Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mia 27
“Bagaimana yah?” tanya Rizki sambil menatap ayahnya yang duduk di kursi rotan ruang tamu.
“Tenang saja. Si Joni itu mata duitan. Tinggal beri saja proyek kecil padanya dan sedikit uang, maka dia akan takluk padaku,” ucap Anton sambil mengisap rokoknya perlahan.
Asap tembakau mengepul tipis di udara. Semenjak Miranda pergi, pikiran Anton memang sering kacau. Ia lebih banyak diam, tetapi rokok di tangannya tidak pernah benar-benar padam. Rumah besar itu terasa lebih sunyi, seolah ada bagian penting yang tiba-tiba hilang.
“Seandainya Miranda masih menginginkan saham itu bagaimana yah? Bagaimanapun dia mendapatkannya dengan legal, dan dengan uang tiga miliar dia dapat menyewa pengacara yang mahal yah,” ucap Rizki dengan nada khawatir.
“Ya, Miranda mendapatkan saham itu dengan cara legal dan kita tidak bisa menolak begitu saja permintaan Miranda. Apa sebaiknya kita berikan saja?” ucap Nadia memberi ide dengan suara hati-hati.
Saras yang duduk di sudut ruangan langsung mengangkat wajah. Ia tampak tidak senang dengan pendapat Nadia. Dalam hatinya muncul banyak pertanyaan. Siapa sebenarnya Nadia itu. Nadia hanya orang baru, belum berkorban apa-apa untuk keluarga ini, tetapi tiba-tiba akan dijadikan istri Raka. Tentu saja Saras tidak rela.
Dengan tatapan sinis Saras berkata, “Kamu itu orang baru, Nadia. Aku lebih baik memberikan uang itu pada orang lain daripada ke Miranda. Selama dua tahun dia sudah menikmati semua kekayaan Sanjaya dan sekarang dia menginginkan enam miliar. Ini sungguh keterlaluan.”
Anton melihat Saras dengan nada bangga, seolah mendapatkan dukungan yang sejak tadi ia tunggu.
“Benar, Nadia. Miranda itu sudah banyak sekali menikmati fasilitas dari keluarga Sanjaya. Lebih baik aku menyewa pengacara hebat daripada memberikan uang pada Miranda.”
Nadia menghela napas panjang. Ia mencoba tetap tenang meskipun kata-kata Saras cukup menusuk.
“Aku hanya memberi saran. Kalau ada masalah yang gampang diatasi, kenapa tidak selesaikan saja dengan mudah. Bagaimanapun jika melalui jalur hukum, waktu, pikiran, dan uang kita akan terkuras.”
Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia merasa sudah cukup menyampaikan pendapat terbaik. Jika tidak diterima, ia memilih diam daripada terus berdebat tanpa arah.
“Memang akan sulit jika melalui jalur hukum. Satu-satunya cara adalah membuat Miranda tak berkutik, membuat Miranda tak diterima di mana pun,” ucap Anton dengan nada dingin.
“Jadi kita akan membuat nama baik Miranda buruk yah?” sahut Rizki menatap penuh antusias pada ayahnya.
“Kamu benar sekali, Ki,” ucap Anton lalu matanya berbinar seperti menemukan jalan keluar yang sudah lama ia cari.
Anton mematikan rokoknya di asbak kaca, kemudian melanjutkan rencananya dengan suara lebih pelan namun tegas.
“Kita bayar beberapa buzzer untuk menjelekkan nama Miranda. Miranda itu sama sekali tidak terdaftar di sekolah mana pun dan tidak punya usaha apa pun. Mempunyai uang tiga miliar itu adalah hal yang patut dipertanyakan, bukan?”
“Terus maksud Ayah bagaimana?” tanya Rizki.
Kemudian Rizki memberikan ponselnya kepada Anton. Di layar tampak berita yang sedang ramai dibicarakan banyak orang.
“Ini lagi ramai berita penipuan investasi bodong dan pelakunya belum ketahuan siapa, dan kita bisa menggiring opini kalau Mirandalah pelakunya.”
“Kita menyebar fitnah?” tanya Nadia dengan suara tercekat.
“Nadia, sebaiknya kamu diam saja,” ucap Saras kesal. “Ini permainan bisnis. Jika tidak nyambung dengan otak kamu, lebih baik kamu pergi saja.”
..
..
Waktu terus berlalu perlahan, seperti aliran sungai yang tidak pernah benar-benar berhenti. Miranda mematikan ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping kursi balkon. Ia duduk menikmati udara pagi yang dingin, menghirupnya dalam-dalam seolah ingin membuang semua beban dari dadanya. Langit masih berwarna pucat, matahari baru saja merangkak naik di balik gunung.
