Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*22
*Lima tahun kemudian.
Saat hujan petir datang menggelegar, Rain pun ikut tak terkendali. Dia meringkuk ketakutan. Menangis tak karuan. Bibirnya terus berucap satu nama sambil menangis histeris.
"Jangan pergi, Aina! Jangan."
"Jangan tinggalkan aku. Ku mohon. Jangan pergi."
Rain terus berucap, mengulangi kata-kata yang sama. Menangis histeris sambil menutup telinga. Memeluk lututnya sendiri. Berteriak-teriak tak karuan.
Dion yang sudah hafal betul apa yang akan tuan mudanya alami jika hujan petir datang, bergegas ke kamar. Mencoba untuk menenangkan si tuan muda yang telah kehilangan kendali.
"Tuan muda."
"Tidak. Jangan. Aina jangan pergi! Jangan tinggalkan aku. Jangan!"
Gegas Dion mencari obat Rain yang ada di laci nakas. Beruntung, stok obat untuknya selalu ada. Dion pun langsung memberikan obat tersebut pada Rain. Setelah beberapa saat kemudian, Rain terlihat sedikit tenang. Lalu akhirnya, terlelap akibat pengaruh obat.
Dion langsung melepas napas berat, lalu beranjak meninggalkan kamar tuan mudanya. Di depan kamar, bi Tari sudah menunggu dengan wajah khawatir.
"Bagaimana, Dion? Apa tuan muda sudah tenang?"
"Iya, Bi. Tuan muda sudah tenang dan sedang istirahat sekarang."
"Kamu yakin, kita gak perlu panggilkan dokter lagi buat tuan muda sekarang, Dion?"
"Sepertinya tidak, Bi. Tuan muda sudah terlelap sekarang. Dan, hujan petir ini juga sudah mereda. Obatnya masih cukup efektif untuk tuan muda."
Si bibi tidak menjawab lagi. Helaan napas berat langsung dia lepaskan. Wajah sedihnya terlihat dengan sangat jelas. Rainer bukan hanya majikan buat mereka berdua. Malah sudah seperti keluarga kandung.
Mereka ikut merasakan apa yang pria itu rasakan. Kehidupan tuan muda yang indah dan damai itu tidak ada dalam hidup Rain. Kenyataannya, hidup indah hanya ada dalam drama pendek saja. Sedangkan kisah nyata. Mana mungkin sama.
"Dion. Sudah lima tahun berlalu sejak tuan muda kehilangan cinta dalam hidupnya. Keadaan tuan muda, tidak berubah sedikitpun."
Dion yang duduk di kursi meja makan, langsung menoleh ke arah bi Tari yang ada di sampingnya. Mereka berdua sama-sama merasakan kesedihan yang Rain rasakan.
"Apakah benar tidak ada cara untuk menyembuhkan tuan muda, Dion? Bibi sangat prihatin akan nasib tuan muda. Dia sudah hidup sengsara sejak kecil. Lalu setelah dewasa, dia tetap saja tidak bisa merasakan hidup bahagia. Apakah ini adil untuknya?"
"Bi. Kita tidak punya kuasa atas takdir. Tapi, jika bibi tanya adakah cara untuk menyembuhkannya. Tentu saja hanya ada satu cara."
Dengan penuh semangat, bi Tari melontarkan pertanyaan pada Dion. "Apa itu, Dion? Katakan secepatnya!"
"Obatnya hanya satu, Bi. Kita datangkan kembali nona Aina di sisi tuan muda. Dengan begitu, gangguan batin, atau, gangguan bipolar yang tuan muda derita akan langsung bisa di sembuhkan."
Seketika, semangat membara yang bi Tari rasakan sebelumnya langsung menghilang. Hembusan napas panjang nan berat langsung wanita tua itu lepaskan. "Heh ... kamu mempermainkan bibi, Dion."
