Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Bel berbunyi, panjang dan nyaring, seperti memutus sesuatu yang sebenarnya belum sempat terbentuk.
Zivaniel berjalan menjauh dari kelas Cherrin dengan langkah yang sama terukurnya seperti biasa. Punggungnya tegak, ekspresinya kembali datar— wajah yang sudah ia kenakan bertahun-tahun. Tidak ada yang bisa menebak bahwa di balik langkah itu, ada detak yang sedikit lebih cepat dari normal.
Ia tidak menoleh. Tidak sekali pun.
Bukan karena tidak ingin, tapi karena tahu jika ia menoleh, ada kemungkinan ia akan berhenti. Dan berhenti adalah sesuatu yang tidak pernah diajarkan kepadanya.
Sesampainya di kelas, Dimas langsung menarik kursi untuk Zivaniel.
Zivaniel mengangkat alisnya tenang.
"Gosip lagi. Elo datang ke kelas Cherrin, bikin heboh satu sekolah." Dimas terkekeh kecil saat melihat Zivaniel duduk di kursinya. "Tranding nomor satu di sekolah coy!" Teriak Dimas super duper heboh.
Zivaniel mendengus, ia sama sekali tidak memperdulikan perkataan temannya itu.
"Niel. Gue penasaran banget. Elo sebenarnya suka nggak sama Cherrin? Gue lihat kok elo–"
"Berisik!" Sela Zivaniel cepat, membuat Dimas mendengus.
"Ck, elo mah sama temen sendiri juga."
"Buk Wiwid udah masuk." Zivaniel menunjuk ke arah seorang guru Fisika yang baru saja masuk ke dalam kelas.
Dimas menghela nafasnya kasar, "Ya..."
Zivaniel tidak menanggapinya lagi, ia fokus pada buku yang ada di depannya karena hari ini ada ulangan Fisika.
Sedangkan Cherrin masih menatap permen di atas mejanya ketika guru masuk ke kelas.
Permen kecil, bungkusnya sederhana. Tidak mewah. Tidak juga mencolok.
Tapi terasa seperti sesuatu yang aneh.
“Cher,” bisik Icha sambil menyenggol lengannya pelan, “itu permen apa sih? Kayak permen anak SD, tapi efeknya bikin satu kelas senyap.”
Cherrin mendengus, tapi tangannya refleks menutup permen itu dengan buku. “Berisik.”
Padahal pipinya masih merona karena perbuatan Zivaniel tadi.
Ulangan dimulai. Soal-soal terhampar di atas kertas, huruf-huruf rapi yang biasanya bisa ia cerna dengan mudah. Tapi hari ini, fokusnya pecah-pecah. Setiap kali ia mencoba membaca soal, pikirannya melayang kembali ke sentuhan singkat di kepalanya tadi.
Bukan elusan yang manja.
Lebih seperti kebiasaan—gerakan yang dilakukan tanpa berpikir.
Dan justru itu yang membuatnya kesal.
“Kenapa sih dia kayak gitu?” gumamnya dalam hati sambil menekan ujung pulpen terlalu keras. “Datang, bikin ribet, terus pergi seolah-olah nggak terjadi apa-apa.”
Ia menggigit bibir bawahnya, lalu menarik napas panjang.
Fokus, Cherrin.
Satu soal. Dua soal. Tiga.
Pelan-pelan, pikirannya kembali ke kertas.
Di kelas lain, Zivaniel duduk di bangkunya, menatap papan tulis dengan tatapan yang tampak penuh perhatian. Gurunya sedang menjelaskan sesuatu tentang struktur kalimat, tentang bagaimana satu kata bisa mengubah makna keseluruhan.
Ironis.
Tangannya bergerak mencatat, rapi, presisi. Tidak ada coretan yang berlebihan. Tidak ada kata yang terlewat.
Namun di sela baris-baris itu, pikirannya kembali ke Cherrin.
Cara gadis itu memalingkan wajahnya. Nada suaranya yang kesal, tapi tidak sepenuhnya marah. Cara ia menolak permen itu—bukan dengan dingin, tapi dengan sesuatu yang terasa seperti pertahanan terakhir.
Zivaniel menutup pulpen sejenak.
Ia tahu ia salah.
Ia tahu kemarin ia terlalu jauh menarik diri. Terlalu patuh pada sebuah kenyataan. Ia takut kalau Cherrin terseret terlalu dalam ke dunianya. Ia sungguh takut.
Namun kenyataannya,
Cherrin selalu hadir sebagai sesuatu yang tidak pernah masuk dalam daftar pilihan itu. Dan ia sama sekali tidak mau kehilangan gadisnya itu. Ia bahkan tidak rela Cherrin bersama dengan pemuda lain.
Ia benci itu.
Bel istirahat berbunyi.
Kelas mendadak riuh. Kursi bergeser, suara tawa pecah, langkah-langkah berhamburan ke luar.
