Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Logika vs Dunia tak terlihat
Kiara menatap layar laptopnya dengan mata lelah, jari-jarinya bergerak cepat di keyboard. Tab browser sudah lebih dari sepuluh. Forum. Artikel psikologi. Blog supranatural abal-abal. Jurnal tentang pengalaman mendekati kematian. Video orang-orang yang mengaku bisa melihat makhluk halus.
Tidak ada satu pun yang terasa… benar.
Sky berdiri di samping meja, membaca judul-judul artikel dengan ekspresi penasaran.
“‘Kenapa roh gentayangan tidak bisa move on’,” baca Sky. “Kedengarannya kayak artikel motivasi.”
“Sebagian besar memang clickbait,” jawab Kiara datar. “Isinya juga muter-muter.”
Ia men-scroll lagi.
unfinished business, trauma kematian, energi emosi kuat, ikatan dunia.
“Semua jawabannya terlalu umum,” gumam Kiara. “Nggak ada yang spesifik. Nggak ada yang cocok sama kamu.”
Sky mencondongkan tubuh ke layar, walau matanya tidak pernah benar-benar fokus karena refleksi monitor tidak menangkapnya.
“Mungkin aku punya urusan yang belum selesai,” katanya.
“Semua artikel bilang itu,” balas Kiara. “Itu kayak bilang, ‘kamu capek karena kurang tidur’. Ya jelas. Tapi kenapa?”
Sky terdiam. “Aku pengen tahu juga.”
Kiara membuka tab baru.
Kasus orang melihat hantu spesifik satu orang.
Kenapa hanya satu orang bisa melihat roh.
Hasilnya nihil. Lebih banyak cerita horor fiksi daripada pengalaman nyata. Sisanya penuh iklan, ramalan, dan orang yang menawarkan jasa “pembersihan energi”.
“Ini nggak ilmiah,” gumam Kiara.
Sky melirik. “Kamu nyari yang ilmiah buat kasus hantu?”
“Justru karena ini nggak masuk akal, aku butuh sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan,” jawab Kiara cepat. “Bukan cerita orang yang klaim bisa lihat jin tapi juga jual minyak penglaris.”
Sky menahan senyum. “Kamu keras kepala.”
“Aku realistis.”
Beberapa menit berlalu. Jam dinding berdetak pelan. Rafa tertidur di ruang tamu. Rumah sunyi. Hanya suara kipas dan klik mouse.
Kiara akhirnya bersandar di kursi. “Oke. Kesimpulan sementara. Internet nggak membantu.”
Sky menggaruk tengkuk. “Kalau gitu… gimana kalau kita tanya orang yang memang bisa lihat dunia kayak aku?”
Kiara menoleh. “Maksud kamu?”
“Indigo. Atau… dukun?”
Kiara menatapnya lama. Sangat lama.
“…Serius?”
“Iya. Bukannya itu masuk akal?” kata Sky polos. “Kalau ada orang yang bisa lihat aku, mereka mungkin tahu kenapa aku masih di sini.”
Kiara tertawa pendek, kering. “Masalahnya, aku nggak percaya.”
Sky mengernyit. “Sama sekali?”
“Aku percaya data. Bukti. Pola. Bukan klaim,” jawab Kiara. “Orang-orang yang teriak paling keras soal kemampuan supranatural biasanya yang paling ingin diperhatikan. Atau paling ingin duit.”
“Tapi aku nyata,” Sky menyela.
Kiara terdiam sebentar. Lalu mengangguk kecil. “Iya. Kamu pengecualian. Dan itu justru bikin aku lebih curiga.”
“Curiga sama apa?”
“Kalau ada orang yang benar-benar punya kemampuan kayak aku, atau lebih kuat, mereka pasti nggak akan pamer,” kata Kiara pelan. “Mereka bakal sembunyi.”
Sky menatapnya. “Kenapa?”
Kiara memutar kursinya sedikit, menatap langit-langit. “Karena dunia ini kejam sama hal-hal yang nggak bisa dijelasin. Kalau kamu bilang bisa lihat hantu, orang pertama-tama bakal bilang kamu halu. Kalau kamu buktiin, mereka bakal takut. Kalau mereka takut, mereka bakal menjauh. Atau lebih parah… mereka bakal manfaatin kamu.”
Sky mencerna itu. “Kamu yakin?”
