Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teratai darah dari Utara part 4
Satya dan Li Wei meninggalkan ketiga algojo yang masih terduduk lemas di antara bebatuan sungai. Teriakan Mei Lian pelan-pelan tertelan oleh gemuruh air terjun yang semakin berwibawa seiring langkah mereka mendaki lebih tinggi.
"Kau tahu, Satya," ujar Li Wei sambil menyeka sisa air mata akibat tertawa tadi, "kau baru saja mempermalukan unit paling mematikan di organisasiku. Jika kabar ini sampai ke telinga Gao Zhan, dia mungkin akan meledak karena marah."
"Ah, biarkan saja. Orang pemarah itu cepat tua," sahut Satya santai. Namun, saat mereka tiba di bibir tebing yang menghadap langsung ke arah Curug Parang Ijo dari ketinggian, langkah Satya mendadak kaku.
Di sana, di balik tirai air yang tipis, terdapat sebuah gua kecil yang mulutnya tertutup oleh sulur-sulur tanaman merambat yang membentuk pola aneh—seperti lambang kera yang sedang bermeditasi.
"Gua ini..." bisik Satya. Ia merasakan getaran hebat pada Toya Emas di punggungnya. Logam meteorid itu seolah-olah bernapas, bersahutan dengan denyut nadi Satya.
Saat mereka masuk ke dalam gua, suasana mendadak sunyi. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah air terjun menciptakan pelangi abadi di dalam ruangan batu itu. Di tengah gua, di atas sebuah altar batu yang sederhana, terdapat sebuah prasasti yang ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan aksara Han dari Tiongkok.
Li Wei mendekat, matanya membelalak. "Ini mustahil... Ayahmu, Ki Ageng Dharmasanya, dan leluhurku dari perguruan langit... mereka pernah bertemu di sini?"
Satya membaca baris pertama prasasti itu dengan suara bergetar:
"Dua bangsa, satu langit. Besi dari bintang tidak memilih tuan, ia memilih hati. Penjaga gerbang kera adalah dia yang mampu tertawa di depan kematian."
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Dari balik prasasti, muncul sebuah bayangan tua yang samar. Itu bukan hantu, melainkan proyeksi tenaga dalam yang tersimpan selama puluhan tahun. Sosok itu mengenakan pakaian pendekar Jawa, namun di pinggangnya tersampir pedang giok yang identik dengan milik Li Wei.
"kau?" desis Satya.
Bayangan itu tidak menjawab, melainkan hanya menunjuk ke arah kedalaman gua yang lebih gelap. Di sana, sebuah pintu batu besar perlahan terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan yang berisi ribuan gulungan kitab dan sebuah tungku api yang masih memancarkan panas meskipun tidak ada kayu bakarnya.
"Ini bukan sekadar tempat semedi," gumam Li Wei takjub. "Ini adalah perpustakaan rahasia dan bengkel menempa pusaka yang menyatukan ilmu teknik Tiongkok dengan kebatinan Jawa."
Namun, kedamaian mereka terganggu. Dari kejauhan di bawah lereng, terdengar bunyi terompet kerang yang mengerikan. Suaranya berat dan penuh dengan aura haus darah.
"Gao Zhan," desis Li Wei. "Dia tidak mengirim algojo lagi. Dia membawa seluruh armada Teratai Darah yang tersisa di pesisir."
Satya mencabut Toya Emasnya, namun kali ini ia tidak bercanda. Sorot matanya berubah tajam, memancarkan wibawa yang luar biasa. "Li Wei, sepertinya kita harus belajar ilmu dari kitab-kitab ini dengan sangat cepat."
Satya menatap pintu batu yang terbuka lebar itu. "Ternyata, ayahku meninggalkan warisan yang lebih berat daripada sekadar tongkat. Dia meninggalkan tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dua daratan."
"Jadi, Li Wei," Satya menyeringai tipis ke arah sahabat barunya, "siap jadi murid 'Sableng' dalam satu malam? Karena besok pagi, kita akan menyambut tamu besar dengan cara yang jauh lebih meriah daripada sekadar bersin."
Di kaki Gunung Lawu, ribuan obor mulai merayap naik seperti ular api raksasa. Gao Zhan, dengan tangan besinya yang berkilau di bawah cahaya bulan, memimpin pasukan itu. Ia tidak tahu bahwa di puncak sana, dua pemuda sedang bersiap mengubah sejarah persilatan dunia.
Mei Lian berdiri mematung di pinggir sungai, sementara lumpur hitam perlahan mengering di wajah cantiknya. Suara tawa Satya yang menjauh masih terngiang di telinganya, lebih menyakitkan daripada tusukan pedang mana pun.
