Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkaran yang Mengawasi
Lein berjalan berdampingan dengan Reyd di taman tengah. Ia berhenti sejenak untuk menyentuh daun tanaman sihir yang tampak layu, membiarkan sisa mana lembut dari Hati Peri Malamnya mengalir tipis.
Daun itu bergetar, lalu perlahan kembali segar.
“Jangan terlalu sering, Lein” ujar Reyd. “Kamu akan menarik perhatian.”
Lein tersenyum kecil. “Aku hampir lupa bagaimana rasanya bersikap biasa.”
“Justru itu yang membuatmu tidak biasa.”
Sebuah suara bertepuk tangan pelan memotong percakapan mereka.
“Masih sama waspadanya, Pangeran.”
Dua sosok muncul dari balik pilar taman.
Siont Estesral melangkah lebih dulu-tinggi, rambut peraknya terikat longgar, tatapan matanya tajam namun penuh perhitungan. Di sampingnya, Cys Deraxle menyusul dengan senyum santai, rambutnya tergerai dan mata berkilaunya menyipit seolah menilai dunia sebagai permainan kecil.
“Menyerang tanpa salam?” Reyd menatap mereka dingin.
“Tidak hari ini,” jawab Cys ringan. “Kami tidak datang untuk bertarung.”
Lein menegang sedikit, tapi tetap berdiri tenang.
“Lalu?” tanyanya.
Siont mengangkat kedua tangannya. “Berteman.”
Reyd mengerutkan kening.
“Berteman?” ulangnya.
“Ya,” jawab Siont tenang. “Tanpa kontrak. Tanpa kerja sama.”
Cys menambahkan, “Dan tanpa paksaan.”
Keheningan singkat tercipta.
Lein menatap mereka bergantian. “Kenapa?”
Cys menyeringai. “Karena kau menarik untuk diawasi.”
Reyd hendak menyela, tapi Siont lebih dulu bicara.
“Karza mengamatimu,” katanya lugas. “Itu bukan rahasia lagi.”
Lein mengangguk pelan.
“Dan Karza bukan dosen yang bisa diamati langsung,” lanjut Siont. “Dia tertutup. Terlalu rapi.”
Cys menyandarkan diri ke pilar. “Tapi setiap orang punya titik fokus. Dan miliknya… kau.”
Lein merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.
“Kami tidak ingin kau menjadi umpan,” kata Siont cepat. “Dan kami juga tidak meminta apa pun darimu.”
“Lalu apa mau kalian?” tanya Reyd tajam.
Siont menatapnya lurus. “Kami ingin berada cukup dekat untuk melihat perubahan Karza.”
Cys mengangguk. “Jika dia bergerak, itu karena sesuatu. Dan sesuatu itu selalu berhubungan dengan Lein.”
Lein menarik napas.
“Jadi kalian memanfaatkanku,” katanya datar.
“Tidak,” jawab Siont. “Kami mengamatinya melalui lingkaran sosialmu.”
Cys tersenyum kecil. “Berteman membuat itu… tidak mencurigakan.”
Reyd menatap Lein, jelas tak menyukai ide itu.
Namun Lein berbicara lebih dulu.
“Jika hanya berteman,” katanya pelan, “aku tidak keberatan.”
Reyd menoleh cepat. “Lein—”
“Aku tidak sendirian,” lanjut Lein. “Dan aku tidak ingin terus dilindungi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Siont menatapnya lama, lalu mengangguk hormat.
“Keputusan yang matang.”
Cys mengulurkan tangan. “Kalau begitu-teman?”
Lein ragu sejenak, lalu menjabatnya.
Sentuhan itu tidak membawa niat jahat.
Hanya… kepentingan yang belum sepenuhnya jujur.
“Dengan satu syarat,” kata Reyd dingin.
Siont menoleh. “Apa itu?”
“Jika kalian mendekati gadisku dengan niat lain,” Reyd menatap mereka berdua, “aku tidak akan diam.”
Cys terkekeh. “Itu wajar.”
Siont tersenyum tipis. “Kami tidak berharap kau diam, Pangeran idiot.”
Empat orang itu berdiri di taman-sebuah lingkaran kecil terbentuk.
Bukan aliansi.
Bukan musuh.
Hanya sekumpulan penyihir muda dan penyihir senior.
***
Keputusan Lein untuk menerima kehadiran Siont dan Cys sebagai teman mereka menyebar lebih cepat dari yang ia duga.
