NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat yang Tak Seharusnya Ada

Pagi di lereng Gunung Qingyun datang pelan, seperti malu-malu. Cahaya matahari pertama menyusup melalui celah atap jerami, menari di lantai tanah yang sudah dipadatkan bertahun-tahun. Shen Yi bangun lebih dulu, seperti biasa. Dia menggosok mata, meregangkan badan, lalu langsung menyalakan tungku kecil. Api kemarin masih menyisakan bara hangat; tinggal ditambah kayu kering yang dia kumpulkan semalam.

Lian'er masih terbaring di tikar tebal. Napasnya sudah lebih teratur, meski wajahnya tetap pucat. Kulit transparannya sedikit memudar—sekarang lebih mirip kulit manusia biasa yang kedinginan parah daripada kristal es yang hidup. Selimut tipis yang Shen Yi tarik semalam sudah melorot ke samping, memperlihatkan lengan kirinya yang ada bekas luka tipis berwarna biru kehitaman, seperti urat es yang membeku di bawah kulit.

Shen Yi mendekat pelan, tak ingin membangunkannya terlalu kasar. Dia berlutut, memeriksa nadi lagi. Jarinya menyentuh pergelangan tangan Lian'er—masih dingin, tapi tak se ekstrem kemarin. Aliran hangat kecil itu muncul lagi, seperti ada sungai kecil yang mengalir dari tubuh Shen Yi ke tubuh Lian'er. Dia mengerutkan kening, bingung sendiri.

“Kenapa bisa begini?” gumamnya pelan. “Meridian orang normal nggak tahan energi dingin sekuat ini. Tapi kok saya malah ngerasa nyaman?”

Dia menggeleng, memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Yang penting, pasiennya membaik.

Shen Yi bangkit, mengambil panci kecil dan mengisinya dengan air dari kendi tanah liat. Dia menambahkan potongan jahe liar, beberapa helai daun mint gunung, dan sedikit madu yang dia simpan khusus untuk musim dingin. Aroma manis-pedas segera memenuhi gubuk kecil itu.

Saat air mulai mendidih, Lian'er membuka mata. Tatapannya langsung tertuju pada Shen Yi yang sibuk di depan tungku.

“Kau masih di sini,” katanya, suaranya serak tapi sudah lebih kuat dari kemarin.

Shen Yi menoleh, tersenyum lebar. “Mau ke mana lagi? Ini rumah saya. Nona Lian'er mau sarapan dulu? Sup jahe ini bagus buat menghangatkan tubuh. Lukanya juga perlu nutrisi.”

Lian'er mencoba duduk. Tubuhnya masih lemah, tapi dia berhasil bersandar ke dinding kayu. Dia memandang sekeliling lagi. Gubuk sederhana ini terasa asing baginya. Tak ada permadani sutra, tak ada dupa wangi, tak ada pelayan yang menunduk hormat. Hanya tungku kecil, rak obat yang penuh botol-botol kaca buram, dan bau kayu bakar bercampur herbal.

“Kau hidup sendirian di sini?” tanyanya.

“Iya. Guru meninggal lima tahun lalu. Sejak itu ya begini aja.” Shen Yi menuang sup ke mangkuk kayu sederhana.

Dia menyodorkan mangkuk itu. Lian'er menerimanya dengan hati-hati, seolah takut menyentuh jari Shen Yi lagi. Tapi saat ujung jarinya tak sengaja bersentuhan, aliran hangat itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya. Lian'er tersentak kecil, hampir menumpahkan sup.

Shen Yi memperhatikan. “Nona kenapa? Sakit?”

“Tidak...” Lian'er menatap tangannya sendiri.

“Kau... membawa kehangatan yang aneh. Seperti ada api kecil di dalam meridianmu.”

Shen Yi tertawa ringan. “Api kecil? Saya cuma manusia biasa kok. Mungkin karena saya sering minum ramuan penghangat sendiri. Badan jadi panas terus.”

Lian'er tak menjawab. Dia meniup sup pelan, lalu menyeruput sedikit. Rasa jahe pedas langsung menyebar, membawa kehangatan yang lama tak dia rasakan. Matanya sedikit membesar—ini bukan sekadar rasa, ini seperti energi yang meresap ke dalam es di tubuhnya.

“Enak?” tanya Shen Yi sambil duduk di depannya, memeluk lutut.

Lian'er mengangguk pelan. “...Terima kasih.”

Shen Yi menggaruk kepala, agak malu. “Ah, biasa aja. Tabib mana yang nggak kasih makan pasien.”

Mereka diam sejenak. Hanya suara kayu bakar yang berderit dan angin yang menderu di luar. Lian'er memandang Shen Yi dengan tatapan yang lebih dalam dari kemarin.

