NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Kelakuan Yuli & Romi part 3

Setelah selesai melayani semua pembeli yang datang, Romi merasa sedikit lelah namun senang karena dagangannya sudah banyak terjual. Dia kemudian menghampiri pos satpam untuk menitipkan dagangannya sebentar karena dia ingin pergi sholat Dzuhur di mushola yang terletak tidak jauh dari situ. "Pak Jaka... bolehkah saya titipkan dagangan saya sebentar ya Pak? Saya mau pergi sholat Dzuhur dulu di mushola," ucap Romi dengan suara sopan kepada Pak Jaka dan teman satpamnya yang bernama Pak Soleh.

"Tentu saja boleh mas Romi... kamu pergi aja dan jangan tergesa-gesa kembali. Kami akan menjaga daganganmu dengan baik," jawab Pak Soleh dengan senyum ramah, membuat Romi merasa lega. Setelah itu, Romi segera berjalan menuju mushola dengan langkah yang cepat.

Setelah beberapa menit kemudian, Romi kembali ke pos satpam dengan wajah yang sudah terlihat lebih tenang setelah sholat. "Terima kasih banyak ya Pak Jaka dan Pak Soleh sudah membantu menjaga dagangan saya," ucap Romi dengan suara penuh rasa syukur kepada kedua satpam tersebut.

"Ya sama-sama mas Romi... tidak apa-apa itu. Nah bagaimana? Dagangannya sudah banyak terjual ya mas?" tanya Pak Soleh yang bertubuh jangkung dan berbadan kekar dengan suara penuh rasa ingin tahu.

"Alhamdulillah Pak... sudah sekitar 25 mangkok terjual sejak pagi tadi. Rasanya cukup lumayan untuk membantu biaya sekolah dan kebutuhan rumah," jawab Romi dengan suara penuh rasa syukur, membuat kedua satpam tersebut juga merasa senang mendengarnya.

"Lumayan lah itu mas... cukup banyak juga untuk hasil penjualan sehari. Ooh ya mas... kalau boleh saya kasih tahu, coba aja kamu berjualan ke dalam kawasan BSD nanti siapa tahu ada banyak rejeki yang kamu dapatkan disana," ucap Pak Jaka yang berbadan pendek namun tetap memiliki tubuh yang kekar dengan suara penuh nasihat.

"Baik Pak... terima kasih banyak ya untuk infonya. Saya akan coba saja nanti ya," ucap Romi dengan senyum ceria, kemudian segera memikul kembali dagangannya dengan hati-hati. Dia mulai berjalan menuju arah kawasan perumahan elit BSD dengan mengeluarkan suara kentongan khasnya: "TEK... TEK... TEK... CUANGKIIIIIY... CUANGKIIIY!!!"

Tepat di depan pos besar gerbang utama kawasan BSD, Romi berhenti dan menghampiri satpam yang berjaga di sana dengan sikap yang sopan dan rendah hati. Dia melihat dua orang satpam yang sedang berjaga—satu bertubuh besar dengan wajah yang sedikit serius dan yang satunya lagi lebih muda dengan wajah yang lebih ramah.

"Assalamualaikum Pak... permisi ya Pak. Bolehkah saya masuk dan berdagang keliling di dalam perumahan ini? Saya menjual bakso Cuangki yang enak dan harganya juga terjangkau lho Pak," tanya Romi dengan nada yang sangat santun dan penuh rasa hormat kepada kedua satpam tersebut.

"Wa'alaikumussalam mas... boleh saja kamu masuk tapi kamu harus membayar uang kepada kami dulu ya," ucap satpam yang bertubuh besar dengan suara yang sedikit kasar, membuat Romi sedikit terkejut mendengarnya.

"Kalau boleh tahu berapa besar uang yang harus saya bayar ya Pak satpam?" tanya Romi kembali dengan suara yang sedikit canggung, mulai merasa khawatir karena khawatir uang yang dia miliki tidak cukup untuk membayarnya.

"Murah bangeeeet mas... cuma GOPEKCENG aja sudah cukup," ucap satpam muda tersebut dengan suara yang cukup riang, membuat Romi semakin bingung mendengarnya.

"Gopekceng itu berapa ya Pak satpam? Saya kurang mengerti bahasa gaul seperti itu," tanya Romi dengan wajah penuh kebingungan, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh satpam muda tersebut.

"Masnya kurang gaul banget ya... 'GOPEKCENG' itu artinya lima ratus ribu rupiah mas! Itu sudah sangat murah untuk bisa berjualan di dalam komplek yang besar dan banyak penghuninya kayak gini," ucap satpam muda dengan suara yang semakin jelas, membuat Romi langsung terkejut dan wajahnya menjadi pucat.

"Ya Allah... lima ratus ribu rupiah? Itu sangat besar sekali untuk saya Pak satpam. Hasil penjualan saya dari pagi sampai sekarang baru sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah saja," ucap Romi dengan suara yang penuh kekhawatiran, tangannya yang memegang tali dagangannya mulai sedikit gemetar karena khawatir tidak bisa masuk ke dalam komplek tersebut.

