Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bocornya rahasia boneka pink
"Emang kenapa nggak boleh? Lo iri ya?" jawab Syren menggoda Gaby.
"Ya elah, Ren! Ngapain juga gue iri? Dah, lo kerjain semua tugas lo!" balas Gaby ketus, meskipun matanya masih melirik boneka beruang pink itu.
"Iya, iya, ini gue kerjain, Gaby cantikk," jawab Syren lalu beralih ke berkas-berkas di meja kerjanya.
"Idihhh," Gaby mendengus.
Tiba-tiba, Leo menghampiri meja mereka. "Gaby, kamu dipanggil tuh sama Pak Julian, disuruh ke ruangannya."
"Bukan Syren, Pak?" tanya Gaby bingung. Biasanya yang dipanggil ke ruangan bos ya Syren.
"Bukan," jawab Leo singkat.
"Lah, ada masalah apa sama pekerjaan gue?" Gaby menatap layar komputernya panik, merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa. Ia melirik Syren yang hanya mengangkat bahu, sama bingungnya. "Sial! Semoga bukan karena laporan pajak itu," gumam Gaby sambil beranjak menuju lift.
Tok tok tok. Gaby mengetuk pintu ruangan Julian.
"Masuk," jawab Julian dari dalam.
Gaby membuka pintu perlahan, memasang wajah paling sopan yang ia miliki. "Pagi, Pak Julian. Ada apa, Pak, manggil saya?" tanyanya hati-hati.
Julian tidak langsung menjawab. Ia memutar kursinya yang tadinya menghadap jendela, kini menghadap Gaby. Wajahnya yang biasanya lempeng, kini tampak dingin dan mengintimidasi.
"Kalian kemarin jadi 'kan ke Grand Indonesia?" tanya Julian, suaranya terdengar datar.
"Iya, Pak. Ada apa?" jawab Gaby makin bingung.
"Dari siapa boneka yang dibawa Syren?" tanya Julian, tatapannya tajam menembus Gaby.
"Ohhh, itu dari mantan nya Pak, kemarin si Gio..." Gaby menjawab polos, sebelum otaknya memproses pertanyaannya dan raut wajah Julian. "Ehh, anjir, keceplosan gue," batinnya panik setengah mati. Gaby langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, sadar dia baru saja membocorkan rahasia besar dan memicu amarah sang CEO.
Julian mendengar pengakuan Gaby langsung seketika berubah ekspresinya menjadi merah padam. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah Gaby.
"Keluar. Panggil Syren ke sini," perintah Julian dengan suara rendah yang menahan amarah.
"Iya, Pak," Gaby pun berlari keluar ruangan dan menuju lift dengan napas tersengal.
Sesampainya di meja kerja, Gaby menatap Syren dengan wajah bersalah.
"Ren, lo dipanggil Pak Julian," ucap Gaby. "Maaf ya, hehe," lanjutnya dengan senyum kaku.
"Kenapa?" tanya Syren bingung, mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas. Gaby hanya mengangkat bahu, tidak berani bilang apa-apa.
Syren menghela napas, membereskan mejanya sedikit, dan berjalan menuju lift, tidak menyadari bahwa bencana besar sedang menunggunya di lantai atas. Di tangannya, ia masih memegang boneka beruang pink dari Gio.
"Ngapain Gaby kayak orang nggak jelas?" batin Syren sambil menunjuk lift, merasa bingung dengan tingkah aneh sahabatnya itu.
Di depan ruangan Julian, Syren mengetuk pintu.
Tok tok tok. "Permisi, Pak Bos..."
"Masuk," jawab Julian dari dalam. Suaranya sangat berat dan penuh penekanan, membuat Syren sedikit merinding.
Syren pun masuk. Ia melihat bosnya itu melipat tangannya di dada sambil melihat Syren penuh selidik, tatapannya tajam menembus Syren dari atas sampai bawah.
"Kenapa Pak Bos manggil saya?" tanya Syren hati-hati.
"Duduk," Julian menyuruh Syren duduk di kursi depannya.
Syren pun duduk di kursi itu dengan perasaan campur aduk. Lalu Julian berdiri dan berjalan ke arah Syren.
Tiba-tiba saja Julian mengurung tubuh Syren di bawah kungkungannya. Kedua tangannya menumpu di meja, tepat di sisi kanan dan kiri Syren, membuat gadis itu tidak bisa bergerak. Wajahnya yang tegang dan merah padam kini sangat dekat dengan wajah Syren.
"Pak Bos kenapa?" tanya Syren ketakutan karena bosnya tiba-tiba mengurung tubuhnya, napasnya mulai tersengal.
"Dari siapa boneka pink di mejamu itu, Syren?" desis Julian, suaranya berat dan penuh amarah yang tertahan. Matanya menatap Syren tajam, menuntut jawaban jujur. Dia tidak peduli lagi dengan pekerjaan, yang dia inginkan hanya kejelasan.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui