahlawan itu jangan tanggung-tanggung. Niat mau bantu bidadari, malah bikin bidadari sesat di jalan Sejarah!"
"Duh, maaf ya, Kal. Aku beneran lupa kalau sistemnya diacak," Kenan merasa sangat bersalah.
Kala akhirnya ikut tertawa melihat muka Kenan yang melas. "Ya sudah, nggak apa-apa. Lagian cuma satu nomor. Tapi besok-besok nggak usah pakai kode-kodean lagi ya. Lebih bahaya kode kamu daripada soal ujiannya."
*******
Sore harinya, saat mereka mau pulang, sebuah mobil sedan putih (mobil yang sama yang dulu dipakai Revan buat jemput Kala) tiba-tiba berhenti di depan gerbang. Tapi kali ini, yang turun bukan Revan.
Seorang pria paruh baya berpakaian rapi turun dari mobil. Dia adalah Ayah Kala yang baru pulang dinas dari luar kota.
"Kala! Pulang sama Papa, yuk. Papa punya kejutan buat kamu," seru Ayahnya.
Kala menoleh ke Kenan dengan ragu. "Nan... aku duluan ya. Papaku sudah jemput."
"Eh, iya Kal. Hati-hati ya," jawab Kenan.
Ayah Kala melirik Kenan dari atas sampai bawah.
"Ini teman kamu, Kal?"
"Iya Pa, ini Kenan. Teman magang Kala dulu yang sering bantu Kala belajar," jawab Kala memperkenalkan.
Ayah Kala hanya mengangguk singkat, wajahnya tampak sangat tegas—jauh lebih tegas dari Pak Hendra di kantor pajak. "Ya sudah, ayo masuk."
Mobil itu berlalu, meninggalkan Kenan yang berdiri mematung di pinggir jalan. Kenan merasa, rintangan dia selanjutnya bukan lagi Revan, tapi sosok pria berwajah kaku yang ada di mobil itu.
"Van... kok aku ngerasa ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai ya?" bisik Kenan pada Jovan.
"Sabar, Nan. Menaklukkan anak TKJ itu gampang, yang susah itu menaklukkan 'Admin' pusatnya," sahut Jovan bijak (tapi tetep bikin Kenan makin deg-degan).