Kiara menoleh, menatap matanya. “Kalau aku yang punya kemampuan itu, aku pasti akan menyembunyikannya. Aku nggak mau dianggap gila. Aku nggak mau jadi tontonan. Aku nggak mau hidupku berubah cuma karena orang lain nggak bisa terima sesuatu yang beda.”
Sky terdiam. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
“Jadi menurut kamu,” katanya pelan, “orang yang benar-benar bisa… mereka hidup normal. Pura-pura nggak bisa.”
“Ya,” jawab Kiara tanpa ragu. “Karena itu cara paling aman.”
Sky menelan ludah. “Tapi kamu nggak pura-pura.”
Kiara terdiam.
“Karena aku sudah terlanjur lihat kamu,” lanjut Sky. “Dan aku nggak bisa pura-pura kamu nggak ada.”
Udara di kamar terasa lebih berat.
Kiara mengalihkan pandangan. “Itu beda.”
“Bedanya apa?”
“Kamu… bergantung sama aku sekarang,” jawab Kiara jujur. “Kalau aku pura-pura nggak lihat kamu, itu sama aja ninggalin kamu. Dan aku nggak-” Ia berhenti. “Aku nggak nyaman dengan itu.”
Sky menatapnya, lebih lama dari biasanya.
“Kiara,” katanya pelan, “kamu baik.”
Kiara mendengus. “Aku cuma nggak tega.”
“Itu definisi baik menurutku.”
Kiara kembali ke laptop, mengetik tanpa benar-benar fokus.
“Oke. Secara logika,” katanya, “kita butuh informasi dari sumber yang lebih dekat dengan kasus kamu. Bukan artikel umum.”
“Berarti… indigo?” Sky mencoba lagi.
Kiara menghela napas panjang. “Kalau pun aku mau, kita nggak bisa sembarang datang ke orang yang pasang papan ‘Bisa Lihat Hantu’. Mayoritas penipu.”
“Gimana kalau ada yang beneran?” Sky bersikeras.
“Kalau ada yang beneran,” kata Kiara tenang, “mereka nggak akan pasang papan.”
Sky terdiam lagi. “Kamu pesimis.”
“Aku protektif.”
“Protektif sama siapa?”
“Sama diri sendiri. Dan sama kamu,” jawab Kiara pelan.
Sky menatapnya, ekspresinya melembut. “Aku nggak nyangka kamu bakal sejauh itu.”
“Jangan GR.”
“Terlambat.”
Kiara menutup laptop dengan klik pelan. “Untuk sekarang, kita pakai caraku dulu.”
“Caramu itu apa?”
“Observasi,” jawab Kiara. “Kita kumpulin petunjuk dari kamu. Ingatan kecil. Sensasi. Tempat yang bikin kamu ngerasa beda. Hujan, suara klakson, lampu jalan. Itu bukan kebetulan.”
Sky mengangguk. “Kamu kayak detektif.”
“Detektif yang kejebak kasus supranatural,” balas Kiara. “Aku juga nggak minta.”
Sky tersenyum tipis. “Tapi kamu tetap lakuin.”
Kiara terdiam, lalu berkata pelan, “Karena kamu bukan file di laptop yang bisa aku close.”
Sky menatapnya, ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang lebih hangat. Lebih manusia.
“Aku senang aku ketemu kamu,” katanya jujur.
Kiara menoleh cepat. “Jangan ngomong gitu.”
“Kenapa?”
“Karena itu bikin aku mikir kamu bakal beneran hilang suatu hari.”
Sky terdiam.
“Aku juga mikirin itu,” katanya lirih. “Dan itu… bikin aku takut.”
Kiara mengepalkan tangan di pangkuannya. “Makanya kita cari jawaban. Dengan cara yang nggak bikin kita terjebak sama orang yang salah.”
Sky mengangguk pelan. “Oke. Aku percaya kamu.”
Kepercayaan itu terasa lebih berat dari yang Kiara kira.
Karena sekarang, ini bukan cuma soal rasa ingin tahu.
Ini tentang memastikan seseorang, walau sudah mati, tidak benar-benar sendirian.
Dan di balik logika, data, dan skeptisisme yang Kiara banggakan. Ada satu kenyataan yang mulai ia sadari, meski enggan mengakuinya.
Dia tidak hanya ingin membantu Sky karena penasaran.
Dia ingin membantu… karena ia sudah peduli.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada percaya pada hantu, dukun, atau indigo mana pun.