Elea dan Ghazi harus menikah karena perjodohan kilat yang di buat oleh kedua orang tua mereka yang random.
Gadis bar-bar yang tomboy harus menikah dan hidup bersama dengan pria yang tengil dan menyebalkan. Apalagi di sekitar Ghafi ada banyak wanita yang selalu menganggu rumah tangganya. Sanggupkah Elea menghadapi mereka di tengah rumah tangga yang gonjang-ganjing tanpa adanya cinta di antara mereka.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka? Pastinya hanya akan di penuhi dengan pertengkaran dan keributan. Mereka tak pernah akur dan selalu adu mulut setiap bertemu seperti Tom and Jerry. Apakah pada akhirnya mereka akan saling mencintai ataukah akan memilih jalannya sendiri-sendiri?
Yuk, ikuti terus kisah cinta mereka! Cekidot!
Jangan lupa baca juga buku othor yang lain ya kak. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elea-Ghazi 8
"Loh kenapa dengan bibirmu, Ghazi?" tanya Zain saat masuk ke dalam ruangan Ghazi dan memberikan berkas di tangannya.
"Di gigit tawon betina!" jawab Ghazi asal.
"Lah kok bisa?" heran Zain.
"Bisa lah! Makanya bibirku sampai bengkak! Ambiln es dah Sono dari pada banyak tanya! Aku mau kompres bibir aku biar nggak terlalu bengkak!" perintah Ghazi.
"Lah kan ada asisten sekaligus istrimu! Ngapain nyuruh aku lagi?" jawab Zain sambil menunjuk ke arah Elea.
"Ogah!" celetuk Elea.
"Ya elah, tiap hari perang mulu, lama-lama kalian malah saling kecintaan tau!" kesal Zain dan pergi dari sana.
"Kan aku jadi malu sama Zain! Lain kali jangan begitu!", omel Ghazi.
"Suruh siapa main sosor! Aku bilang nggak suka di cium sama pria yang sudah maen ko-/kop sama banyak wanita!" jawab Elea.
"Heh! Kau ngomongnya!" kesal Ghazi.
"Kenyataan Ghazi, nggak mungkin kamu ajak wanita begitu cuma makan malam dan pegangan tangan doang! Apalagi kamu suka ngasih mereka hadiah mahal kalau bukan sampai anuan ya ko-/kopan lah! Di pikir aku oon apa?" Elea tak mau kalah.
"Mana ada! Aku hanya mengajak mereka makan malam dan gandengan tangan doang ya! Otakmu ngeres kali! Kebanyakan makan micin! Aku masih waras dan punya akal sehat! Nggak mungkin menjatuhkan harga diriku sendiri! Aku tahu dan sadar mereka seperti apa! Sudah aku bilang kalau aku hanya sekedar suka saja jalan dan makan sama perempuan seperti itu. Nggak lebih! Bersihin otakmu itu dari micin! Nggak boleh ngemil Snack di rumah biar otakmu waras!" mereka seperti tom and Jerry sepertinya tak ada pembicaraan yang berakhir dengan damai. Semua pembicaraan mereka akan menjadi perseteruan dan perdebatan panjang yang tak akan pernah bisa ada titik sepakat.
"Idih ngomel nggak jelas! Bibirmu malah tambah jontor itu!" jawab Elea membuat Ghazi mendengus kesal kepada istrinya yang malah semakin meledek dia.
Ghazi mengompres bibinya sendiri karena Elea sang pelaku tak mau bertanggung jawab dan tetap menyalahkan Ghazi. Tapi memang iya juga salah Ghazi yang tiba-tiba nyosor. Mungkinkah dia sudah mulai suka kepada istrinya? Entahlah, karena sekarang saja dia masih chating dengan para wanita cantik.
"Waalaikumsalam Bang Irham ..." sapa Elea di telepon saat Ghazi sedang fokus bekerja.
"Siapa Bang Irham? Kenapa dia bisa berkata lembut kepada pria lain? Sedangkan padaku dia seperti kucing garong ngajak ribut Mulu! Apa itu pacarnya? Idih dia juga selingkuh ternyata main-main sama cowok lain. Nggak bisa di biarkan!" Cerocos Ghazi di meja kerjanya tapi tak berani menghampiri meja Elea dan masih betah di sana memantau istrinya.
"Iya bang, aku nggak kerja di perusahaan ayah. sekarang aku kerja di perusahaan Ardhani baru satu minggu. Kapan Abang pulang?" tanya Elea, Ghazi masih memantau.
"Iya bang, terpaksa. Mau bagaimana lagi, Ayah juga yang minta kerja di sini. Padahal lebih enak kerja di perusahaan Ayah! Di sini bosnya cerewet, dan yang paling aku nggak suka dia ganjen dan playboy! Takut aja sih aku kerja di sini malah dapat aura negatif yang dia bawa dari para perempuan jelamaan si manis jembatan ancol semua," ujar Elea tak peduli jika di sana ada Ghazi dan dia malah semakin sengaja.
