Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Ibu
Pagi itu masih gelap. Awan menggantung rendah, membuat langit tampak muram seperti ikut menampung pikiranku. Aku bersiap pergi kerja, meraih kunci mobil yang tergeletak di meja. Bersyukur, setelah bertahun-tahun menabung hasil dari kuliah dengan beasiswa akhirnya aku punya kendaraan sendiri. Setidaknya satu hal dalam hidupku terasa berjalan maju.
Saat aku hendak melangkah keluar, suara ibu memanggil dari ruang tamu.
“Ka… Raka. Sini dulu, Mas.”
Aku berhenti. Ibu sudah duduk rapi di sofa, tangannya bertaut di pangkuan. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya seperti menyimpan sesuatu
.
“Ibu tumben pagi-pagi sudah manggil. Ada apa, Bu?” tanyaku sambil duduk di depannya.
Ibu tersenyum kecil, lalu menatapku lama. Terlalu lama, sampai aku merasa tak nyaman.
“Mas… kamu sudah punya calon belum?” ucapnya akhirnya, pelan tapi langsung menusuk.
“Kok belum pernah kamu kenalin siapa-siapa ke ibu. Maaf ya, Mas… umurmu sudah nggak muda lagi. Ibu tuh… pengin gendong cucu.”
Aku menghela napas. Pertanyaan itu selalu datang, cepat atau lambat.
“Ibu… maaf. Aku belum menemukannya,” jawabku jujur.
“Ada seseorang yang selalu ada di pikiranku, Bu. Tapi… dia sudah punya suami. Dan anak.”
Wajah ibu seketika berubah. Senyumnya hilang.
“Astaghfirullah, Mas…” katanya lirih.
“Kamu harus jaga diri. Jangan sampai jadi laki-laki yang merendahkan dirinya sendiri dengan mencintai istri orang.”
Aku terdiam. Kata-kata ibu tidak keras, tapi penuh peringatan.
“Tapi… ibu penasaran,” lanjutnya.
“Siapa dia? Sudah berapa lama kamu memikirkannya?”
Aku menunduk.
“Sudah lama sekali, Bu. Enam belas tahun… atau tujuh belas. Aku sendiri sudah lupa persisnya.”
Ibu terkejut. Matanya membesar sedikit.
“Loh… cinta masa lalu?”
Aku mengangguk pelan.
Ibu tersenyum tipis, senyum yang aneh antara pahit dan pasrah.
“Kalau begitu… kamu mirip bapakmu.”
Aku mendongak. “Maksud ibu?”
“Sifatnya,” jawab ibu pelan.
“Bapakmu itu… sampai sekarang masih susah benar-benar melepaskan mantannya.”
Aku tercekat. “Terus ibu… bagaimana, Bu?”
Ibu menarik napas panjang. Kali ini ia tidak langsung menjawab.
“Mas… ibu sudah pernah merasakannya,” katanya akhirnya.
“Rasanya tidak enak sekali, mencintai orang yang hatinya masih tertinggal di masa lalu.”
Aku terdiam. Baru kali ini ibu berbicara sejauh ini.
“Ibu bertahan,” lanjutnya, suaranya tetap lembut,
“bukan karena cinta yang utuh. Tapi karena tanggung jawab, karena keluarga. Bukan berarti ibu tidak bahagia… tapi ada bagian dari hati yang lelah.”
Ibu menatapku lurus.
“Itu sebabnya ibu khawatir sama kamu, Mas.”
Aku menelan ludah.
“Kalau kamu menikah sebelum hatimu benar-benar selesai dengan masa lalu,” katanya pelan tapi tegas,
“kamu bisa melukai perempuan yang kamu pilih nanti. Dan ibu… tidak ingin ada perempuan lain merasakan apa yang pernah ibu rasakan.”
Ruangan itu terasa sunyi. Kata-kata ibu menggantung di udara, berat, tapi jujur.
“Bukan berarti ibu melarang kamu menikah,” lanjutnya sambil tersenyum lembut.
“Tapi kalau memang hatimu belum siap, lebih baik menunggu. Ikhlaskan dulu. Lepaskan. Minta jodoh terbaik sama Gusti Allah.”
Aku mengangguk pelan. Dadaku terasa sesak.
“Mungkin saja dia memang bukan jodohmu, Mas,” kata ibu menutup percakapan.
“Tapi kalau suatu hari kamu menikah dengan perempuan lain… pastikan hatimu sudah kosong. Jangan wariskan luka yang sama.”
Aku terdiam. Kata-kata ibu jatuh satu per satu, pelan tapi menghantam tepat ke dadaku. Bukan karena menyakitkan, tapi karena terlalu jujur.
Aku menatap wajahnya. Keriput kecil di sudut matanya, senyum tipis yang selalu berusaha kuat, dan nada suaranya yang lembut tapi penuh pengalaman. Baru kali ini aku benar-benar menyadari ibu bukan hanya seorang ibu, tapi juga perempuan yang pernah berjuang dengan hatinya sendiri.
“Mas…” lanjut ibu pelan,
“menikah itu bukan soal cepat atau lambat. Tapi soal hati yang sudah selesai. Kalau hatimu masih menyimpan nama orang lain, menikah justru bisa jadi hukuman, bukan kebahagiaan.”
Aku menunduk. Tanganku mengepal tanpa sadar.
“Ibu nggak melarang kamu menikah,” katanya lagi, suaranya semakin lirih.
“Ibu cuma ingin kamu bahagia. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan membawa luka lama ke hidup orang lain.”
Aku mengangguk pelan. Tenggorokanku terasa berat.
“Iya, Bu…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Ibu tersenyum kecil, lalu menepuk punggung tanganku.
“Kalau memang dia bukan jodohmu, Gusti Allah pasti tahu cara melepaskannya dari hatimu. Tapi semua butuh waktu, Mas.”
Aku berdiri, mencium tangan ibu lebih lama dari biasanya. Ada rasa hangat yang tertinggal, bercampur dengan gelisah yang tak kunjung reda.
Saat melangkah keluar rumah, awan masih menggantung berat di langit pagi. Aku menatap ke depan, menuju hari yang entah akan membawaku ke mana.
Di dalam hatiku, satu pertanyaan kembali berputar
bukan tentang menikah, bukan tentang usia,
tapi tentang satu nama yang belum juga benar-benar pergi. Dan pagi itu, aku sadar…
sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang harus kuselesaikan lebih dulu.