"Ya udah kalau masnya tidak mau bayar, ya tidak usah berjualan di dalam komplek BSD ini! Jangan mengganggu penghuni yang sedang beristirahat atau sibuk dengan urusannya masing-masing," ucap satpam besar dengan suara yang semakin kasar, wajahnya mulai memerah membara karena sedang menahan amarah melihat Romi yang tampaknya tidak mau mengikuti peraturan mereka.

"Maaf banget ya Pak satpam... saya baru saja mulai berjualan baru laku 25 mangkok jadi belum banyak yang beli. Uang saya juga tidak cukup untuk membayar sebanyak itu Pak," ucap Romi dengan suara yang sangat sopan dan penuh rasa minta maaf, kepalanya sedikit menunduk sebagai bentuk penghormatan.

Melihat kondisi Romi yang terlihat sangat susah dan tulus, akhirnya hati satpam yang berbadan besar tersebut mulai tergerak iba. Dia menghela napas panjang dan kemudian mengangguk perlahan. "Ya udah lah... daripada kamu tidak bisa masuk sama sekali, kamu cukup titipkan KTP kamu kepada kami saja. Kalau begitu kamu bisa langsung masuk ke dalam komplek ini tanpa perlu membayar apa-apa," ucapnya dengan suara yang lebih lembut dibandingkan tadi, menunjukkan bahwa dia memang memiliki hati yang baik.

"KTP? Kenapa harus menggunakan KTP ya Pak satpam? Apakah ada masalah jika saya tidak membawa KTP?" tanya Romi kembali dengan suara yang sedikit canggung, karena saat ini dia tidak membawa KTP dan hanya membawa kartu pelajar sekolahnya saja. Lagipula usia 16 tahun masih belum diperbolehkan membuat KTP.

"Itu sudah menjadi SOP dan aturan resmi di kompleks ini mas. KTP kamu akan kami simpan sebagai jaminan agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam komplek—seperti kerusuhan atau kehilangan barang milik penghuni—kami bisa tahu siapa yang harus ditanyakan. Itu hanya untuk keamanan bersama saja," ucap satpam yang berbadan besar dengan suara yang jelas dan tegas, menjelaskan alasannya kepada Romi.

"Mohon maaf ya Pak satpam... saya tidak membawa KTP hari ini. Cuma membawa kartu pelajar sekolah saya saja. Bolehkah pakai kartu pelajar sebagai gantinya?" tanya Romi dengan suara yang penuh harapan, segera mengeluarkan dompet kecil yang selalu dia bawa untuk mengambil kartu pelajarnya.

Pak satpam yang berbadan besar mengerutkan alisnya dan kemudian mulai menatap Romi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cermat. Dia melihat Romi yang mengenakan baju sederhana, tas yang sudah lama digunakan, dan dagangan bakso yang terlihat sangat sederhana. Wajah Romi yang penuh kejujuran dan rasa hormat membuatnya semakin yakin bahwa anak muda ini bukanlah orang yang akan melakukan hal buruk.

Setelah beberapa saat berdiam diri, akhirnya satpam yang berbadan besar tersebut mengangguk perlahan. "Baiklah mas... kalau begitu kamu boleh menggunakan kartu pelajar sebagai gantinya. Tapi kamu harus janji ya bahwa kamu akan berjualan dengan tertib dan tidak akan mengganggu penghuni komplek!"

"Insya Allah Pak... saya janji akan selalu menjaga sopan santun dan tidak akan mengganggu siapapun," ucap Romi dengan suara yang penuh keyakinan, memberikan kartu pelajarnya kepada satpam besar tersebut.

Setelah memeriksa kartu pelajar Romi dengan cermat dan memastikan bahwa dia memang masih pelajar SMA Harapan Bangsa, satpam berbadan besar tersebut mengangguk puas. Jempolnya menyentuh bagian plastik kartu yang masih mengkilap, seolah merenungkan di usia Romi yang tergolong masih muda dirinya sudah bekerja keras. "Baiklah mas Romi... kamu boleh masuk saja sekarang. Jangan lupa mengambil kartu pelajarmu ketika kamu mau keluar ya," ucapnya dengan suara yang sudah jauh lebih ramah, bahkan ada sedikit rasa hormat di dalamnya.

"Terima kasih banyak ya Pak satpam... semoga Allah SWT memberikan berkah kepada bapak dan keluarga," ucap Romi dengan penuh rasa syukur, tangannya yang sedikit berkeringat dengan hati-hati mengangkat pikulan bakso di pundaknya. Kemudian segera memasuki kawasan komplek BSD dengan hati yang penuh harapan. Jalan aspal yang mulus dan bersih membuat langkahnya lebih ringan dibandingkan jalan tanah di kampungnya, sementara pepohonan besar yang rindang memberikan keteduhan yang menyegarkan setelah terpapar sinar matahari cukup lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!