Zivaniel tetap duduk beberapa detik lebih lama.
Ia mengeluarkan ponselnya.
Masih tidak ada pesan.
Ia menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya, lalu menguncinya kembali dan bangkit berdiri.
Di kantin, Cherrin duduk berhadapan dengan Icha dan dua teman lainnya. Ia hanya memesan teh hangat, membiarkan yang lain sibuk dengan makanan mereka.
“Lo kenapa sih hari ini?” tanya Icha sambil menyeruput minumannya. “Sejak pagi kelihatan kayak mau meledak tapi ditahan.”
“Biasa aja,” jawab Cherrin cepat.
“Bohong,” sahut Icha tanpa ragu. “Itu muka orang lagi mikir keras tapi nggak mau ngaku.”
Cherrin memutar sendok kecil di dalam cangkirnya. “Gue cuma capek aja kok.”
Setengah benar.
Ia melirik tasnya, memastikan permen itu masih ada—ia tidak tahu kenapa ia tidak membuangnya saja.
“Eh, itu Zivaniel,” bisik salah satu temannya.
Cherrin refleks menegakkan tubuhnya, lalu langsung menyesal.
Zivaniel berdiri tidak jauh dari meja mereka, berbicara singkat dengan seseorang dari kelasnya. Ia tersenyum kecil—jarang sekali—dan itu membuat beberapa siswi lain melirik ke arahnya dan terpana.
Cherrin mendengus pelan agak kesal melihat itu.. “Ya udah, kan? Hidupnya normal-normal aja tanpa gue.”
Tapi dadanya terasa sedikit sesak.
Hari berjalan lambat.
Satu jam pelajaran berganti ke jam berikutnya, lalu ke berikutnya lagi. Tidak ada interaksi berarti antara mereka setelah kejadian pagi itu. Seolah-olah sekolah sengaja memberi jarak.
Menjelang pulang, hujan turun.
Awalnya gerimis, lalu semakin rapat. Jendela-jendela kelas dipenuhi titik-titik air yang mengaburkan pandangan.
Cherrin berdiri di depan loker, memasukkan buku-bukunya dengan gerakan agak kasar.
“Lo nggak bawa payung?” tanya Icha.
Cherrin menggeleng. “Nanti gue nunggu agak reda.”
Icha ragu. “Yakin? Hujannya kayaknya lama.”
“Tenang.”
Icha akhirnya pamit, meninggalkan Cherrin sendirian di koridor yang mulai sepi.
Ia duduk di bangku dekat jendela, menatap hujan dengan pikiran kosong.
Dan di saat itulah, langkah kaki berhenti tidak jauh darinya.
“Cherrin.”
Nada itu.
Ia mendongak.
Zivaniel berdiri di sana, jas sekolahnya masih rapi, tas tersampir di bahu. Di tangannya, sebuah payung hitam.
“Apa lagi,” jawab Cherrin, berusaha terdengar biasa.
“Hujan,” kata Zivaniel, seperti itu bukan hal yang jelas.
“Tau,” sahut Cherrin datar.
Zivaniel menghela napas pelan. Ia melirik ke luar jendela, lalu kembali ke Cherrin. “Kamu mau pulang gimana?”
“Nunggu taksi.”
“Lama.”
“Biarin.”
Hening.
Hujan mengisi jeda itu.
Zivaniel akhirnya duduk di bangku yang sama, menjaga jarak satu orang di antara mereka. Ia tidak memaksa mendekat.
“Aku nggak pandai ngomong,” katanya tiba-tiba.
Cherrin meliriknya. “Baru sadar?”
Sudut bibir Zivaniel terangkat tipis. “Aku serius.”
Ia menatap lantai. “Kemarin aku salah. Bukan karena aku nggak peduli. Justru karena aku terlalu peduli, tapi caraku… buruk.”
Cherrin diam.
“Aku minta maaf sama kamu"
Hening lagi.
Cherrin menarik napas panjang. “Kamu bikin aku ngerasa kecil, Niel.”
Kalimat itu pelan, tapi menghantam.
Zivaniel menoleh, matanya fokus. “Maaf Cherrin. Aku ngaku salah.”
“Tapi kamu lakuin.”
Ia menunduk. “Aku udah sering ngerasa nggak punya tempat. Terus kamu ngomong soal Elran seolah-olah perasaan itu bisa dialihin gitu aja.”
Zivaniel mengepalkan tangannya pelan. “Maaf.”
Bukan kata besar.
Tapi kali ini, Cherrin percaya.
Hujan mulai mereda.
Zivaniel berdiri, membuka payungnya. “Ayo pulang sama aku.”
Cherrin ragu beberapa detik.
Lalu berdiri, "Oke. Tapi kamu harus traktir aku ice cream rasa strawberry." Katanya sambil berjalan terlebih dahulu menuju parkiran tempat dimana mobil milik Zivaniel.
Zivaniel menarik satu sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Oke"