Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pengakuan yang Tak Terduga
Gus Azkar masih terpaku di kursinya, matanya menatap kosong ke arah pintu tempat Rina dan Ustadz Zidan menghilang tadi. Pikirannya benar-benar kacau. Bayangan wajah Rina yang menangis dengan mata indahnya seolah terkunci rapat di dalam ingatannya.
Tiba-tiba, sebuah tepukan keras mendarat di bahunya, membuat Gus Azkar tersentak kaget.
"Astagfirullah!" seru Gus Azkar sambil menoleh tajam.
Di sampingnya, berdiri Ustadz Fadly, sahabat karib Gus Azkar sejak kecil. Berbeda dengan Azkar yang kaku, Fadly adalah sosok yang ceria dan sangat peka terhadap perubahan ekspresi sahabatnya itu. Ustadz Fadly tersenyum jahil, seolah baru saja menemukan rahasia besar.
"Lo kenapa, Zaka? Kok bengong sendirian?" tanya Fadly sambil menarik kursi dan duduk di depan meja Gus Azkar. Ia sengaja memanggil nama aslinya untuk menunjukkan keakraban. "Mikirin gadis bercadar yang tadi dipaksa buka cadar itu, ya?"
Gus Azkar segera memperbaiki posisi duduknya, kembali memasang wajah dingin yang menjadi topeng andalannya. "Jangan bicara sembarangan, Fadly. Saya hanya sedang memikirkan takzir untuk santri-santri tadi."
Ustadz Fadly tertawa kecil, tidak percaya sedikit pun dengan alasan itu. "Halah, jangan bohong sama gue. Gue lihat sendiri tadi gimana ekspresi lo waktu cadarnya lepas. Lo kayak patung yang kena sihir, tahu nggak?"
Fadly mencondongkan tubuhnya ke arah meja, suaranya merendah namun penuh nada menggoda. "Tapi jujur saja, Kar... dia cantik sekali. Baru kali ini gue lihat ada santriwati di sini yang parasnya seadem itu, apalagi matanya. Pantesan Zidan langsung sigap banget nemenin dia pulang."
Mendengar nama Ustadz Zidan disebut, rahang Gus Azkar mengeras secara spontan. Ada rasa panas yang aneh menjalar di dadanya—rasa cemburu yang bahkan belum ia sadari namanya.
"Zidan hanya menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Kondisi Rina memang sedang tidak stabil," jawab Gus Azkar dengan nada suara yang lebih berat dan dingin dari biasanya.
Ustadz Fadly menyeringai. Ia tahu betul kalau sahabatnya ini sedang dalam mode "penyangkalan". "Iya, tugas memang tugas. Tapi lo lihat nggak tadi matanya Zidan? Itu bukan sekadar tatapan kasihan, Kar. Itu tatapan orang yang baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama. Kalau lo nggak gerak cepat, bisa-bisa keduluan sama ustadz muda itu."
Gus Azkar terdiam seribu bahasa. Kalimat Fadly barusan seperti hantaman keras tepat di ulu hatinya. Jatuh cinta pada pandangan pertama? mungkinkah itu juga yang sedang ia rasakan sekarang.
"Gue cuma mau ngingetin," lanjut Fadly sambil berdiri, bersiap pergi. "Hati itu titipan, jangan sampai menyesal karena terlalu gengsi untuk mengakui kalau lo juga terpesona. Dia itu santri pilihan, Gus. Bukan cuma pilihan ustadz-ustadz di sini, tapi kayaknya sudah terpilih buat bikin lo galau tujuh keliling."
Fadly melenggang keluar sambil bersiul kecil, meninggalkan Gus Azkar yang kini meremas pulpen di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ucapan Fadly benar, kecantikan Rina memang luar biasa, namun kepedihan di mata gadis itulah yang benar-benar membuat Gus Azkar sulit bernapas.
"Jujur saja... memang cantik sekali," bisik Gus Azkar akhirnya pada ruangan yang kosong, mengakui apa yang sedari tadi ia sangkal di hadapan sahabatnya.
Suasana di dalam ruangan yang tadinya hanya diisi oleh suara detak jam dinding, tiba-tiba menjadi sangat hening dan kaku.