Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : Reruntuhan Beton dan Selendang Merah
Gedung Kesenian Cempaka, yang dulunya megah dengan arsitektur kolonial, kini tinggal puing-puing menyedihkan. Di sekelilingnya, pagar seng setinggi dua meter dipasang rapat, ditempeli stiker "PT. CAKRA BUANA - AREA PROYEK DILARANG MASUK".
Di balik pagar itu, kegelapan terasa lebih pekat daripada malam di sekitarnya. Lampu sorot proyek yang menyala di beberapa titik justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah hidup dan bergerak sendiri.
Seno memarkir motornya jauh di gang belakang, tersembunyi di balik semak.
Malam ini dia tidak memakai pakaian koki. Dia mengenakan pakaian hitam-hitam Pencak, dengan Tumbak Kyai Plered terbungkus kain di punggungnya.
Alya memakai hoodie gelap, celana kargo (yang banyak sakunya untuk menaruh garam), dan sepatu kets. Gulo duduk anteng di dalam kapuk hoodie Alya.
"Pak," bisik Alya. "Kok sepi banget? Nggak ada satpam?"
Seno mengintip dari celah seng.
"Satpam fisik... tidak perlu. Mbah Suro sudah memasang... anjing penjaga."
Seno menunjuk ke arah tumpukan besi beton di tengah reruntuhan.
Di sana, terlihat samar-samar sosok-sosok besar yang duduk berjongkok. Tubuh mereka abu-abu seperti semen basah, otot mereka menonjol kaku, dan mata mereka bersinar kuning redup.
Jin Konstruksi. Makhluk elemen tanah dan logam yang dipanggil untuk menjaga aset proyek.
"Kita masuk lewat mana?"
Seno mengeluarkan segenggam beras kuning. Dia melemparkannya ke pagar seng di depan mereka.
Kricik...
Beras itu menempel di seng, membentuk pola pintu.
Seno menempelkan telapak tangannya. "Buka."
Seng itu bergeser tanpa suara, menciptakan celah sempit.
Mereka menyelinap masuk.
Udara di dalam area reruntuhan berbau semen, debu, dan... anyir darah kering.
"Laras," panggil Alya pelan.
Sosok hantu penari Laras muncul di samping Alya. Wajahnya cemas.
"Di sana," tunjuk Laras ke arah panggung utama yang sudah runtuh setengahnya. "Di bawah pilar beton yang patah itu. Selendangku terjepit di sana."
Jarak dari pagar ke panggung sekitar lima puluh meter. Area terbuka.
"Gulo," perintah Seno. "Alihkan perhatian."
Gulo melompat keluar dari hoodie. Dia berlari ke arah alat berat excavator yang parkir di sisi kanan.
Gulo memanjat kabin kemudi, lalu mulai memukul-mukul kaca dengan batu.
TAK! TAK! TAK!
Para Jin Konstruksi itu menoleh serempak. Gerakan mereka kaku dan berat, menimbulkan suara gesekan batu. Grrrttt...
Dua dari tiga jin itu bangkit, berjalan berat menuju sumber suara excavator. Langkah mereka membuat tanah bergetar. DUM... DUM...
"Sekarang," bisik Seno.
Mereka berlari mengendap-endap menuju reruntuhan panggung.
Satu Jin tersisa masih duduk di atas tumpukan besi, menjaga area tengah. Dia tidak tertipu oleh suara Gulo.
Jin itu memutar kepalanya 180 derajat. Matanya menangkap gerakan Alya.
"PENYUSUP..." suaranya seperti mesin pengaduk semen (molen) yang macet.
Jin itu berdiri. Tingginya tiga meter. Tangannya yang besar meraih sebatang besi beton berkarat, mencabutnya seolah mencabut tusuk gigi. Dia melemparkan besi itu ke arah Alya.
WUSH!
"Awas!" Seno mendorong Alya ke samping.
