Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kebenaran yang Terlambat
Setelah kehancuran di pesta itu, aku sama sekali tidak berniat kembali ke rumah petak. Aku terus berjalan tanpa arah di bawah rintik hujan yang kian menderu, membiarkan gaun mahalku basah kuyup hingga terasa berat membebani langkah, sementara riasan wajahku luntur menyatu bersama sisa-sisa air mata. Aku berakhir di sebuah taman kota yang sepi, terduduk lesu di atas bangku kayu yang dingin. Di sinilah aku, Kiki, wanita yang dulu sempat bermimpi tentang cinta sejati, kini hanyalah rongsokan dari sebuah skandal besar keluarga konglomerat.
Ketenanganku terusik saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku. Itu bukan mobil Mas Fikar, melainkan mobil Pak Hendra, asisten pribadi Mas Fikar yang paling ia percayai. Ia turun dengan tergesa-gesa sembari memegang map tebal dan payung.
Ibu Kiki, syukurlah saya bisa menemukan Anda, suaranya terdengar sangat cemas. Ada sesuatu yang harus Anda lihat. Sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh Ibu Sofia dan Clara dari Pak Fikar, dan juga dari Anda.
Aku menatapnya dengan pandangan kosong dan lelah. Apalagi, Pak? Apa lagi yang ingin kalian hancurkan dari hidupku yang sudah hancur ini?
Ini bukan tentang menghancurkan, Bu. Ini tentang kebenaran, ia menyodorkan map itu padaku. Saya melakukan penyelidikan diam diam atas perintah Pak Fikar sebelum acara pesta tadi. Pak Fikar sebenarnya tidak sepenuhnya percaya pada hasil tes itu, tapi dia terus ditekan oleh Ibunya.
Dengan tangan yang gemetar karena kedinginan, aku membuka map tersebut di bawah temaram lampu taman yang remang. Di dalamnya terdapat rekaman percakapan telepon, foto-foto pertemuan rahasia, hingga dokumen medis asli dari laboratorium yang berbeda.
Mataku terbelalak saat membaca laporan tersebut. Tes DNA prenatal yang ditunjukkan Mas Fikar tempo hari adalah palsu, hasil manipulasi laboratorium yang disuap oleh Ibu Sofia. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Clara sama sekali tidak mengandung anak Mas Fikar. Foto foto di dalam map itu menunjukkan Clara bertemu dengan seorang pria asing di sebuah klinik kesuburan. Clara sebenarnya sedang menjalani program kehamilan dengan donor, dan Ibu Sofia ternyata sudah tahu hal itu sejak awal.
Ibu Sofia bekerja sama dengan Clara agar Pak Fikar mau menceraikan Anda dan menikahi Clara, jelas Pak Hendra dengan nada menyesal. Ibu Sofia hanya ingin menantu yang memiliki latar belakang keluarga yang dia anggap setara, dan dia menggunakan isu keturunan untuk menyingkirkan Anda. Clara hanyalah alat yang haus akan harta.
Aku tertawa, namun kali ini suara tawa itu terdengar seperti jeritan batin yang paling dalam. Jadi, semua rasa sakit ini, semua penghinaan di pesta tadi, dan semua air mata yang kutumpahkan selama berminggu minggu hanyalah bagian dari konspirasi busuk seorang ibu mertua? Mas Fikar telah ditipu oleh ibunya sendiri, dan aku menjadi korban yang dikorbankan begitu saja.
Di mana Mas Fikar sekarang? tanyaku dengan suara parau.
Pak Fikar sedang berada di kantor. Setelah Anda pergi dari pesta, dia mengurung diri di ruang kerjanya. Dia baru saja menerima salinan dokumen ini dari saya sepuluh menit yang lalu melalui email, jawab Pak Hendra.
Tepat saat itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Mas Fikar masuk.
Kiki, aku di depan rumah petakmu. Aku sudah tahu semuanya. Aku merasa menjadi pria paling bodoh di dunia. Aku telah membiarkan ibuku menghancurkan wanita yang paling aku cintai. Aku tidak berani memintamu kembali, tapi tolong biarkan aku menjelaskan satu hal, aku tidak pernah menyentuh Clara malam itu. Dia membiusku, dan ibuku menyusun skenarionya. Tolong, jangan pergi dulu.
Aku menatap layar ponsel itu dengan perasaan yang campur aduk. Kebenaran ini datang terlalu lambat. Luka yang mereka torehkan sudah terlalu dalam hingga menembus tulang. Mengetahui bahwa dia tidak bersalah secara fisik memang meringankan sedikit bebanku, tapi kenyataan bahwa dia tidak cukup kuat untuk melindungiku dari ibunya sendiri adalah jenis luka yang berbeda.
Aku berdiri, membiarkan map itu jatuh ke tanah yang basah. Aku tidak berniat menuju ke rumah petak untuk menemuinya. Aku justru melangkah ke arah yang berlawanan.
Bu Kiki! Anda mau ke mana? teriak Pak Hendra.
Sampaikan pada Pak Fikar, kataku tanpa menoleh sedikit pun. Kebenaran memang sudah terungkap, tapi rasa hormatku padanya sudah mati di pesta tadi. Dia lebih memilih menjaga saham perusahaannya daripada menjaga martabat istrinya sendiri. Katakan padanya, surat cerai yang sudah kutandatangani ada di meja rumah petak. Dia bisa menggunakannya sekarang untuk membersihkan nama keluarganya dari Clara, tapi jangan pernah gunakan itu untuk mencariku lagi.
Aku terus berjalan, menghilang di balik kegelapan malam yang dingin. Kebenaran mungkin telah membebaskan Mas Fikar dari fitnah, tapi bagiku, kebenaran itu hanyalah pengingat betapa rapuhnya cinta kami di hadapan ambisi dan kebohongan keluarga Dirgantara. Malam ini, aku benar benar bebas, tapi kebebasan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada penjara kontrak mana pun yang pernah kuhuni.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.