Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 22
Malam perlahan-lahan menyelimuti hamparan savana Memping dengan hawa dingin yang sangat menusuk tulang, namun anehnya suasana di pusat perkemahan terasa begitu tenang dan terkendali.
Api unggun dinyalakan di beberapa titik strategis di sekeliling tenda, memantulkan cahaya jingga kemerahan yang bergoyang-goyang lincah setiap kali tertiup angin malam yang kencang.
Aroma harum daging panggang mulai menyebar di udara, bercampur dengan bau khas rumput kering dan sisa tanah yang lembap oleh embun. Para prajurit Pasukan Elit terlihat bergantian menyantap jatah makan mereka sambil tetap memegang senjata, wajah-wajah mereka menunjukkan kewaspadaan tingkat tinggi meski guratan lelah setelah pertempuran siang tadi tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Di salah satu sisi perkemahan yang agak terpisah, Meng Xin, Qing Fei, dan Tang Ruo tampak menyantap hidangan yang disiapkan khusus untuk para pengawal tingkat tinggi. Meskipun hidangan itu terbilang sederhana bagi standar istana, namun porsinya cukup besar dan gizinya sangat layak bagi para pendekar yang memikul tanggung jawab besar dalam menjaga nyawa sang penguasa. Berbeda dengan ketiga pendekar wanita tersebut, Cao Yi justru duduk dan makan bersama Raja Yan Liao serta Permaisuri Bai Ling Yin.
Di sana, tidak terlihat adanya batasan kaku; Cao Yi duduk bersila dengan santai, makan tanpa menggunakan protokol resmi istana yang rumit, menunjukkan kedekatan yang luar biasa dengan pasangan penguasa tersebut.
“Eee, Yi’er… bisakah aku meminta sesuatu padamu?” tanya Yan Liao memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar sangat hati-hati, bahkan ada nada gugup yang terselip di sana, sesuatu yang sangat kontradiktif dengan wibawa seorang raja yang biasanya tegas dan tak tergoyahkan di hadapan ribuan rakyatnya. “Maksudku, bisakah kamu untuk sebisa mungkin tidak menunjukkan kemampuanmu yang… luar biasa itu selama sisa perjalanan ini? Kecuali tentu saja jika kita menghadapi musuh yang benar-benar berat dan tak tertandingi oleh pasukan pengawal.”
Yan Liao adalah Raja Negeri Liungyi, sosok agung yang sangat dihormati oleh rakyat dan ditakuti oleh para pejabat serta jenderal-jenderal perang yang keras. Namun, di dunia yang luas ini, hanya ada dua orang yang benar-benar mampu membuatnya kehilangan ketenangan seketika. Yang pertama adalah Ibunda Ratu yang bijaksana, dan yang kedua. yang secara mengejutkan paling membuatnya merasa tidak nyaman, adalah gadis yang kini sedang asyik mengunyah daging di hadapannya, Cao Yi.
Rasa gugup dan trauma ringan Yan Liao itu bukan tanpa alasan yang kuat. Kenangan lama dari masa remaja tiba-tiba saja berkelebat di benaknya. Saat itu, Yan Liao baru berusia delapan belas tahun dan sedang dipersiapkan menjadi pewaris takhta, sementara Cao Yi masih merupakan seorang gadis kecil berusia sebelas tahun yang mungil. Keduanya berlatih beladiri di bawah bimbingan ketat Jenderal Ziang Guang, sang jenderal legendaris yang disegani di seluruh negeri. Ketika sang jenderal besar sedang tidak berada di tempat atau harus menjalankan tugas negara, bakat beladiri yang mengerikan dan insting tajam Cao Yi justru membuat peran mereka berbalik secara drastis.
Gadis kecil itulah yang bertugas membimbingnya. Cao Yi saat itu memang bertubuh kecil, namun cara berpikir dan penguasaannya terhadap teknik beladiri jauh lebih dewasa serta lebih dalam melampaui usianya sendiri.
Setiap kesalahan kecil yang dilakukan Yan Liao dalam mempraktikkan jurus atau aliran tenaga dalam selalu berujung pada teguran yang sangat pedas. Nada suaranya akan berubah menjadi sangat galak, matanya menatap tajam seperti elang, tanpa ada sedikitpun rasa sungkan meskipun Yan Liao adalah seorang calon raja.
Pernah suatu kali, karena Yan Liao berulang kali mengulangi kesalahan fatal yang sama dalam langkah kaki, Cao Yi menarik telinganya dengan sangat kasar dan tanpa ampun hingga membuat telinganya memerah dan Yan Liao jatuh sakit demam selama dua hari penuh.