“Kau tahu siapa aku sebenarnya?” tanyanya tiba-tiba.

Shen Yi menggeleng. “Nona bilang Dewi Teratai. Saya cuma tahu teratai itu bunga yang indah, tumbuh di air, dan bisa jadi obat buat panas dalam. Selain itu nggak tahu apa-apa.”

Lian'er tersenyum tipis. Senyum yang hampir tak terlihat, tapi cukup membuat Shen Yi terpana sebentar.

“Aku adalah Bai Lian, reinkarnasi dari Dewi Teratai Suci. Tubuhku membawa kutukan abadi. Siapa pun yang menyentuhku akan membeku jadi patung es dalam hitungan nafas. Kecuali kau.”

Shen Yi mengedip beberapa kali. “Patung es? Serius?”

“Serius.”

Shen Yi diam sejenak, lalu tertawa kecil. “Wah, berarti saya beruntung sekali ya? Atau mungkin sial, kalau saja Nona marah dan sengaja bekukan saya.”

Lian'er memandangnya dengan ekspresi tak percaya. “Kau tidak takut?”

“Takut sih takut,” jawab Shen Yi jujur. “Tapi Nona lagi sakit. Kalau saya takut terus, siapa yang rawat Nona? Lagipula, Nona nggak kelihatan jahat. Dingin iya, tapi jahat kayaknya nggak.”

Lian'er menunduk ke mangkuk supnya. Untuk pertama kalinya dalam ingatannya yang panjang, ada manusia yang melihatnya bukan sebagai dewi yang harus disembah atau ditakuti, melainkan sebagai orang yang sakit.

“Aku harus pergi,” katanya pelan. “Kutukan ini semakin parah. Aku harus mencari Air Teratai Abadi di Pulau Teratai Mistis. Kalau tidak, tubuhku akan benar-benar membeku selamanya.”

Shen Yi mengerutkan kening. “Pulau Teratai Mistis? Itu di mana?”

“Di lautan timur, tersembunyi di balik kabut abadi. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menemukannya.”

Shen Yi mengangguk-angguk, meski jelas dia tak paham sepenuhnya. “Jauh ya? Nona bisa jalan belum? Lukanya masih parah. Kalau dipaksa jalan sekarang, bisa tambah parah.”

“Aku tidak punya pilihan. Pemburu dari Sekte Es Hitam sudah mengejarku. Mereka ingin mengambil inti teratai di tubuhku untuk membuat pil keabadian.”

Shen Yi terdiam. “Sekte Es Hitam? Itu sekte jahat yang suka bunuh orang buat ambil energi dalam?”

“Kau tahu mereka?”

“Saya pernah dengar dari pedagang obat yang lewat desa. Katanya mereka kejam, pakai ilmu es gelap. Tapi saya nggak pernah lihat sendiri.”

Lian'er memandang ke pintu gubuk. “Mereka sudah dekat. Aku bisa merasakan energi dingin mereka.”

Shen Yi bangkit cepat. “Kalau begitu, Nona istirahat dulu. Saya keluar cek sekitar. Kalau ada yang aneh, saya kasih tahu.”

Lian'er ingin protes, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Dia hanya mengangguk pelan.

Shen Yi mengambil tongkat kayu pendek, bukan senjata, cuma tongkat buat jalan di medan curam lalu keluar. Angin dingin langsung menyambutnya, membawa butir salju halus. Dia berjalan menyusuri lereng, mata menyapu pepohonan dan semak-semak.

Tak lama, dia melihat jejak kaki. Bukan jejak biasa. Itu terlalu rapi, terlalu dalam, seolah orang yang lewat tak menyentuh tanah sepenuhnya. Di dekat pohon besar, ada tanda aneh. es tipis membentuk pola bunga teratai hitam di tanah.

Shen Yi mengerutkan kening. “Ini tidak wajar.”

Dia berbalik hendak kembali, tapi tiba-tiba angin berubah arah. Dingin yang lebih tajam menyelimuti tubuhnya. Dari balik kabut, muncul tiga sosok berjubah hitam. Wajah mereka tertutup topeng perak berbentuk teratai retak.

“Manusia biasa,” kata salah satunya, suaranya dingin seperti angin musim dingin. “Kau menyembunyikan Dewi Teratai?”

Shen Yi mundur selangkah. “Eh kalian siapa? Kalau mau beli obat, buka topeng dulu dong. Susah bicaranya.”

Pemimpin mereka yang paling tinggi tertawa dingin. “Bodoh. Kau berani menyentuh apa yang tak boleh disentuh. Serahkan dia, atau mati di sini.”

Shen Yi menggenggam tongkat lebih erat. “Nona Lian'er lagi istirahat. Dia sakit. Kalian mau apa sih sama orang sakit?”