Nabil duduk di sampingnya sambil menghisap rokok. Asap tipis melayang mengikuti arah angin, lalu menghilang di antara dedaunan. Suasana terasa tenang, tetapi di balik ketenangan itu ada kegelisahan yang tidak terlihat.
“Ah inilah hidup, tanpa harus memikirkan usaha, uang tiga milyar jika depositokan perbulan aku dapat uang tiga juta sepertinya cukup untuk hidup mandiri,” ucap Miranda. Mulutnya mengeluarkan asap tipis karena dinginnya udara.
“Kamu pikir mereka akan membiarkan hidupmu aman dan tentram?” ucap Nabil sambil memandang ke depan. Sebuah gunung terlihat jelas, udara yang berhembus menerpa wajahnya.
“Kurang apa coba aku sama mereka. Aku sudah melakukan banyak hal untuk merka, jadi mereka seharusnya tidak menggangguku,” ucap Miranda dengan nada pelan.
“Kamu terlalu lurus Miranda,” ucap Nabil.
“Kamu pikir dengan kamu banyak kontribusi sama perusahaan mereka, kamu akan dianggap pahlwan dan mendapat tanda jasa?” Nabil menghisap rokok lalu menghembuskannya. “Di dunia ini banyak orang yang tidak tahu malu dan tidak tahu terima kasih. Apalagi Anton, dia adalah rubah tua yang licik. Kamu memegang rahasia penting hidupnya, apa kamu pikir dia akan melepaskan kamu begitu saja?” ucap Nabil lagi.
“Kamu terlalu berprasangka buruk, Nabil,” ucap Miranda sambil mengisap tehnya. Terasa segar di tengah udara yang dingin.
“Dua tahun yang lalu aku sudah memperingati kamu, dan kamu tidak percaya. Sekarang lihatlah diri kamu,” ucap Nabil dengan nada lebih rendah.
“Sudahlah Nabil, untuk sementara aku hanya ingin hidup tenang,” ucap Miranda.
Nabil menarik napas dalam lalu melihat ke arah depan. Suara burung dan serangga bersahutan, menciptakan irama alam yang damai, sangat berbeda dengan kegaduhan yang sedang terjadi di hidup Miranda.
“Kamu ingin hidup tenang tapi tidak dengan merka,” ucap Nabil.
“Maksud kamu apa?” tanya Miranda.
Nabil memberikan ponselnya. “Lihatlah nama kamu jadi tranding sekarang.”
Miranda mengambil ponsel Nabil lalu membaca beberapa artikel berita yang memberitakan dirinya. Wajahnya perlahan berubah, dari penasaran menjadi tegang. Jari-jarinya bergerak cepat menggulir layar.
Berita pertama, Raka mengumumkan kalau dia sudah bercerai dengan Miranda dengan alasan tidak cocok. Itu steatmen dari keluarga Wijaya tanpa spesipikasi menyebutkan alasan retaknya hubungan mereka.
Berita selanjutnya adalah dari akun-akun influecer terkenal membeberkan berita alasan di balik percerain Rizki dan Miranda. Tulisannya panjang dan menusuk.
Miranda wanita ambisisu terlalu banyak menuntut dan serakah.
Miranda jadi simpanan orang-orang kaya demi kesuksesan karir rela menukarnya dengan kemolekan tubuh.
Artikel itu menampilkan beberapa bukti kedekatan Miranda dengan beberapa orang pengusaha dan pejabat, foto-foto lama yang dipotong dari sudut tertentu, seolah membangun cerita palsu.
Dan yang terkahir adalah sebuah artikel yang mengaitkan Miranda dengan kasus investasi bodong. Judulnya besar dan provokatif, membuat siapa pun yang membaca langsung memiliki prasangka.
Satu persatu artikel berita Miranda baca, kemudian melihat media sosial. Dan nama Miranda menjadi trading topic di mana-mana. Kolom komentar penuh hinaan dari orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
“Sanjaya grup bukan perusahaan besar kenapa jadi viral begini?” ucap Miranda dengan suara bergetar.
Nabil mengambil ponselnya kembali. “Sudah ku bilang mereka itu rela keluar uang untuk menjatuhkan kamu. Padahal bisa saja mereka langsung memberikan uang kamu, tapi mereka tidak akan melakukan itu,” ucap Nabil memberi analisa.
Miranda mengerutkan dahi lalu bertanya, “Kenapa?”
“Bukan soal uang, ini soal harga diri. Mereka selalu merasa lebih pintar dan berkuasa dari kamu. Jadi kalau mereka memberikan uang kamu, maka mereka merasa harga dirinya diinjak-injak,” jawab Nabil pelan namun tajam.
“Terus aku harus apa?” tanya Miranda mengepalkan tangan.
“Bahkan aku ingin hidup tenang saja mereka malah selalu mengusikku,” gumam Miranda dalam hati.