NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Motel itu terletak di sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu mobil, terjepit di antara hiruk-pikuk pertokoan tua di Jakarta Barat. Bau pembersih lantai yang tajam dan apeknya kasur tua menyambut Almira saat ia mendorong pintu kamar nomor 204. Ia tidak pernah membayangkan, setelah bertahun-tahun tinggal di kawasan elit Washington D.C., tempat seperti inilah yang akan menjadi perlindungannya.

Debo duduk di pinggir kasur yang pernya berderit setiap kali ia bergerak. Ia masih mendekap tas ranselnya, tatapannya kosong menatap dinding yang catnya sudah mengelupas. Di luar, suara klakson kendaraan dan teriakan pedagang kaki lima terdengar seperti kebisingan yang mengancam.

"Kau harus makan, Deb," ucap Almira pelan. Ia meletakkan dua bungkus nasi rames yang tadi mereka beli di depan motel.

"Aku tidak lapar, Kak. Aku mau Ayah pulang," suara Debo pecah. Ia mendongak, matanya merah. "Kenapa Om Hermawan tega melakukan ini? Dia sering datang ke rumah, dia sering membawakan kita makanan. Dia... dia sudah seperti keluarga sendiri."

Almira terdiam, tangannya mengepal di atas meja kayu yang rapuh. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Pengkhianatan selalu terasa lebih menyakitkan saat datang dari orang yang kita percayai. Ia teringat bagaimana Om Hermawan tertawa bersama ayahnya di beranda rumah mereka di D.C., membicarakan masa depan Indonesia seolah-olah dia adalah patriot paling jujur sedunia.

"Karena itu jawaban yang harus kita cari, Deb. Risky benar, Ayah dijebak sebagai tumbal."

Penyebutan nama Risky membuat Almira meraih ponselnya yang masih dalam keadaan mati. Ia ragu sejenak, lalu menekannya hingga layar menyala. Ratusan pesan masuk, tapi tak satu pun yang ia baca. Ia segera mencari nama Hermawan di daftar kontak dan mencoba meneleponnya.

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

Almira mencoba lagi. Dan lagi. Hasilnya tetap sama. Pria itu benar-benar telah lenyap, seolah-olah ia tidak pernah ada.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Jangan hubungi siapa pun dari masa lalu kalian. Mereka sedang memantau sinyal ponselmu. Temui aku besok jam delapan pagi di stasiun kota. Datanglah sendiri. -R

Almira mengatur napasnya yang mendadak memburu. Risky. Pria itu terasa begitu dingin dan penuh rahasia, namun saat ini, ia adalah satu-satunya jembatan menuju kebenaran.

"Besok aku harus pergi menemui pengacara itu lagi," kata Almira pada Debo. "Kau tetap di sini. Kunci pintu, jangan buka untuk siapa pun kecuali aku. Dan tolong... jangan gunakan internet untuk sementara."

"Aku ikut, Kak! Aku tidak mau sendirian di sini," protes Debo.

"Tidak, Deb. Kau punya tugas lain." Almira mendekati adiknya, memegang bahunya erat. "Gunakan kemampuanmu. Ingat foto-foto yang kau ambil di bandara sebelum koper itu dibuka? Periksa lagi semuanya. Mungkin ada sosok yang tidak sengaja tertangkap kameramu. Siapa saja yang mengikuti Ayah, atau siapa yang bicara dengan Om Hermawan di parkiran bandara Amerika kalau kau sempat memotretnya."

Mata Debo mulai menunjukkan sedikit binar kehidupan. Ia meraih kamera DSLR-nya, satu-satunya hartanya yang tersisa. "Aku akan periksa semua file-nya, Kak. Aku punya ribuan foto dari seminggu terakhir."

Malam itu berlalu dengan sangat lambat. Almira tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat wajah ayahnya yang hancur di balik jeruji besi. Ia membayangkan pria tua itu kedinginan di lantai penjara, dikelilingi oleh kriminal sungguhan, sementara penjahat yang sebenarnya mungkin sedang merayakan keberhasilan mereka di sebuah hotel mewah.

Keesokan paginya, Jakarta disambut hujan gerimis yang membuat udara terasa semakin berat. Almira mengenakan jaket bertudung gelap dan masker, berusaha menyamarkan wajahnya yang mulai sering muncul di layar televisi sebagai "anak sang kurir".

Stasiun Kota sangat ramai. Di antara ribuan orang yang berdesakan, Almira mencari sosok Risky. Ia menemukannya berdiri di dekat peron, mengenakan jaket kulit hitam, tampak seperti orang asing yang sedang menunggu kereta.

"Kau datang tepat waktu," ucap Risky tanpa menoleh, matanya tetap menatap jadwal keberangkatan kereta.

"Aku tidak punya pilihan lain," sahut Almira ketus. "Sekarang katakan, apa yang kau temukan tentang Hermawan?"

Risky memberi isyarat agar Almira mengikutinya berjalan menjauh dari kerumunan. Mereka berhenti di sudut peron yang agak sepi.

"Hermawan bukan sekadar staf biasa. Dia punya hutang judi yang besar di kasino-kasino bawah tanah di Atlantic City. Dia butuh uang cepat, dan seseorang memberinya jalan keluar. Tapi dia hanya pion kecil," Risky merendahkan suaranya. "Masalahnya, koper itu tidak mungkin lewat begitu saja dari pemeriksaan di Amerika kalau tidak ada 'stempel' diplomatik khusus. Ayahmu memberikan kepercayaan penuh pada Hermawan untuk mengurus logistik pengiriman barang, kan?"

Almira mengangguk lemah. "Ayah terlalu percaya padanya."

"Itu kesalahan fatalnya," Risky mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jaketnya. "Ini adalah salinan manifes pengiriman barang dari kedutaan. Ada yang janggal. Berat koper yang terdaftar di dokumen awal berbeda dengan berat saat ditimbang di Jakarta. Seseorang mengubah datanya di tengah jalan."

"Siapa yang bisa melakukan itu?"

Risky menatap Almira dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan peringatan. "Hanya orang yang punya akses ke sistem internal kementerian. Almira, kau harus paham satu hal. Ini bukan cuma soal narkoba. Ini soal pembersihan besar-besaran di departemen ayahmu. Ayahmu terlalu bersih, dan itu membuat orang lain tidak bisa bernapas. Mereka tidak hanya ingin dia dipenjara, mereka ingin namanya mati."

Tiba-tiba, ponsel Risky bergetar. Ia melihat layarnya dan wajahnya mengeras.

"Kita harus pergi sekarang," ucap Risky pendek.

"Ada apa?"

"Orang-orang yang menjebak ayahmu baru saja tahu kalau kau bersamaku. Dan mereka tidak suka ada pengacara liar yang ikut campur."

Risky menarik lengan Almira, membawa mereka berlari menembus kerumunan orang di stasiun. Di belakang mereka, dua pria berbadan tegap dengan jaket seragam ojek daring namun dengan tatapan yang terlalu tajam untuk seorang pengemudi, mulai mempercepat langkah mengejar mereka.

Almira menyadari satu hal: pencariannya akan jawaban baru saja dimulai, dan nyawanya kini menjadi taruhan kedua setelah ayahnya.

...****************...

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!