Tidak berhenti sampai di situ, berbagai hukuman latihan fisik yang ekstrim juga ia berikan tanpa ampun kepada Yan Liao. Mulai dari melakukan push-up di atas tanah yang berbatu tajam, berdiri berjam-jam dengan beban di kepala di bawah terik matahari, hingga diperintah untuk mengulang satu jurus yang sama sebanyak ratusan kali tanpa jeda.
Ironisnya, Ibunda Ratu yang mengetahui hal ini justru memberikan dukungan penuh terhadap metode latihan "keras" dari Cao Yi tersebut, karena menganggapnya sebagai bentuk tempaan mental dan fisik yang memang sangat diperlukan bagi seorang calon raja agar tidak menjadi pemimpin yang lemah.
Sejak saat itulah, rasa trauma dan sedikit rasa takut yang murni dalam diri Yan Liao terhadap Cao Yi tak pernah benar-benar bisa hilang, bahkan setelah ia naik tahta menjadi orang nomor satu di kerajaan. Itulah alasan sebenarnya mengapa Yan Liao meminta Permaisuri untuk meminta Cao Yi ikut serta dalam perjalanan ini, karena dia tidak berani mengatakannya sendiri kepada adik angkatnya itu.
“Tidak perlu Kakak Raja mengingatkanku berkali-kali,” jawab Cao Yi dengan nada yang sangat santai sambil tetap fokus menyantap makanannya. “Aku tahu persis kapan waktunya harus bertindak secara nyata, dan kapan aku harus menahan diri agar tidak menarik perhatian yang tidak perlu.”
“Iya… aku mengerti. Aku hanya tidak ingin keberadaanmu sebagai kartu as kita diketahui lebih awal oleh para wali kota dan gubernur korup di Kota Chuwei sebelum kita tiba disana,” balas Yan Liao dengan cepat, seolah-olah ia ingin segera mengakhiri topik pembicaraan yang membuatnya merasa tertekan itu.
“Kamu tidak perlu memusingkan hal-hal seperti itu, Kak Yan,” kata Cao Yi dengan nada datar namun mengandung otoritas. “Lebih baik kamu fokus sepenuhnya untuk menyusun langkah politik dan strategi pembersihan pejabat setelah kita tiba di Kota Chuwei nanti. Atau…” Cao Yi menoleh perlahan ke arah Yan Liao, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman yang bagi Yan Liao terlihat sangat mengancam, “kamu lebih memilih untuk aku latih beladiri lagi malam ini? Seingatku, sudah cukup lama aku tidak mengevaluasi kemajuan tenaga dalammu.”
Wajah Yan Liao langsung berubah pucat seketika mendengar tawaran "pelatihan" tersebut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera bangkit berdiri dari tempat duduknya dengan gerakan yang terburu-buru.
“Aku rasa aku baru ingat ada beberapa detail rencana yang harus segera kuselesaikan di dalam tenda,” katanya dengan nada bicara yang sangat cepat, lalu ia segera melangkah masuk ke dalam tendanya tanpa menoleh lagi, memilih opsi yang paling aman demi keselamatan telinga dan tubuhnya malam ini.
Begitu sosok Yan Liao menghilang di balik tirai tenda, suara tawa kecil yang merdu terdengar pecah. Permaisuri Bai Ling Yin tampak menutup mulutnya dengan tangan, bahunya sedikit berguncang hebat karena berusaha menahan tawa agar tidak terdengar oleh para prajurit di luar. “Memang hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengaturnya dengan mudah seperti itu, Adik Ipar. Kalau aku yang bicara dengan nada seperti itu, pasti dia akan mencari seribu satu alasan untuk membantahku.”
“Tentu saja,” jawab Cao Yi ringan, wajahnya kembali tenang. “Dia tidak akan pernah berani membantah kata-kataku, kecuali jika dia benar-benar ingin merasakan telinganya membengkak lagi karena aku tarik.”
Bai Ling Yin kembali tertawa kecil, merasa terhibur dengan dinamika unik antara suami dan adik angkatnya itu. Keduanya kemudian melanjutkan obrolan ringan mereka, membicarakan hal-hal sepele tentang kehidupan di istana hingga bunga-bunga yang sedang mekar, menciptakan suasana hangat dan akrab yang sangat jarang terlihat dalam perjalanan misi rahasia yang penuh dengan kewaspadaan tinggi seperti ini.
Seiring malam yang semakin larut dan udara yang semakin membeku, satu per satu api unggun mulai dipadamkan untuk menjaga kerahasiaan posisi perkemahan. Permaisuri Bai Ling Yin akhirnya pamit untuk masuk ke dalam tendanya guna beristirahat. Namun, Cao Yi memilih untuk tetap berada di luar. Ia duduk di atas tanah yang hanya ditumbuhi sedikit rumput kering, menyandarkan punggungnya pada sebuah batang kayu sisa, dan menatap langit malam yang bersih bertabur ribuan bintang yang berkilauan.