Hening. Feng dan Iron Khan bahkan tidak berani bernapas keras saat melihat bahu Mei Lian mulai bergetar hebat.
"Sableng... dia bilang aku... mirip janda?" desis Mei Lian. Suaranya rendah, namun mengandung getaran tenaga dalam yang membuat air di genangan kakinya mulai berbuih.
"Mei Lian, tenanglah. Kita harus melapor pada Tuan Gao—" ucapan Feng terputus.
"DIAM!"
Mei Lian berteriak histeris. Ia menghantamkan kedua kipas bajanya ke arah sebuah pohon beringin besar di sampingnya. Srak-srak! Pohon itu tidak tumbang, namun dalam hitungan detik, daun-daunnya menghitam dan rontok. Racun spora yang ia lepaskan kali ini bukan lagi berwarna ungu, melainkan merah pekat—tanda bahwa ia telah membakar separuh tenaga dalamnya demi kemurkaan.
"Aku adalah 'Teratai Beracun' yang ditakuti di sepanjang sungai Yangtze! Aku telah membunuh ribuan pendekar tanpa mengotori ujung sepatuku!" Ia menyeka lumpur di pipinya dengan kasar, hingga kulitnya memerah. "Dan Orang gila itu... dia menjadikanku bahan lelucon? Dia bersin di wajahku?!"
Ia berbalik menatap Feng dan Iron Khan dengan mata yang memerah. "Kalian berdua, urus luka kalian. Aku tidak akan menunggu instruksi dari Gao Zhan lagi. Aku akan menggunakan Jurus Teratai Terlarang."
Feng tersentak. "Mei Lian, jurus itu akan memakan umurmu sendiri! Tubuhmu tidak akan kuat menahan racun itu lebih dari satu jam!"
"Lebih baik aku mati sebagai mayat yang kering daripada hidup sebagai bahan tertawaan bocah itu!" Mei Lian melesat pergi, tubuhnya bergerak secepat kilat, meninggalkan jejak rumput yang layu di setiap langkahnya.
Sementara itu, di dalam gua rahasia di balik Curug Parang Ijo, Satya sedang asyik membolak-balik sebuah kitab kuno dengan kaki yang diangkat ke atas meja batu.
"Wah, Li Wei! Lihat ini, ada gambar kera sedang jungkir balik tapi tangannya memegang api. Ini kalau dipraktikkan, apa tidak gosong ketiak saya?" celetuk Satya.
Li Wei, yang sedang bermeditasi di depan tungku abadi, menghela napas. "Itu teknik Hawa Murni Matahari. Jika kau bisa memadukannya dengan kelincahanmu, toya emasmu tidak hanya akan terasa berat, tapi juga panas seperti lahar Gunung Lawu."
Tiba-tiba, telinga Satya bergerak-gerak. "Aduh, Li Wei. Sepertinya si Nona Cantik tadi benar-benar marah. Bau parfum bunganya berubah jadi bau kabel terbakar."
BOOM!
Dinding tirai air terjun di depan gua tiba-tiba tersibak paksa. Bukan oleh air, melainkan oleh ledakan tenaga berwarna merah darah. Mei Lian berdiri di sana, namun penampilannya telah berubah. Rambutnya terurai liar, dan pembuluh darah di tangannya tampak menonjol berwarna kebiruan—tanda racun telah meresap ke dalam aliran darahnya sendiri.
"Arya Gading!" teriak Mei Lian, suaranya bergema di seluruh langit-langit gua. "Keluar kau! Hari ini, entah kau yang menjadi bangkai, atau aku yang akan meledakkan gua ini bersama kalian!"
Satya bangkit berdiri, perlahan merapikan ikat kepalanya. Wajah "Sableng"-nya menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang belum pernah dilihat Li Wei sebelumnya.
"Li Wei, teruslah pelajari bagian pengunci tungku itu," bisik Satya. "Sepertinya wanita ini sudah kehilangan akal sehatnya. Kalau tidak dihentikan sekarang, dia akan meracuni seluruh mata air Gunung Lawu."
Satya melangkah maju, Toya Emasnya mulai mengeluarkan dengungan rendah yang menggetarkan batu-batu kecil di lantai gua.
"Nona Mei Lian," ujar Satya dengan nada serius yang jarang terjadi. "Candaanku tadi mungkin keterlaluan, tapi melihatmu merusak tubuhmu sendiri demi dendam... itu lebih lucu sekaligus menyedihkan. Mau berhenti sekarang, atau mau dipaksa tidur siang?"
Mei Lian tidak menjawab. Ia melesat maju, kedua kipasnya terbuka lebar memancarkan hawa maut yang mampu melelehkan batu gua.