Besi itu menancap di tanah tempat Alya tadi berdiri, melesak dalam sampai setengah meter. Kalau kena badan, pasti tembus.
Seno tidak lari lagi. Dia membuka bungkusan kain di punggungnya.
Dia mencabut Tumbak Kyai Plered.
Bilah tombak itu tidak berkilau emas, melainkan hitam kelam (wulung). Senjata pembunuh.
Seno maju menghadapi Jin itu.
Jin itu mengayunkan tinju batunya ke arah Seno.
Seno tidak menangkis. Dia melompat ke samping dengan gerakan silat Langkah Tiga, lalu menusukkan tombaknya ke lutut Jin itu.
TRAK!
Mata tombak menembus kulit batu Jin itu dengan mudah.
Jin itu meraung. Kakinya retak. Dia jatuh berlutut.
"Alya! Cari selendangnya!" teriak Seno sambil mencabut tombaknya dan bersiap menangkis serangan berikutnya.
Alya berlari ke arah pilar runtuh yang ditunjuk Laras.
Pilar itu besar sekali. Beton bertulang diameter satu meter.
"Laras! Di sebelah mana persisnya?"
"Di bawah situ! Di celah sempit itu!" Laras menunjuk histeris.
Alya berlutut, menyalakan senter HP-nya. Dia mengintip ke celah di bawah pilar.
Ada kain merah yang tertimbun debu dan pecahan bata. Itu dia!
Tapi celahnya terlalu sempit untuk tangan Alya. Dan pilarnya terlalu berat untuk diangkat.
"Gulo! Sini!" teriak Alya.
Gulo, yang sudah selesai main-main dengan excavator, berlari secepat kilat menghampiri Alya.
"Masuk situ! Ambil kain merah!"
Gulo mengangguk. Tubuhnya yang kecil dan lentur menyelip masuk ke celah beton.
Alya menunggu dengan jantung berdegup kencang.
Di belakangnya, suara pertempuran terdengar hebat.
BRAK! DUG!
Seno sedang bertarung satu lawan tiga (dua jin lainnya sudah kembali).
Seno bergerak lincah di antara raksasa-raksasa lambat itu. Dia menggunakan tombaknya untuk memotong urat-urat besi di persendian mereka. Tapi jumlah mereka terlalu banyak, dan tubuh mereka bisa menyatu kembali dari puing-puing.
"Pak Seno butuh bantuan," pikir Alya panik.
Dia merogoh saku kargonya. Dia mengeluarkan Merica Bubuk (sisa perang kemarin) dan Garam.
Dia mencampurnya di tangan.
Alya berdiri, berbalik ke arah Jin yang sedang memojokkan Seno.
"HEI! MUKA SEMEN!"
Jin itu menoleh.
Alya melempar campuran bumbu itu tepat ke mata kuning Jin tersebut.
PUFF!
Jin itu meraung, menutup matanya. Dia buta sesaat.
Seno memanfaatkan celah itu. Dia melompat tinggi, menjejak dada Jin itu, lalu menusukkan tombaknya tepat di ubun-ubun kepala Jin.
JLEB!
Jin itu kaku. Tubuhnya retak seribu.
KRAK... PYAR!
Jin itu hancur menjadi tumpukan kerikil dan debu.
"Satu tumbang!" sorak Alya.
"Dapet!" cicit Gulo dari bawah pilar.
Gulo keluar sambil menarik kain selendang merah yang kotor tapi masih utuh.
Laras, yang melayang di dekat situ, menangis bahagia saat melihat selendangnya.
Dia menyentuh selendang itu. Seketika, selendang itu bersinar merah, dan wujud Laras menjadi lebih padat dan cantik, seperti saat dia masih hidup dan menari.
Tapi momen bahagia itu dirusak oleh suara tawa yang menggema dari speaker proyek yang terpasang di tiang tinggi.
"Bagus... Bagus sekali..."