"Nggak kok, Bi. Aku gak sedang mempermainkan bibi. Karena bibi bertanya, maka aku menjawabnya. Tuan muda kita tidak membutuhkan obat yang lain, Bi. Hanya cintanya kembali, maka semuanya akan baik-baik saja."
Si bibi pun langsung menatap lurus ke depan. "Sejak kehilangan orang yang dia cintai, tuan muda juga kehilangan ekspresi dalam hidup."
"Apakah hanya ekspresinya saja yang menghilang, Bi? Aku rasa tidak. Mungkin tubuhnya sekarang juga hanya cangkang kosong saja. Sebagian hidupnya telah menghilang bersama kepergian nona Aina. Wanita yang paling dia cintai."
Bi Tari langsung menoleh. "Dion. Apakah tidak ada kemungkinan untuk tuan muda mengganti orang yang ia cintai dengan orang lain? Seperti, menemukan orang yang mirip dengan gadis yang tuan muda cintai, gitu?"
Dion tersenyum kecil mendengarkan apa yang baru saja bi Tari katakan. Bukan senyum bahagia. Tapi sebaliknya. Senyum geli akan kata-kata yang sama sekali tidak akan memberikan solusi sedikitpun.
"Dion."
"Aku telah mencoba hal itu, Bi. Tapi sayangnya, yang tuan muda butuhkan bukan pengganti. Melainkan, yang asli. Yang sesungguhnya."
Dion kembali tersenyum memikirkan kejadian yang lalu. "Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mendatangkan seseorang yang agak mirip dengan nona Aina. Bukannya bahagia, tuan muda malah lebih menggila lagi. Boro-boro gadis yang mirip itu diterima oleh tuan muda. Yang ada, gadis itu langsung diusirnya agar tidak terlihat lagi. Lalu, aku pun kehilangan uang gaji ku satu bulan, Bi. Plus, bonus-bonusnya sekalian. Hilang melayang gara-gara kesalahan itu."
Cerita itu langsung membuat bi Tari terkekeh pelan selama sesaat. "Beneran, Dion?"
Dion kembali menoleh ke arah Bi Tari.
"Yah. Bibi malah tak percaya sama aku? Bibi mau mencobanya? Akan ku carikan yang mirip. Tapi kali ini, bibi yang bawakan. Tar, kalo uang gaji bibi melayang, jangan salahkan aku ya."
"Eh ... kamu ingin aku mencoba hal yang telah gagal kamu coba?"
"Katanya tak percaya."
"Siapa bilang? Aku percaya kok. Dasar kamu."
"Eh ... kok malah aku yang salah."
Sesaat kemudian, wajah cerah mereka kembali meredup. Keduanya kembali terpikirkan nasib tuan muda mereka yang sangat menyedihkan. Sudah lima tahun berlalu, tapi masih sangat terpukul akan kehilangan orang yang dia cintai.
Gangguan bipolar yang Rain derita memang memang sangat berat. Saat hujan petir datang, dia akan hilang kendali. Namun, gangguan bipolar itu tidak hanya akan datang saat hujan petir saja. Saat hujan tanpa ada petir juga Rain akan merasakan sesak napas dan rasa takut yang membuatnya terguncang.
Singkatnya, setiap turun hujan, Rain akan merasakan kembali dengan sangat jelas hari perpisahan antara dirinya dengan Aina. Hujan yang turun membawa luka mendalam untuk Rain. Dia akan merasakan pilu yang sangat sangat perih menyayat hati. Karena saat hujan, dia dan Ain berpisah. Lalu, saat hujan lagi dia dapat kabar istrinya meninggal kecelakaan bus.
Walau dia tidak ingin percaya bahwa istrinya telah tiada. Tapi batinnya tidak bisa menolak akan kenyataan tersebut. Ditambah pula dengan usahanya selama lima tahun tidak membuahkan hasil sedikitpun. Bagaimana Rain bisa tetap bertahan lebih lama lagi?