“Dia bukan orang. Dia adalah kunci keabadian.” Pemimpin itu mengangkat tangan. Es hitam muncul di telapaknya, membentuk bilah pedang tipis. “Kau punya tiga tarikan napas untuk memutuskan.”

Shen Yi menelan ludah. Dia bukan pendekar. Dia bahkan tak pernah belajar ilmu silat sungguhan. Tapi matanya tak gentar.

“Kalau kalian mau ambil Nona Lian'er, lewati saya dulu.”

Tawa dingin meledak dari ketiganya. Pemimpin maju selangkah, pedang esnya menyala gelap.

Tepat saat itu, dari dalam gubuk terdengar suara lembut tapi tegas.

“Cukup.”

Lian'er berdiri di ambang pintu, tubuhnya masih goyah tapi matanya menyala dingin. Di tangannya, kelopak teratai putih muncul dari udara kosong, berputar pelan seperti perisai.

“Shen Yi mundur.”

Shen Yi menoleh, terkejut. “Nona Lian'er! Nona belum sembuh!”

Lian'er tak menjawab. Dia melangkah maju, meski setiap langkah terasa berat. Kelopak teratai di sekitarnya semakin banyak, membentuk lingkaran pelindung di depan Shen Yi.

Pemimpin Sekte Es Hitam menyipitkan mata. “Dewi Teratai, kau masih bisa bertarung dalam kondisi seperti ini?”

Lian'er tak bicara. Dia hanya mengangkat tangan. Kelopak teratai meluncur seperti pisau, menyerang ketiga pemburu itu.

Pertarungan singkat tapi sengit terjadi. Es hitam bertabrakan dengan teratai putih. Udara dipenuhi suara retak dan hembusan dingin. Shen Yi hanya bisa berdiri di belakang, jantung berdegup kencang.

Tapi Lian'er lemah. Setelah beberapa serangan, tubuhnya limbung. Es mulai merayap lagi di kulitnya.

Shen Yi tak berpikir lagi. Dia berlari maju, melewati kelopak teratai, dan langsung memeluk pinggang Lian'er dari belakang menariknya mundur.

“Sudah! Nona Lian'er, cukup!”

Saat tubuh Shen Yi menempel pada Lian'er, aliran hangat yang kuat sekali mengalir dari dirinya. Es di tubuh Lian'er mundur seketika, seperti salju yang mencair di bawah matahari. Lian'er tersentak, napasnya terengah.

Pemburu-pemburu itu juga terkejut. Pemimpin mereka mundur selangkah.

“Ini... mustahil. Manusia biasa tak bisa membatalkan energi es kita.”

Shen Yi tak peduli. Dia masih memeluk Lian'er, suaranya tegas meski gemetar.

“Pergi. Kalau kalian masih mau ambil Nona Lian'er, kalian harus bunuh saya dulu.”

Ketiga pemburu saling pandang. Pemimpin mengangkat tangan sebagai tanda mundur.

“Kita pergi dulu. Tapi ini belum selesai, Dewi Teratai. Dan kau, manusia kau sudah menandatangani surat kematianmu sendiri.”

Mereka menghilang ke dalam kabut, meninggalkan jejak es hitam yang perlahan mencair.

Shen Yi melepaskan pelukannya pelan. Lian'er hampir jatuh, tapi dia menahannya.

“Nona baik-baik saja?”

Lian'er memandangnya dengan mata yang penuh tanya dan sesuatu yang lebih lembut.

“Kau memelukku. Dan kutukan mundur.”

Shen Yi tersenyum kecut. “Maaf kalau kurang sopan. Panik soalnya.”

Lian'er menggeleng pelan. “Tidak. Terima kasih.”

Mereka kembali ke dalam gubuk. Lian'er duduk lemas, Shen Yi buru-buru membuat ramuan baru kali ini campuran akar teratai salju yang dia cari kemarin.

Saat Shen Yi menyerahkan mangkuk itu, Lian'er memegang tangannya, bukan karena tak sengaja, tapi sengaja.

“Shen Yi,” katanya pelan. “Aku... mungkin perlu bantuanmu.”

Shen Yi mengangguk tanpa ragu. “Bilang aja. Mau ke pulau itu, kan? Saya ikut.”

Lian'er terkejut. “Kau tahu risikonya?”

“Risiko apa? Dingin? Saya biasa. Jahat? Saya nggak takut kalau ada Nona.”

Lian'er menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya.

Di luar, salju semakin deras. Tapi di dalam gubuk kecil itu, untuk pertama kalinya, kehangatan sungguhan mulai tumbuh. Bukan dari api tungku, tapi dari dua hati yang seharusnya tak pernah bertemu.

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!