“Nona Cao Yi, hari sudah semakin larut, sebaiknya Anda juga masuk ke dalam tenda untuk beristirahat,” kata Meng Xin yang mendekat dengan langkah sangat halus. Nadanya kini terdengar jauh lebih sopan dan penuh rasa hormat sejak ia mengetahui identitas asli gadis itu sebagai adik angkat sang Raja. “Kami para pendekar istana yang akan mengambil alih tugas menjaga keamanan di sekeliling sini.”
“Terima kasih atas perhatianmu, Pendekar Meng,” jawab Cao Yi tanpa menoleh. “Namun aku belum merasa mengantuk sedikitpun. Biarkan aku tetap di sini menikmati udara malam. Kamu dan rekan-rekanmu sebaiknya lebih fokus berjaga di radius terdekat tenda Raja.”
Meng Xin membungkuk hormat dengan sangat dalam dan segera pergi menjalankan perintah tersebut. Setelah memastikan tidak ada lagi orang yang memperhatikannya, Cao Yi perlahan memejamkan matanya, duduk bersila dengan sempurna, dan mulai melakukan meditasi tingkat tinggi untuk menyerap sisa-sisa energi tenaga dalam dari Pendekar Ahli yang telah ia saring siang hari tadi.
Perlahan-lahan, kabut hitam yang sangat tipis mulai merembes keluar dari pori-pori tubuhnya. Kabut itu berputar secara perlahan di sekeliling tubuhnya, nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang karena warnanya yang menyatu dengan pekatnya kegelapan malam. Sebuah aura dingin yang sangat samar mulai menyebar di sekitarnya, namun Cao Yi mengendalikan energi itu dengan sangat presisi sehingga tidak cukup kuat untuk bisa dirasakan oleh indra para pendekar lain yang berada beberapa meter darinya.
Meskipun ia sedang berada dalam keadaan meditasi yang dalam, Cao Yi tetap membuka seluruh indra persepsinya terhadap dunia luar. Setiap desiran suara angin yang menerjang rumput, setiap gerakan kecil serangga di kejauhan, hingga detak jantung para prajurit yang sedang berjaga tak sedikit pun luput dari perhatiannya. Namun, beberapa saat kemudian, tubuhnya tampak sedikit bergoyang. Alisnya berkerut tajam, dan kelopak mata yang terpejam itu berkedut dengan gelisah. Hawa dingin yang jauh lebih pekat kini merembes keluar dari tubuhnya karena emosinya yang tiba-tiba bergejolak.
“Bau darah…” batinnya bergetar dengan kemarahan yang tertahan. “Aku mencium bau darah yang sangat menyengat dari arah yang cukup jauh di depan sana.”
Melalui indra persepsinya yang telah diperkuat oleh kekuatan unik dalam tubuhnya, Cao Yi mampu menangkap jejak energi jahat yang sangat kuat, setara dengan kekuatan Pendekar Ahli yang sedang dilepaskan tanpa kendali. Arah datangnya energi itu sangat jelas; dari sisi timur laut.
“Desa Memping…” gumamnya dalam hati dengan nada dingin. “Apakah sedang terjadi sebuah pembantaian besar di sana?”
Indra Cao Yi mampu menangkap getaran energi kematian dari jarak hampir sepuluh kilometer jauhnya. Dorongan dalam dirinya untuk segera bergerak, melesat menembus kegelapan malam, dan menyelidiki apa yang terjadi sangatlah kuat. Namun, akal sehatnya segera menahan dorongan insting tersebut. Ia sadar sepenuhnya bahwa keamanan Yan Liao dan Permaisuri adalah prioritas utama yang tak boleh ditinggalkan. Ia tahu betul bahwa jika dirinya pergi sekarang, bukan tidak mungkin sisa-sisa kelompok perampok siang tadi atau musuh misterius lainnya yang memiliki Pendekar Ahli akan memanfaatkan celah kekosongan tersebut untuk menyerang kembali dengan lebih brutal.
Akhirnya, dengan berat hati, Cao Yi hanya bisa menekan niatnya untuk menolong. Ia tetap duduk diam dalam meditasinya yang kelam, sementara di kejauhan sana, di Desa Memping yang damai, sebuah tragedi perampokan berdarah sedang berlangsung tanpa ada yang menghentikan. Tak seorang pun di perkemahan kerajaan itu yang menyadarinya; baik prajurit terbaik maupun para pendekar istana yang hebat. Tak seorang pun, kecuali Cao Yi yang terus menatap kegelapan dengan mata batinnya yang penuh dengan hawa kematian.