Bukan sebagai gosip besar-melainkan sebagai perubahan kecil yang terasa janggal bagi lingkaran terdekatnya.
“Kalau Lein tidak keberatan, aku juga tidak,” ujar Lysa sambil tersenyum hangat pada Siont dan Cys. “Berteman itu… tidak buruk, kan?”
Cys terkekeh. “Akhirnya ada yang normal juga.”
Siont hanya mengangguk sopan.
Namun tidak semua orang menyambutnya dengan senyum.
Grack berdiri beberapa langkah di belakang, menyilangkan lengannya. Tatapan matanya tidak tajam, tapi penuh rasa ingin tahu-sejenis rasa yang hanya muncul pada seseorang yang hidup untuk menguji batas dirinya.
“Kau murid senior, bukan” kata Grack akhirnya, menatap Siont.
“Dari caramu berdiri, kau kuat juga.”
Siont menoleh perlahan. “Mungkin.”
“Itu bukan jawaban.”
Grack melangkah maju satu langkah. “Aku ingin bertarung.”
Keheningan jatuh.
Lysa terkejut. “Grack?!”
Cys mengangkat alis. “Langsung ke inti, ya.”
Reyd menyipitkan mata. “Untuk apa kau open war?”
“Bukan dendam,” jawab Grack jujur. “Bukan juga provokasi.”
Ia mengepalkan tangan kanannya-api tipis berwarna merah tua berdenyut di sekitar sarung tinju besinya.
“Aku hanya ingin tahu… sejauh apa dinding yang berdiri di depan Lein.”
Lein terdiam.
Siont menatap Grack lama, lalu menarik napas.
“Baik,” katanya. “Duel latihan. Tanpa niat melukai.”
Cys menepuk pundaknya. “Jangan meremehkannya.”
Siont tersenyum tipis. “Aku tidak pernah meremehkan orang yang bertanya dengan jujur.”
Arena latihan luar Academy sore itu sunyi.
Tidak ada dosen.
Tidak ada murid lain.
Hanya lingkaran batu, angin yang bergerak lambat, dan enam pasang mata yang fokus.
Lein berdiri di samping Reyd dan Lysa.
Cys bersandar santai di pagar batu, tapi sorot matanya serius.
“Mulai,” ujar Cys singkat.
Grack bergerak lebih dulu.
Tinju apinya melesat-tidak liar, tidak terburu-buru. Setiap langkahnya mantap, setiap serangan mengandung tekanan nyata.
Namun Siont tidak mundur.
Ia tidak mengeluarkan elemen mencolok. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada ledakan.
Hanya mana murni.
Udara di sekitar tubuhnya menegang-seperti ruang yang dipadatkan.
Tinju Grack berhenti beberapa jari dari wajah Siont.
Bukan karena ditahan.
Melainkan karena ditolak.
“Tekanan ruang…” gumam Lein pelan.
Reyd menoleh cepat. “Kamu bisa merasakannya, yang?”
Lein mengangguk. “Halus… tapi berat.”
Grack menarik lengannya, lalu melompat mundur, dia tersenyum lebar.
“Menarik!”
Ia menyerang lagi-kali ini dengan kombinasi cepat, api berputar mengikuti gerakannya.
Siont bergeser setengah langkah, memutar tubuhnya. Tekanan itu berubah arah, membelokkan lintasan serangan tanpa menyentuh Grack secara langsung.
Tidak ada benturan keras.
Namun tanah di bawah mereka retak perlahan.
Lysa menelan ludah. “Ini bukan duel kasar, tapi rasanya seperti-”
“Seperti dua laut saling mengukur bayangan,” lanjut Cys tenang.
Grack berhenti, napasnya sedikit berat.
Siont juga menghentikan gerakannya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Grack tertawa pendek.
“Cukup,” katanya. “Aku mengerti.”
Ia mengulurkan tangan. “Kau kuat. Dan kau menahan diri.”
Siont menjabatnya. “Begitu pula kau, Jamet.”
Hawa menegangkan perlahan mengendur.
Lein baru sadar bahwa ia menahan napas sejak tadi.
“Dia tidak berbahaya,” ujar Grack sambil menoleh ke Lein.
“Setidaknya… bukan tipe yang menusuk dari belakang.”
Cys tersenyum kecil. “Penilaian yang adil.”
Lein memejamkan mata sejenak.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa lingkaran di sekelilingnya tidak sepenuhnya rapuh.