Suara Mbah Suro. Dia memantau lewat CCTV gaib.
"Kalian sudah mengambil mainan itu. Sekarang, bayarannya."
Tanah di bawah kaki Alya tiba-tiba menjadi lunak.
Bukan tanah.
Lumpur Hidup.
Alya terperosok. Kakinya terkunci. Lumpur itu menyedotnya dengan cepat.
"Pak! Tolong!"
Seno menoleh. Dia hendak lari menolong Alya, tapi dua Jin tersisa menghadangnya, memukul tanah hingga menciptakan dinding debu yang menghalangi pandangan.
Alya tenggelam sampai pinggang. Lumpur itu dingin dan bergerak seperti ular, melilit kakinya.
Gulo mencoba menarik tangan Alya, tapi dia terlalu kecil. Dia malah ikut terseret.
Laras menatap Alya yang akan tertelan bumi.
Hantu penari itu memegang selendang merahnya erat-erat.
"Kamu sudah menolongku," kata Laras. "Sekarang giliranku."
Laras melilitkan selendang merahnya ke tubuhnya sendiri.
Dia mulai menari.
Bukan tarian biasa.
Tari Bedhaya Ketawang. Tarian sakral pemanggil hujan dan penolak bala.
Gerakan Laras anggun namun penuh tenaga.
Energi merah memancar dari tubuhnya, membentuk pusaran angin.
Pusaran itu menghantam lumpur yang menyedot Alya.
Lumpur itu mengering seketika, berubah menjadi tanah keras yang retak-retak.
Cengkeramannya lepas.
Alya berhasil menarik kakinya keluar.
"KURANG AJAR!" suara Mbah Suro terdengar marah di pengeras suara. "Hantu rendahan berani melawan majikan!"
Laras menatap ke arah CCTV di tiang listrik.
"Aku bukan budakmu lagi, Mbah. Aku sudah memegang jiwaku sendiri."
Laras menghentakkan kakinya.
Gelombang energi merah melesat ke arah dua Jin yang sedang melawan Seno.
Kedua Jin itu terpental, tubuh semen mereka hancur berantakan.
"Lari!" teriak Laras pada Alya dan Seno. "Energi ini cuma sebentar! Cepat pergi!"
Seno menyambar tangan Alya. Gulo melompat ke bahu Seno.
Mereka berlari kencang menuju pagar seng yang terbuka.
Di belakang mereka, reruntuhan gedung itu berguncang hebat. Tiang-tiang beton berjatuhan seolah ada gempa lokal. Mbah Suro sedang menghancurkan tempat kejadian perkara untuk mengubur mereka.
Mereka melompat keluar pagar tepat saat sebuah dinding besar runtuh menimpa tempat mereka berdiri tadi.
BOOM!
Debu tebal membumbung tinggi.
Hening.
Alya dan Seno terengah-engah di gang belakang, di samping motor.
Mereka selamat.
Di atas reruntuhan gedung, sosok Laras melayang perlahan naik ke langit. Dia tersenyum, melambaikan selendang merahnya sebagai salam perpisahan. Dia sudah tenang. Dia sudah bebas dari ikatan tempat itu.
Alya membalas lambaian itu dengan napas tersengal.
"Selamat jalan, Mbak Laras."
Seno menyarungkan kembali tombaknya. Wajahnya keras.
Dia tahu ini baru permulaan. Mbah Suro tidak akan membiarkan penghinaan ini.
Malam ini mereka menang satu langkah. Tapi besok, perang santet yang sesungguhnya akan dimulai.
"Ayo pulang," kata Seno dengan suara seraknya. "Kita butuh kopi pahit."
Alya mengangguk, naik ke boncengan motor.
Di bahunya, masih terasa panas bekas santet tadi siang, seolah menjadi pengingat bahwa dia sekarang sudah resmi masuk dalam daftar target Hitman dukun paling berbahaya di kota ini.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.