"Ya sudah Abang hati-hati kerjanya. Salam sama Ibu dan juga Gita," Elea mengakhiri panggilan teleponnya kemudian dengan santai kembali melanjutkan pekerjaannya. Ghazi diam tak bertanya siapa pria bernama Irham, tapi dia gelisah dan tak bisa fokus bekerja. Rasa penasarannya lebih besar di banding rasa cueknya, akhirnya dia bertanya kepada Elea.
"Siapa pria bernama Irham?" tanya Ghazi dingin.
"oh, gebetan aku dari dulu! Dia pria lembut yang setia. Nggak kayak kamu! Makanya cepetan gih cari cewek bener biar kamu bisa nikah sama dia dan kita bisa menjalani hidup seperti yang kita inginkan! Asal jangan wanita jelamaan si manis jembatan ancol yang kamu bawa!" jawab Elea santai.
"Elea Davina Gunawan!" kesal Gahzi.
"Iya suamiku!" jawab Elea membuat wajah Gahzi tiba-tiba memerah bisa saja bocah satu itu membuat suaminya salah tingkah dengan panggilannya.
"Nah itu kamu tahu kalau aku suamimu! Apa pantas kamu malah telponan begitu dengan pria lain di depan mata kepalaku sendiri pula?" kesal Ghazi.
"Lah aku kan ngikut pemimpin di rumah tangga! Kamu aja sering balas chat dan scroll foto-foto cewek-cewek itu bahkan sering telponan aja aku nggak komplain kok! Apa yang salah coba?" jawab Elea.
"Ah elah! Ngomong sama kamu malah bikin aku laper! Kita makan siang dulu!" ajak Ghazi kesal malah membuat perutnya kerocongan karena memang sudah masuk jam makan siang juga.
"Ya udah nggak usah marah-marah gitu! Bilang aja laper apa susahnya pake mendrama!" Elea membawa rasanya namun di sambar oleh Ghazi.
"Cepat Elea aku lapar!" Ghazi menarik tangan Elea.
"Ah elah, kek orang mau nyebrang aja di pegangin gini! Aku bukan anak kecil Ghazi!" protes Elea.
"Panggil yang bener! Aku suamimu, kepada pria lain aja kamu manggil Abang! Masa ke suamimu sendiri manggil nama? Nggak sopan tau!" protes Ghazi.
"Mau di panggil apa? Abang juga? Mas sayang seperti para si manis jembatan Ancol kamu?" ledek Elea membuat Ghazi memutar bola matanya kesal.
"Aku serius Elea!" kesal Ghazi.
"Aku juga serius, terus kamu mau ku panggil apa?" jawab Elea.
"Bubub ..." jawab Ghazi asal membuat Elea tertawa.
"Panggilan apaan itu! Lebay banget kamu!" ledek Elea tertawa terbahak sampai mereka keluar dari dalam lift dan membuat semua karyawan melongo melihat pasangan pengantin baru atasan mereka. Bahkan mereka di buat kaget karena Ghazi membawakan tas milik Elea dan tangan mereka juga tak lepas saling genggam. Lebih tepatnya tangan Ghazi menggenggam tangan Elea. Semua di lakukan Ghazi karena kesal mendengar nama pria bernama Irham itu.
"Bisa berhenti ketawa kan?" kesal Ghazi saat mereka berada di dalam mobil.
"Iya bubub ..." jawab Elea dan malah kembali tertawa geli memanggil Ghazi dengan seperti itu, sedangkan Ghazi juga malah mesam mesem sendiri mendengar panggilan dari Elea.
"Astaga aku tak mengira kalau kamu itu lebay juga! Pantas saja mereka selalu mengejar dan antri di ajak makan malam karena selalu di lebayin sama kamu dengan ucapan-ucapan gembel," celetuk Elea.
"Mana pernah! Aku berkata manis dengan mereka. Gimana jelasinnya ke anak micin kek kamu! Sepertinya otakmu nggak nyampe-nyampe dengan ucapanku berkali-kali!" kesal Ghazi.
"Dih bubub marah!" ledek Elea sambil menoel hidung mancung Ghazi.
"Apaan sih!" kesal Ghazi tapi Elea tak berhenti tertawa sampai pipinya terasa pegal.
semoga ghazi dpt hukuman dr papi reno D asingkan k planet Pluto sebulan mh
jadinya pada mikir dih gampang Banggt yah gitu doang terhuraaaaaahhh El El kembali ke setelan aja lah lovely doply nanti kalau dia udah bucin
Thor yg Kirana ga lanjut lagi kah?
istri cuma ngikut apa yg di lakukan suaminya ga salah Dong,,
elea pingin curut itu kasihan